
"Mas..sa..sakit." ana merintih karena pergelangan tangannya digenggam kuat oleh Stevan. Tanpa peduli kesakitan ana Stevan mendorong ana masuk ke mobil kemudian ia melajukan mobilnya.
Suasana mobil hening tanpa ada yang bersuara, sesekali Stevan melirik ana yang hanya melihat diluar jendela. " Maaf" ucap Stevan membuat ana langsung menoleh."Maafin aku,aku hanya tidak mau ada pria lain yang mendekatimu,apalagi mengklaim milikku jadi miliknya." Stevan menggenggam jari ana dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tetap mengendalikan kemudi.
"Mas cemburu?" tanya ana tersenyum, ia senang ternyata Stevan cemburu jika ia dekat dengan pria lain.
"Ya jelaslah." tekannya. " kamu itu milikku dan hanya milikku,tidak boleh ada pria yang menyukai bahkan memiliki mu selain aku." sambung nya lagi sembari mencium punggung tangan ana.
Cup.. Perlakuan stevan sangat manis menurut ana.
"kita ngapain kesini mas?" tanya nya saat mobil berhenti disebuah restoran.
"Jangan banyak tanya,ayo turunlah." Stevan membukakan pintu untuk ana. "Ayo" Stevan menggenggam tangan ana namun ana melepasnya,membuat Stevan mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Gak enak dilihat orang mas, jika ada yang mengenal mas bagaimana?" ucap Stella dan Stevan mengangguk membenarkan. Ia tidak mau jika orang lain akan berpikiran yang tidak tidak, apalagi Stevan pengusaha yang banyak dikenal telah menikah dengan stella,apa anggapan mereka saat Stevan menggandeng wanita lain. Akhirnya Stevan berjalan duluan dan di susul ana. Mereka memesan makanan dan menikmati makan siang nya.
Disisi lain Stella berteriak menggedor pintu karena dikunci oleh papa nya.
Dor...dor..dor...
"Pa,buka pintunya pa" teriak Stella menggedor pintu. sekuat tenaga ia teriak tapi tidak diperdulikan oleh orang tuanya. "Pa buka gak,kalo tidak papa bakal menyesal melihat mayat aku nanti." teriak nya lagi mengancam.
"Pa, sebaiknya buka pintunya pa,kasian Stella" mama membujuk papa agar membuka pintunya.
"Biarin ma, papa gak mau orang orang tau jika Stella hamil. Mau ditaruh dimana muka papa ma." tegas papa. " Dan ingat jangan coba coba berani membuka pintunya." papa menunjuk mama dengan jari telunjuknya kemudian dia pergi. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.
"Hallo, Bagaimana" tanya nya dengan orang diseberang sana.
"Sudah saya kirimkan tuan"
Papa Stella mematikan sambungan kemudian melihat notif pesannya. Ia menyunggingkan senyumannya melihat pesan yang dikirim orang suruhannya.
"Kamu akan hancur Stevan, kamu harus membayar karena sudah mencampakkan putriku." Gumamnya dengan senyum smirk.
__ADS_1
Seminggu sudah berlalu saat Stevan mengusir Stella, kini dia sudah mendapatkan surat perceraian dengan Stella. Seluruh media kini heboh dengan perceraian Stevan dengan Stella, banyak para wartawan ingin meliput berita kenapa Stevan dan Stella bercerai? padahal pernikahan mereka barulah beberapa minggu. Namun mereka tidak mendapatkan jawabannya, Stevan tidak mau berkomentar apa pun.
Setelah berita perceraian Stevan dan Stella, muncul pula berita tentang perselingkuhan Stevan. Maka dari sebab itu lah perceraian terjadi karena adanya orang ketiga. Kini berita itu tersebar luas, warganet dan sosial media geger soal perselingkuhan Stevan dan itu membuat nama baiknya tercoreng dan menyebabkan banyak investor yang menarik kerjasama mereka.
"Ahh...sial, brengsek." Stevan melemparkan ponselnya melihat berita berita buruk tentang diri nya.
"Bagaimana ini stev? para investor menarik kerjasama nya dengan kita, jika begini kita bakal hancur." Andre yang bingung tidak tau harus melakukan apa.
"Kamu hapus semua pemberitaan itu dan cari tahu siapa yang menyebarkan berita palsu itu." Perintah Stevan pada andre.
"Baiklah." Andre langsung pergi untuk melaksanakan tugas nya, secepat mungkin ia harus menemukan siapa dalang semua ini.
Ceklek
Pintu ruangan Stevan terbuka, ia menoleh ternyata papa nya yang datang. Papa masuk dan duduk dikursi berhadapan dengan Stevan.
"Apa papa mau menanyakan masalah berita hari ini?" Tebak nya dan mendapat anggukan dari sang papa.
"Kamu harus bertindak cepat stev, perusahaan mu terancam dengan berita ini." ucap papa memperingati.
"Apa ada yang kamu curigai?" Tanya papa membuat Stevan langsung menoleh. Ia teringat akan sesuatu saat papa Stella datang dan memberikan sedikit ancaman padanya.
"Iya, tapi aku akan mencari buktinya dulu, aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang, akan ku pastikan kehancurannya." Stevan melengkungkan bibirnya tersenyum.
Dikampus
Ana menghela nafas melihat ponselnya yang penuh dengan berita perselingkuhan Stevan, ia melihat beberapa foto Stevan dengan dirinya, ternyata banyak mata yang mencari celah untuk menghancurkan Stevan. Ana khawatir dengan suaminya saat ini, apakah dia baik baik saja atau tidak.
"Bagaimana keadaan mas stevan ya, pasti dia sedang kacau saat ini." Batinnya.
"Ana..ana..ana.. Lho Uda dengar belom?" Via yang berlari menghampiri ana.
"Masalah ini?" Ana menunjukkan ponselnya dengan berita terhangat saat ini. Via hanya mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Coba deh lihat, gue seperti vamiliar dengan gadis bersama nya." Via melihat foto Stevan dengan seorang wanita yang hanya nampak belakang.
Ana melihat sekeliling, tidka ada seorangpun dikelas jadi ia memberi tahu via. " Wanita bersama nya itu aku." Ucap ana langsung membuat via kaget.
"What?"
"Apaan sih via, telingaku berdengung karena mu." ana menggosok telinganya yang berdengung karena teriakan via.
"Serius lho?" Tanya via memastikan.
"Iya, yang digosipkan selingkuhan Stevan adalah aku istrinya sendiri." Jelas ana. Akhirnya ana menceritakan semua kepada via apa yang terjadi sebelum pernikahan Stevan dan Stella bahkan setelah pernikahan. Stevan yang menyatakan cinta padanya kemudian Stevan yang kecewa dengan Stella selanjutnya Stevan menyusulnya kekampung halamannya, dan juga sekarang Stella sedang hamil dengan pria lain yaitu sahabat Stevan sendiri. Ia menceritakan semua nya tapa ada yang ditambah maupun dikurangi.
"Begitulah ceritanya Vi."
Via hanya melongo mendengar ana bercerita, ia benar benar sulit mepercayai semua ini. "Ini kisah nyata na? bukan novel kan?" tanya Via tak percaya.
"Ya bener lah."
"Trus bagaimana apa keluarga Stevan sudah tahu tentang hubungan kalian?" Tanya via penasaran.
"Belum Vi, mas Stevan ingin memberi tahu keluarganya cuma aku melarang."
"Kenapa?"
"Aku belum siap Vi. Aku takut mereka akan kecewa dan marah. Aku takut mereka tidak bisa menerimaku." Jawab ana lirih.
"Gue yakin, mereka akan merestui hubungan kalian na. Kamu itu gadis yang baik pasti mereka menyukai mu." Via menyemangati.
"Mudah mudahan ya Vi, tapi aku belum siap sekarang. Jika aku sudah siap kami akan memberi tahu mereka."
.
.
__ADS_1
Bersambung.