
Aron datang seorang diri dengan berbagai barang bawaan ke rumah Andrea. Kali ini kedatangannya adalah untuk melamar Andrea. Acara tersebut berlangsung tertutup, hanya sebagai proses simbolik.
Hilmar menatap calon menantunya. Dia tampan, dewasa, dan terlihat tampan. “Orang tuamu ke mana, Aron?” Dia akhirnya bertanya setelah sejak tadi menahan diri.
“Orang tua saya ada di luar negeri dan akan datang saat pernikahan kami,” jawab Aron sambil tersenyum sopan. Meskipun dia tahu Andrea membenci semua orang di rumahnya dan tidak menyembunyikan kebenciannya, Aron masih mempertahankan kesopanan kepada para tetua yang ada. Tidak ada alasan khusus untuk itu, dia hanya terbiasa bersikap sopan pada orang-orang yang tidak relevan. Yang dia pedulikan di sini hanya Andrea.
“Baiklah kalau begitu.” Hilmar menanggapi dengan maklum. Jika dilihat dari sikap dan pakaiannya, dia menduga keluarga Aron mungkin kaya. Jadi, tidak mengherankan jika orang tuanya masih dalam kesibukan bahkan ketika putranya sedang melakukan lamaran.
Lamaran kali itu banyak hal yang Aron bicarakan dengan Hilmar. Tentu saja itu sesuai dengan rencana yang telah dia matangkan dengan Andrea sebelumnya. Tanggal pernikahan ditentukan kurang dari sebulan kemudian. Konsep acara dilakukan tertutup dan sesakral mungkin di mana hanya ada keluarga inti dan teman dekat mempelai yang hadir.
Awalnya, kedua ibu tiri Andrea menolak konsep tersebut. Tapi, Hilmar dengan segera membuat mereka diam dan menyetujuinya. Dia tahu pasti konsep tersebut merupakan keinginan dari Andrea. Tidak ada yang tidak tahu bagaimana Andrea sangat keras kepala dengan keputusannya dan dia tidak ingin ada masalah lain. Hilmar sudah cukup pusing mengkhawatirkan harta di tangannya yang mungkin menghilang saat Andrea berhasil memenuhi syarat waris dari Sara. Saat ini, sebisa mungkin dia tidak ingin berkonfrontasi dengan Andrea dan jika bisa berdamai dengannya.
“Kita akan melakukan pernikahan, sesuai keinginanmu dan Andrea, Aron.” Hilmar memberikan persetujuannya. Mora dan Yamini hanya bisa cemberut dan menahan kekesalan dalam hatinya.
Hari pernikahan Andrea dan Aron akhirnya tiba. Aron menatap penampilan anggun Andrea yang mengenakan gaun putih pas di tubuh indahnya dengan hiasan kepala berupa bunga-bunga putih kecil. Wanita itu terlihat seperti seorang peri yang turun ke dunia fana.
__ADS_1
“Kamu sangat cantik, Andrea,” ucap Aron berjalan perlahan di belakang Andrea, yang sedang duduk di depan meja rias menatap wajahnya sendiri di cermin.
“Aku selalu cantik. Tapi, memang kali ini sangat cantik, terasa sangat berbeda dengan gayaku biasanya,” jawab Andrea tidak rendah hati. Biasanya dia mengenakan pakaian minim dan ketat, menunjukkan tubuhnya yang mulus dan seksi, sementara saat ini dia terlihat sangat anggun dan innocent. Dia mengangkat matanya dan menatap pria di belakangnya melalui cermin. “Kamu terlihat tampan juga hari ini,” pujinya tanpa malu. “Terlihat dewasa dan dapat dipercaya.”
“Yah, itu semua memang benar, kan?” balas Aron mengangkat sebelah alisnya sedikit sombong.
Tidak bisa dipungkiri, Aron memang bersikap sangat dewasa. Bersamanya Andrea merasa tenang. Bahkan jika rencana mereka memiliki masalah, Aron akan segera menyelesaikannya seperti pahlawan. “Kau memang dewasa dan semua orang mungkin mempercayaimu, tentu saja, kecuali aku.” Andrea tersenyum main-main. “Suami bayaranku.”
“Baiklah, istri palsuku.” Aron ikut tersenyum karenanya. 'Ralat, istri baruku.' Sambungnya dalam hati.
Sementara dari pihak Aron ada kedua orang tuanya dan seorang temannya. Andrea tidak terlalu mendekat pada mereka karena Aron sendiri mengatakan padanya bahwa ketiganya merupakan orang sewaan, palsu. Dia tidak peduli dengan semua pengaturan yang dilakukan Aron asalkan hal-hal tersebut tidak mengganggu rencana dan kerja sama di antara mereka berdua. Sejujurnya, terbesit di benaknya rasa penasaran tentang latar belakang Aron. Tapi, dia segera mengenyahkan pikiran tidak relevan tersebut. Yang penting saat ini adalah keberhasilan rencananya.
Acara pernikahan berlangsung tanpa hambatan maupun masalah. Suasana sangat damai. Mora dan Yamini terus memasang wajah dingin, tapi, mereka tidak melakukan apa pun. Begitu pula Ike dan Yura, yang sedari tadi berkutat dengan ponsel mereka, tak peduli. Andrea merasa ini seperti ketenangan sebelum badai. Apa pun itu dia akan menghadapi semuanya. Toh, saat ini dia memiliki satu orang lagi di sisinya selain Kharisma, yaitu Aron, yang membuatnya merasa sangat aman.
“Apakah kamu lapar?” tanya Aron yang mendekati Andrea sambil menyerahkan segelas jus jeruk.
__ADS_1
Andrea yang entah kenapa merasa sesak melihat wajah-wajah tidak menyenangkan yang dilihatnya, setelah Kharisma pamit pergi lebih dulu, segera mengundurkan diri, mencari tempat yang sepi. Balkon yang menghadap sebuah bukit hijau menjadi pilihannya. Dia tidak berharap Aron akan datang menyusulnya.
Jus tersebut terasa manis. Menyenangkan untuk meneguknya, pikir Andrea. “Tidak, aku tidak merasa lapar,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum. “Terima kasih untuk hari ini. Kalau bukan karena pengaturan mu, tidak akan selesai semulus ini.”
“Hanya berterima kasih?” Aron tersenyum jenaka.
“Lalu apa maumu?” Andrea cemberut, berpura-pura kesal.
“Bagaimana kalau....” Ucapan Aron terputus saat matanya menatap intens pada bibir merah menggoda milik Andrea.
Pipi Andrea panas ketika menyadari apa yang dimaksud oleh pria di hadapannya. Dia berdehem dan segera melenggang pergi, meninggalkannya. “Kita harus kembali atau semua orang akan mencari.” Di belakangnya dia bisa mendengar suara kekehan Aron yang cukup menyebalkan.
Sial, meski aku berusaha membuat semua seakan hanya sandiwara, tapi ini semua terasa begitu nyata untukku. Batin Aron.
Sadar, Andrea. Jangan sampai kau terlena akan kepandaian pria ini, kau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Andrea juga membatin, memperingati dirinya sendiri.
__ADS_1