Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Marah gak jelas


__ADS_3

Ana masuk kekamar Stevan untuk membangunkannya sekalian melabrak nya.


"Mas bangun." ana menggoncang tubuh Stevan dengan sedikit kasar.


"Hmm.." sahut Stevan sambil menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Ayo bangun, kamu harus tanggung jawab." ana menarik selimut Stevan dengan geram.


Stevan mengerutkan dahinya sembari duduk. "Tanggung jawab?" tanya nya bingung.


"Apa yang sudah mas lakukan sama aku semalam?"


"Semalam?" Stevan seperti orang bingung mengingat apa maksud pertanyaan ana hingga beberapa saat ia teringat, ia menarik sudut bibirnya. "Menurut mu apa yang terjadi semalam?" bukannya menjawab Stevan malah balik bertanya.


Ana duduk disisi ranjang sembari menempelkan jari telunjuknya mengingat. "Semalam aku mijitin mas, kemudian kita ci_" ana tidak meneruskan ucapannya karena merasa malu.


"Terus apa yang terjadi?" tanya Stevan lagi.


"Ya Tuhan, aku tertidur" batin ana.


"A..aku tertidur." Ana menggigit bibir bawahnya malu, ia sangat malu bisa bisanya dia tertidur. Padahal ia sangat merespon dan menginginkan Stevan melakukan lebih pada dirinya.


"Ahw.." pekik ana kaget karena Stevan menarik nya hingga kini tubuh nya berada dipelukan Stevan.


"Seharusnya kamu yang bertanggung jawab, aku jadi sakit kepala karena menahan nya." bisik Stevan membuat ana merinding. Tubuhnya langsung membeku saat jarak wajah mereka hanya beberapa centi.


"M..m..mas", ana menarik tubuhnya menjauh dari stevan namun stevan kembali menariknya dan mengukungnya.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan yang semalam?" Stevan menarik sudut bibirnya tersenyum menggoda.


"Eh, t..ta..tapi_" belum selesai ana bicara langsung dipotong Stevan.


"Kenapa? kamu tidak mau?" Stevan bangkit dan duduk disisi ranjang, terpancar raut kecewa nya terhadap ana. Ia tahu ana masih enggan karena hubungan mereka belum diketahui oleh keluarga, saat ia ingin memberi tahu keluarga nya tentang hubungan mereka tapi ana yang belum siap, entah persiapan apa yang ditunggu ana entahlah ia bingung.


"Sayang, kita publish ya hubungan kita." ucap Stevan lembut, ia tidak ingin ada rahasia lagi tentang pernikahan mereka, ia ingin membangun rumah tangga yang normal tapi sepertinya ia masih harus bersabar.


Ana menggeleng tanda belum setuju, "Mas, ma..maafin aku yah!"


"Hufff..." Stevan menghela nafas kasar, sungguh ia sangat bingung apa yang dikhawatirkan ana, jika soal materi orang tuanya pasti tidak akan masalah, mereka tidak pernah memandang seseorang dari materinya, mereka hanya menilai dari kebaikan hati seseorang. "Ya sudah, aku mandi dulu nanti kita berangkat bareng." Stevan bangkit dan langsung kekamar mandi.


**


Sepanjang hari Stevan hanya marah-marah saja tidak jelas. Apa yang dilakukan oleh anak buahnya bisa memancing emosinya. Bahkan Andre saja tidak berani bercanda dengan Stevan saat ini. Sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik saja saat ini.


"Bodoh, apa saja kerja kalian selama ini! apa hanya makan gaji buta saja! kalian semua mau aku pecat!" Stevan berteriak memarahi bawahannya.Saat ini dia sedang meeting dengan beberapa jajaran direksi perusahaan. Entah kenapa kerja mereka tidak ada yang benar di mata Stevan.

__ADS_1


Andre hanya diam saja, tidak berani untuk bicara, sejak masuk kantor tadi pagi, aura wajah Stevan sudah sangat mengerikan. Tak ada senyum sedikitpun di wajahnya. Dan benar saja, saat meeting Stevan benar benar mengaum bak singa jantan yang kelaparan.


"Maaf pak" Beberapa bawahannya tampak menundukkan kepalanya dengan takut. Padahal mereka sudah membuat laporan dengan baik, tapi tetap saja salah menurut Stevan. Sebagai bawahan tentu saja mereka hanya bisa diam dan pasrah saja menghadapi kemarahan atasannya.


"Maaf saja kerja kalian, aku tidak mau tahu. Segera benahi laporan kalian dan dalam satu jam harus sudah ada di meja kerjaku." Bentak stevan lagi. Matanya mengawasi satu persatu setiap bawahannya yang menunduk.


"Baik pak" jawab mereka kompak, mau tak mau mereka harus mengiyakan titah sang bos. Walau tidak masuk akal sama sekali, bagaimana bisa menyelesaikan laporan dalam waktu satu jam.


Stevan pun langsung pergi meninggalkan ruang meeting mereka. Ia masuk keruang kerjanya dan di ikuti oleh Andre dari belakang.


"Pasti sedang bertengkar dengan istrinya." batin Andre menatap punggung Stevan.


"Ada apa bos?" tanya Andre saat sudah diruang kerja Stevan. Saat ini suasana hati Stevan tidak baik itu sebabnya ia memanggil dengan sebutan bos.


"Apa maksud pertanyaan lho?" Stevan menatap Andre tajam.


"Tiba tiba marah gak jelas. Mereka pasti sangat ketakutan dengan kemarahan mu."


Stevan hanya diam tanpa mau menjawab ucapan Andre, ia memijit kepalanya yang sedikit pusing.


**


Stella sedang berdiri di depan toko flowers, ia melihat ada poster pengumuman jika membutuhkan karyawan, dengan sigap ia menemui pemilik flowers itu.


"Iya mbak!"


"Apa benar ibu sedang mencari karyawan? kalo iya saya mau ngelamar buk!" Stella benar-benar berharap agar ia diterima. Ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya juga calon anaknya nanti.


Wanita paruh baya itu meneliti Stella dari atas hingga bawah, terlihat dari penampilan Stella pastilah ia tahu jika Stella bukan orang biasa.


Merasa ditatap seperti itu membuat Stella memohon agar ia diterima bekerja. " Buk, saya sangat membutuhkan pekerjaan buk, saya mohon terima saya ya!" ucap nya memelas. Sungguh bukan Stella banget, biasanya ia sangat tidak suka meminta apalagi memohon pada seseorang kini ia turunkan egonya hanya demi mendapatkan pekerjaan.


"Hmm..nama kamu siapa nak?" tanya wanita paruh baya itu lembut.


"Nama saya Stella buk." jawab Stella tersenyum.


"Panggil saja saya bunda Aish" ucapnya sembari tersenyum. "Baiklah, kamu bisa bekerja disini, hari ini juga bisa langsung kerja, dan nanti mbak Sari akan membantumu."


"Benarkah buk eh bunda Aish? makasih bund." Stella sangat bahagia, mata nya berbinar memancarkan kegembiraan.


Bunda Aish mengangguk lalu memanggil mbak Sari untuk membantu Stella dan mengajarkan Stella.


"Nenek" pekik seorang gadis kecil memeluk bunda Aish.


"Eh Yara cucu nenek." bunda Aish memeluk cucunya. " Dengan siapa kesini?" tanya bunda Aish pada cucu nya.

__ADS_1


"Sama om Marcel" tunjuknya pada seorang pria yang masih berdiri dekat mobil sambil menelfon.


Yara menoleh pada Stella, matanya membola melihat siapa yang ia lihat saat ini. "Tante!" ucapnya kaget.


Stella pun kaget ternyata gadis kecil yang ia beri kembang gula kemarin, tidak menyangka bisa bertemu lagi.


"Hai princess!" Stella melambaikan tangannya tersenyum.


"Kamu kenal Tante ini nak?" bunda Aish bertanya pada Yara kemudian menatap Stella.


"Iya nek, Tante ini yang Yara ceritain kemarin yang kasih Yara kembang gula." ucapnya antusias.


"Benarkah?" Yara mengangguk membenarkan.


"Makasih ya nak" ucap bunda Aish.


"Bund" panggil seorang pria yang baru saja datang menghampiri. "Ayo!" ajaknya namun matanya masih tertuju pada ponselnya. Ia datang untuk menjemput bunda Aish.


"Iya ayo!, bunda Aish mengambil tasnya dan hendak pergi lalu pamit dengan Stella, " Stella, bunda pergi dulu yah, kamu sama mbak Sari disini." ucap bunda Aish.


"Iya bunda, makasih." balas Stella tersenyum lembut.


Mendengar suara seperti pernah ia dengar membuat Marcel menoleh, matanya membola saat melihat Stella.


"Kamu!"


"Kamu!"


Ucap mereka kompak kaget.


.


.


Bersambung.


Happy reading allπŸ₯°πŸ˜Š


Semoga kalian suka yah 😊


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah😊


Oh ya mampir juga di cerita aku yang ini yah


Judul nya "Bukan istri yang diinginkan". cerita Safira dan zayyan juga mau aku gabungin disana aja. 😊😊

__ADS_1


__ADS_2