
Setelah beberapa menit berciuman panas, Nirmala dan Zico pun melepaskan tautan bibir mereka.
"Terimakasih Nirmala." Ucap Zico seraya mengusap sisa saliva mereka yang ada di bibir Nirmala.
Nirmala hanya menganggukkan kepalanya malu-malu.
"Saya harus pulang sekarang Tuan, karena sudah terlalu lama saya keluar." Ucap Nirmala.
"Huh.." Zico menghela nafasnya kasar.
"Bukan kah sudah pernah aku katakan, jangan pernah memanggil ku Tuan, Nirmala. Aku seperti sedang menjalin cinta dengan pelayan ku." Ucap Zico.
"Maaf.." balas Nirmala.
"Sayang." Lanjutnya lagi namun dengan suara yang pelan namun masih bisa di dengar Zico. Tapi sayangnya, Zico tidak puas Nirmala memanggilnya seperti itu dengan suara yang pelan.
"Apa? Apa barusan tadi kamu bilang? Coba ulangi!" Pinta Zico.
"Hish.. tidak ada pengulangan." Kesal Nirmala.
"Ayolah Nirmala, katakan sekali lagi. Aku ingin mendengarnya." Rengek Zico.
Nirmala menghela nafasnya sejenak lalu merangkum wajah Zico dengan kedua tangannya lalu menatap kedua bola mata biru kehijauan itu.
"Aku mencintai mu, Zico Sayang." Ucap Nirmala lalu mengecup lembut bibir Zico.
"Aku juga mencintai mu Nirmala ku Sayang." Balas Zico.
"Baiklah, aku harus segera pulang." Ucap Nirmala.
"Ayo biar ku antar." Zico menggandeng tangan Nirmala keluar dari rumah.
Begitu mereka keluar dari rumah, sudah ada keempat bodyguard di depan teras rumah.
"Sejak kapan kalian disitu?" Tanya Zico.
"Sejak Anda dan-" Bodyguard Hi yang ingin menjawab langsung di sikut oleh bodyguard Hide yang ada disampingnya.
"Baru saja Tuan." Jawab bodyguard Hide.
"Oh. Lalu bagaimana dengan pemuda-pemuda mabuk itu? Apa kalian sudah membereskannya?" Tanya Zico.
"Sudah Tuan, mereka sudah di bawa ke kantor polisi. Tapi sepertinya mereka harus singgah di rumah sakit terlebih dahulu." Jawab bodyguard Me.
"Baguslah." Balas Zico.
"Me, Hi, ayo ikut aku. Kita harus mengantar calon Nyonya Muda kita yang baru pulang ke rumah-nya." Kata Zico lagi pada kedua bodyguardnya seraya melirik Nirmala.
Sedangkan yang dilirik sedang menatap tajam bodyguard Hida dan Meda.
Dan tatapan tajam Nirmala berhasil membuat kedua bodyguard itu tertunduk karena merasa terintimidasi.
"Jangan memarahi mereka Sayang, mereka kan hanya menjalankan perintah ku." Ucap Zico yang melihat tatapan tajam Nirmala pada dua bodyguardnya.
__ADS_1
"Maafkan kami Nona." Ucap bodyguard Hida dan Meda bersamaan. Setelah Nirmala mengetahui identitas Hida dan Meda, maka mereka berdua pun tak lagi memanggil Nirmala hanya dengan nama.
Nirmala berjalan mendekati bodyguard Hida dan Meda.
"Kalian berdua menyebalkan!" Ucap Nirmala.
"Tapi walaupun kalian menyebalkan, aku tidak bisa membenci kalian." Kata Nirmala lagi lalu memeluk kedua bodyguard itu sekaligus.
"Terimakasih sudah berada di sisi ku selama ini. Aku tahu kalian berdua berada di sisiku bukan hanya sekedar menjalankan tugas, tapi aku bisa merasakan ketulusan kalian saat berada di sisi ku. Sekali lagi terimakasih." Ucap Nirmala.
"Terimakasih Nona, Anda tidak membenci kami." Balas bodyguard Meda.
"Ayo Sayang, kita pulang." Ajak Zico.
Nirmala pun melepaskan pelukannya dari tubuh Hida dan Meda.
"Aku pulang dulu. Sampai bertemu di kedai mie besok." Ucap Nirmala pada Hida dan Meda.
Bodyguard Hida dan Meda melirik ke arah Zico. Seolah menanyakan apakah besok mereka masih harus pergi ke kedai mie karena Nirmala sudah mengetahui identitas mereka.
Zico menganggukkan kepalanya, mengerti akan maksud lirikan kedua bodyguard wanita itu.
"Lakukanlah apa yang di katakan calon Nyonya Muda kalian. Sekarang kalian berdua adalah bodyguard pribadi calon istri ku ini." Ucap Zico.
"Baik Tuan Muda." Jawab bodyguard Hida dan Meda.
Kemudian, Zico pun menggandeng tangan Nirmala dan membawa Nirmala menuju mobil.
Bodyguard Hi dan bodyguard Me pun mengikuti dari belakang.
• • • • •
Tadi sebelum pulang ke rumah, Zico membawa Nirmala ke rumah sakit untuk mengambil obat demam untuk adik Nirmala.
Mereka terpaksa ke rumah sakit karena di kota kecil itu tidak ada apotik yang buka dua puluh empat jam.
"Nanti kalau panas adik mu tidak turun-turun, langsung hubungi aku. Biar kita larikan adik mu ke rumah sakit." Ucap Zico dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Nirmala.
"Aku masuk dulu." Ucap Nirmala.
"Apa kamu tidak ingin menyuruh ku masuk? Dan mengenalkan ku pada keluarga mu?" Tanya Zico. Sejak tadi itulah yang Zico harapkan, Nirmala meminta-nya untuk menginap di rumahnya.
"Sudah tengah malam. Besok saja aku akan mengenalkan ku pada Ibu dan adik ku." Jawab Nirmala.
Zico menghela nafasnya kasar dan menelan kekecewaan karena jawab Nirmala tidak seperti yang ia harapkan.
Ekspektasi tidak sesuai realita.
"Ya sudah kalau begitu. Masuklah." Ucap Zico dengan raut wajah kekecewaan yang sangat jelas.
Cup. Nirmala mengecup pipi Zico karena tahu Zico yang saat ini tengah kecewa. Setidaknya kecupannya bisa meredakan rasa kecewa Zico, begitulah pikirnya.
Dan benar saja, senyum sumringah kembali terbit dari bibir Zico hingga lesung pipi di pipi kiri Zico itu terlihat.
__ADS_1
Melihat Zico tersenyum, barulah Nirmala masuk kedalam rumah-nya, sedangkan Zico ia memilih untuk berdiri sebentar di depan pintu rumah, sambil berdoa semoga saja Nirmala berubah pikiran lalu membuka pintu rumah dan mengajaknya masuk.
Sedangkan di dalam mobil ada bodyguard Hi dan Me dengan setianya menunggu Zico kembali ke dalam mobil sambil bergosip.
"Hi.." panggil bodyguard Me.
"Ya.."
"Kalau nanti gajian, jangan habiskan gaji mu untuk membeli pakaian atau yang lain-lain." Ucap bodyguard Me.
"Kenapa?" Tanya bodyguard Hi bingung.
"Setelah mengirimkan uang kepada orangtua mu, lebih baik sebagian uang mu di tabung dan sebagian lagi kamu pakai untuk membeli headset banyak-banyak." Jawab bodyguard Me.
"Untuk apa aku membeli benda besar itu, tidak praktis. Lebih baik membeli earphone."
"Earphone terlalu kecil untuk menutupi telinga mu dari suara-suara des•ahan yang sebentar lagi akan kita dengar setiap hari." Jawab bodyguard Me.
"Oh.." barulah bodyguard Hi mengerti.
"Kenapa kita harus memakai headset, kita suruh saja nanti Tuan Muda memasang peredam di kamarnya." Balas bodyguard Hi.
"Bagus kalau Tuan Muda hanya melakukannya di kamar, bagaimana kalau di-" bodyguard Me menggantung kata-katanya. Ia tak sanggup membuka aib Tuan Muda-nya itu yang pernah beberapa kali kedapatan oleh bodyguard Me sedang bercinta di dapur, ruang tengah dan kolam renang.
"Dimana?" Tanya bodyguard Hi penasaran.
"Tidak jadi. Pokoknya sebaiknya kamu beli headset banyak-banyak, karena earphone saja tidak akan cukup." Jawab bodyguard Me.
Tak lama Zico pun kembali kedalam mobil.
BRAAAK..
Zico menutup pintu mobil dengan kasar.
"Kenapa pendiriannya teguh sekali sih!" Dumel Zico.
"Apa aku yang salah membaca doa, makanya doa ku tidak terkabul?" Dumel-nya lagi.
"Ada apa lagi Tuan?" Tanya bodyguard Me penasaran apa yang membuat mood Tuan Muda-nya rusak.
"Apalagi kalau bukan karena Nirmala yang tidak mengizinkan ku menginap!" Jawab Zico ketus.
"Ini baru hari pertama, Tuan dan sudah tengah malam juga. Ya wajar kalau Nona Nirmala tidak mengizinkan ku menginap di rumahnya. Bagaimana kalau besok saat Nona Nirmala pergi bekerja, Anda dekati Ibu Nona Nirmala? Biasanya sih cara ampuh untuk bisa menginap di rumah kekasih, yah.. dengan mendekati Ibu-nya terlebih dahulu." Balas bodyguard Me memberi ide.
"Benarkah?" Wajah muram Zico pun sirna dan berganti dengan wajah yang berseri.
Bodyguard Me menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang ke hotel sekarang dan besok pagi-pagi sekali sebelum Nirmala berangkat bekerja kita kembali kesini. Kalau Nirmala tidak mau memperkenalkan aku pada Ibu-nya, lebih baik aku yang memperkenalkan diri ku langsung." Ucap Zico.
Bodyguard Hi yang berada di kursi kemudi pun menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya menuju hotel.
• • • • •
__ADS_1
Bersambung...