Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico

Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico
Bab 23


__ADS_3

Nirmala.


Sesampainya di dalam rumah, ternyata ia mendapati adik bungsunya sedang demam. Sebelum Nirmala pulang, adik bungsunya itu sudah mengirim pesan untuk Nirmala agar singgah di apotik dan membelikan obat penurun demam untuknya, tapi sayangya, Nirmala tidak membaca pesan yang di kirim Galang. Karena tidak mungkin menyuruh Ibu Aruni untuk pergi membeli obat.


Chandra juga tidak ada di rumah, karena Chandra tidak ikut pulang ke rumah karena harus kerja paruh waktu di kota besar untuk menambah uang jajan. Di kota besar Chandra dan Galang tinggal mengekos. Demi mengurangi beban Kakak-nya, maka dari itu Chandra pun berinisiatif mencari penghasilan tambahan untuk jajan-nya dan sang adik, Galang.


Karena tak memiliki stok obat penurun panas di kotak obat, mau tak mau Nirmala keluar lagi dari rumah untuk mencari apotik atau warung yang masih buka yang menjual obat penurun demam.


Langkah Nirmala yang awalnya tergesa-gesa, tiba-tiba terhenti kala melihat ada sekelompok anak muda yang mabuk sedang duduk di bahu jalan yang hendak Nirmala lewati.


Mata Nirmala berkeliling untuk melihat apakah ada jalan lain yang bisa ia lewati agar dirinya tidak perlu melewati kumpulan anak muda mabuk itu.


Sayangnya tidak ada. Hanya itu jalan yang bisa Nirmala lewati untuk menuju jalan besar.


Nirmala menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


Ya Tuhan, lindungi aku.


Nirmala berdoa dalam hati agar tidak terjadi apa-apa padanya.


Setelah mengumpulkan kekuatan dan keberanian di tambah dengan berdoa minta keselamatan, barulah Nirmala meneruskan langkah kaki-nya.


"Permisi.. numpang lewat." Ucap Nirmala sopan.


"Hai Nona cantik, mau kemana tengah malam begini?" Tanya salah seorang pemuda mabuk itu saat Nirmala melintas di depan mereka.


Nirmala tidak menjawab dan hanya melempar senyum.


"Di tanya kok malah senyum? Kamu mau menggoda kami yah, hah?" Kata pemuda yang lainnya sambil berdiri lalu mendekatkan dirinya dengan Nirmala.


Aroma alkohol yang keluar dari mulut pemuda yang mendekati Nirmala sangat menyengat dan berhasil membuat Nirmala mual.


"Maaf, saya hanya mau numpang lewat. Saya harus ke apotik, adik saya sakit." Balas Nirmala, jantungnya mulai berdegup kencang.


"Alasan!! Mana ada apotik yang buka tengah malam begini!!" Kata pemuda itu lagi.


"Bilang saja kau ingin pergi menemui pelanggan mu, iya kan?" Kata pemuda yang lain yang juga ikut berdiri dan mendekati Nirmala.


Kini ada dua pemuda yang berdiri di dekat Nirmala.


"Maaf, saya bukan perempuan seperti itu. Saya benar-benar ingin ke apotik membeli obat untuk adik saya." Jawab Nirmala.

__ADS_1


"Sudah lah Nona cantik. Kamu tidak perlu berbohong, kami sudah biasa mendengar alasan klise itu. Bilang mau membeli obat ke apotik, padahal di persimpangan jalan nanti ada mobil mewah yang menjemput." Kata pemuda yang lain. Dan pemuda yang baru bicara itu ikut berdiri mendekati Nirmala dan disusul tiga pemuda lainnya. Sekarang ada enam pemuda yang mendekati Nirmala.


Nirmala makin ketakutan. Dia tidak ingin mengambil resiko.


"Kalau begitu saya pulang dulu. Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian." Ucap Nirmala seraya memutar tubuh-nya hendak keluar dari kepungan enam pemuda itu.


"Hey Nona cantik, kenapa buru-buru sekali, ayo ikut lah bersenang-senang dengan kami." Ucap salah satu pemuda seraya menarik tangan Nirmala.


Nirmala yang sudah ketakutan luar biasa refleks menepis tangan pemuda itu dan mendorongnya.


"Ja lang kurang ajar, berani-beraninya kau mengasari ku, hah!!" Pemuda yang di dorong Nirmala itu menjadi naik pitam.


"Maaf.. maaf.. tolong izinkan aku pulang. Jangan sakiti aku." Ucap Nirmala memohon.


"Enak saja kau mau pulang! Kau harus bertanggung jawab meredakan emosi ku!!" Balas pemuda itu.


"Ayo ikut aku!! Biar ku beritahu bagaimana cara meredakan emosi ku!!" Kata pemuda itu lagi seraya menarik tangan Nirmala.


"Lepaskan aku!! Biarkan aku pulang!! Aku mohon lepaskan aku!!" Teriak Nirmala memohon.


Tapi pemuda itu tidak memperdulikan teriakan Nirmala. Malahan kelima pemuda yang lain sekarang ikut menarik tangan Nirmala.


"Hei baji.ngan!! Lepaskan wanita itu!!!" Teriak seorang laki-laki. Suaranya menggelegar memecah keheningan malam.


"Zico..." Lirih Nirmala.


Air matanya tumpah begitu saja saat melihat laki-laki yang sangat ia rindukan itu. Apalagi Zico hadir disaat yang sangat tepat.


"Apa kalian tuli, hah!! Cepat lepaskan wanita itu!!!" Teriak Zico sekali lagi karena pemuda-pemuda itu tidak kunjung melepaskan Nirmala.


"Hei Tuan, siapa Anda berani memerintah kami?! Apa Anda yang sudah memboking perempuan ini, hah!!" Balas salah satu pemuda.


Mendengar kata-kata pemuda mabuk itu, jelas saja emosi Zico meledak.


Zico mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Ia sudah siap melayangkan tinju mautnya jika permintaannya secara baik-baik tidak di turuti oleh gerombolan pemuda mabuk itu.


"Aku hitung sampai tiga, kalau kalian tidak melepaskan wanita itu, jangan salah kan aku kalau kalian semua berakhir di rumah sakit dengan kaki, tangan atau leher kalian yang patah, atau bahkan kalian semua berakhir di liang lahat!" Ancam Zico.


"Hahahaha..." Bukannya takut keenam pemuda itu malah menertawakan Zico.


Mereka pikir saat ini Zico sendirian.

__ADS_1


Padahal saat ini ada empat bodyguard yang bersembunyi dan memantau mereka. Bodyguard Me, bodyguard Hi, bodyguard Meda dan bodyguard Hida.


Begitu melihat Nirmala keluar lagi dari rumah, cepat-cepat Zico menghubungi bodyguard Meda dan Hida. Awalnya Zico membuat skenario dengan menyuruh dua bodyguard wanita itu berpura-pura tak sengaja bertemu dengan Nirmala. Tapi kenyataan di lapangan saat melihat Nirmala di kelilingi enam pemuda mabuk, membawa Zico harus turun tangan langsung menyelamatkan Nirmala. Dan meminta keempat bodyguardnya untuk bersembunyi dan jangan keluar sampai Zico memberi kode.


"Satu.." saat keenam pemuda mabuk itu sedang menertawakan dirinya, Zico mulai menghitung dan berjalan mendekati gerombolan pemuda mabuk itu, dimana ada Nirmala di tengah-tengah gerombolan itu.


Mendengar Zico mulai menghitung, sontak keenam pemuda itu terdiam. Dan melihat Zico mendekat, dua orang pemuda menarik Nirmala ke belakang dan empat pemuda ikut berjalan mendekati Zico dengan wajah yang menyepelekan Zico.


"Dua..." Zico kembali menghitung.


Keempat pemuda itu masih tak gentar, padahal saat Zico sudah mengeluarkan tatapan membunuh.


Sedangkan di belakang keempat pemuda itu, ada Nirmala yang hanya bisa menangis. Karena terlalu tegang di tambah rasa trauma tentang penyekapan dirinya, membuat tubuh Nirmala menegang dan lidah-nya pun terasa kelu.


Sangking tegangnya, ia Nirmala sama sekali tidak bisa bergerak padahal saat ini Nirmala memiliki banyak kesempatan untuk melepaskan diri dari dua pemuda mabuk yang menjaga-nya.


"Ti... ga.."


Bugh.. bugh.. bugh..


Dengan brutal Zico langsung meninju keempat pemuda itu.


Melihat empat temannya di beri bogem mentah oleh Zico sontak dua pemuda yang sedang menahan Nirmala, maju untuk membantu keempat teman mereka.


Melihat perkelahian di depan matanya, tiba-tiba sekelebat kejadian di penjara bawah tanah dan suara tembakan terlintas di kepala Nirmala.


Nirmala pun pingsan kala kejadian mengerikan itu melintas di kepala-nya.


BRRRUUUKKK.


Suara tubuh Nirmala yang ambruk berhasil membuat Zico mengalihkan pandangannya.


"Nirmala!!!!" Teriak Zico saat melihat Nirmala sudah jatuh ke tanah.


"Me, Hi..." Teriak Zico memberi kode pada bodyguardnya untuk keluar dari persembunyian.


Keempat bodyguard itu pun keluar dari persembunyian mereka. Mereka yang sudah gatal ingin memberi kenang-kenangan bogem mentah pada keenam pemuda mabuk itu langsung menggantikan Zico menghujani keenam pemuda mabuk itu dengan bogem mentah.


Sedangkan Zico, dia langsung berlari mendekati Nirmala dan langsung menggotong Nirmala menuju mobil.


• • • • •

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2