Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico

Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico
Bab 24


__ADS_3

Zico mengendarai mobil-nya dengan kecepatan penuh menuju tempat tinggal bodyguard Meda dan Hida.


Cyiiiiiit.


Suara rem sampai berdecit kala Zico menginjak rem begitu tiba di depan rumah bodyguard Hida dan Meda.


Zico mengeluarkan Nirmala yang masih pingsan dari dalam mobil lalu membawa Nirmala masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam rumah, Zico membawa Nirmala ke dalam salah satu kamar, entah itu kamar bodyguard Hida atau kamar bodyguard Meda.


Lalu membaringkan Nirmala di ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu.


Setelah membaringkan Nirmala, Zico pun sibuk mencari minyak kayu putih untuk Nirmala hirup agar Nirmala cepat sadar dari pingsannya.


"Eugh..." Belum juga minyak kayu putih di dapat, Nirmala sudah melenguh.


Mendengar suara lenguhan Nirmala, Zico berhenti mencari minyak kayu putih lalu kembali berjalan mendekati ranjang.


"Kamu tidak pa-pa? Apa ada yang sakit?" Tanya Zico, siapa tahu saja ada cidera di kepala atau lengan karena tadi Nirmala jatuh ke tanah jalanan tadi.


"Huwaaaaaa...." Bukannya menjawab, Nirmala malah menangis. Rasa haru dan trauma bercampur aduk dalam hati Nirmala atas kejadian yang baru saja ia alami.


Melihat Nirmala menangis, sontak Zico menarik tangan Nirmala hingga terduduk lalu membawa Nirmala ke dalam pelukannya.


"Semua sudah aman, tidak akan ada yang mengganggu mu lagi." Ucap Zico seraya mengelus kepala Nirmala untuk memberi ketenangan pada Nirmala.


Nirmala masih saja tetap menangis. Zico pun membiarkan Nirmala untuk meluapkan perasaannya di dalam pelukannya.


Menangis lah Sayang, menangis lah sepuas mu, luapkan semua yang ada di hati mu dalam pelukan ku. Dada ku ini memang tercipta untuk menjadi tempat mencurahkan keluh kesah mu.


Ucap Zico dalam hati.


Setelah kurang lebih sepuluh menit Nirmala menangis dalam pelukan Zico dan disaat dirinya sudah merasa lebih tenang, Nirmala pun menjauhkan kepalanya dari dada Zico.


"Maaf, sudah membuat baju mu basah karena air mata dan ingus ku." Ucap Nirmala seraya menunduk. Ia tidak berani melihat wajah Zico.


"Tidak masalah." Balas Zico seraya mengusap rambut Nirmala.


Zico pun berdiri dari duduknya di pinggir ranjang lalu keluar dari dalam kamar lalu berjalan menuju dapur dan mengambil air minum untuk Nirmala.


Sedangkan Nirmala, matanya berkeliling melihat kamar yang di tempati-nya itu.


"Ini seperti kamar Hida." Gumam Nirmala.

__ADS_1


Nirmala pun turun dari ranjang, lalu keluar dari dalam kamar, ia ingin memastikan sendiri kalau sekarang dirinya memang berada di tempat tinggal Hida dan Meda.


Saat Nirmala keluar, ternyata Zico juga sudah berada di depan pintu kamar dengan segelas air minum di tangannya.


"Mau kemana?" Tanya Zico.


Nirmala tidak menjawab dan malah berlalu dari hadapan Zico untuk melihat sekeliling ruangan yang ada di rumah itu.


Nirmala pun melihat ada foto Hida dan Meda di ruang tengah.


"Ada apa?" Tanya Zico yang mengikuti Nirmala dari belakang. Zico masih belum menyadari kalau dirinya membawa Nirmala ke rumah bodyguard Hida dan Meda.


"Ini kan rumah-nya Hida dan Meda. Kenapa Anda bisa ada disini? Mana Hida dan Meda? Apa hubungan Anda dengan mereka?" Tanya Nirmala.


Astaga!! Aku lupa!!!


Pekik Zico dalam hatinya.


Sangking paniknya melihat Nirmala pingsan, ia sampai tidak sadar membawa Nirmala ke rumah yang dia sediakan untuk bodyguard Hida dan Meda.


Kalau sudah begini, tidak ada lagi alasan untuk menutupi kalau dirinya selama ini memantau Nirmala dari jauh.


Zico diam. Ia sedang merangkai kata-kata yang tepat untuk memberitahu yang sebenarnya pada Nirmala.


"Ekhem..." Zico berdehem seraya berjalan mendekati Nirmala.


"Ini minum dulu." Ucap Zico seraya menyodorkan gelas ke hadapan Nirmala.


Secara tidak sadar, Nirmala mengambil gelas itu dari tangan Zico dan menenggak air di dalam gelas sampai tandas lalu memberikan gelas kosongnya kembali pada Zico.


"Sekarang jawab, apa benar Hida dan Meda adalah orang-orang Anda, Tuan Zico yang terhormat?!"


Zico menghela nafasnya kasar.


"Ayo kita bicarakan ini sambil duduk." Jawab Zico sambil menarik tangan Nirmala dan membawa Nirmala duduk di sofa panjang. Hanya ada satu sofa panjang dan satu single sofa di di ruang tengah itu.


Setelah mendaratkan bokongnya di sofa, Zico meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja terlebih dahulu.


"Sebelum aku memberitahumu, berjanjilah padaku untuk tidak marah pada ku." Ucap Zico.


"Jangan bertele-tele, cepat katakan!" Balas Nirmala. Sepertinya ia tidak ingin berjanji.


"Berjanjilah terlebih dahulu." Mohon Zico sekali lagi.

__ADS_1


"Hemh.." balas Nirmala terpaksa seraya menghela nafasnya kasar.


"Kamu benar, Hida dan Meda adalah orang ku, mereka berdua adalah orang yang aku suruh untuk menjaga mu, mereka berdua adalah bodyguard mu." Zico menjeda sejenak kata-katanya untuk menghela nafasnya.


"Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, makanya aku mengirim mereka. Dan menyuruh mereka untuk menjadi teman mu, agar kamu tidak menyadari kalau mereka adalah orang ku." Lanjut Zico.


Nirmala terdiam.


Mau marah tapi senang. Senang karena Zico masih peduli padanya.


Mau senang tapi marah. Marah karena Zico tidak gentleman hingga membuat Nirmala berpikir kalau Zico benar-benar melepasnya.


Padahal di lubuk hati kecil Nirmala, Nirmala ingin Zico berusaha memperjuangkannya kalau memang Zico benar-benar memiliki perasaan padanya. Jujur, Nirmala menyesal telah meminta Zico menjauhi-nya.


Saat itu pikiran Nirmala sangat kacau, sampai-sampai ia tidak berpikir kalau menahan rindu itu lebih menyakitkan daripada menahan sakit bekas operasi.


Ya, begitulah wanita, hati, pikiran dan tubuh tidak pernah sinkron.


"Jangan bilang pengobatan gratis Ibu ku dan beasiswa kedua adikku juga itu dari mu?!" Tanya Nirmala. Akhirnya, Nirmala curiga juga dengan segala kemudahan yang ia dapat sejak menginjakkan kaki di kota terpencil itu.


Zico menundukkan kepalanya lalu menganggukkan kepalanya.


Nirmala diam, air mata Nirmala menggenang melihat anggukan kepala Zico.


Karena tidak ada respon dari Nirmala, Zico menganggap kalau saat ini Nirmala sedang murka padanya.


"Maaf, aku melanggar janji ku. Kamu boleh marah pada ku karena diam-diam aku melakukan itu semua, tapi aku mohon jangan mengusir ku lagi dari sisi mu. Tidak jadi masalah kalau kamu tidak mau menganggap ku ada, yang penting jangan usir aku dari sisi mu, biarkan aku berjalan disamping mu, bukan di belakang mu." Ucap Zico masih dalam keadaan menunduk, ia tidak berani melihat wajah Nirmala.


Tapi siapa sangka, Zico yang menduga Nirmala marah padanya, ternyata Nirmala malah memeluk dirinya.


"Terimakasih, terimakasih karena sudah berada di sisiku. Aku pikir, kamu benar-benar melepas ku." Ucap Nirmala sambil menangis.


Mata Zico membulat.


Apa aku sedang bermimpi?


Tapi kenapa ini seperti nyata?


Aku tidak salah dengar kan?


Zico bertanya-tanya dalam hatinya. Ia lumayan shock mendengar jawaban Nirmala, yang tadinya ia pikir Nirmala akan mengamuk seperti waktu di rumah sakit dulu, tapi ini malah Nirmala berterimakasih padanya.


• • • • •

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2