Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Pulang kampung


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan pun selesai, semua keluarga baik sebelah Stevan maupun Stella sudah pulang kerumah mereka masing masing. Hanya tinggal Stevan dan stella disebuah kamar hotel yang sengaja disiapkan untuk malam pengantin mereka. Kamar yang sudah disulap sedemikian rupa, kelopak mawar merah bertaburan di atas ranjang, juga diterangi lilin lilin membuat suasana sangat romantis.


Stevan terlebih dahulu membersihkan diri dikamar mandi dan Stella menunggu Stevan dengan penuh senyum kebahagian.


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka,dan keluar lah Stevan hanya dengan bertelanjang dada mengenakan handuk yang melilit pinggang . Stella yang melihat pemandangan didepan nya tersenyum, baru kali ini ia melihat tubuh Stevan yang menurut nya begitu sexy.


"Sayang" Stella menghampiri Stevan seraya meraba dada Stevan.


"Sebaiknya kamu mandi dulu stell." ucap Stevan. Stella mengangguk dan melenggang masuk kamar mandi, setelah bersih ia mengenakan sebuah lingrie berwarna merah menyala. Ditambah polesan make up membuatnya sangat cantik, tak lupa juga ia menyemprotkan parfum ditubuhnya. Stella menatap dirinya di pantulan cermin sembari menyunggingkan senyumnya, ia merasa sangat cantik malam ini.


"Stevan pasti sangat menyukainya." ucapnya sambil membolak balikkan badannya menghadap cermin. Ia pun keluar dan menghampiri Stevan.


"Sayang." Stella berdiri dihadapan Stevan yang duduk di ranjang big size itu. Stevan menelan saliva nya, nafasnya tercekat melihat pemandangan didepannya, ia tersenyum melihat Stella yang begitu sexy. Biasa nya pun Stella selalu berpenampilan sexy,hanya saja ini kali pertama ia melihat dengan jelas lekuk tubuh Stella yang hanya di baluti kain tipis seperti tidak mengenakan pakaian sama sekali sehingga memperlihatkan jelas lekuk tubuh Stella.


Stella duduk dipangkuan Stevan dan kakinya mengapit pinggang Stevan. Karena sudah dikuasai nafsu Stevan langsung menyambar bibir merah Stella,ia ********** dengan ganas penuh gairah. Tangannya juga tidak bisa diam menjelajah turun dam menggerayangi seluruhnya membuat Stella mendesah manja. Mendengar ******* Stella menambah gairah stevan.bibirnya terus turun menyesap leher memberikan tanda cinta disana, dan terus turun mengabsen tubuh Stella.


"Ah.. sayang." Stella sungguh melayang dibuat oleh Stevan.Kini mereka sudah tidak mengenakan sehelai benangpun, saling bertukar Saliva dan keringat.


"Aku mulai ya." ucap Stevan sambil mengarahkan senjata gagah perkasa nya pada milik Stella membuat Stella mengerang merasakan sesuatu memasukinya.


Stevan menghentikan aksinya sambil mengerutkan dahinya, ia menatap Stella dengan rasa kecewa.


Merasakan tidak ada pergerakan Stevan,Stella mendongak menatap Stevan. "Sayang, ada apa?" tanyanya dengan nafas memburu karena gairah nya yang memuncak.


Stevan langsung mencabut senjatanya sambil menatap Stella. "Kapan? dengan siapa?" tanya Stevan dengan tatapan tajam nya.


"Sayang, kenapa kau_? maksudnya apa?" tanya nya tidak mengerti, ia bingung kenapa Stevan menghentikannya padahal gairah mereka berdua sedang dipuncak.


"Kapan dan dengan siapa kamu melakukannya?" sarkas Stevan.


"Sayang, jadi kau mempermasalahkan itu? come on baby, zaman sekarang itu sudah hal biasa seorang wanita tidak perawan lagi." ucap Stella santai.


"Kamu bilang hal biasa? Hanya wanita murahan yang memberikan nya pada pria yang bukan suaminya." Stevan begitu kecewa dengan Stella, padahal ia begitu menjaga untuk tidak menyentuh nya sebelum ada ikatan halal, tapi wanita yang dimuliakannya Mala memberikan pada pria lain.


Stevan bangkit dan meninggalkan Stella.


Brakk..


Pintu kamar mandi dibanting Stevan. Stella terjengkit mendengar pintu yang dibanting stevan.


Stevan mengguyur tubuhnya dibawah shower untuk menghilangkan panas karena gairah tubuhnya yang sedang memuncak. Selesai mandi iapun keluar dan mengenakan pakaian lengkap.


Stella heran melihat Stevan yang berpakaian lengkap dan rapi. "Stev,kamu mau kemana?" tanya nya yang masih berselimut di ranjang big size itu. Tanpa menjawab Stevan mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Stella.


"Stev, kamu mau kemana? ini malam pengantin kita stev". teriak nya namu stevan sudah hilang melewati pintu.


"Aaarrrgghhhh...." teriaknya kesal menghempaskan tangannya memukul tempat tidur.Kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Baby, kamu dimana?"


"Tunggu aku kesana sekarang."


Stella langsung mematikan ponselnya, ia kembali mengenakan pakaian dan juga pergi dari kamar hotel. Kamar yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, namun pupus hanya karena Stevan mempermasalahkan keperawanan.


Sesampainya di apartemen,Stella langsung menekan beberapa digit nomor dan masuk.


"Hey baby, kenapa kesini? bukannya ini malam pengantin kalian?" tanya Bryan.


Ya, setelah kepergian Stevan,ana langsung menghubungi Bryan dan datang ke apartemennya.Ia ingin melepaskan hasrat nya yang sedang memuncak saat ini.


"Jangan bahas masalah Stevan dulu, lebih baik kamu puaskan aku sekarang juga." Stella langsung menyambar bibir Bryan. Dan pergulatan panas itu pun terjadi lagi hingga mereka lelah karena sudah merasakan pelepasan untuk yang keberapa kalinya. Bryan tumbang tepat disisi Stella.


"Apa yang terjadi?" tanya Bryan yang masih mengatur nafasnya.


"Dia pergi setelah tau jika aku sudah tidak virgin lagi." jawab Stella kesal.


"Hahaha...Stevan benar benar kolot." Bryan tersenyum mengejek, ia puas jika saat ini Stevan marah dan kecewa karena sesuatu yang berharga miliknya sudah didapatkannya.

__ADS_1


"Aku akan selalu menang darimu stev". batinnya tersenyum.


.


.


Bersambung.


HALLO READERS, SELAMAT MEMBACA YAH😊


Akhirnya Stevan tau juga kan, ya walau pun mesti dicicip dulu sedikit😅😅


Nantikan kelanjutannya yah, dan jangan lupa tinggalkan jejak nya yah 🥰🥰


Follow juga akun aku yah,serta like coment dan vote nya.


🥰🥰🥰


"Bik Wati, teh Mina, ana pamit ya!" ana berpamitan untuk pulang ke kampung halamannya. Sebelum nya ana sudah memberi tahu bik wati dan teh Mina lalu dia ingin mengunjungi kedua orang tuanya. Dia juga sudah meminta izin dengan majikannya mama Inggrid dan mama Inggrid memberi izin asalkan ana tetap kembali lagi bekerja.


"Hati hati ya na, jangan lama lama kamu pulang yah". teh Mina memeluk ana bergantian dengan bik Wati.


"Ana cuma beberapa hari pulang bik,teh,palingan cuma lima hari." jelas ana tersenyum, ia bahagia mempunyai rekan kerja seperti bik wati dan teh Mina,mereka berdua sangat baik terhadapnya.


"Ya sudah, sampaikan salam kami sama orang tua mu yah",sambung bik Wati.Ana hanya tersenyum mengangguk kemudian beranjak pergi dan kemudian berpamitan dengan majikannya.


Ana menghampiri mama Inggrid yang sedang duduk diruang tengah. " Nyonya, aku izin ya nya". mengulurkan tangannya menyalami mama Inggrid.


"Baiklah na,sebenarnya saya berat melepasmu pulang," mama Inggrid menghela nafas, sebenarnya ia enggan memberikan izin ana pulang kampung, ia takut jika ana tidak akan kembali lagi bekerja di rumahnya, dia sudah terlanjur sayang dengan ana,dia tidak mau jika ana meninggalkannya. "Tapi janji kamu harus kembali lagi yah!" mama Inggrid kemudian memeluk ana sembari mengelus rambut panjang ana.


Ana merenggangkan pelukannya. "Iya nyonya, aku bakalan balik lagi kok, mana mungkin aku ninggalin majikan sebaik nyonya." ucapnya tersenyum, ia sangat bahagia mempunyai majikan sebaik mama Inggrid, yang tidak memandang status para pekerjanya, mereka diperlakukan sangat baik oleh majikan mereka,bahkan dianggap keluarga,ia sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga mama Inggrid.


"Ya sudah, hati hati yah, nanti jika sudah sampai jangan lupa kasih kabar." Mama Inggrid mengantar ana sampai depan rumah yang sudah ditunggu oleh sopir nya.


Ana memasuki mobil dan melambaikan tangannya pada mama Inggrid hingga mobilnya menjauh dan mama Inggrid hilang dari pandangannya.


Tak selang berapa lama mobil yang dinaikinya kini sudah sampai bandara, ia turun dan mengucapkan terima kasih pada sang sopir keluarga majikannya itu.


"Makasih ya pak."


"Sama sama na, hati hati yah." ucapnya kemudian menjalankan mobilnya kembali meninggalkan ana.


Ana menarik kopernya dan menemui petugas untuk cek in,ia menunjukkan tiket dan identitasnya barulah ia mengambil boarding pass dan masuk keruang tunggu.


Setelah menunggu lebih kurang satu jam barulah mendengar seruan bahwa pesawat akan segera take of. Ana bangkit dan menyisiri sekeliling melihat dan mengaharap sesuatu tapi entah apa itu,ia begitu berat meninggalkan kota ini,namun ia juga berat jika tetap tinggal.


"Selamat tinggal semua, lebih baik aku pergi dan mengubur semua impian ku disini, aku gak bisa jika harus melayani suamiku dengan istri barunya, aku gak bakalan sanggup." ucapnya dalam hati dengan pandangan nanar melihat sekeliling. Bulir bening yang dari tadi ditahannya pun jatuh mengaliri pipinya, dengan cepat ia menghapus nya.


"Apa yang kau harapkan ana? jangan bermimpi." batinnya.


*


Setelah menempuh perjalanan dua jam lebih,kini pesawat yang dinaiki ana sudah landing di bandara.


Ia melanjutkan perjalanannya dengan menaiki bus hingga sampai dirumahnya.Rumah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, ia sangat merindukan rumahnya, mungkin ia akan tinggal lagi dirumahnya ini bersama kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum pak, buk!" ana mengetok pintu rumah nya. Dan pintu pun dibuka menampakkan sosok yang sangat ia rindukan.


"Ibuk" ana memeluk ibu nya.


"Ana, ini kamu nak?" ibu membalas pelukan ana dan mengelus Surai panjang ana, air mata nya menetes membasahi pipinya, sebagai rasa bahagia bertemu dengan putrinya.


"Ia buk" ana merenggangkan pelukannya.


Ibu melihat sekeliling kearah luar tidak mendapati seseorang yang didalam pikirannya. Ana melihat pandangan ibunya mengerti apa yang dicari oleh sang ibu.


"Ana sendiri Bu!" jelasnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu sendiri? mana suami mu?" tanya ibu sambil membawa ana masuk kerumah.


"Suami ana lagi sibuk Bu, gak bisa ninggalin kerjaannya." jelas ana lagi.


"Kamu baik baik aja kan nak? bagaimana dengan keluarga suami mu.?" tanya ibu yang merasa janggal.


Ana tersenyum menanggapi pertanyaan ibu nya, ia tahu apa maksud pertanyaan ibu nya itu.


"Ana baik aja kok Bu, keluarga suami ana sangat baik semuanya, mereka sayang sama ana.Seperti yang ana ceritakan sebelumnya sama ibu, ana di dukung untuk kuliah oleh mama Inggrid dan suami ana juga setuju." jelasnya sambil tersenyum.


"Syukurlah kalo begitu." jawab ibu lega.


"Bapak tadi keluar,katanya mau nemuin pak Darto."


Ana hanya mengangguk,kemudian ia membuka kopernya dan memberikan sesuatu pada ibu nya. " Oh ya buk ini ada titipan dari mama Inggrid untuk ibu dan bapak" ana menyerahkan beberapa bingkisan pada ibu nya.


"Apa ini na?" tanya ibu sambil menerima nya, ia membuka dan tersenyum bahagia mendapatkan hadiah dari besannya. Sebelum ana pulang mama Inggrid memang sudah membelikan beberapa hadiah dan oleh oleh untuk keluarga ana.


"Mertuamu sangat baik ya na."


"Iya buk, mereka sangat baik,dan sayang sama ana. dan mama Inggrid juga titip salam sama ibuk."


"Iya,sampaikan juga salam dan terima kasih ibuk ya."


"Assalamualaikum.." sontak ana dan ibu menoleh dan ternyata pak Jamal masuk memberikan salam.


"Waalaikum salam" sahut keduanya.


"Pak!" ana langsung berhambur memeluk bapak nya.


"Ana? putri bapak." pak Jamal kaget tenyata putrinya pulang.


"Ini benaran ana anak bapak?" pak Jamal merenggangkan pelukannya dan menangkup dagu ana meneliti. " Bapak hampir tak percaya ini putri bapak, kamu sangat cantik nak." ucap pak Jamal tertawa.


"Benar pak, putri kita berubah jadi sangat cantik sekarang, suami nya pasti membuat ana tambah cantik." timpal ibu. Mereka kembali tertawa.


Memang benar, semenjak ana tinggal dikota, ana bertambah cantik, kulit ana jadi lebih bersih dan putih.


Disisi lain, Stevan sedang mengemudikan mobilnya membelah jalanan menuju rumah nya,lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya.Tak butuh waktu lama kini ia sudah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah.


"Lho, stev. Ada apa pagi pagi sudah kesini?" tanya mama Inggrid saat Stevan melangkah masuk rumah. Kepala nya kembali meneliti sekeliling tapi ia tidak mendapati Stella menantunya. " Mana Stella?" sambungnya.


Namun Stevan tidak menjawab pertanyaan mama nya dan langsung pergi keruang makan. Melihat sarapan sudah tersaji ia langsung duduk dan menikmati sarapannya.


"Lho, tuan." kaget bik wati melihat Stevan sudah duduk menikmati sarapan.


Mama Inggrid menghampiri Stevan dan ikut duduk, ia merasa ada yang tidak beres dengan putranya melihat dari raut wajah stevan. " Apa yang terjadi Stev?" tanya mama langsung.


Tak menjawab pertanyaan mama nya,ia meneliti sekeliling ruang makan tapi tak mendapati ana.


"Ana mana bik?" tanya Stevan.


"Ana pulang ke kampungnya tuan." jawab bik Wati.


Deg


Seketika Stevan berhenti mengunyah. Darahnya membeku seketika mendengar ana pulang.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🥰🥰


Berikan vote nya juga yah🥰

__ADS_1


Happy reading, semoga selalu suka ya🥰😊


__ADS_2