
Ceklek.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Cepat-cepat Ibu Aruni mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Nirmala pun masuk ke ruang tidur dengan membawa nampan yang berisi satu mangkuk bubur ayam.
"Ini Bu, ayo makan." Ucap Nirmala seraya meletakkan nampan itu diatas nakas.
Lalu dengan memegang mangkok bubur ayam itu, Nirmala duduk di tepi ranjang lalu menyuapi Ibu Aruni.
Sedangkan Zico, ia hanya bisa menatap Nirmala dan Ibu Aruni dengan penuh rasa bersalah.
Ia merasa bersalah karena sudah memenjarakan Viola dan juga sudah menyuruh keempat bodyguardnya menggilir Viola.
Entah bagaimana Viola sekarang di dalam penjara, Zico pun tidak tahu. Karena dia sudah tidak mau tahu tentang Viola.
"Sayang, aku keluar dulu. Aku ingin mengecek persiapan pernikahan kita besok." Pamit Zico dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Nirmala.
"Ibu, Ibu banyak-banyak istirahat yah. Tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak penting. Kalau Ibu mau sesuatu, Ibu tinggal tunjuk saja." Gantian, sekarang Zico berpamitan pada Ibu Aruni.
Ibu Aruni juga membalas hanya dengan menganggukkan kepalanya.
Zico pun keluar dari dalam kamar itu.
"Apa Cassandra sudah di temukan?" Tanya Zico.
"Belum Tuan, dia seperti belut. Baru lima belas menit di tempat A, lima belas menit kemudian sudah di tempat B. Dan kami tidak bisa memprediksi tempat mana yang selanjutnya ia datangi." Jawab bodyguard Me.
"Dia itu sudah tua, jadi tidak mungkin gerakannya secepat itu. Pasti ada yang membantunya." Balas Zico.
"Iya Tuan, kami juga yakin begitu. Ini lah yang sedang di kerjakan Emerald di markasnya." Balas bodyguard Me.
"Katakan pada anak buah kalian, untuk menangkap Cassandra dalam keadaan hidup." Ucap Zico.
"Siap Tuan." Jawab bodyguard Me.
"Ngomong-ngomong Paman Dru mana?" Tanya Zico yang baru menyadari kalau sejak tadi tidak ada Paman Dru di sekitarnya.
Bodyguard Me dan Hi saling tatap. Mereka bingung apa yang harus mereka katakan pada Tuan Muda mereka. Apa mereka harus menjawab jujur atau malah mereka harus berbohong?
Ingin jawab jujur tapi mereka kasihan pada Paman Dru si bujang lapuk tapi kalau mereka berbohong, habis lah mereka berdua kalau sampai Tuan Muda mereka tahu kalau mereka berbohong.
• • • • •
Kamar VIP.
"Sssh.. ah.. Dru sudah Dru, aku lelah." Ucap Bibi Below dengan tubuh yang sedang bergoyang-goyang karena saat ini Paman Dru sedang menghentak-hentak barbel mini-nya di dalam lembah kenikmatan miliknya.
"Tahan Bee, sebentar lagi." Balas Paman Dru.
Ini adalah ronde kedua pergulatan ranjang mereka.
Lima menit kemudian.
__ADS_1
"Aaargh..." Erangan panjang pun keluar dari mulut Paman Dru saat dirinya sudah mencapai puncak kenikmatan tertinggi.
Paman Dru pun mengambrukkan tubuh-nya seketika diatas tubuh Bibi Below.
"Kamu ganas sekali Dru." Ucap Bibi Below dengan nafas yang terengah-engah.
"Tapi kamu suka kan?" Tanya Paman Dru dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Bibi Below.
Saat nafas masih memburu, dan barbel mini Paman Dru masih terbenam di dalam lembah kenikmatan Bibi Below, tiba-tiba..
Dor.. Dor.. Dor.. Dor..
Ting Tong Ting Tong
Dor.. Dor.. Dor.. Dor..
Ting Tong Ting Tong
Pintu kamar VIP itu tergedor sambil diiringi bunyi bel pintu.
"Kurang ajar! Siapa sih yang menggedor pintu! Tidak sopan sekali!" Dumel Paman Dru.
Mau tak mau Paman Dru pun mengeluarkan barbel mini-nya yang baru setengah tidur dari lembah kenikmatan Bibi Below lalu turun dari atas ranjang dalam keadaan yang masih polos dan berjalan menuju pintu.
Sesampainya di pintu, Paman Dru mengintip terlebih dulu dari lubang pintu.
"Damn!!!" Pekik Paman Dru saat melihat orang yang ada diluar yang tadi Paman Dru katakan kurang ajar.
Cepat-cepat Paman Dru masuk kembali ke ruang tidur.
"Ada apa Dru? Kamu seperti melihat satpol PP saja!"
"Ini lebih menakutkan dari satpol PP Bee! Cepat pakai pakaian mu!" Jawab Paman Dru.
Mau tak mau Bibi Below pun memakai pakaiannya. Begitu pun dengan Paman Dru, ia juga memakai pakaiannya.
Dor.. Dor.. Dor
Ting Tong Ting Tong
Dor Dor Dor Dor.
Pintu kembali di gedor dan bel pintu di tekan dengan tidak sabarannya.
Mendengar itu Paman Dru semakin panik.
Takut-takut kalau orang yang ada di depan pintu membuka pintu dengan kunci cadangan, Paman Dru yang sudah selesai lebih dulu berpakaian langsung menarik tangan Bibi Below dan membawa Bibi Below masuk ke dalam kamar mandi padahal Bibi Below belum selesai berpakaian.
"Ada apa sih Dru?" Tanya Bibi Below bingung.
"Nanti kamu juga tahu. Sekarang kamu disini dulu dan jangan bersuara. Oke. Aku urus orang yang ada di depan pintu dulu." Jawab Paman Dru.
Bibi Below hanya menganggukkan kepalanya.
Paman Dru pun keluar dari dalam kamar mandi, setelah Paman Dru keluar dari dalam kamar mandi, barulah Bibi Below melanjutkan memakai pakaiannya. Tapi ternyata ada satu kain penting yang ketinggalan. Bibi Below pun berdoa dalam hati semoga saja kain yang ketinggalan itu tidak terlihat oleh orang yang sedang menggedor pintu itu dan juga berdoa agar Paman Dru lah yang melihat kain itu lebih dulu.
__ADS_1
Meninggalkan Bibi Below yang sedang komat-kamit berdoa di dalam kamar mandi.
Kini Paman Dru sudah ada di pintu.
Ia menghela nafasnya kasar sebelum membuka pintu.
Ceklek. Pintu pun terbuka.
"Hoaaam." Paman Dru pura-pura menguap seolah-olah dirinya baru bangun tidur.
"Eh.. Tuan Muda." Ucap Paman Dru pada Zico yang ada di depan pintu.
"Cih!!" Decih Zico pelan lalu masuk ke dalam kamar.
"Enak sekali yah Paman, disaat semua orang sedang sibuk bekerja mempersiapkan pernikahan ku dan disaat para bodyguard sedang mencari si pelaku teror, Paman malah tidur." Ucap Zico sambil terus berjalan memasuki ruang tidur.
"Maaf Tuan, beberapa hari ini saya kurang tidur, jadi tadi saya memutuskan untuk beristirahat sebentar, eh tidak tahunya ketiduran." Jawab Paman Dru yang ada di belakang Zico.
"Paman tahu sudah jam berapa ini?" Tanya Zico.
"Um... Jam.."
"Ini sudah malam Paman! Sudah jam tujuh!" Ucap Zico sebelum Paman Zico menjawab.
"Oh.." Paman Dru hanya membulatkan mulutnya.
Mata Zico yang sedang berkeliling melihat seisi ruang tidur melihat ada sesuatu di lantai. Zico memicingkan matanya untuk mengetahui kain apa yang ada di lantai dekat kamar mandi. Dan Zico yakin kalau kain itu adalah milik perempuan, karena kalau milik laki-laki tidak mungkin ada renda-rendanya.
"Apa Paman sendiri di kamar ini?" Tanya Zico. Ia hanya ingin mengetes kejujuran Paman Dru saja.
Karena bodyguard Hi dan Me sudah memberitahu pada Zico kalau sekarang Paman Dru sedang bersama Bibi Below di sebuah kamar, tapi mereka tidak tahu di kamar mana Paman Dru dan Bibi Below berada.
Mereka pun menanyakan pada resepsionis yang memberikan kunci pada Paman Dru. Setelah mereka mengetahui dimana kamar Paman Dru, mereka pun menyusul Paman Dru.
Sengaja Zico tidak meminta kunci cadangan, karena takut saat mereka datang, Paman Dru sedang menanjak ke puncak kenikmatan. Kan kasihan nanggung. Begitulah pikir Zico.
"Iya Tuan, saya sendirian." Jawab Paman Dru berbohong.
"Oh." Zico hanya membulatkan mulutnya.
"Ya sudah kalau begitu Paman istirahatlah sebentar lagi, nanti setengah delapan Paman temui aku di kamar ku." Ucap Zico.
Sengaja Zico memberi waktu pada Paman Dru karena Zico pikir saat ini Paman Dru sedang tanggung bersama Bibi Below. Dan Zico berbaik hati pada Paman Dru untuk melanjutkannya. Kurang baik apalagi Zico.
"Baik Tuan. Terimakasih." Balas Paman Dru.
Zico pun memutar tubuhnya lalu keluar dari dalam kamar itu.
Setelah Zico keluar barulah Paman Dru bernafas lega.
Dia pun berjalan menuju kamar mandi, namun saat berjalan menuju kamar mandi, Paman Dru melihat segitiga berenda milik Bibi Below teronggok di lantai.
"Aaarghh!! Pasti Tuan Muda sudah melihat ini! Makanya tadi dia bertanya apa aku sendirian di kamar ini?!" Pekik Paman Dru.
• • • • •
__ADS_1
Bersambung...