
"Tuan, apa Anda-" lirih Paman Dru kaget. Ia tidak menyangka kalau Zico akan menerima Nirmala padahal tadi Paman Dru mengatakan pada Nirmala akan tetap menanggung semua biaya hidup dan biaya pengobatan Ibu Nirmala kalau Zico mengusir Nirmala.
Tapi ternyata dugaannya salah, Zico malah memaafkan Nirmala.
"Berikan saja apa yang aku minta Paman." Potong Zico.
Zico pun berjalan menuju ruang kerjanya dan diikuti Paman Dru dari belakang.
Kini Zico dan Paman Dru sudah berada di ruang kerja Zico.
Sesampainya di ruang kerja, Paman Dru pun memberikan informasi lengkap tentang Nirmala pada Zico.
Dengan serius Zico membaca informasi tentang Nirmala sambil mencari-cari kesamaan dengan Viola hingga Viola mengirimkan Nirmala untuk menggantikannya.
Saat Zico sedang serius membaca informasi tentang Nirmala, Paman Dru juga serius menatap wajah Zico. Ia kembali teringat dengan kata-kata Nirmala saat Paman Dru mendatanginya di kamar Bibi Below.
FLASHBACK ON.
Kamar Bibi Below.
Setelah keluar dari kamar Zico, cepat-cepat Paman Dru menyusul Nirmala yang di ketahui sedang ada di kamar Bibi Below di paviliun belakang.
Tok.. tok.. tok.
Paman Dru mengetuk pintu kamar Bibi Below terlebih dahulu.
Tak perlu menunggu lama, Bibi Below pun membuka-kan pintu kamarnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Paman Dru langsung menyerobot masuk ke dalam kamar Bibi Below.
"Dimana gadis itu? Bukannya dia bersama mu?" Tanya Paman Dru.
"Dia sedang ada di kamar mandi." Jawab Bibi Below sambil mendaratkan bokongnya di pinggiran ranjang. Sedangkan Paman Dru tetap berdiri di hadapan Bibi Below.
"Apa dia sudah cerita apa yang membuat Tuan Muda mengetahui kalau Nona Nirmala bukanlah Nona Viola?" Tanya Paman Dru.
Bibi Below menggelengkan kepalanya.
"Sejak tadi Nona Nirmala hanya menangis. Dan setelah tenang baru aku menyuruhnya untuk membersihkan tubuhnya." Jawab Bibi Below.
Paman Dru pun menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada tepat di depan Bibi Below lalu memijat-mijat pangkal hidungnya sambil terus berpikir apa yang menyebabkan Tuan Muda-nya mengetahui kalau Nirmala bukanlah Viola.
Ceklek. Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka.
Bibi Below pun langsung berdiri dari duduknya dan Paman Dru langsung menegakkan punggungnya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Paman Dru saat melihat Nirmala keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya Paman, sekarang sudah lebih baik." Jawab Nirmala lalu berjalan melewati Paman Dru.
"Ssh.. auw." Terdengar ringisan kesakitan dari mulut Nirmala saat Nirmala melewati Paman Dru.
"Benar Anda tidak kenapa-kenapa Nona? Tuan Muda tidak melakukan kekerasan fisik pada Anda kan?" Tanya Paman Dru curiga kalau tadi saat Zico mengamuk, Zico juga memukuli Nirmala.
"Tidak Paman." Jawab Nirmala.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba Tuan Muda tahu kalau Anda bukanlah Nona Viola? Apa Anda melupakan sesuatu yang sudah saya pesankan pada Anda?" Tanya Paman Dru.
Nirmala yang hendak berjalan menuju ranjang, langsung memutar tubuhnya menghadap Paman Dru.
"Bukan saya yang melupakan sesuatu Paman, tapi Paman yang kurang mendapatkan informasi!" Balas Nirmala.
"Apa maksud Anda? Anda menuduh saya kurang perhatian dengan Tuan Muda Zico, begitu?" Dengan nada sedikit meninggi Paman Dru balik bertanya pada Nirmala.
"Iya!! Masa Anda tidak tahu kalau Tuan Muda dan Nona Viola sudah pernah melakukan hubungan suami-istri?"
"Hah?" Kaget Paman Dru.
"Tidak mungkin Nona! Jelas-jelas mereka belum sempat berbulan madu." Kata Paman Dru menolak percaya dengan kata-kata Nirmala.
"Paman, saya rasa Paman bukan lah laki-laki polos. Pasti Paman tahu maksud perkataan saya! Tuan Muda dan Nona Viola sudah sering melakukan hubungan suami-istri sebelum mereka menikah. Dan itulah yang membuat Tuan Muda mengetahui kalau saya bukanlah Nona Viola." Jawab Nirmala.
"Tidak mungkin! Tuan Muda bukan laki-laki yang seperti itu." Paman Dru masih menolak percaya.
"Terserah Paman mau percaya atau tidak, tapi itulah yang menjadi penyebab Tuan Muda tahu siapa saya." Balas Nirmala.
"Paman pikir saja sendiri, apa mungkin Tuan Muda bisa menahan dirinya untuk tidak menjamah Nona Viola kalau Nona Viola terus berpenampilan seksi?!" Tambah Nirmala.
Paman Dru mengernyitkan keningnya dan mulai mengingat-ingat momen saat Zico dan Viola berpacaran, memang sering sekali Zico pergi ke apartemen Viola tanpa di temani bodyguard tapi pikiran Paman Dru tidak sampai kesitu karena menganggap Zico yang kini sudah 30 tahun, masih seperti Zico yang berumur 10 tahun, jadi tidak akan mungkin Zico tahu yang namanya hubungan suami-istri.
"Huh.. berarti aku sudah kecolongan selama ini!! Tuan Zio, Nyonya Cornelia, maafkan saya, saya tidak bisa menjaga keperjakaan Tuan Muda sampai Tuan Muda menikah." Gumam Paman Dru dalam hati.
"Jadi sekarang saya harus bagaimana Paman? Bagaimana kalau Tuan Muda mengusir saya?"
"Tenang saja Nona, saya kan sudah berjanji akan bertanggung jawab penuh atas diri Anda dan keluarga Anda dan saya pasti akan menepati janji saya itu." Jawab Paman Dru.
"Sekarang lebih baik Anda beristirahat dan jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Biar saya yang mengurus semua ini." Kata Paman Dru lagi.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Paman Dru pun keluar dari dalam kamar Bibi Below.
FLASHBACK OFF.
Kening Paman Dru terus mengernyit sambil menatap Zico.
"Saya tidak menyangka Tuan Muda di balik wajah tegas Anda, Anda tidak bisa mengendalikan hasrat Anda." Gumam Paman Dru dalam hati.
"Kenapa melihat ku seperti itu Paman?" Tiba-tiba Zico membuka suaranya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang berisi informasi tentang Nirmala.
Ia mulai risih dengan tatapan Paman Dru yang memandangnya tajam dan sudah ia rasakan sejak tadi.
"Tidak pa-pa Tuan." Jawab Paman Dru sambil melemaskan otot-otot wajahnya.
"Saya tahu pasti sekarang Paman sedang memikirkan bagaimana saya bisa mengetahui kalau Nirmala itu bukanlah Viola, iya kan?"
"Saya sudah tahu Tuan. Nona Nirmala yang memberitahu saya tadi."
"Baguslah kalau begitu, jadi saya tidak perlu capek-capek memberitahu Paman." Balas Zico.
Suasana pun kembali hening.
"Baiklah, aku akan mencoba menerima kehadiran Nirmala, biar bagaimana pun aku harus bertanggung jawab pada Nirmala karena sudah mengambil keperawanannya. Tapi meski begitu, aku tidak mau kami tidur bersama. Aku ingin kami tidur terpisah, seperti waktu ingatan ku hilang." Ucap Zico.
"Baik Tuan saya mengerti." Balas Paman Dru.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan dan saya mohon jangan membenci Nona Nirmala karena ini semua adalah ide saya." Kata Paman Dru lagi.
Sebenarnya Zico ingin sekali marah dan memecat Paman Dru, tapi Zico tidak sampai hati karena Paman Dru sudah bekerja di ZG Group sudah sangat lama dan Paman Dru juga sudah Zico anggap sebagai Ayah-nya sendiri karena setelah kematian Daddy Zio, Paman Dru lah yang mengurus dan merawat Zico.
"Sudah lah Paman, tidak usah kita bahas lagi. Saya percaya, apa yang Paman lakukan ini demi kabaikan saya, agar saya tidak depresi dan menyalahkan diri saya sendiri." Ucap Zico berlapang dada memaafkan kesalahan asistennya itu.
"Terimakasih Tuan." Balas Paman Dru.
"Paman Dru boleh pulang sekarang, saya ingin menyendiri dulu disini." Ucap Zico.
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Pamit Paman Dru lalu keluar dari dalam ruang kerja Zico.
Setelah Paman Dru keluar, Zico kembali bersedih dan mengingat kembali kenangan-kenangannya bersama Viola sampai akhirnya Zico tertidur di ruang kerjanya.
• • • • •
Keesokan Harinya.
Pukul 06.30
Setelah matanya terbuka, Zico pun melihat ke sekelilingnya.
"Sial!! Aku ketiduran di ruang kerja." Lirih Zico.
Zico pun mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aagh.. gara-gara tidur di sofa, badan ku jadi pegal semua sekarang." Ringis Zico saat merasakan badan-nya yang pegal-pegal.
Zico pun berdiri dari tempat duduknya lalu keluar dari dalam kamar.
Saat hendak berjalan menuju lift, mata Zico tak sengaja melihat Nirmala yang sedang menyusun makanan di meja makan.
Zico hanya memperhatikan Nirmala sebentar lalu kembali melanjutkan langkah kaki-nya menuju lift yang akan membawa-nya ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Zico langsung masuk ke dalam kamar mandi. Selain untuk membersihkan tubuhnya, Zico juga ingin meregangkan otot-ototnya yang pegal-pegal karena tidur di sofa.
Selagi Zico di kamar mandi, Nirmala yang baru selesai menyiapkan sarapan untuk Zico langsung naik ke lantai atas dan hendak masuk ke kamar Zico.
"Apa Tuan Muda sudah bangun?" Tanya Nirmala yang tidak menyadari kalau tadi Zico memperhatikannya sewaktu di ruang makan.
"Apa Nona tidak melihat Tuan Muda di bawah? Tadi Tuan Muda baru dari bawah kok." Jawab bodyguard Me.
Dengan polosnya Nirmala menggelengkan kepalanya.
"Tuan Muda baru saja masuk ke kamar." Kata bodyguard Me lagi.
"Apa boleh saya masuk ke kamar Tuan Muda? Saya ingin menyiapkan pakaian Tuan Muda dan mengajaknya sarapan." Ucap Nirmala.
"Tapi Nona-" Bodyguard Me agak ragu mengizinkan Nirmala masuk ke kamar Zico karena takut kejadian semalam terulang kembali.
"Tenang saja, saya akan bersikap sebagai seorang pelayan bukan sebagai Nona Viola. Dan kalian jangan memanggilku dengan sebutan Nona lagi, panggil saja dengan nama ku." Potong Nirmala.
Bodyguard Me dan bodyguard Hi saling pandang untuk beberapa detik sampai akhirnya mereka mengizinkan Nirmala untuk masuk ke dalam kamar Zico.
Begitu Nirmala memasuki ruang tidur, bertepatan juga dengan Zico yang keluar dari dalam kamar mandi.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Zico dingin.
"Maaf Tuan, saya disini ingin mengerjakan tugas saya sebagai pelayan Anda." Jawab Nirmala sambil membungkukkan badannya setengah.
"Siapa yang menyuruh mu menjadi pelayan saya?"
__ADS_1
"Tidak ada Tuan. Ini inisiatif saya sendiri, anggap saja sebagai penebus dosa saya pada Anda."
"Tidak perlu!! Pelayan saya sudah banyak, jadi saya tidak perlu pelayan!!" Balas Zico dengan ekspresi yang dingin.
"Ma-maksud Tuan, apa saya-."
"Tetaplah menjadi istri saya!!!" Potong Zico.
"Hah?" Kaget Nirmala.
"Apa kamu tuli? Tetap lah menjadi istri saya!! Tapi kamu jangan GR dulu!! Saya melakukan ini karena saya mendapat petunjuk dari arwah Viola yang meminta saya untuk mempertahankan kamu menjadi istri saya. Jadi berlaku lah seperti istri saya bukan pelayan saya." Ucap Zico.
"Tapi meski begitu sampai saya benar-benar menerima mu menjadi istri saya, lebih baik kita tidur terpisah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." Lanjut Zico.
"Baik Tuan, saya mengerti. Terimakasih sudah mempercayakan saya sebagai pengganti Nona Viola. Saya berjanji akan melayani Anda dengan sepenuh hati saya, Tuan." Balas Nirmala.
Jujur, hatinya sangat senang sekali, karena Zico tidak mengusirnya dan tetap mempertahankan dirinya sebagai istri walaupun harus berada di bawah bayang-bayang Viola. Bagi Nirmala itu tidak masalah karena dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada Zico. Kalau orang sudah jatuh cinta, jurang pun akan di terjuni.
• • • • •
Dua bulan berlalu.
Karena Zico dan Nirmala sering bersama di tambah Nirmala yang dengan sepenuh hati melayani Zico, benih-benih cinta pun muncul di hati Zico untuk Nirmala.
Pukul 21.00
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja, Zico pun naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Namun saat sampai di depan pintu kamar, Zico teringat dengan Nirmala. Mata Zico pun melirik ke arah kamar Nirmala.
"Sepertinya sudah saatnya kami tidur bersama." Gumam Zico dalam hati.
Zico pun berjalan menuju kamar Nirmala.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Zico langsung membuka pintu kamar Nirmala.
Nirmala yang sedang berbaring di sofa dengan masker wajah menempel di wajahnya langsung mendudukkan dirinya.
"Tuan..." Lirih Nirmala saat melihat Zico berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa ada yang Anda butuhkan?" Tanya Nirmala.
Zico menganggukkan kepalanya.
"Tapi kalau kamu sedang memakai masker wajah, lanjutkan saja dulu ritual kecantikan mu itu." Jawab Zico seraya mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang.
"Ya sudah lanjutkan saja, saya bisa menunggu." Ucap Zico karena Nirmala malah menatapnya segan.
"Saya yang tidak enak hati Tuan." Balas Nirmala.
"Katakan saja, apa yang Tuan butuhkan, saya bisa melanjutkan ini nanti." Kata Nirmala lagi.
"Ummm...." Zico malu mengatakan isi hatinya pada Nirmala.
"Tuan lapar? Ingin makan mie instan?" Terka Nirmala.
Zico menggeleng.
"Lalu? Katalan saja Tuan, Tuan mau apa?"
"Aku menginginkan dirimu." Jawab Zico dengan tatapan yang dalam.
"Hah?" Nirmala menganga mendengar keinginan Zico, keinginan Zico terdengar ambigu untuknya.
"Aku ingin menjalani bahtera rumah tangga yang sebenarnya dengan mu."
"Maksud Tuan apa? Bukan kah selama ini kita sudah menjalani rumah tangga yang sebenarnya?"
"Bukan. Bukan rumah tangga seperti ini. Rumah tangga dimana suami-istri tidur sekamar dan tidur di ranjang yang sama, dan..." Zico tidak sanggup meneruskan kata-katanya, ia malu mengatakan kalimat seterusnya.
"Sial, kenapa aku jadi gugup seperti ini!!" Gerutu Zico dalam hati kesal pada dirinya sendiri.
"Tuan.." lirih Nirmala gugup sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tahu apa yang ingin Zico katakan.
Melihat Nirmala menggigit bibir bawahnya, Zico tak bisa lagi menahan hasratnya.
Zico pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Nirmala, tanpa sepatah kata apapun, Zico langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Nirmala.
Nirmala yang awalnya menolak karena kaget dengan serangan bibir Zico lama kelamaan malah menikmati dan membalas ciuman Zico.
Dan mereka pun memulai pemanasan mereka dengan berciuman panas.
• • • • •
Bersambung...
...Jangan lupa LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE-NYA....
__ADS_1
...💋💋 Sarangbeo 💋💋...