
setelah selesai mandi Abraham tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar. Abraham mengambil pakaian yang sudah Liona siapkan dan memakainya
ting
ting
ting
Abraham mengambil ponselnya dan membaca pesannya yang masuk.
"mas sudah aku siapkan makan, makan yuk". ajak Liona yang sudah berada di samping Abraham
"ayo". ucap Abraham
Liona melingkarkan tangannya di lengan Abraham
"hari ini aku masak makanan kesukaan mu". ucap Liona sambil menyiapkan makanan untuk suaminya
ting
ting
ting
Abraham hanya melirik sekilas pada ponselnya yang terus berbunyi karena ada pesan masuk. Abraham memakan makanannya dan begitu juga Liona. mereka makan dengan tenang.
drt
drt
drt
Abraham mengambil ponselnya dan meninggalkan Liona yang masih berada di meja makan, menuju ke halaman belakang
"besok aku kesana". ucap Abraham
"...."
__ADS_1
"iya". jawab Abraham dengan singkat lalu mematikan sambungan teleponnya
"siapa mas". tanya Liona
"rekan bisnis". jawab Abraham
"besok mas mau pergi". tanya Liona
"iya , rekan bisnis minta bertemu". jawab Abraham
"ya padahal besok jadwal cek kandungan dan aku ingin mas ikut". ucap Liona
"lain kali ya , besok mas tidak bisa ikut". ucap Abraham
"besok mas lama gak perginya jika tidak kita bisa pergi ke dokter setelah mas pulang". tanya Liona
"tidak tau, kemungkinan mas pulang malam, besok kamu periksa sendiri dulu ya". ucap Abraham
Liona menarik nafasnya dan menanggukan kepalanya. Abraham melingkarkan tangannya di pinggang Liona dan membawanya masuk ke dalam rumah
"temani mas istirahat, mas capek". ucap Abraham dan membawa Liona masuk ke dalam kamar
ting
ting
Liona menatap ponselnya Abraham yang berada di atas nakas
"apa benar rekan bisnisnya". ucap Liona dalam hati
"mungkin benar apalagi mas Abraham baru pulang setelah dua bulan di Singapura, mungkin mereka ingin membahas hal penting". sambung Liona dan menatap wajah suaminya
Liona mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah suaminya
"aku akan berusaha membuat mu mencintai ku sebagai Liona dan jika sampai anak kita lahir kamu masih menanti Marcella maka aku menyerah karena aku tidak ingin menjadi bayang bayang orang lain". ucap Liona dalam hati
"luka yang kamu berikan jauh lebih sakit dari luka yang ayahku berikan padaku dan juga ibuku, dulu ayahku selingkuh dengan orang lain yang jelas jelas masih hidup tapi sekarang aku harus bersaing dengan orang yang sudah tidak ada tapi dia masih ada di dalam hatimu". sambung Liona
__ADS_1
sedangkan di tempat lain
"mama". ucap seorang anak masuk ke dalam kamar
wanita itu menatap tajam ke arah anak itu
"bik bik". teriak wanita tersebut
"iya nyonya ". jawab pelayan
"saya sudah sering bilang jangan biarkan dia masuk ke kamar saya, kenapa dia masuk kemari". ucap wanita itu
"maaf nyonya ". jawab pelayan dan membawa anak itu keluar dari kamar.
pukul dua belas siang Abraham mengerjapkan matanya saat sinar matahari masuk lewat jendela. Abraham menyadarkan badan pada kepala ranjang lalu mengambil ponselnya dan membalas pesan yang masuk. Abraham mengunci pintu kamar dan berjalan menuju lemari menggeser lemari tersebut lalu masuk ke dalam. Abraham melihat foto foto yang ada disana dengan wajah datar
drt
drt
"hallo mom ada apa". tanya Abraham
"sudah sampai di Jakarta". tanya mommy
"tadi pagi sudah sampai di rumah". jawab Abraham
"bagaimana keadaan istrimu". tanya mommy
"dia baik baik saja dan anak kita juga baik mom". jawab Abraham
"kapan akan periksa kandungan".
"bisa kita akan periksa kandungan mom". ucap Abraham
"jaga baik baik kandungnya". ucap mommy
"iya mom". Jawab Abraham
__ADS_1
setelah sambungan telepon terputus Abraham segera keluar dari ruangan terbuka agar Liona tidak curiga. setelah keluar Abraham mengganti password akses masuknya. Abraham membuka pintu dan turun ke bawah.
Abraham melihat Liona yang sedang memakan buah di ruang tamu dengan lahap.