Istri Ketiga Suami Bayaran

Istri Ketiga Suami Bayaran
Bab 36


__ADS_3

Terlambat sudah usaha Aron agar Rianti tidak bertemu dengan Andrea. Karena kini Andrea telah mengetahui kalau Aron telah memiliki dua orang istri lainnya yang tinggal di Kalimantan. 


Ketika Aron pulang, Rianti telah pergi dengan perasaan yang puas. Terlebih ketika Andrea menunjukkan bahwa perempuan hamil itu sangat shock sekali. 


Rianti sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat Andrea hampir jatuh pingsan setelah tahu kalau nasibnya—tidak jauh berbeda dari sang Ibu. Jika ibunya harus menanggung rasa sakit karena ayahnya menikahi tiga orang perempuan, maka nasib Andrea kembalikannya. Ia-lah yang menjadi istri ketiga dari pria bernama Aron. 


"Kau sudah puas sekarang?" Air mata Andrea meleleh di pipi. Ia jauh lebih sakit hati dibohongi soal status Aron yang sebenarnya. 


"Aku bisa jelaskan semuanya." 


Kedua tangan Andrea terulur ke depan. "Cukup. Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun dari kau. Sekali kau membohongiku, selamanya kau tetaplah pembohong! Aku membenci kau! Aku ingin bercerai darimu, Aron!" 


"Sudah aku katakan berapa kali pada kau, Andrea. Tidak akan ada kata cerai di antara kita." Aron menegaskan. "Karena kau telah mengetahui segalanya, aku akan membawa kau pindah ke Kalimantan. Kita akan tinggal di sana." 


"Hidup dalam satu atap bersama kedua istrimu juga?" Andrea tersenyum sinis. 


"Ya." Aron menjawab lugas. "Sudah tidak ada lagi yang harus aku tutupi darimu. Seperti kataku kemarin, suka atau tidak, kau adalah milikku. Kau tidak akan bisa pergi ke mana pun." 


*** 


Aron tidak suka banyak bicara dan janji. Sehari setelah Andrea tahu segalanya—termasuk Aron yang telah menikah, dan memiliki dua orang istri, Aron membawa Andrea ke rumahnya yang ada di Kalimantan. 


Selama ia dikurung, Andrea kesulitan untuk tidur di kamarnya. Namun entah kenapa selama di dalam jet pribadi Aron, Andrea bisa tidur nyenyak. Bahkan ketika perempuan hamil itu bangun, ia telah berada di sebuah kamar berukuran besar. 

__ADS_1


"Kau sudah bangun rupanya," sapa Anie menyandarkan punggungnya ke dinding. "Akhirnya aku bisa bertemu dengan kau secara langsung. Selama ini, aku dan Leah hanya bisa melihat wajah kau dari ponsel saja." 


Kesadaran Andrea belum terkumpul sepenuhnya. Andrea menatap Anie dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Andrea menduga kalau Anie adalah salah satu istrinya Aron. 


"Aron bersikap romantis sekali pada kau, Andrea. Aku dan Leah sangat iri padamu. Kau tahu tidak? Kau bisa berbaring di sini karena siapa? Aron. Dia yang menggendong kau! Sialan, aku benar-benar iri."  


Anie mengoceh panjang lebar. Rasa iri Anie mulai bangkit kala melihat Aron begitu khawatir dan perhatian kepada Andrea. Selama ia menjadi istri Aron, Anie tidak pernah mendapat perlakuan manis dari suaminya. Tapi tidak dengan Andrea, perempuan itu sepertinya sangat beruntung. Aron memberinya perhatian tanpa harus merengek dulu kepada pria itu. 


Sikap Anie berubah drastis setelah Andrea dibawa ke Kalimantan tanpa berdiskusi dulu dengan ia dan Leah selaku istri tertua. Anie merasa hatinya panas, ia menunjukkan ketidaksukannya secara terang-terangan di depan Andrea. 


Andrea tidak bodoh. Ia tidak juga buta. Ia tahu Anie—atau—kedua istri Aron tidak pernah menyukainya? 


*** 


Dengan mata kepala mereka sendiri—Aron menunjukkan perhatiannya kepada Andrea. Leah—istri pertama Aron—merasa situasi ini tidak menguntungkan dirinya. Ia pikir dengan menyuruh ibunya menemui Andrea di kota, Aron dan Andrea akan berpisah. 


"Beruntung sekali perempuan utu." Anie tertawa sinis. "Aku jadi ingin mengumpat sangat keras sekarang!" 


Leah melipat kedua tangannya di dada. "Kenapa? Kau baru sadar bahwa berada di posisi kita sama sekali tidak enak?" timpal Leah menertawai Anie. "Andai saja kau mau diajak kerja sama menyingkirkan Andrea dari awal, mungkin kejadiannya tidak akan begini. Lambat laun, rumah ini bahkan bisa dikuasai oleh Andrea!" sungut Leah mengepalkan tangannya. 


Bagaimana Leah dan Anie tidak iri. Kalau Aron menemani Andrea di kamar—hampir seharian penuh. Aron rela mengantar makanan Andrea ke kamar—tanpa menyuruh asisten rumah tangganya. Leah menggerutu, setengah hatinya tidak terima. 


"Makanlah lagi. Aku sudah meminta pelayan agar menyiapkan banyak buah di kulkas. Kau tidak bisa makan nasi selama hamil. Jadi, aku membuat stock buah-buahan yang kau sukai," kata Aron penuh sabar. 

__ADS_1


"Tidak usah sok peduli padaku." Andrea menatap Aron, tajam. "Tidak ada gunanya kau bersikap baik padaku, kalau kau saja tidak bisa membuatku merasa aman dan nyaman. Kau cuma seorang penipu, jenis manusia tidak pernah bisa dipercaya." 


Aron menghela napas. "Aku sudah minta maaf padamu, Andrea. Aku akui, aku salah karena telah berbohong padamu. Tapi sungguh, aku sangat menyayangimu. Dan berharap kita bisa menciptakan keluarga kecil yang bahagia." 


Andrea tertawa mengejek. "Keluarga kecil katamu?" Aron menatap Andrea seksama. "Keluarga kecil hanya ditunjukkan untuk pria yang punya satu istri. Bukan tiga orang istri. Bukankah kau harus menyebutnya sebagai keluarga besar?" 


Aron tertohok dengan ucapan Andrea baru saja. Sepertinya Aron telah membuat Andrea semakin tidak percaya dengan pria, dan cinta di dunia ini. Tatapan Andrea penuh benci kepadanya. Apa pun yang diucapkan Aron kepada Andrea, hanya akan dianggap angin lalu saja. 


***


Aron telah melakukan berbagai hal agar Andrea mau memaafkan dirinya. Rasanya Aron merindukan masa-masa kedekatannya bersama Andrea seperti dulu. Aron pikir, akan lebih baik Andrea tidak hamil, supaya Aron bisa tetap dekat di sisi perempuan itu. Aron tidak perlu merasa frustrasi karena dimusuhi oleh istrinya sendiri. 


Andrea tetap pada keputusannya. Ia menuntut bercerai dari Aron. Tidak peduli pria itu mencintainya, peduli kepadanya. Andrea merasa risi dengan sikap Aron yang menurut dirinya sangat berlebihan sekali. 


Aron ke luar dari kamar Andrea. Di tengah anak tangga, Aron berpapasan dengan Leah. Semula Aron tidak mau menyala Leah. Tapi Leah seolah sengaja menghalangi langkahnya. 


"Kau sadar, kau sangat keterlaluan kepadaku dan Anie. Tega sekali kau membawa perempuan itu kemari? Tanpa bicara dulu?" 


"Kenapa harus?" Aron memicingkan matanya. "Ini kan rumahku. Terserah aku mau bawa Andrea atau perempuan lain!" 


"Kau egois sekali, Aron," cecar Leah. "Kau sibuk dengan duniamu. Tapi kau tidak pernah memikirkan perasaan kami." 


"Kalau begitu, kau boleh pergi kalau mau ..." 

__ADS_1


Bibir Leah menganga. Leah hanya meminta keadilan sebagai sesama istri Aron. Namun reaksi pria itu jauh dari ekspetasinya. 


"Kalau kau suka, silakan tetap tinggal. Tapi jika kau tidak menyukainya, silakan pergi. Aku tidak akan menahan kau," ujar Aron lugas. "Lagi pula semua kekacauan ini karena ulah ibumu sendiri." 


__ADS_2