
Apartemen Paman Dru.
Kini Bibi Below sudah berada tepat di depan pintu unit apartemen Paman Dru.
Ia menghela nafasnya kasar sebelum menekan enam digit password yang merupakan tanggal jadiannya dulu dengan Paman Dru sewaktu mereka masih muda.
Bip.. bip.. bip.. bip.. bip.. bip.
Nooot.
Salah, percobaan pertama gagal.
"Haish!! Tanggal berapa sih?!" Gerutu Bibi Below.
Bibi Below pun mencoba mengingat-ingatnya lalu mencoba-nya lagi.
Nooot.
Tetap salah.
"Ini orang mau di bantu tapi malah membuat aku berpikir seperti ini!! Aku mana ingat lagi tanggal jadian kita waktu dulu!! Dulu saja kita bolak-balik putus nyambung!!" Gerutu Bibi Below lagi.
Bibi Below hampir putus asa dan ingin kembali ke penjara untuk menanyakan password unit apartemen Paman Dru daripada dirinya harus berpikir dan menebak-nebak, karena itu sangat membuang-membuang waktu.
Tapi baru saja Bibi Below beberapa langkah pergi dari depan unit apartemen Paman Dru, tiba-tiba ia ingat akan hari spesial itu, hari dimana pertama kalinya mereka berciuman lalu dan hari itu lah Paman Dru katakan sebagai hari pertama mereka menjalin hubungan sepasang kekasih.
"Ah.. aku ingat." Bibi Below pun kembali berjalan menuju pintu lalu menekan enam angka yang ia duga sebagai password pintu.
Ceklek.
Dan benar saja, pintu terbuka.
"Dasar tua bangka mesum!! Itu saja yang kau ingat!!" Gerutu Bibi Below lagi.
Bibi Below pun masuk ke dalam unit apartemen Paman Dru dan langsung berjalan menuju ruang kerja Paman Dru.
Sesampainya di ruang kerja, Bibi Below langsung mengerjakan apa yang Paman Dru minta padanya. Membuka laptop Paman Dru yang ternyata menggunakan sandi untuk membuka-nya.
Tebak-tebak buah manggis, begitulah Bibi Below menebak sandi untuk mengaktifkan laptop Paman Dru, enam digit angka yang sama dengan password pintu apartemen Paman Dru. Dan berhasil, ternyata sandi laptop Paman Dru sama dengan password pintu apartemen.
"Cih.. apa di otak mu hanya tentang hari itu saja!!" Gerutu Bibi Below lagi.
Setelah laptop berhasil diaktifkan, Bibi Below pun membuka email lalu mencari riwayat pesan dari EMR88 lalu mengirim pesan yang berisi tamplate nomor satu seperti yang Paman Dru perintahkan padanya.
Pesan pun berhasil terkirim. Tapi Bibi Below bingung dengan isi tamplate itu karena isi tamplate itu hanyalah berisi titik-titik yang bagitu banyak.
Sampai mata Bibi Below juling menyambung-nyambungkan titik itu, tapi tetap saja ia tidan menemukan satu huruf pun yang tersambung.
"Apa maksudnya ini? Kenapa Dru hanya menyuruhku mengirim titik-titik ini? Apa Dru tidak salah menyuruh ku mengirim tamplate?" Monolog Bibi Below bertanya-tanya.
"Lebih baik aku kirim pesan dengan bahasa yang jelas saja." Kata Bibi Below lagi lalu hendak mengetik kalimat meminta bantuan EMR88 untuk mencari tahu kejadian di balik tragedi helikopter itu.
Tapi baru saja Bibi Below mengetik satu kata, tiba-tiba masuk pesan balasan dari EMR88
Datanglah ke Jl. Burgundy blok B no 6, jangan lupa bawa pena berwarna Dark Blue dan dengan logo DB diatasnya. SEKARANG.
Mata Bibi Below membulat saat mendapat balasan dari EMR88.
"Apa maksudnya dia menyuruhku datang ke jalan ini? Apa dia mengerti maksud pesan itu?" Gumam Bibi Below.
"Tapi dari kalimat-nya sepertinya dia memang mengerti maksud pesan itu. Baiklah aku akan datang kesana." Lirih Bibi Below.
Bibi Below pun mencari pena berwarna Dark Blue dengan logo DB di atasnya lalu memasukkan ke dalam tasnya. Setelah itu Bibi Below pun pergi dari unit apartemen Paman Dru untuk menuju ke alamat yang di berikan EMR88.
• • • • •
Kini Bibi Below sudah sampai di alamat yang di berikan EMR88. Sebuah rumah kecil yang terlihat kumuh dari luar.
Tok.. tok.. tok..
Bibi Below mengetuk pintu rumah itu.
Ceklek.
Tak perlu waktu lama pintu pun terbuka.
"Emerald." Kaget Bibi Below saat melihat keponakan Paman Dru yang membuka pintu.
"Hai Bibi, lama tidak bertemu." Balas Emerald.
"Apa kau EMR88 itu?" Tanya Bibi Below dan hanya di balas dengan anggukkan kepala oleh Emerald.
"Silahkan masuk Bibi." Ucap Emerald.
__ADS_1
Bibi Below pun masuk ke dalam rumah itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Paman Dru?"
"Darimana kau tahu kalau Paman mu sedang tidak baik-baik saja?" Bibi Below malah balik bertanya.
"Dari pesan yang Bibi kirim."
"Darimana kau tahu pesan itu aku yang kirim? Kan aku tidak menulis nama ku disitu dan email pun email Paman mu. Lagipula pesan yang aku kirim hanyalah pesan tamplate yang berisi titik-titik tidak jelas."
"Kata siapa itu tidak jelas Bibi, itu adalah sandi morse. Apa Bibi tidak pernah ikut pramuka waktu sekolah dulu? Dan pesan itu secara jelas mengatakan kalau Paman Dru sedang dalam bahaya. Dan tamplete itu memang di buat oleh Paman Dru kalau suatu hari dia membutuhkan bantuan ku tapi tidak bisa mengirim pesan langsung dan menyuruh orang lain untuk mengirimkan pesan itu." Jawab Emerald.
"Dan aku tahu kalau itu Bibi, dari pena yang Bibi bawa." Lanjut Emerald.
"Pena yang aku bawa?" Lirih Bibi Below lalu mengeluarkan pena berawarna Dark Blue dengan logo DB diatasnya.
"Apa pena yang ini maksud mu?" Tanya Bibi Below sambil mengeluarkan pena yang tadi Emerald suruh.
Emerald menganggukkan kepalanya.
"Di pena ini ada kamera tersembunyi-nya dan pendeteksi sidik jari saat siapa pun yang menyentuhnya. Dan semua itu masuk ke dalam komputer ku." Jawab Emerald sambil mengambil pena itu dari tangan Bibi Below.
"Woah.. benarkah?" Tanya Bibi Below tidak percaya dengan kehebatan pena itu.
"Ini pena bukan sembarang pena Bibi. Bibi tidak percaya? Ayo ikut aku." Ajak Emerald.
Emerald pun berjalan lebih dulu menuju sebuah kamar dan diikuti Bibi Below dari belakang.
Betapa terkejutnya Bibi Below saat melihat isi di dalam kamar itu, semua alat-alat tekhnologi canggih ada disana.
"Woah..." Kaget Bibi Below.
"Makanya aku membutuhkan pena ini untuk mengambil sidik jari Nona Viola. Agar semua data-data tentang Nona Viola, apa yang terakhir dia lakukan semua keluar dari sini." Ucap Emerald.
"Memangnya tanpa alat ini kamu tidak bisa mencari tahu tentang Nona Viola?"
"Saya sudah mencoba mencarinya saat pencarian Nona Viola waktu itu, tapi jejaknya hanya sampai saat pernikahan Nona Viola dan Tuan Muda Zico. Setelah itu tidak ada lagi jejak Nona Viola. Jadi saya pikir Nona Viola benar-benar sudah meninggal. Tapi karena sekarang Nona Viola muncul, saya yakin pasti sudah ada yang meretas data pribadi Nona Viola agar tidak bisa terlacak." Jawab Emerald.
"Mereka bisa saja meretas data pribadi yang menggunakan chip tapi mereka tidak bisa meretas data yang keluar dari sidik jari dan pupil mata. Makanya sekarang Bibi Below harus membuat Nona Viola memegang pena ini dan pastikan Nona Viola memegang pena ini paling sebentar tiga puluh detik." Kata Emerald lagi.
"Baik saya paham." Jawab Bibi Below.
"Dan satu lagi, logo DB itu adalah tombol untuk merekam suara jadi kalau Bibi memutar sedikit logo itu maka mode mereka suara pun aktif tapi jika Bibi menekan tombol ini dua kali, maka akan langsung melakukan panggilan ke ponsel ku." Ucap Emerald menjelaskan cara kerja pena ajaib itu.
Emerald menganggukkan kepalanya.
"Silahkan saja Bibi coba kalau bibi tidak percaya."
Bibi Below pun mulai mencoba satu persatu fungsi bagian-bagian yang tadi Emerald jelaskan.
"Woah..." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Bibi Below saat semua yang di katakan Emerald benar adanya.
"Bagaimana? Bibi percaya sekarang kan?"
Dan Bibi Below pun menganggukkan kepalanya.
"Jadi kalau Bibi ingin menghubungi ku, langsung saja menekan logo DB itu dua kali, jangan menghubungi ku lewat telepon seluler karena itu akan sangat berbahaya, nanti aksi kita akan bocor." Ucap Emerald.
Bibi Below menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan mencari cara agar Nona Viola menggunakan pena ini." Ucap Bibi Below.
"Ingat Bibi, minimal tiga puluh detik." Ucap Emerald mengingatkan.
Lagi dan lagi, Bibi Below menganggukkan kepalanya.
Bibi Below pun keluar dari rumah yang nampak kumuh itu untuk kembali ke ZG Mansion.
• • • • •
Dua minggu kemudian.
Sel tahanan wanita.
Setelah melakukan apel pagi, para tahanan wanita di lapas itu pun mengambil sarapan mereka sebelum mereka melakukan aktivitas mereka selanjutnya.
Saat sedang mengantri untuk mengambil sarapan, tiba-tiba saja perut Nirmala terasa mual.
Nirmala yang tidak tahan ingin mengeluarkan isi dalam perut-nya langsung keluar dari barisan dan berlari menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, barulah Nirmala memuntahkan isi perutnya.
"Hooek... Hoooek.."
__ADS_1
"Hei.. 07, kamu tidak kenapa-kenapa?" Tanya sipir wanita yang mengikuti Nirmala saat melihat Nirmala berlari menuju kamar mandi. Dan 07 adalah nomor tahanan Nirmala.
Nirmala yang baru selesai mengeluarkan isi perutnya pun menoleh ke arah sipir yang sedang berdiri di depan pintu.
Namun baru beberapa detik melihat sipir itu, tiba-tiba pandangan Nirmala menjadi gelap. Dan...
BRUUUK.
Nirmala pun jatuh pingsan.
Sipir itu pun menghampiri Nirmala dan berteriak meminta pertolongan.
Tak sampai satu menit, orang-orang pun berdatangan dan membantu menggotong Nirmala menuju ruang kesehatan yang ada dipenjara.
Ruang kesehatan.
Tak sampai sepuluh menit, Nirmala pun sadar dari pingsannya.
"Eugh..." Lenguh Nirmala sambil mengerjapkan matanya.
"Dimana saya?" Tanya Nirmala dengan suara lemah.
"Ada diruang kesehatan." Jawab sipir wanita yang tadi mengikiti Nirmala ke kamar mandi.
Nirmala pun berusaha mengubah posisi-nya menjadi duduk sedangkan sipir wanita itu tak henti-hentinya menatap Nirmala dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa? Kenapa Anda melihat saya seperti itu?" Tanya Nirmala karena risih dengan tatapan sipir wanita itu.
"Apa kamu tahu kalau sekarang kamu sedang hamil?" Tanya sipir wanita itu.
Mata Nirmala membulat sempurna.
"Ha-hamil?" Tanya Nirmala terbata-bata.
"Tapi masih dugaan. Dokter akan memeriksa air seni mu untuk memastikan apa benar kamu hamil atau tidak." Balas sipir wanita itu.
Tak lama dokter wanita pun datang ke ruangan itu lalu berjalan mendekati ranjang Nirmala.
"Anda sudah bangun? Apa yang Anda rasakan sekarang? Masih mual? Atau pusing?" Tanya dokter.
"Sudah tidak mual tapi masih sedikit pusing." Jawab Nirmala.
"Apa Anda ingat kapan terakhir Anda datang bulan?" Tanya dokter.
"Dok, apa menurut dokter saya hamil?" Bukannya menjawab pertanyaan dokter, Nirmala malah balik bertanya.
"Dari pemeriksaan luar dan feeling saya sebagai dokter dan sebagai seorang wanita sih seperti itu. Tapi untuk memastikannya kita harus melakukan pemeriksaan lanjutan." Jawab dokter wanita itu.
"Jadi kapan terakhir Anda datang bulan? Apa Anda mengingatnya?" Tanya dokter lagi.
Nirmala mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dirinya datang bulan.
"Sepertinya tiga atau empat minggu yang lalu. Tepatnya tiga hari sebelum saya dan su-, ah.. maksud saya Tuan Muda Zico melakukan hubungan intim." Jawab Nirmala jujur.
Dokter hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju meja kerja-nya kemudian membuka laci meja itu dan mengambil dua testpack dari dalam laci meja.
Setelah itu kembali ke ranjang Nirmala.
"Tampung air seni mu di wadah stainless yang ada di wastafel depan kamar mandi lalu masukkan dua alat ini pada air seni yang kamu tampung." Kata dokter sambil memberikan dua bungkus testpack pada Nirmala.
Nirmala mengambil dua bungkus testpack itu dengan ragu lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Tidak sampai lima menit Nirmala pun keluar dari dalam kamar mandi sambil membawa wadah yang berisi air seni dengan dua testpack yang sudah dicelupkan di wadah stainless yang berisi air seni Nirmala.
Dokter mengambil dua testpack itu lalu kembali menyuruh Nirmala untuk membuang air seni-nya ke kamar mandi dan mencuci kembali wadah stainless itu.
Setelah selesai mencuci wadah stainless dan mengembalikannta di wastafel, Nirmala pun kembali menghampiri dokter.
"Bagaimana hasilnya dok?" Tanya Nirmala.
"Positif. Kamu benar-benar hamil." Jawab dokter sambil menunjukkan dua testpack dengan dua garis merah yang samar-samar.
Garis merah yang samar menandakan kalau kehamilan Nirmala masih sangat muda.
Nirmala ternganga mengetahui dirinya hamil. Entah harus senang atau sedih.
"Dari penghitungan saya. Sekarang kandungan Anda masuk di usia tiga minggu." Kata dokter saat Nirmala masih terkaget dengan hasil pemeriksaan dokter.
• • • • •
Bersambung...
...Jangan lupa LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE-NYA....
__ADS_1
...💋💋 Sarangbeo 💋💋...