
keesokan harinya Liona sudah bersiap akan ke rumah Abraham karena dia dan Abraham akan tinggal di sana sedangkan rumah ini akan di tempati oleh ibunya. sejak tadi Liona berjalan mondar mandir di kamarnya bahkan Liona mengigit kukunya karena gugup padahal belum juga berangkat.
"bagaimana jika ibunya tuan Abraham tidak bisa menerima kehadiran ku". monolog Liona
Abraham yang baru saja selesai mandi dan keluar hanya menggunakan handuk sebatas pinggang menatap istrinya yang tidak biasa diam
"Liona kamu kenapa". tanya Abraham sambil mengahampiri istrinya
"itu tuan.....aaaa". Liona langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat Abraham hanya menggunakan handuk saja
"kenapa teriak". tanya Abraham
"karena tuan tidak memakai baju". jawab Liona
"apa masalahnya". tanya Abraham sambil membuka kedua telapak tangan Liona yang ada di wajahnya
"ya itu masalah". jawab Liona yang masih menutup matanya walaupun tangan sudah terbuka karena paksaan Abraham
"hey kita sudah menikah mau pakai baju ataupun tidak jika berduaan seperti ini sah sah saja". bisik Abraham sedangkan langsung merasakan merinding
"tu tuan cepat pakai bajunya". ucap Liona dengan gugup
sedangkan Abraham membawa tangan Liona untuk menyentuh dadanya dan Leona sendiri rasanya ingin pingsan.
"ayo buka matamu honey". bisik Abraham
"tu tuan ja jangan seperti ini". ucap Liona sedangkan Abraham terus menjahili Liona dan Abraham terseyum puas saat melihat wajah Ljona yang berwarna merah seperti kepiting rebus
"tu tuan". ucap Liona dengan tangan gemetar saat Abraham membawa tangannya semakin kebawah dan Liona semakin gugup saat tangan sudah menyentuh handuk yang Abraham kenakan
"tidak tidak". teriak Liona dan membuka matanya bahkan Liona tidak sengaja menarik handuk yang Abraham kenakan
"aaaa megalodon". teriak Liona saat melihat Abraham yang bertelanjang bulat
"honey kamu tidak sabaran ya". goda Abraham, bukannya malu Abraham malah tanpa santai di depan Liona walaupun tidak menggunakan apapun
Ljona langsung berlari Keluar kamar dan bersandar di depan pintu, Leona merosotkan tubuhnya dan Liona baru menyadari bahwa dirinya masih memegang handuk yang Abraham kenakan tadi
"ini handuknya kenapa aku bawa". monolog Liona
"dan tadi aku melihat secara langsung bentuk megalodon". ucap Ljona dan menelan salivanya serta perutnya merasakan mules saat membayangkan sebuah kemungkinan
__ADS_1
"tidak, aku belum siap". ucap Liona dan mengelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran pikiran yang bersarang di kepalanya
sedangkan Abraham yang sudah mengenakan pakaian terseyum saat dia memanggil Liona dengan honey.
"honey". Abraham terseyum miring sambil menatap layar ponselnya dan meletakan kembali ponselnya di atas nakas
"Liona apa yang kamu lakukan di lantai nak". tanya Lida yang berniat untuk memanggil putrinya dan menantunya itu
"dan membawa handuk". sambung Lida
"itu Bu apa nama itu, itu ma". ucap Liona sambil memijat tengkuknya
"itu apa". tanya Lida
"itu tadi tidak sengaja handuknya terbawa dan masalah duduk di bawah karena Leona ingin saja". jawab Liona dan Lida menatap putrinya lalu terseyum
"owh panggil suamimu untuk sarapan". ucap Lida
"iya Bu". setelah kepergian ibunya Leona berniat akan membuka pintu tetapi Abraham lebih dulu membuka pintu
"ayo sarapan pasti ibu sudah menyiapkan makanan". ucap Abraham dengan santai
"kenapa tuan memanggil ku honey". tanya Liona
"tidak ada alasan hanya saja agar hubungan kita bisa dekat dan tidak ada kecanggungan jadi bisa di awali dengan memberikan panggilan sayang". Jawab Abraham "karena panggilan honey membuatku merasakan dia". sambung Abraham dalam hati
"panggilan sayang". ucap Liona
"iya jadi mulai hari ini aku mau honey memanggilku bunny". ucap Abraham
"kenapa bunny". tanya Liona
"Karena aku suka". jawab Abraham " karena aku merindukan panggilan itu". sambung Abraham dalam hati
"sudah ayo honey". ucap Abraham dan Liona langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipi yang sudah berwarna merah.
Abraham langsung mengandeng tangan Liona dan mengambil handuk yang Liona pakai lalu melemparkan ke dalam kamar dan mendarat di sofa. Lida terseyum saat melihat putrinya dan menantunya yang bergandengan tangan.
"semoga kebagian selalu bersama kalian, ibu yakin nak Abraham adalah orang yang baik dan bisa membuatmu bahagia Liona, mungkin Abraham adalah orang yang di takdir untuk membahagiakan mu setelah apa yang selama ini kamu alami karena ulah ayahmu". monolog Lida dalam hati
pagi itu mereka sarapan dengan tenang dan nikmat, setelah sarapan Abraham dan Liona berpamitan untuk ke rumah Abraham yang tidak jauh dari kediaman yang di tempati orang tua Liona.
__ADS_1
Lion meremas celana yang dia pakai, Abraham yang melihat itu mengusap tangan Liona.
"jangan gugup". ucap Abraham
"aku takut jika orang tua tuan eh bunny tidak bisa menerima ku". ucap Liona karena dia bukanlah orang yang sebanding dengan Abraham dan keluarganya apalagi saat Liona melihat rumah ini sangat besar bahkan lebih besar di bandingkan dengan rumah Liona dulu saat ayahnya masih hidup
"dengar mommy pasti bisa menerima mu apalagi honey telah menyelamatkan harga diri bunny". ucap Abraham sambil menatap mata Liona
"ayo turun". ajak Abraham
saat memasuki rumah itu Liona mengeratkan pegangannya pada Abraham, Liona melihat seorang wanita yang turun dari tangga.
"akhirnya anak mommy pulang juga". ucap wanita itu sambil memeluk putranya
"iya mom". jawab Abraham
wanita itu diam saat melihat perempuan yang ada di samping anaknya
"mommy kenalkan ini Liona istri Abraham dan ini mommy ku honey". ucap Abraham
"salam Tante". ucap Liona yang mengulurkan tangannya tetapi Gracia tidak menerima uluran tangannya
"bunny". ucap Liona sambil menarik tangan yang tidak di sambut sedangkan Abraham mengusap perut lengan Liona seakan mengatakan semuanya baik baik saja
"Abraham". ucap Gracia pada putranya untuk meminta penjelasan apalagi saat mendengar panggilan mereka berdua
"hmm sebaiknya kamu bawa istrimu untuk melihat rumah ini Abra". ucap Gracia saat putranya memberikan sebuah kode
"iya mom". jawab Abraham
Gracia menatap punggung putranya yang menaiki tangga
"mirip". ucap Garcia dan meninggalkan ruang tamu
tidak terasa Sudah dua Minggu pernikahannya dengan Abraham membuat Liona merasa senang saat Abraham memperlakukan dirinya dengan baik bahkan saat pulang dari kantor Abraham selalu membelikan dirinya bunga dan Abraham mengatakan pada Liona bahwa itu adalah salah satu usaha agar tumbuhnya rasa cinta di antara mereka, tentu saja apa yang di lakukan Abraham membuat Liona menghangat dan secara perlahan tumbuh rasa cinta untuk suaminya. Liona melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore yang berarti sebentar lagi suaminya akan sampai rumah. Liona langsung turun dan benar saja saat sampai di ambang pintu mobil suaminya sudah ada di depan.
Abraham langsung memeluk Liona dan menciumi seluruh wajah Liona. Abraham mengeluarkan sesuatu yaitu sebuah kalung dengan desain yang cukup indah. Abraham langsung memakaikan kalung itu. sebenarnya Liona tidak terlalu menyukai menggunakan perhiasan tetapi Liona tetap memakainya karena tidak ingin membuat suaminya senang.
Abraham terseyum saat melihat kalung itu sudah berada di leher Liona, sebuah kalung yang berisinial AL
"pasti ini Abraham Liona". ucap Liona dan Abraham hanya terseyum untuk menanggapi perkataan Liona
__ADS_1