
"Awaaaas!!!" Teriak Nirmala seraya mendorong tubuh Zico.
Seiring dengan teriakan Nirmala, Sam pun melepaskan timah panas ke arah Zico.
DOR..
Untuk beberapa detik Zico mematung seraya membulatkan matanya.
Membiarkan Zico yang sedang mematung, para bodyguard pun langsung bergerak cepat mengejar si penembak yang saat itu mereka tidak tahu siapa karena pencahayaan yang samar yang hanya mengandalkan cahaya dari lampu senter para bodyguard.
Disaat Zico mematung dan para bodyguard mengejar para pelaku, Paman Dru dengan sigap menghampiri Nirmala yang sudah tersungkur di tanah.
DOR..
Bodyguard Me melepaskan satu tembakannya ke salah satu orang yang ia lihat dari kegelapan.
Disaat mendengar suara tembakan kedua, disitulah Zico baru tersadar dari kagetnya.
Ia mendekati Nirmala yang sudah berada dalam pangkuan Paman Dru. Dan terlihat Paman Dru sedang berusaha menutupi perut Nirmala yang terkena tembakan agar darah tidak keluar dari perutnya.
"Nirmalaaaaa!!!!" Teriak Zico, suaranya kembali menggelegar memenuhi penjara ruang bawah tanah.
Tanpa perlu disuruh, Zico langsung mengangkat tubuh Nirmala dan berlari membawa Nirmala keluar dari penjara ruang bawah tanah.
"Urus mereka semua!!!" Teriak Paman Dru memberi perintah pada para bodyguard kemudian mengejar Zico yang sudah jauh.
• • • • •
Rumah Sakit.
Kini Zico, Paman Dru dan Nirmala sudah berada di rumah sakit.
Tim medis yang mendapat laporan dari Paman Dru kalau ada keadaan darurat, langsung bersiap-siap di rooftop rumah sakit karena helikopter Zico akan mendarat disana.
Begitu helikopter mendarat, tim medis pun langsung memindahkan Nirmala ke brankar lalu memasangkan alat bantu pernafasan ke hidung Nirmala dengan gerakan cepat kemudian berlari mendorong brankar itu masuk ke dalam gedung rumah sakit dan membawa menuju ruang operasi.
"Tu-an to-long se-la-mat-kan a-nak ki-ta." Lirih Nirmala dengan nafas yang tersenggal-senggal pada Zico yang juga ikut berlari di samping brankar yang membawa Nirmala.
"Kalian berdua harus selamat, harus!!!" Jawab Zico. Air mata tak kuasa lagi ia tahan melihat wajah Nirmala yang pucat ditambah lagi dengan perut Nirmala yang bersimbah darah.
Kini brankar Nirmala sudah sampai di depan pintu ruang operasi.
"Maaf Tuan, Anda hanya bisa mengantar sampai di sini." Tahan salah satu tim medis yang menunggu kedatangan mereka di depan pintu ruang operasi.
"Dengar, aku tidak ingin memilih, aku ingin istri dan anak ku selamat. Kau paham itu!!" Ucap Zico.
"Banyak-banyak berdoa Tuan." Hanya itu yang bisa di ucapkan tim medis itu.
Karena biar bagaimana pun tim medis bukanlah tuhan yang bisa menentukan jalan hidup seseorang. Mereka hanya bisa membantu dengan ilmu yang mereka miliki semampu mereka.
BRAAAK..
Pintu ruang operasi pun tertutup dan terkunci agar tidak ada yang bisa masuk lagi ke ruang operasi.
Tak lama lampu yang berada diatas pintu ruang operasi berubah menjadi merah tanda kalau di dalam sana operasi sedang berlangsung.
Zico berdiri merapatkan tubuhnya ke dinding, lalu memukul-mukul di ding itu sambil menangis dan meracau mengucapkan penyesalannya.
"Maafkan aku Nirmala, maafkan aku!! Aku memang bodoh!! Aku siap menerima hukuman dari mu, tapi aku mohon bertahanlah, kalian berdua harus selamat, harus!! Aku tidak akan pernah memaafkan diri ku sendiri kalau aku harus kehilangan salah satu dari kalian. Tuhan, aku sudah kehilangan kedua orangtua ku, aku mohon kali ini jangan ambil mereka dari ku. Aku mohon selamatkan mereka berdua, aku janji akan membahagiakan mereka berdua. Aku mohon Tuhan, selamatkan Nirmala dan anak kami." Racau Zico menyesal diiring tangis yang begitu pilu.
Tak tega melihat Zico yang seperti itu, Paman Dru yang sejak tadi melihat dari kejauhan pun memberanikan diri mendekati Zico.
"Tuan Muda." Paman Dru menyentuh pundak Zico sambil mere mas lembut pundak itu seolah sedang mentransfer kekuatan untuk Tuan Muda-nya.
__ADS_1
Zico menoleh ke belakang.
"Paman.." Zico langsung memeluk Paman Dru dan tangisnya pun pecah dalam pelukan Paman Dru.
Bagai seorang Ayah yang sedang menenangkan anak-nya yang sedang terpuruk, begitu lah yang di lakukan Paman Dru saat ini pada Zico. Ia menepuk lembut punggung Zico seraya mengucapkan satu kalimat penguat untuk Zico, "Percayalah, semua akan baik-baik saja Tuan."
• • • • •
Lima belas menit kemudian.
Zico sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Saat Zico sudah lebih tenang, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka.
Dokter Sonny White, mantan dokter pribadi Zico yang sudah Zico pecat saat Zico sedang labil dan dokter Alma Pinky, dokter kandungan keluar dari dalam ruang operasi.
Zico pikir operasi sudah selesai.
Zico yang sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri dua dokter itu.
Paman Dru yang juga penasaran dengan keadaan Nirmala pun ikut berdiri dari duduknya dan berjalan di belakang Zico.
"Bagaimana keadaan Nirmala?" Tanya Zico tak sabaran.
Dokter Alma menoleh pada dokter Sonny sesaat, seolah menanyakan pada dokter Sonny apa dirinya yang harus mengatakan berita yang sesungguhnya pada Zico.
Mengerti dengan arti tatapan dokter Alma, dokter Sonny menganggukkan kepalanya.
Dokter Alma menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar terlebih dahulu.
"Tuan, kami sudah berhasil mengangkat peluru yang menembus perut istri Anda. Tapi.." dokter Alma menggantung kata-katanya sejenak karena di bagian ini lah dirinya serasa tidak tega mengutarakannya pada Zico.
"Tapi apa? Cepat katakan!!!" Bentak Zico kesal karena dokter Alma menggantung kata-katanya.
"Tapi pendarahan hebat karena tembakan itu membuat janin yang sedang di kandung istri Anda tidak bisa di selamatkan apalagi kandungan istri Anda masih tergolong sangat muda, jadi kami sangat memohon maaf pada Anda, kami harus mengangkat janin yang ada di dalam kandungan istri Anda." Lanjut dokter Alma.
Mendengar itu, kaki Zico langsung bergetar hebat dan terasa lemas. Sangking lemasnya sampai-sampai tidak bisa menopang tubuh-nya yang besar hingga membuat dirinya berlutut di lantai.
"Aaarrrrghhhhh...." Teriak Zico seraya menjambak rambutnya frustasi.
"Maafkan kami Tuan Muda." Ucap dokter Alma dan dokter Sonny bersamaan.
Paman Dru pun menyuruh dokter Alma dan dokter Sonny untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka dan tak perlu menghiraukan Zico yang sedang meluapkan kesedihannya.
Setelah dokter Alma dan dokter Sonny masuk kembali ke ruang operasi, Paman Dru pun turut berjongkok di sebelah Zico lalu membawa Zico dalam pelukannya.
Kali ini tidak ada kata-kata penguat yang Paman Dru ucapkan, karena kali ini Paman Dru juga ikut menangis bersama Zico.
Walau Paman Dru belum pernah menikah dan memiliki anak tapi Paman Dru bisa merasakan apa yang Zico sedang rasakan.
• • • • •
Dua jam kemudian.
Sam dan anak buah-nya sudah berhasil di bekuk. Karena para bodyguard Zico melumpuhkan Sam dan anak buahnya dengan timah panas di kaki mereka, mau tidak mau Sam dan anak buah-nya di larikan kerumah sakit terlebih dahulu dan pastinya dengan pengawalan yang ketat dari tim keamanan Zico Group dan juga dari pihak kepolisian.
Pihak kepolisian dengan dibantu orang-orang ZG Group dan Emerald, juga sedang melakukan pengejaran pada orang-orang yang berpihak pada Sam yang turut membantu kejahatan yang Sam lakukan.
Meninggalkan kepolisian dan orang-orang ZG Group yang sedang melakukan pengejaran, sekarang ada Zico, Paman Dru dan Nirmala yang sudah berada di kamar rawat.
Setelah melewati masa-masa sulit di ruang operasi dan setelah melewati masa-masa obeservasi, akhirnya Nirmala di pindahkan ke kamar rawat.
Nirmala masih belum sadarkan diri karena saat tindakan operasi, dokter melakukan pembiusan total pada Nirmala.
__ADS_1
Disinilah Zico sekarang, duduk di sebelah ranjang pasien sambil matanya terus menatap wajah Nirmala yang sedang terlelap.
Mata Zico terlihat sembab, hidungnya juga merah dan suaranya serak karena sudah habis ia pakai untuk menangis.
"Paman, apa Paman sudah memberi tahu keluarga Nirmala?" Tanya Zico seraya pada Paman Dru yang juga sedang berdiri di samping ranjang pasien yang bersebrangan dengan Zico.
"Belum Tuan. Tadinya saya ingin memberitahu Ibu Aruni, tapi karena saya dengar kalau kesehatan Ibu Aruni sedang menurun, jadi saya memutuskan untuk tidak memberitahu-nya karena takut nanti kondisi Ibu Aruni semakin drop." Jawab Paman Dru.
Zico menghela nafasnya kasar.
Air mata kembali mengalir begitu saja dari mata biru-nya. Zico sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.
Menyesal, pasti. Seandainya waktu itu ia mencari tahu terlebih dulu tentang kebenarannya dan bukan langsung memasukkan Nirmala ke penjara, pasti semua ini tidak akan terjadi.
Apa boleh buat, namanya juga penyesalan yang selalu datang di akhir, karena kalau di awal namanya pendaftaran.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu kamar rawat Nirmala terbuka.
Zico pun cepat-cepat menyeka air matanya. Ia tidak ingin orang lain melihat dirinya yang sekarang sedang rapuh.
Sedangkan Paman Dru menoleh ke arah pintu.
Ternyata bodyguard Me yang masuk ke dalam kamar rawat Nirmala.
"Ada Me?" Tanya Paman Dru.
"Tuan, polisi ingin meminta keterangan Anda." Ucap bodyguard Me.
Paman Dru melirik Zico sesaat dengan ekor matanya.
Melihat Zico yang tidak mungkin memberi keterangan pada polisi untuk saat ini, Paman Dru pun berinisiatif untuk menggantikan Zico.
"Tuan, saya tinggal dulu. Kuatkan hati Anda Tuan. Ingat, Nona Nirmala membutuhkan Anda untuk menguatkannya saat sadar nanti." Ucap Paman Dru.
Zico hanya membalas dengan anggukkan kepala.
Melihat Zico mengangguk, Paman Dru pun memutar tubuh-nya hendak keluar dari kamar rawat Nirmala. Namun belum juga Paman Dru melangkah, Zico sudah memanggilnya kembali.
"Paman.."
Paman Dru pun kembali memutar tubuh-nya.
"Iya Tuan Muda." Jawab Zico.
"Paman tahu kan apa yang harus Paman lakukan pada orang-orang itu?"
Paman Dru menganggukkan kepalanya tanda kalau dirinya paham dengan apa yang di katakan Tuan Muda-nya.
Setelah itu Paman Dru pun kembali memutar tubuh-nya dan keluar dari kamar rawat Nirmala bersama bodyguard Me.
Setelah Paman Dru keluar, Zico mengambil tangan Nirmala yang tidak di pasangi infus lalu mengecupi punggung tangan Nirmala. Tangan yang sudah tulus merawat Zico saat Zico sakit, tangan yang selalu mengelus dan membelai Zico saat mimpi buruk tentang tragedi helikopter masuk ke dalam mimpi-nya, tangan yang selama beberapa bulan terakhir di pakai untuk mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitaran rahangnya.
Zico kembali terisak sambil menciumi punggung tangan Nirmala.
"Maafkan aku Nirmala, maafkan aku. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan anak kita."
• • • • •
Bersambung...
...Jangan lupa LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE-NYA....
__ADS_1
...💋💋 Sarangbeo 💋💋...