Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
56


__ADS_3

Dikampus


"Kamu beneran mau nemuin mantan istri suami Lo na?" Tanya via serius, saat ini mereka sedang duduk dikantin menikmati minuman dingin. Via sangat kaget saat ana mengatakan kalau ia akan menemui Stella mantan istri Stevan. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada ana, secara Stella wanita yang sombong juga angkuh, ia takut ana akan disakiti oleh Stella. Ana sudah menceritakan semuanya pada via tentang Stella yang sekarang, namun tetap saja via merasa khawatir.


"Kamu gak perlu khawatir Vi, aku yakin kalo mbak Stella benar-benar uda berubah. Kami tahu, sekarang dia menjadi wanita yang lembut juga baik, aku bisa melihatnya itu.


"Ya sudah, terserah Lo aja na, gue harap Lo gak diapa-apain sama dia." balasnya tersenyum.


Dan seperti janji nya, Stevan mengantarkan ana kesuatu tempat dimana ana dan Stella janjian. Lebih tepatnya ana meminta Stella bertemu.


Melihat seorang wanita cantik yang sedang duduk sendiri ana datang menghampiri. Ya wanita itu adalah Stella, dia duduk di sebuah kursi ya ada di taman menunggu kedatangan ana.


"Mbak" sapa ana tersenyum sembari duduk disebelah Stella. "Uda lama yah nungguin aku?" tanya ana sungkan.


"Hy na. Enggak kok, baru aja." balas Stella tersenyum.


"Bagaimana kabar mbak dan debay?" Ana mengelus perut Stella.


"Baik na, semua baik, ini semua berkat kamu, makasih banyak ya." Stella tersenyum tulus.


"Jangan berterima kasih begitu mbak, ana gak ngelakuin apa pun untuk mbak." Balas ana tersenyum.


Kemudian suasana hening beberapa saat, diantara mereka tidak ada berbicara lagi. Pandangan mereka hanya tertuju lurus ke depan, hingga akhirnya Stella angkat bicara.


"Oh ya, kamu ngajakin mbak ketemu ada apa?" Stella penasaran kenapa ana mengajaknya ketemuan.


"Emm... A.. anu mbak." ana merasa gugup untuk bicara, "Darimana aku harus memulainya ya!" batin ana bingung, tiba-tiba saja nyalinya menciut, padahal dari tadi ia begitu yakin untuk bicara.


Ana menghela nafas berat, berharap jika omongan yang keluar dari mulutnya nanti tidak membuat Stella marah.


"A... aku mau memberitahu mbak sesuatu rahasia. "Ucapnya lirih, ia menelan saliva nya gugup.

__ADS_1


"Hm... Bicaralah." Stella mempersilahkan.


"Se... sebenarnya aku sudah menikah dengan mas Stevan sebelum mbak menikah dengannya." Ana bicara dengan satu nafas, ia menghela nafas kecil saat kata itu keluar dari mulutnya. Ia menoleh pada Stella yang hanya diam melihat lurus ke depan, tidak ada raut wajah terkejut bahkan marah. Ana merasa sangat bingung dengan ekspresi Stella saat ini.


"Mbak." Ana menyadarkan Stella.


"Bagaimana? bagaimana bisa kalian menikah? Tanya Stella datar dan pandangannya masih lurus ke depan.


"Kami menikah karena sebuah insident" ana menceritakan semua kisah mengapa ia bisa menikah dengan Stevan juga dibawa kerumahnya sebagai pembantu. Ana bercerita sambil menatap Stella, namun Stella hanya melihat lurus enggan menoleh pada ana. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, apakah dia marah atau tidak.


"Begitu lah mbak cerita sebenarnya." Ucap ana namun Stella masih diam, ana benar-benar takut dengan diamnya Stella.


Huff... Stella menghela nafas kasar, menghirup udara kemudian menghembuskannya kasar. "Saya sudah tau semuanya." Ucap Stella yang membuat ana membelalakkan matanya. Ana membungkam mulutnya dengan tangannya, ia merasa syok dengan apa yang dikatakan Stella.


"M..maksud mbak?" Ana memastikan.


"Saya mengetahui hubunganmu dengan Stevan, saya tau kalau kalian sudah menikah."


Jantung ana seperti meloncat dari tempatnya mendengar jika Stella sudah mengetahui hubungannya dengan Stevan. Tapi kenapa Stella diam saja, kenapa dia tidak marah? ana bertanya-tanya dalam hati.


"Kamu pasti kaget kan?" Stella menatap ana lekat. Ana hanya diam tidak menjawab pertanyaan Stella.


"Saya mencari tahu saat Stevan pergi saat malam pertama kami, dan saya mendapatkan informasi jika Stevan sudah menikah denganmu." Stella menjeda ucapannya. "Kamu tahu, saat itu saya sangat marah, ingin sekali saya menghabisi mu saat itu juga. Saat itu saya ingin menyusul kalian saat itu juga tapi kejadian yang tak diinginkan terjadi, saya mengetahui jika saya sedang hamil, hatiku kalut saat itu, saya merasa takut jika Stevan semakin membenciku, Saya coba meminta pertanggungjawaban Bryan meski ini bukanlah anaknya tapi saya merasa jika Bryan pasti akan percaya namun tidak. Bryan tidak mempercayainya, saya bertambah kalut ternyata pria yang benar-benar mencintaiku pun tidak bisa menerima diriku yang kotor ini. Akhirnya aku mencoba pura-pura seolah tidak terjadi apapun dihadapan Stevan, saya berharap Stevan tidak tahu kehamilanku sampai nanti aku menggugurkannya. Tapi nasib tidak berpihak padaku, Stevan mengetahui nya, dan disinilah kehancuran ku. Aku benar-benar hancur, tidak ada seorangpun yang bisa menerimaku bahkan orangtuaku sekalipun, aku nekad ingin mengakhiri hidupku dan kamu pun datang menolongku ana. Kamu datang membawa cahaya di kehidupanku. Kamu menyadarkan ku. Dan itulah sebabnya aku mengikhlaskan Stevan denganmu. Kamu wanita yang sangat baik na, kamu pantas mendapatkan Stevan. Berbahagialah kalian." Ucapnya sambil menyeka air matanya yang jatuh. Dada nya begitu sesak berbicara seperti itu.


"Mbak" Ana ikut meneteskan air mata nya, ia benar-benar terharu mendengar ungkapan Stella, hatinya campur aduk merasa sedih juga senang. Ia sedih dengan nasib yang menimpa Stella dan ia juga senang Stella sudah jadi wanita yang sangat baik. Ia bisa mengikhlaskan semuanya, Stella sungguh hebat menurutnya. "Maafkan aku yah mbak" Ana terisak sambil menunduk.


"Ana kenapa kamu menangis? tersenyumlah" Stella mengangkat wajah ana sambil memberikan senyuman. "Kamu pantas bahagia na." sambungnya.


"Boleh aku meluk mbak?" Tanya ana masih dengan air mata yang menetes. Dengan senang hati Stella mengangguk kemudian memeluk ana dengan erat. "Aku merasa mempunyai kakak sekarang, apa boleh aku menganggap mbak sebagai kakak ku?" pinta ana sambil merenggangkan pelukannya.


"Tentu saja na, mulai saat ini kamu adalah adik ku" ucap Stella tersenyum.

__ADS_1


"Makasih mbak" ana kembali memeluk Stella.


Tanpa mereka sadari ternyata dari tadi Stevan berada didekat mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka. Stevan tersenyum lega. Kemudian ia menghampiri ana dan Stella membuat mereka melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Stevan.


"Stev"


"Mas"


Ucap mereka barengan.


"Hy stell" ucap Stevan sambil merengkuh pinggang ana merapat dengannya. "Bagaimana kabarmu?" ucapnya basa basi.


"Seperti yang kau lihat stev" balas Stella dengan senyum terpaksa.


"Terima kasih untuk semuanya stell" sambung Stevan. "Stell, bergabunglah dengan perusahaan papa ku, hanya dengan ini saya bisa membantumu." Ucap Stevan.


"Tidak perlu stev, Aku uda nyaman seperti ini."


"Mbak, aku mohon mbak terima ya! mbak tidak boleh menolak permintaan adik mu ini." Timpal ana tersenyum.


"Hmm... Baiklah akan aku pikirkan."


"Tidak boleh mikir lagi mbak, pokoknya besok mbak sudah bergabung dengan perusahaan papa." sambung ana tegas tanpa mau ditolak.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 🥰🥰

__ADS_1


HAPPY READING 🥰🥰


__ADS_2