
Setelah selesai membuatkan susu, ibu-ibu itu kembali ke ruang tamu.
"Dimana bayi-nya?" Tanya ibu itu.
Sontak semua orang yang sedang sibuk bergosip pun menoleh ke arah ibu-ibu itu.
"Bukannya bersama mu tadi?" Tanya salah seorang tetangga.
"Tadi aku meletakkannya di stroller, lalu pergi ke dapur untuk membuatkan susu." Jawab si ibu itu.
"Kemana Cassandra?" Salah seorang tetangga pun baru menyadari kalau Cassandra sudah tidak ada lagi bersama mereka.
"Jangan-jangan..." Menyadari kalau kemungkinan besar Cassandra kabur dengan membawa bayi Nanima, para tetangga itu pun keluar berpencar mencari keberadaan Cassandra. Ada yang kebelakang, ada yang ke lantai dua ada yang mencari di bagian depan rumah.
Mereka yakin Cassandra belum jauh dari daerah tempat tinggal itu.
Disaat semua tetangga sedang sibuk mencari keberadaan Cassandra dan bayi Nanima. Salah seorang tetangga laki-laki yang geram karena Ayah Nirmala masih tidur padahal keadaan sudah sangat genting, bayi Nirmala di larikan kerumah sakit dan sekarang bayi Nanima di bawa kabur Cassandra, seorang warga itu pun masuk ke dalam kamar dan membangunkan Ayah Nirmala.
"Pak Leon.. Pak Leon, ayo bangun Pak, bayi kembar Anda dalam bahaya!!" Teriak orang itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ayah Nirmala.
Tapi tetap saja Ayah Nirmala tidak bangun. Semakin kesal dengan Ayah Nirmala, dia pun mengambil air minum yang ada di nakas lalu menyiram wajah Ayah Nirmala.
Sontak Ayah Nirmala pun bangun dan terduduk.
"Kenapa Anda menyiram saya?" Marah Ayah Nirmala.
"Kenapa Anda marah!! Anda tahu karena perbuatan Anda sekarang dua putri Anda dalam keadaan berbahaya!" Balas orang itu.
"Apa maksud mu? Memangnya saya berbuat apa? Dan putri saya kenapa?" Tanya Ayah Nirmala bingung.
"Anda perhatikan saja penampilan Anda!" Balas orang itu.
Ayah Nirmala pun memperhatikan tubuhnya yang sekarang sedang tertutup seprei. Entah kapan tubuh polosnya itu tertutup seprei.
Kenapa aku bisa seperti ini? Kapan aku melepas pakaian ku?
Gumam Ayah Nirmala sambil mengingat-ingat.
"Sekarang cepat pakai pakaian Anda, Pak Leon, salah satu bayi Anda sudah di bawa kabur oleh Cassandra." Ucap orang itu lagi saat Ayah Nirmala masih sibuk mengingat-ingat.
Sontak Ayah Nirmala menoleh ke arah orang itu.
"Apa Anda bilang?" Tanya Ayah Nirmala untuk sekedar memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Salah satu putri Anda di bawa lari oleh Cassandra, selingkuhan Anda. Dan satu lagi putri Anda harus di larikan ke rumah sakit karena tidak bergerak!" Jawab orang itu berteriak. Emosinya sudah di ubun-ubun melihat Ayah Nirmala.
"Apa!!!!" Teriak Ayah Nirmala.
Ayah Nirmala pun turun dari atas ranjang dalam keadaan polos lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
Untung saja tetangga yang membangunkan Ayah Nirmala itu laki-laki, kalau tidak sudah pasti tetangga itu akan mengunci dirinya dan Ayah Nirmala dari dalam.
__ADS_1
(🤣🤣✌️✌️)
Setelah berpakaian lengkap, Ayah Nirmala pun keluar bersama orang itu keluar rumah.
Ternyata di luar rumah sudah ada para tetangga yang tadi mencari Cassandra sampai ke depan kompleks.
"Bagaimana sudah ketemu?" Tanya orang yang bersama Ayah Nirmala.
"Tidak. Sepertinya dia sudah berhasil meloloskan diri." Jawab salah satu tetangga.
"Kalau begitu kita harus melapor ke polisi." Ucap Ayah Nirmala dan diangguki oleh para tetangga.
Mereka pun bergegas pergi kantor polisi.
Setelah sampai di kantor polisi Ayah Nirmala dan tiga orang tetangga yang ikut bersama Ayah Nirmala pun langsung melaporkan penculikan bayi Nanima.
Polisi pun menanyakan bagaimana kronologi bayi Nanima di culik. Tiga orang tetangga itu pun menceritakan kronologinya.
Saat tiga orang itu sedang menceritakan kronologinya, Ayah Nirmala hanya mengernyitkan keningnya heran. Karena ia sama sekali tidak merasa menyetubuhi Cassandra.
Ayah Nirmala pun melakukan pembelaan. Dan merasa kalau dirinya telah di jebak.
Setelah mendengar pembelaan Ayah Nirmala, para tetangga pun baru merasa aneh dengan Ayah Nirmala yang tertidur pulas saat semua orang sudah heboh sana-sini, apalagi sebelum bayi Nirmala di larikan ke rumah sakit, suara keributan dan tangis si kembar sampai ke rumah tetangga, masa Ayah Nirmala yang ada di dalam kamar tidak merasa terusik dengan suara keributan itu dan malah tertidur pulas.
Akhirnya polisi pun menetapkan kalau ini adalah tindakan kejahatan berencana dan penculikan. Karena kasus ini adalah penculikan, maka polisi pun langsung bergerak melakukan pengejaran terhadap Cassandra.
Dan Ayah Nirmala serta tiga orang tetangga itu pun diminta pulang dan menunggu kabar dari kepolisian.
Sesampainya di rumah sakit, terlihat Ibu Aruni sedang mondar-mandir di depan ruang tindakan.
"Aruni..." Panggil Ayah Nirmala.
Ibu Aruni hanya menoleh sesaat lalu kembali mondar-mandir gelisah di depan pintu.
Ibu Aruni sangat marah dengan suaminya itu. Kalau saja sekarang mereka bukan di rumah sakit, ingin sekali Ibu Aruni memukul kepala Ayah Nirmala.
"Bagaimana keadaan Nirmala?!" Tanya Ayah Nirmala begitu sudah sampai di dekat istrinya.
"Apa peduli mu! Dasar laki-laki brengsek!" Jawab Ibu Aruni geram.
"Lihat saja, kalau sampai terjadi apa-apa pada bayi-bayi ku, akan ku kirim kau dan ja lang itu ke neraka!" Ancam Ibu Aruni.
"Kamu salah paham Runi. Dengarkan penjelasan ku dulu." Ucap Ayah Nirmala seraya mengambil tangan Ibu Aruni tapi Ibu Aruni langsung menepis tangan Ayah Nirmala.
"Runi..."
"Diam kau! Aku tidak mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari mu! Apa yang aku lihat sudah cukup membuktikan betapa brengseknya dirimu!" Jawab Ibu Aruni.
"Bu Aruni. Pak Leon tidak bersalah. Pak Leon di jebak oleh Cassandra." Tak ingin Ibu Aruni terus salah paham dengan Ayah Nirmala, seorang tetangga itu pun membuka suaranya membela Ayah Nirmala.
"Di jebak bagaimana? Jelas-jelas-"
__ADS_1
"Coba Ibu Aruni ingat-ingat lagi, apa Pak Leon bereaksi saat Ibu Aruni berteriak membangunkannya? Sedangkan teriakan Ibu Aruni dan tangis si kembar saja bisa terdengar sampai ke tetangga. Masa Pak Leon sama sekali tidak bangun. Sekebo-kebo nya orang, tidak mungkin sampai seperti itu." Potong orang itu lagi.
"Kalau tidak saya siram air, Pak Leon mungkin belum bangun sampai sekarang." Timpal orang yang tadi membangunkan Ayah Nirmala.
Iya juga yah. Selama ini Leon kan sangat peka dengan suara-suara.
Gumam Ibu Aruni dalam hati.
"Jadi maksudnya Cassandra menjebak suami saya ini?" Tanya Ibu Aruni dan di balas dengan anggukkan kepala oleh tiga orang itu.
"Di jebak dengan apa? Dengan obat perangsang?" Tanya Ibu Aruni.
"Aku rasa tidak. Karena kalau aku di jebak dengan obat perangsang setidaknya aku ingat apa yang sudah di lakukan Cassandra pada ku. Kalau menurutku dia menjebak ku dengan obat tidur." Jawab Ayah Nirmala.
"Kamu yakin tidak melakukan apa-apa dengan ja lang itu?"
"Iya Sayang, aku berani sumpah, aku tidak melakukan apa-apa dengan ja lang itu." Jawab Ayah Nirmala.
Mendengar itu Ibu Aruni bernafas lega dan langsung memeluk Ayah Nirmala.
"Maafkan aku sudah menuduhmu. Pikiran ku langsung kacau saat melihat pakaian mu dan pakaian ja lang itu berserak di mana-mana, ditambah lagi saat melihat kalian berdua berpelukan dalam keadaan polos. Akh.. ingin rasanya aku siramkan bensin ke tubuh kalian dan membakarnya tadi." Ucap Ibu Aruni dalam pelukan Ayah Nirmala.
Ceklek.
Saat Ibu Aruni dan Pak Leon sedang berpelukan, tiba-tiba pintu ruang tindakan terbuka.
Sontak Ibu Aruni melepaskan pelukannya dari suami-nya.
"Bagaimana dengan bayi saya dok?" Tanya Ibu Aruni.
"Bersyukurlah, bayi kalian masih bisa di selamatkan." Jawab dokter.
"Lain kali jangan membiarkan bayi kalian menangis terlalu lama." Kata dokter lagi memberi nasehat.
Setelah memberi nasehat itu dokter pun berlalu dari hadapan orangtua bayi Nirmala.
Ibu Aruni bernafas lega. Otaknya sudah kembali waras. Karena otaknya sudah kembali waras, barulah ia teringat akan bayi Nanima.
"Lalu bagaimana dengan Nanima? Siapa yang menjaganya sekarang?" Tanya Ibu Aruni.
Mendengar Ibu Aruni menanyakan bayi Nanima, sontak tiga orang tetangga dan Ayah Nirmala itu langsung tertunduk lesu.
Melihat empat orang itu tertunduk lesu, perasaan Ibu Aruni kembali tidak enak.
"Ada apa? Kenapa ekspresi kalian seperti itu? Nanima baik-baik saja kan?" Tanya Ibu Aruni.
Dalam keadaan yang masih menunduk, keempat orang itu kompak menggelengkan kepala mereka.
• • • • •
Bersambung...
__ADS_1