
"Biar aku yang memimpin." Jawab Nirmala lalu menarik tangan Zico hingga Zico terduduk di sofa.
Mata Zico membulat lebar saat Nirmala mengatakan kalau dirinya ingin memimpin.
Apa dia sedang kerasukan arwah Viola?
Gumam Zico dalam hati.
Nirmala pun naik ke atas pangkuan Zico, lalu memberi sengatan-sengatan kenikmatan terlebih dahulu ke tubuh Zico sebelum ia memasukkan alat tempur Zico ke dalam lubang kenikmatannya.
"Ssh.. Sayang, bisa kah kamu masukkan sekarang? Aku sudah tidak tahan." Ucap Zico karena alat tempurnya sudah tidak tahan ingin mengebom lubang kenikmatan Nirmala.
"Kasihan suami ku, sudah tidak tahan yah?" Seloroh Nirmala sambil menatap mata sayu Zico.
"Jangan mengejek ku Nirmala. Atau aku yang memimpin! Habis kamu kalau aku yang memimpin." Balas Zico.
"Iya, iya. Aku tahu, kamu memang perkasa." Balas Nirmala.
Nirmala pun mengangkat sedikit bokongnya lalu menggenggam alat tempur suaminya yang sudah bertegangan tinggi lalu mengarahkan alat tempur itu ke dalam lubang kenikmatan miliknya.
Begitu alat tempur suaminya sudah tepat di depan pintu lubang kenikmatan, barulah Nirmala menurunkan bokongnya untuk membuat alat tempur suaminya itu terbenam.
"Aaargh.." erang keduanya saat alat tempur Zico yang besar, panjang, gagah dan perkasa itu terbenam sempurna di dalam lubang kenikmatan Nirmala.
"Oh.. damn Nirmala! Ini terlalu enak!" Racau Zico. Padahal Nirmala belum goyang patah-patah, tapi Zico sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa.
__ADS_1
"Benarkah? Apa rasanya sama seperti dengan Viola?"
"Hei! Kenapa kamu membandingkan dirimu dengan Viola, Sayang? Jelas kamu lebih baik dari dia bahkan dari semua wanita yang aku kenal." Jawab Zico.
"Jangan lagi membandingkan dirimu dengan orang yang sudah tidak berarti apa-apa bagi ku. Mungkin bagi Ibu, Viola sangat berarti, karena Viola juga anaknya, tapi tidak bagi ku, bagiku dia sudah tidak berarti apa-apa lagi. Jadi aku harap jangan pernah membandingkan diri mu dengan dia. Apalagi dia sudah tidak ada. Oke." Kata Zico lagi. Zico tahu saat ini ada rasa cemburu dalam hati Nirmala karena Ibu Aruni selalu menangisi Viola. Mungkin saat ini yang ada di pikiran Nirmala semua orang menjadi kasihan dengan Viola sampai-sampai lupa kalau dirinya adalah korban kejahatan Viola. Makanya Zico berkata seperti itu untuk membuat Nirmala kembali percaya diri dan percaya kalau bagi Zico hanya Nirmala lah satu-satunya wanita yang ada dalam hati dan pikirannya.
Nirmala menganggukkan kepalanya.
"Apa masih mau memimpin atau aku saja yang memimpin?" Tanya Zico.
"Aku saja. Aku ingin kamu merasa puas dengan ku." Jawab Nirmala.
Nirmala pun mencium bibir Zico dan mulai menggerakkan pinggulnya pelan.
Merasakan kenikmatan yang luar biasa, Nirmala melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Zico untuk sekedar mengeluarkan suara seksi nan erotisnya.
Melihat wajah Nirmala yang sayu ditambah lagi suara desa han Nirmala yang seksi, Zico pun membantu menaik-turunkan bokong Nirmala agar goyangan patah-patah Nirmala sedikit lebih cepat tempo-nya.
Nirmala semakin gila mengeluarkan suara seksi nan erotisnya sambil meracuni menyebut nama Zico.
Sama seperti Nirmala, Zico tubuh Zico juga seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi saat ia membantu Nirmala mempercepat tempo-nya.
Zico yang sudah tidak tahan ingin mengebor lubang kenikmatan pun berdiri dari tempat duduknya dengan posisi alat tempur yang masih terbenam di dalam lubang kenikmatan.
Lalu membawa Nirmala ke meja kerjanya, ie menyingkirkan terlebih dulu barang-barang yang ada di meja kerjanya sebelum membaringkan Nirmala disana, kemudian membaringkan Nirmala diatas meja itu.
__ADS_1
Kini posisinya Zico lah sang pemimpin.
Dengan awal yang lembut namun hentakan yang dalam dan keras Zico mulai mengebor lubang kenikmatan Nirmala dengan alat tempurnya. Lama kelamaan alat tempur itu pun mengebor lubang kenikmatan dengan sangat brutal hingga bukan hanya suara desa han dan racauan saja yang mengisi ruangan itu melainkan suara tepukan daging juga ikut menjadi backsound pertempuran diatas meja kerja. Dua mochi yang bergelantungan pun turut berguncang-guncang tak beraturan.
Sepuluh menit kemudian.
"Aaargh.." erangan panjang keluar dari mulut Nirmala. Ia sudah sampai pada puncak kenikmatannya. Zico yang mengetahui itu pun mencium bibir Nirmala dan tangannya memberi sengatan kenikmatan pada dua gundukan daging agar hasrat Nirmala kembali ke ubun-ubun. Karena sampai di menit ke sepuluh pertempuran diatas meja kerja itu, Zico belum juga sampai di puncak kenikmatannya.
Berhasil. Nirmala pun kembali menggila, hasratnya kembali ke ubun-ubun, ditandai dengan dua gundukan daging yang mengeras dan otot-otot lubang kenikmatan yang kembali mencengkram alat tempurnya dengan kuat.
Zico pun kembali menghujam lubang kenikmatan Nirmala dengan tempo yang sangat cepat.
"Aah... Zico." Racau Nirmala.
"Yes Baby.."
"Kamu tahan lama sekali." Ucap Nirmala.
Zico tersenyum senang. Bagaimana tidak tahan lama kalau tadi saat mandi dia sudah mengganti oli alat tempurnya.
Agar Nirmala tidak sakit pinggang karena dihujam dalam posisi terlentang, Zico pun mengeluarkan alat tempurnya lalu mengganti gaya kepemimpinannya, ia membalikkan tubuh Nirmala seperti membalikkan guling yang sedang jemur. Kini posisi Nirmala membelakangi Zico, Zico menaikkan sedikit bokong Nirmala lalu memasukkan kembali alat tempurnya ke dalam lubang kenikmatan dan alat tempur Zico pun mulai mengebor kembali.
Bukan hanya dengan gaya guling dibalik saat di jemur, tapi gaya cicak di tembok dan gaya baling-baling bambu Doraemon pun Zico praktekkan hingga sepuluh menit kemudian jurus kame-kameha'nya Son Goku pun adalah jurus penutup pertempuran panas mereka. Dan pertempuran panas itu berakhir diatas karpet bulu beruang.
• • • • •
__ADS_1
Bersambung...