Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico

Istri Pengganti Untuk Tuan Muda Zico
Bab 46


__ADS_3

Ibu Aruni sudah sadar dari pingsannya.


"Ibu.." lirih Nirmala sambil memegang tangan Ibunya.


"Ibu gak pa-pa? Ada yang sakit?" Tanya Zico.


"Gak pa-pa, Nak, ibu baik-baik saja." Jawab Ibu Aruni.


"Bagaimana dengan Cassandra?" Tanya Ibu Aruni.


"Dia sudah di bawa ke tempat hukumannya Bu. Kali ini dia tidak akan mengganggu kita lagi." Jawab Zico.


"Ibu gak pa-pa dengan kebenaran tentang Nanima?" Tanya Nirmala.


Ibu Aruni diam sejenak. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


"Ibu gak pa-pa. Ibu sudah kehilangan Nanima dua puluh lima tahun, jadi Ibu tidak kaget lagi jika kali ini Ibu harus kehilangan dia." Jawab Ibu Aruni.


"Tapi bukan berarti Ibu tidak sedih. Ibu sedih, biar bagaimana pun dia adalah darah daging Ibu." Lanjut Ibu Aruni.


"Apa Ibu bisa melihat jenasah Nanima?" Tanya Ibu Aruni.


"Apa Ibu yakin?" Tanya Zico.


Ibu Aruni menganggukkan kepalanya.


Mereka pun pergi ke rumah sakit tempat jenasah Nanima berada.


Di kamar jenasah, Ibu Aruni sebisa mungkin untuk tidak menangis. Tapi apalah daya, Ibu Aruni hanyalah seorang Ibu biasa. Di pisahkan selama dua puluh lima tahun, sudah menganggap anak-nya meninggal, tapi sekarang di hadapkan oleh kenyataan yang lebih miris dari itu. Putrinya di besarkan dengan didikan yang salah oleh Cassandra.


• • • • •


Satu minggu kemudian.


Kondisi sudah kembali pulih. Ibu Aruni terlihat lebih segar dari hari sebelum-sebelumnya. Nanima atau Viola juga sudah di kebumikan satu hari setelah kejadian nahas itu. Ia di kebumikan dengan nama Nanima Azure.


Karena kejadian itu juga, malam pengantin Nirmala dan Zico juga harus tertunda selama satu minggu.


Gelisah, meriang dan panas dingin, itulah yang Zico rasakan saat ini. Hasrat kelaki-lakiannya sudah meronta-ronta meminta Zico untuk segera melakukan ritual pengguncangan ranjang. Tapi apalah daya, kondisi seminggu terakhir tidak memungkinkan bagi Zico untuk menggempur Nirmala karena tahu perhatian Nirmala sekarang berfokus pada Ibu-nya.


Melihat Ibu Aruni yang sekarang sudah bisa tersenyum lagi, Zico pun mulai merencanakan untuk melakukan malam pengantin. Tapi tidak di hotelnya, kamar hotelnya sudah angker baginya sekarang.


Zico pun mencari-cari tempat untuk mereka berbulan madu. Begitu banyak pilihan sampai ia bingung. Sampai-sampai ia tidak sadar kalau dia sudah berjam-jam berada di ruang kerjanya hanya untuk mencari tempat bulan madu yang spesial bersama Nirmala.


Di kamarnya, Nirmala melihat jam yang ada di ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


"Apa pekerjaannya belum selesai?" Gumam Nirmala.


Karena dari selesai makan malam sampai sekarang Zico belum balik ke kamar mereka.

__ADS_1


Nirmala pun beranjak dari atas ranjang dan keluar dari kamar, ia memutuskan untuk menyusul suaminya di ruang kerjanya, siapa tahu saja suaminya itu ketiduran di ruang kerjanya.


Ceklek.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Nirmala langsung membuka pintu ruang kerja suaminya.


Zico yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran sambil menutup matanya langsung membuka matanya sambil melihat ke arah pintu.


"Belum tidur kamu?" Tanya Zico.


Nirmala menggeleng.


"Gimana bisa tidur kalau kamu belum masuk ke kamar." Jawab Nirmala sambil berjalan mendekati meja kerja Nirmala.


Melihat Nirmala mendekat, Zico cepat-cepat menutup laptopnya. Dan gerakan Zico yang menutup laptopnya membuat Nirmala curiga pada suaminya.


"Kamu ngerjain apa sih?" Tanya Nirmala. Kini Nirmala sudah berada di sebelah Zico.


"Tidak ada. Hanya memeriksa beberapa laporan saja." Jawab Zico.


"Ayo kita tidur." Zico pun berdiri dari tempat duduknya lalu menarik tangan Nirmala. Tapi Nirmala menepisnya dan mendorong Zico hingga Zico duduk kembali di kursinya.


"Kenapa?" Tanya Zico.


"Aku curiga kamu bukan sedang bekerja. Pasti kamu sedang melihat-lihat foto-foto Viola kan?" Curiga Nirmala.


"Tidak. Aku sedang bekerja Sayang." Jawab Zico.


Nirmala pun membuka laptop Zico. Karena laptop itu belum dimatikan maka begitu laptop di buka tempat untuk bulan madu yang sedang Zico cari pun langsung kelihatan.


"Ini..." Lirih Nirmala saat melihat tulisan yang ada di atas gambar Tempat Bulan Madu Yang Romantis.


Zico kembali menutup laptop itu.


"Iya, aku sedang mencari tempat bulan madu yang romantis untuk kita. Sudah seminggu kita menikah, tapi kita belum-" kata-kata Zico terpotong karena Nirmala yang tiba-tiba naik diatas pangkuan Zico.


"Aku tidak perlu pergi ke tempat romantis untuk berbulan madu. Karena seindah apapun tempat itu, kalau hati mu tidak sepenuhnya untuk ku, itu sama saja bohong." Ucap Nirmala.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Hati ku sepenuhnya untuk mu Sayang." Jawab Zico.


"Benarkah? Apa tidak ada lagi tempat untuk Viola?"


"Mm.. tidak ada lagi tempat untuk Viola." Jawab Zico.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa kamu meragukan ku?" Tanya Zico.


"Mm.. satu minggu ini kamu terlihat lesu dan tidak bersemangat. Aku pikir kamu sedang bersedih karena kepergian Viola, aku pikir kamu menyesal sudah menceraikan Viola." Jawab Nirmala.


"Jelas aku lesu dan tidak bersemangat Sayang. Kamu selalu sibuk mengurus Ibu, sedangkan aku tidak kamu perhatikan."

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang?"


"Tidak mungkin lah Sayang, kamu kan sedang mengurus Ibu. Nanti kalau aku menuntut kamu memperhatikan aku juga, kamu bilang aku tidak pengertian." Jawab Zico.


"Jadi sekarang masih ingin di perhatikan?" Tanya Nirmala sambil menangkup wajah Zico dengan kedua telapak tangannya.


Zico mengangguk lalu mengelus pipi Nirmala.


"Aku sudah tidak sabar ingin melakukan tugas ku sebagai seorang suami Nirmala." Ucap Zico.


"Aku juga Zico, aku juga sudah tidak sabar melakukan tugas ku sebagai seorang istri." Balas Nirmala.


Nirmala pun mendaratkan bibirnya di di bibir Zico, mengunyah bibir Zico dengan sangat lembut. Zico pun membalas ciuman Nirmala.


Ciuman pun semakin panas, yang tadinya hanya sekedar mengunyah bibir dengan lembut sekarang kunyahan bibir itu semakin rakus. Tangan Zico pun sudah merambat kemana-mana hingga membuat Nirmala berhasil mengeluarkan suara desa han.


Dengan bibir yang masih bertaut dan lidah yang saling membelit, Zico pun menggendong Nirmala menuju sofa.


Sesampainya di sofa, Zico kembali memberi sengatan-sengatan kenikmatan di tubuh Nirmala hingga membuat suara desa han Nirmala yang tadinya kecil dan manja kini suara itu semakin liar, bahkan tubuh Nirmala juga sudah berliuk-liuk merasakan sengatan kenikmatan yang Zico berikan.


Mendengar suara desa han Nirmala yang semakin liar dan seksi, membuat Zico tidak bisa lagi menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.


Dengan gerakan cepat, Zico membuka semua kain yang menempel di tubuh Nirmala setelah itu membuka semua kain yang ada di tubuhnya.


Kini Zico dan Nirmala sudah sama-sama polos, mereka kembali saling memberi sengatan kenikmatan sebelum Zico memasukkan alat tempurnya kedalam lubang kenikmatan untuk bertempur menghasilkan kenikmatan.


Mesin pun sudah panas, alat tempur juga sudah siap beroperasi. Bukannya langsung memasukkan alat tempur ke dalam lubang, Zico malah berdiri dari atas sofa.


"Kenapa?" Tanya Nirmala, ia nampak tidak senang karena Zico tidak melanjutkan memasukkan alat tempurnya.


"Sebentar, aku kunci pintu dulu." Ucap Zico.


Zico pun berjalan menuju pintu lalu menguncinya. Setelah itu Zico pun kembali mendekati Nirmala yang kini posisinya sudah duduk.


Sesampainya di dekat Nirmala, Zico pun hendak membaringkan Nirmala lagi, tapi Nirmala menepis tangan Zico.


"Kenapa?" Tanya Zico, ia pikir Nirmala marah padanya karena meninggalkannya saat sedang tinggi-tingginya.


"Biar aku yang memimpin." Jawab Nirmala lalu menarik tangan Zico hingga Zico terduduk di sofa.


Mata Zico membulat lebar saat Nirmala mengatakan kalau dirinya ingin memimpin.


Apa dia sedang kerasukan arwah Viola?


Gumam Zico dalam hati.


• • • • •


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2