Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
51


__ADS_3

Dengan perasaan bahagia Stevan melajukan mobilnya membelah jalan raya, ia akan pergi ke kampus ana untuk menjemputnya. Ia kembali memegangi buku nikahnya sembari tersenyum. "Setelah ini aku akan mengumumkan pernikahan kita, aku harap kamu setuju honey". Ucapnya dalam hati masih dengan tersenyum.


Sebelum kekampus ia terlebih dahulu mampir disebuah toko perhiasan, ia ingin membeli hadiah juga membeli cincin pernikahan untuknya dan ana karena saat mereka menikah dia tidak memberikan mahar yang layak untuk ana.


"Ada yang bisa dibantu tuan?" tanya pegawai toko perhiasan itu.


"Yah, saya mau cari cincin pernikahan." jawab Stevan sambil melihat-lihat cincin couple yang berjejer. ia bingung memilih yang mana semuanya sangat bagus menurut nya.


"Tuan menginginkan yang seperti apa?" pegawai toko itu pun menjelaskan setiap cincin couple pada Stevan, dan pilihan Stevan jatuh pada cincin yang simple namun indah. Cincin emas putih yang dikelilingi berlian, simple namun sangat indah, apalagi jika ana yang memakainya.


"Baiklah, saya pilih yang ini." Putus Stevan, dan langsung membayar pilihannya. Setelah mendapatkan cincin itu ia pergi kembali melajukan mobilnya. "Ini akan sangat indah jika kamu yang memakainya." gumam Stevan. Tak hanya itu ia berhenti di florist untuk membeli mawar merah untuk sang pujaan hati.


"Mbak, saya mau bunga mawar yang paling in_" ucapan Stevan terhenti kala matanya menangkap seseorang didepannya, seseorang yang pernah singgah dihatinya.


"Stevan"


"Stella". Kaget mereka.


"Hy stev!" sapa Stella kaku. Rasa cinta yang masih ada dihatinya membuat ia kaku untuk bicara. Ia sangat malu serta bersalah dengan Stevan.


"Hy" balas Stevan datar, ia melihat Stella dari atas hingga bawah, sungguh sangat berbeda dengan Stella yang ia kenal dahulu. Stella yang biasanya berpenampilan sexy juga dandanan yang war. Tapi lihatlah sekarang, Stella hanya mengenakan pakaian biasa dan juga sopan, dan hanya mengenakan make up natural.


"Kamu disini?"


"Iya, aku kerja disini stev." jawab Stella lirih. Ada rasa simpati di hati stevan melihat Stella, ingat gays hanya simpati yah.


"Stev, aku mohon maafin aku stev, tolong maafin papa aku juga."


"Aku mau bunga mawar" ucap Stevan tak menghiraukan permintaan maaf Stella, wajah Stella berubah sendu karena diabaikan oleh Stevan.


Kemudian Stella mengambil dan merangkai beberapa tangkai mawar sehingga menjadi sangat cantik. "Ini stev", Stella memberikannya pada Stevan. "Untuk siapa mawar ini?" tanya nya penasaran.


"Untuk wanita yang paling spesial" jawab Stevan sambil memberikan uang pada Stella. "oh ya, aku Uda maafin kamu, jadi kamu gak perlu merasa bersalah, dan hiduplah dengan baik." sambung Stevan lalu pergi meninggalkan Stella.


Stella menatap punggung Stevan yang berjalan semakin menjauh dan memasuki mobil, dan kini mobilnya pun sudah hilang dari pandangan mata Stella. Matanya berkaca-kaca melihat kepergian Stevan yang tanpa menoleh lagi padanya. "Benarkah aku sudah tidak ada lagi di hatimu stev? lalu siapa wanita spesial itu?" lirihnya dalam hati. Hatinya sakit saat Stevan menyatakan ada wanita spesial dihatinya, dulu dia wanita yang paling di puja, di manja oleh Stevan, tapi kini semuanya telah sirna dan itu juga karena kebodohan dan kesalahannya.

__ADS_1


Stevan tak henti-hentinya melihat cincin digenggamanya dan bunga dengan bergantian, sesekali ia mencium mawar itu sambil tersenyum, sehingga ia kurang konsentrasi menyetir dan pas saat tikungan.


Brak...


Tiinn...


Mobil Stevan menabrak pohon, dan kepala nya membentur setir hingga membuat ia tidak sadarkan diri. Saat tikungan tadi ada motor yang melaju dari depan dan mobil Stevan yang dengan kecepatan tinggi tidak bisa lagi mengelak sehingga ia terpaksa banting stir arah kiri dan menabrak pohon besar pinggir jalan.


"Bagaimana kejadiannya?" Tanya Andre saat bersama Stevan dirumah sakit. Andre yang mendapat kabar dari orang yang menolong Stevan langsung berhambur kerumah sakit. Stevan dilarikan dirumah sakit terdekat dari tempat kejadian ia kecelakaan.


Stevan hanya mengangkat bahunya menjawab. "Aku mau pulang" Stevan menurunkan kaki nya hendak turun dari ranjang namun dicegah oleh Andre.


"Nanti saja, Ana lagi dalam perjalanan kemari." ujar Andre.


"Lo ngabarin Ana? ck... Dia pas_" belum habis ucapan Stevan pintu kamar rawat dibuka oleh ana.


"Mas" ana berlari menghampiri Stevan dan langsung memeluknya. "Mas gak papa? Apanya yang sakit?" tanya ana meniti tubuh Stevan. Wajahnya nampak sangat khawatir.


Flashback.


Ting, notif pesan aplikasi hijau menampakkan ada pesan. "Bang Andre?" gumamnya heran, karena sebelumnya ia tidak pernah saling komunikasi. Ia membuka pesan itu dan sontak saja ana syok seketika saat dapat kabar kalau Stevan kecelakaan. Seketika air mata nya jatuh tanpa perintah, ia segera pergi kerumah sakit yang diberitahu Stevan. Ia juga memberi tahu orang rumah.


***


"Honey, aku gak papa, cuma lecet dikit aja." ucap Stevan menunjuk keningnya.


"Beneran?" Ana meyakinkan dan Stevan mengangguk membuat ana mendesah lega karena suaminya baik saja.


"Ayo kita pulang." Stevan langsung menarik ana pergi.


"Mas" lirih ana sambil menatap Stevan bingung. Stevan hanya tersenyum menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu.


Sekitar dua puluh lima menit Stevan dan ana sudah sampai dirumah. Ana langsung membawa Stevan kekamar untuk beristirahat. "Istirahatlah mas, aku akan ambilkan minum untuk mas."


"Tapi mas mau kamu disini saja, biar teh Mina saja yang ambilkan."

__ADS_1


"Tapi mas", Stevan menarik tangan ana dan membawanya duduk dipinggir ranjang.


"Duduklah." Stevan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya kemudian memberikannya pada Ana.


"A.. apa ini mas?"


Stevan membuka kotak itu dan terlihatlah sepasang cincin membuat ana langsung menoleh pada Stevan seolah bertanya.


"Ini cicin pernikahan kita, saat kita nikah aku sbelum memberikan cincin pernikahan untuk kita." jelas Stevan mnatap ana tersenyum. "Aku pakein yah." Stevan menyematkan cincin dijari manis ana. Mata ana berkaca-kaca melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Sayang", Stevan menggenggam jemari ana serta mnegecup punggung tangan ana lembut. "Apa kamu sudah siap memberi tahu kepada keluarga ku tentang status kita?" tanya Stevan serius.


Ana hanya diam karena ragu, kemudian ia mengangguk. Sebenarnya ia masih takut jika nanti keluarga Stevan akan marah padahal mereka sudah sangat baik selama ini, ia takut kebaikan itu berubah menjadi benci. Namun demi Stevan ia setuju untuk memberitahu keluarga Stevan.


"Baiklah, kita akan beritahu saat mereka pulang nanti. Malam ini tidurlah disini."


Seperti yang di pinta Stevan, malam ini ana tidur dikamar Stevan. mereka tidur dengan posisi berhadapan dengan Stevan yang memeluk tubuh ana. Tidur mereka sangat nyenyak di saat seperti ini, ada kenyamanan satu sama lain yang menemani tidur mereka semalaman ini.


Ceklek ...


"Stevan!" Betapa kagetnya sang mama dan papa nya melihat Stevan yang tidur dengan ana. Mereka mematung sesaat kemudian.


"Stevan" Pekik mama menggelegar membuat tidur ana dan Stevan terusik. Mereka bangun dan kaget melihat mama dan papa yang berada dikamar nya.


"Ma... Mama, pa!" Stevan terbata karena kaget.


"Kami tunggu kalian dibawah." Ucap papa tegas kemudian pergi meninggalkan Stevan dan ana yang masih mematung syok.


.


.


Waaahhh ketahuan deh Stevan dan Stella. Apa yang dilakukan oleh mama dan papa yah! Apakah mereka akan merestui hubungan Stevan dan ana?


Stay tune terus yah gays😊😊

__ADS_1


Happy reading😊


__ADS_2