Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico

Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico
Bab 10


__ADS_3

Di dalam kamar Zico.


Zico terus memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kamu gak pa-pa Sayang?" Tanya Viola sambil duduk di sebelah Zico.


"Tidak pa-pa. Tolong tinggalkan aku sendiri." Pinta Zico.


"Bagaimana mungkin aku meninggalkan mu sendiri disini Sayang, nanti kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?!"


"Viola, tolong jangan membuat ku marah. Aku ingin sendiri dulu." Kata Zico lagi dengan penuh penekanan.


Mau tak mau Viola pun berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari dalam kamar Zico.


Setelah Viola keluar dari dalam kamar-nya, Zico pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja rias.


"Aaargh...." Teriak Zico meluapkan emosi-nya sambil menghamburkan perlengkapan kecantikan milik Nirmala.


PRAAANG...


Kemudian meninju cermin meja rias, hingga membuat tangan Zico mengucurkan darah.


Mendengar suara kaca yang pecah, Viola yang sudah melangkah beberapa langkah dari pintu kamar Zico pun kembali masuk ke dalam kamar Zico.


"Astaga Zico!!" Teriak Viola sambil mendekati Zico yang sudah berlutut di lantai.


Para bodyguard pun juga ikut masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Tuan Muda mereka.


"Cepat ambilkan kotak P3K!!" Perintah Viola.


Bodyguard Pu pun keluar dari dalam kamar Zico untuk mengambil kotak P3K yang ada di lantai bawah.


Sedangkan bodyguard Me dan Hi membopong Zico menuju ranjang dan bodyguard Bi membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai.


Tak lama bodyguard Pu pun datang dengan kotak P3K ditangannya.


Para bodyguard pun langsung membersihkan dan mengobati luka di tangan Zico. Sedangkan Viola keluar dari dalam kamar untuk membuatkan teh untuk Zico.


Tak lama Viola pun kembali ke dalam kamar dengan secangkir teh chamomile ditangannya.


"Minum dulu teh-nya. Ini teh chamomile, sangat cocok untuk menenangkan pikiran mu." Ucap Viola sambil menyodorkan secangkir teh itu pada Zico.


Zico pun mengambil cangkir teh itu dengan satu tangannya sementara tangan satu-nya lagi masih dalam proses di perban.


Setelah tangan Zico selesai di perban, para bodyguard pun keluar dari dalam kamar Zico, meninggalkan Zico dan Viola.


"Bagaimana, apa pikiran mu sudah lebih tenang sekarang?" Tanya Viola pada Zico yang sedang bersandar di kepala ranjang.


"Apa yang kamu lakukan sudah benar Sayang, jadi jangan merasa bersalah karena sudah menjebloskan Paman Dru dan wanita itu." Ucap Viola.


"Aku hanya merasa kecewa, aku tidak menyangka kalau Paman Dru tega melakukan itu pada ku." Balas Zico.


"Anjing saja yang katanya hewan yang palin setia, bisa menyerang majikannya jika dia kelaparan, apalagi manusia. Begitu pun dengan Paman Dru. Mungkin saja Paman Dru sudah merasa lelah bekerja dengan mu dan berpikir kalau selama ini dirinya yang lelah mengurus ini-itu tapi ZG Family yang semakin kaya." Viola menjeda kata-katanya sebentar.


"Dan kemungkinan lainnya, otak Paman Dru sudah di cuci oleh wanita yang mirip dengan ku itu." Lanjut Viola.


Zico diam nampak memikirkan apa yang Viola katakan.


Lagi dan lagi, otaknya mengatakan apa yang di katakan Viola masuk akal tapi hati kecilnya mengatakan kalau apa yang di katakan Viola tidak benar.


"Sudah, tidak usah dipikirkan lagi masalah ini. Kita serahkan saja semua pada tim pengacara. Sekarang, lebih baik kamu beristirahat." Kata Viola lagi.


Viola pun membantu Zico berbaring, lalu keluar dari dalam kamar Zico.


• • • • •


Malam harinya.


Setelah selesai makan malam, Zico pergi ke ruang kerjanya. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencari dokter pribadi yang baru sekaligus mencari psikiater untuk membantu-nya keluar dari keterpurukan setelah tahu kalau Paman Dru mengkhianatinya serta memikirkan kandidat yang kuat untuk menggantikan Paman Dru.


Sedangkan Viola kembali ke dalam kamar. Mumpung Zico sedang berada di ruang kerjanya, Viola pun menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Sam.


Dua jam berlalu.


Karena sudah dua jam Zico tidak kunjung kembali ke kamar, Viola pun memutuskan untuk menyusul Zico ke ruang kerjanya.


Ceklek.


Tanpa mengetuk pintu ruang kerja itu, Viola langsung membuka pintu ruang kerja itu.


Melihat pintu ruang kerjanya terbuka, Zico yang sedang berbaring di sofa hanya melirik sesaat pintu itu lalu kembali memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan lengannya.

__ADS_1


"Aku pikir kamu sedang kerja, ternyata kamu malah bersantai disini." Ucap Viola sambil berjalan mendekati Zico.


Zico tidak menjawab.


"Ayo kita kekamar." Ajak Viola.


"Aku masih ingin disini." Jawab Zico.


"Apa kamu merasa asing dengan ku, makanya kamu ingin berlama-lama disini?"


Zico mengangkat lengannya yang menutupi wajahnya, lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Bukan begitu Sayang. Sekarang aku sedang memikirkan orang yang tepat untuk mengganti posisi Paman Dru. Karena tiga hari lagi aku harus pergi ke negara J." Jawab Zico.


"Ke Negara J? Untuk apa?" Tanya Viola.


"Sepertinya aku butuh bantuan psikiater untuk membantu ku mengingat kejadian kecelakaan itu dan sekaligus untuk membantu ku bangkit dari rasa kecewa karena pengkhianatan Paman Dru." Jawab Zico.


"Oh.." Viola hanya membulatkan mulutnya, padahal dalam hati Viola bersorak sorai kegirangan karena Zico akan pergi ke luar negeri, itu tandanya dirinya bisa bebas bertemu dengan Sam.


"Apa kamu tidak ingin mengajak ku pergi?" Tanya Viola pura-pura.


"Kamu dirumah saja Sayang. Kamu kan baru melewati hal yang berat, biar aku pergi dengan keempat bodyguard ku." Jawab Zico.


"Sekarang, pergi lah ke kamar, nanti aku menyusul." Ucap Zico lagi.


"Apa kamu tidak merindukan ku Sayang?" Tanya Viola dengan tatapan menggoda dan tangan yang mengelus-elus paha Zico.


Zico menangkap tangan Viola yang mulai menjalar ke tempat keris Zico Gondrongnya terbungkus rapih.


"Aku sedang tidak berselera Sayang, aku mohon mengertilah keadaan ku sekarang." Ucap Zico.


Viola menghela nafasnya kasar.


"Baiklah, aku ke kamar dulu kalau begitu." Ucap Viola pura-pura kesal. Padahal tadi ia melakukan itu juga hanya ingin menggoda Zico saja dan tidak benar-benar ingin mengajak Zico adu mekanik di ranjang.


Viola pun keluar dari ruang kerja Zico.


Setelah Viola keluar, Zico pun menyandarkan punggungnya kasar ke sandaran sofa sambil kepalanya ia dongakkan melihat langit-langit ruang kerja.


Tadi, saat Viola sedang mencoba merayunya, tiba-tiba percintaannya dengan Nirmala terbersit di kepala Zico dan itu membuat hati kecil Zico tiba-tiba merasa bersalah pada Nirmala.


• • • • •


Keesokan harinya.


Pukul 07.00


ZG Mansion.


"Bila, saya keluar Mansion dulu. Kalau Nyonya Viola atau Tuan Muda bertanya keberadaan saya, bilang saja kalau hari ini adalah hari libur saya, jadi saya keluar mengunjungi keluarga saya. Kamu paham?" Ucap Bibi Below pada Bila ( Biru Laut ), salah satu pelayan ZG Mansion.


"Baik Bibi." Balas Bila.


Bibi Below pun cepat-cepat keluar dari ZG Mansion.


Bukan ingin mengunjungi keluarganya seperti yang ia katakan pada Bila, melainkan hendak menemui Paman Dru di penjara.


Sel tahanan pria.


Paman Dru dimasukkan kedalam sel tahanan dan bergabung dengan penjahat lainnya.


"Paman Dru, ada tamu untuk Anda." Ucap sipir penjara.


Sipir itu pun membuka sel tahanan agar Paman Dru bisa keluar lalu memborgol tangan Paman Dru sebelum membawa Paman Dru ke ruang kunjungan.


Melihat Bibi Below yang mengunjunginya, Paman Dru bernafas lega, akhirnya ada orang yang bisa ia percaya untuk membantunya mengirimkan pesan pada mata-mata andalan-nya.


Sebelum mengunjungi Paman Dru di sel tahanan pria, Bibi Below lebih dulu mengunjungi Nirmala di sel tahanan wanita.


Paman Dru pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Bibi Below yang di batasi sekat kaca.


Setelah mendaratkan bokongnya di kursi, Paman Dru mengangkat gagang telepon yang di gunakan untuk berkomunikasi dengan Bibi Below.


"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" Tanya Bibi Below.


"Jangan memanggil ku Tuan, Below. Kita sedang tidak di ZG Mansion sekarang. Bicaralah pada ku seperti biasa saja." Balas Paman Dru.


Bibi Below menghela nafasnya kasar.


"Bagaimana kabar mu, Dru? Kamu baik-baik saja kan? Baru satu malam di sel, kenapa pipi mu terlihat tirus? Apa makanan disini tidak enak? Apa kamu mau aku setiap hari mengirimkan makanan untuk mu?"

__ADS_1


"Haish!! Kenapa kamu tidak pernah berubah Below!! Cerewet sekali!"


"Tadi kamu yang minta aku untuk bicara biasa, sekarang aku sudah bicara biasa kamu malah marah-marah! Dasar, sudah tua masih saja tempramental!" Balas Paman Dru.


"Ya sudah lah, aku pulang saja kalau begitu! Membuang waktu ku saja menjenguk mu disini." Ancam Bibi Below dan hendak menutup teleponnya.


"Eits, tunggu." Cegah Paman Dru.


Bibi Below pun mengurungkan niatnya lalu meletakkan gagang telepon itu ketelinganya lagi.


"Kamu ini cepat sekali merajuk."


"Masih mau mengejek ku, hah?!"


"Iya.. iya, tidak. Maaf." Mau tidak mau Paman Dru mengalah karena kalau sampai Bibi Below merajuk lalu pergi, maka sirna sudah harapan Paman Dru untuk memberi pesan pada Emerald, si mata-mata andalan.


"Bee..." Panggil Paman Dru.


"Tumben sekali kamu memanggil ku dengan nama depan ku?" Tanya Bibi Below curiga.


"Pasti ada mau kan?" Tebak Bibi Below.


"Kamu memang yang paling tahu aku Bee." Balas Paman Dru sambil tersenyum penuh arti.


Bibi Below menghela nafasnya kasar.


Melihat senyum Paman Dru, Bibi Below tahu pertolongan apa yang Paman Dru butuhkan darinya.


"Katakan lah, apa yang bisa ku bantu." Tanya Bibi Below to the point.


"Kamu percayakan kalau aku tidak melakukan apa yang Tuan Muda tuduhkan padaku?" Paman Dru malah bertanya balik pada Bibi Below sebelum dirinya meminta bantuan Bibi Below.


Bibi Below menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku tidak percaya pada mu, untuk apa aku di sini sekarang." Balas Bibi Below.


"Jadi Bee, aku minta tolong padamu, pergilah ke apartemen ku, dan masuk ke ruang kerja ku, buka laptop ku lalu buka email-ku. Disana kamu akan melihat riwayat pesan dari EMR88, lalu kamu kirimkan pesan yang berisi tamplate nomor satu yang sudah aku buat padanya. Apa kamu paham?"


Bibi Below menganggukkan kepalanya.


"Tapi ngomong-ngomong, siapa EMR88 yang kamu maksud itu? Dan untuk apa kamu meminta ku mengirim pesan untuknya?"


"EMR88 itu adalah mata-mata andalan ku, selain mata-mata dia juga seorang hacker." Jawab Paman Dru.


"Untuk apa kamu mencari seorang mata-mata? Bukankah seharusnya sekarang kamu mencari seorang pengacara untuk membebaskan mu dari hukuman?"


"Pengacara mana yang mau membela ku jika lawannya Tuan Muda Zico? Itu sama saja pengacara itu menggali kuburnya sendiri. Untuk sekarang, aku tidak butuh pengacara. Yang aku butuhkan sekarang orang yang secara diam-diam mencari tahu fakta yang sebenarnya, karena aku merasa kemunculan Nona Viola yang tiba-tiba sangatlah aneh apalagi Nona Viola muncul dengan bukti-bukti yang tidak masuk akal."


"Kenapa kamu baru mencurigai Nona Viola sekarang? Kenapa bukan dari hilangnya Nona Viola?"


"Kamu pikir aku tidak mencari tahu soal itu? Aku sudah mencari tahu-nya tapi saat itu hasilnya tidak ada yang mencurigakan Bee, penyebab helikopter mati mesin pun tidak ada yang mencurigakan. Aku merasa, aku telah melewatkan sesuatu, tapi aku tidak tahu sesuatu yang aku lewatkan itu apa! Makanya aku membutuhkan bantuan EMR88 untuk membantuku mencari tahu kejanggalan-kejanggalan itu." Jawab Paman Dru.


"Ingat Bee, tidak boleh ada yang tahu soal ini. Makanya aku memilih tetap berada disini dan menggerakkan EMR88 dari jauh, agar tidak ada yang menyadari kalau aku sedang bergerak mencari bukti sekarang. Aku yakin pasti Nona Viola dan antek-anteknya sedang lengah sekarang karena mereka pikir aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau aku sudah di penjara."


Bibi Below menganggukkan kepalanya tanda ia paham semua yang Paman Dru katakan.


"Kalau begitu pergilah sekarang." Kata Paman Dru lalu hendak meletakkan gagang teleponnya.


"Dru, tunggu."


"Apalagi?"


"Berapa password unit apartemen mu?" Tanya Bibi Below.


"Ekhem..." Paman Dru terlihat mulai gugup.


"Aduh, bagaimana ini? Apa aku harus memberitahu Below password apartemen ku? Tapi kalau aku tidak memberitahu, bagaimana mungkin Below bisa masuk ke dalam." Gumam Paman Dru dalam hati.


Paman Dru pun menghela nafasnya kasar, mau tidak mau dia harus memberitahu Bibi Below password unit apartemennya.


"Tanggal jadian kita dulu." Jawab Paman Dru lalu cepat-cepat meletakkan gagang teleponnya dan pergi dari ruang kunjungan meninggalkan Bibi Below yang sedang ternganga kaget mendengar jawaban Paman Dru.


"Tanggal jadian kita dulu? Apa kamu masih belum bisa move on dari masa lalu kita Dru?" Gumam Bibi Below dalam hati.


• • • • •


Bersambung...


...Jangan lupa LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE-NYA....


...💋💋 Sarangbeo 💋💋...

__ADS_1


__ADS_2