Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 25


__ADS_3

"Biar aku saja yang membawanya ke dapur." Andrea menahan tangan Aron saat pria itu akan mengangkat tumpukan piring dari atas meja makan. "Melihat cara kau mencuci piring waktu itu, membuat kepalaku rasanya mau meledak! Kau terlalu membuang-buang sabun pencuci piring! Kau tahu, kau sangat boros!" omel Andrea dengan sepasang mata yang mendelik. 


Pada akhirnya Aron tetap berada di tempat duduknya. Andrea wara-wiri dari dapur lalu ke ruang makan lagi untuk memindahkan alat-alat makan mereka untuk ia cuci. 


Aron memanfaatkan situasi di mana Andrea sedang sibuk di dapur. Aron masuk ke kamarnya kembali untuk mengirim pesan kepada Leah. Tidak lupa Aron mentransfer sejumlah uang ke rekening Leah. 


Aron mengetik pesan sembari mengamati ke pintu. Takutnya Andrea tiba-tiba masuk ke kamar mereka seperti tadi pagi. 


"Aku sudah mengirim uang ke rekeningmu. Jika kurang, kau bilang saja. Aku akan mengirimnya lagi. Oh ya, aku juga mengirim uang ke rekening Anie. Tolong sampaikan padanya." 


Ibu jari Aron menyentuh tombol kirim. Dengan cepat pesan milik Aron terkirim ke ruang obrolan. Aron melihat dua centang di layarnya berubah menjadi biru, tanda si penerima pesannya telah membacanya. 

__ADS_1


"Sudah beres," gumam Aron. 


*** 


"Leah, coba cek rekening kau. Aron baru saja mengirim sejumlah uang. Dalam rangka apa, ya? Padahal baru satu minggu yang lalu dia mengirim uang." Anie menggaruk keningnya. 


Leah menyambar ponselnya. Benar, Aron mengirim uang ke rekeningnya juga. Leah kemudian memeriksa adanya pesan masuk berasal dari nomor Aron. Betapa senangnya Leah karena pria itu akhirnya membalas pesannya. Namun, air muka Leah berubah dalam hitungan detik saja. 


Anie merapatkan bibir. Setelah suasana hati Leah menjadi sangat buruk beberapa hari terakhir, Leah dibuat kecewa oleh Aron. 


Bagaimana tidak, Aron mengirim pesan kepada Leah, alih-alih mendapatkan ungkapan rindu, Leah malah mendapat kiriman pesan yang mengatakan bahwa Aron mengirim uang. Sekilas memang tidak ada yang aneh dengan pesan pria itu. Tapi, bukankah Leah pikir Aron telah salah paham kepadanya? 

__ADS_1


"Jadi, Aron pikir aku menghubunginya semalam karena aku butuh uang?" decak Leah. "Uang yang dia berikan selama ini jarang aku pakai karena memiliki tabungan sendiri. Aku tidak butuh uang Aron, aku butuh dia pulang, dan menemui kita. Bukankah dia sudah lama tidak pulang ke Kalimantan? Apa dia lupa kalau punya dua istri di sini ..." 


"Mungkin ... Aron sedang sibuk, Leah." 


"Sibuk apa? Sibuk berduaan dengan istri barunya, maksud kau, Anie?" seloroh Leah. 


"Tidak, bukan begitu maksudku, Leah." Anie menggaruk kulit kepalanya. "Sudahlah. Aku tidak mau bertengkar dengan kau karena masalah ini. Aku cuma ingin mengingatkan bahwa Aron tetaplah Aron. Kau paham maksudku kan, Leah?" 


Leah diam membisu. Ia memang tahu, bahkan lebih mengenal Aron daripada Anie, apa lagi Andrea! 


"Aku sudah selesai makan. Aku siap-siap dulu sebelum pergi belanja ke mal. Kalau kau mau ikut, kau siap-siap juga." Anie menyudahi perdebatan di antara ia dan Leah. Anie tidak mau hubungan baiknya dengan Leah, malah berantakan hanya karena perdebatan yang tidak akan ada ujungnya.

__ADS_1


__ADS_2