Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
61


__ADS_3

Hari resepsi pernikahan ana dan Stevan semakin dekat, hanya tinggal beberapa hari lagi membuat ana sangat gugup, padahal mereka hanya mengadakan resepsi tapi membuatnya sangat gugup, ia merasa khawatir juga jika orang-orang mengetahui ia istri Stevan apa mereka akan menyukainya.


"Ah ana, kenapa juga kamu mikirin hal seperti itu, padahal mas Stevan sudah mengatakan. jika pendapat orang itu tidak penting. Yang menjalani hidup kan kita berdua." Monolog ana seorang diri.


Dorr...


Via datang tiba-tiba menepuk ana.


Ana terpekik kaget. "Via." menghela nafas mengatur ritme jantung nya yang mendadak berdegup kencang karena kaget. "Kalo aku jantungan gimana?" kesalnya.


"Haha... sorry" ucapnya kemudian duduk di sebelah ana. Kelas masih sepi, hanya ada beberapa orang yang sudah datang. "Kenapa pagi-pagi Uda ngelamun? hm..!" sambung via.


"Gak ada, hari ini aku dan mas Stevan mau feeting baju pengantin."


"Waaahhh... gue ikut yah! trus lo suruh suami lo buat ajak pak Bryan ya!" Via menaik turunkan alisnya.


"Ngapain?"


"Ck... gimana sih na, ya mau pedekate lah."


"Via, jadi cewek tu jangan terlalu agresif, yang ada cowok malah ilfil nantinya." Ana mengingatkan, soalnya ia melihat via begitu agresif terhadap Bryan, dia saja wanita ilfil melihat nya apalagi Bryan.


"Kalo gak gitu gimana dong, nanti gue keduluan cewek lain dong." Via memberengut lesu.


"Ya kalo jodoh kan gak bakal kemana Vi, jadi cobalah bersikap biasa, jangan ganjen seperti itu, aku aja liatnya mual." ucap ana tertawa kecil.


"Ck... Iya deh, gue gak akan agresif. Tapi Lo dan suami Lo bantuin agar Bryan mau di jodohin sama gue ya na." Pinta nya melas.


"Di usaha in ya." balas ana tersenyum.


Ana langsung menelpon Stevan, tak butuh waktu lama panggilannya langsung di angkat oleh Stevan.


"Hallo sayang" suara dari sebrang sana.


"Hallo mas, mas lagi sibuk?"


"Tidak honey, ada apa? apa kamu butuh sesuatu?


"Begini mas, nanti saat kita feeting via ikut, mas ajakin Bryan ya."

__ADS_1


"Bryan? untuk apa?"


"Biar via dan Bryan bisa deket".


"Tapi yang!" belum sempat ucapan nya selesai langsung di potong ana.


"Mas gak mau nurutin permintaan ku?" ucap ana dengan suara dalam. Seperti menahan kesedihan.


"Okey, baiklah honey, mas akan usahakan." pasrah Stevan.


"Ya udah, makasih ya mas! bye assalamualaikum" ucap ana kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Stevan mendengus menarik nafas, sungguh ia tidak bisa menolak jika sang istri sudah meminta.


Andre yang ada di ruangan Stevan tersenyum mendengar percakapan pasutri tersebut. "Bucin parah lo." ledek Andre langsung dapat tatapan mematikan dari Stevan.


"Tapi gue seneng, akhirnya salju seperti lo bisa mencair oleh seorang ana althafunnisa."


"Hey, gak ada yang boleh menyebutkan nama lengkap ana selain gue. Tarik ucapan lo." tegas Stevan.


"Wauu... oke baiklah gue tarik ucapan gue." Andre menirukan seperti sedang menarik sesuatu sambil tertawa.


**


Ana sedang mencoba memakai gaun pengantin yang di pesan sebelumnya, sedangkan Stevan duduk menunggu sang istri keluar.


Via? dia sedang bersama Bryan duduk tidak jauh dari Stevan. Stevan benar-benar membawa Bryan hanya demi istri yang meminta, awalnya Bryan menolak tapi dengan satu ancaman Stevan maka ia menurut. Stevan mengancam jika ia tidak mau menuruti perintah nya untuk mengikutinya kemana pun saat bersama sang istri dan via, maka ia tidak akan memaafkan Bryan. Hanya dengan alasan itu Bryan mau menuruti, meski enggan bertemu via.


Tirai pembatas pun di buka perlahan membuat mata Stevan tak lekang menatap tirai menantikan pemandangan didepan sana. Stevan terpaku melihat sang istri dengan balutan gaun putih bak putri di dunia dongeng. sangat indah dan tambah cantik saat ana yang mengenakannya. Seulas senyum merekah dari bibir Stevan kemudian dia beranjak menghampiri sang istri. "Honey, your so beautiful" ucapnya sembari mengecup punggung tangan ana membuat wajah ana memerah merasa malu di puji seperti itu.


"Makasih mas, mas juga sangat tampan." balas nya tersenyum.


"Ana, lo cantik banget" via menghampiri ana girang, ia sangat salfok dengan penampilan ana seperti Putri Disney.


"Makasih Vi."


Via menoleh pada Bryan, dari tadi ia hanya diam tidak bicara apa pun karena ingat pesan ana untuk tidak kecentilan, tapi ia tidak bisa menahan lagi, setelah melihat ana berpakaian pengantin seperti ini membuatnya juga ingin segera menikah, tentunya dengan Bryan.


"Tuan Bryan" panggilnya dengan lantang agar membuat ana dan Stevan menoleh ke arah mereka, bahkan para pegawai butik juga menoleh ke arah via dan Bryan. "Maukah kau menjadi pacar ku?" ucapnya tegas.

__ADS_1


"Apa?" Bryan sungguh kaget, matanya membola karena di tembak oleh wanita seperti via.


Ana dan Stevan pun tak kalah kaget, mereka melongo mendengar ungkapan via.


"Via, bukankan aku Uda peringatkan!" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar Stevan.


"Biarkan saja honey, kita lihat sampai dimana perjuangan via mendapatkan Bryan." balas Stevan tersenyum.


"Gue tanya sekali lagi apakan kamu mau jadi pacarku?" tanya via lagi karena mendapati Bryan hanya diam mematung. "Oke, gue anggap diam mu itu sebagai jawaban iya. Fiks mulai sekarang kita adalah pasangan kekasih." sambung via tersenyum.


"What?" Pekik Bryan syok. Ia tidak habis fikir kenapa cewek didepannya ini super pede sekali, dengan gampangnya dia mengklaim nya sebagai pacar.


Ana dan stevan tertawa melihat wajah Bryan yang nampak syok. "Selamat ya, kalian sudah jadi pasangan kekasih, semoga hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan." Ucap Stevan sembari tersenyum menggoda Bryan.


"Aamiin.... " balas ana mengaminkan doa Stevan.


"Kalian!" Bryan tidak terima dengan ucapan selamat dari Stevan dan istrinya, wajah nya sangat kesal.


"Kami akan pulang, lo antar via bry." bukan sebagai permintaan tolong lebih tepatnya perintah. Stevan memerintahkan Bryan mengantar via pulang kerumahnya. Dengan berat mau tidak mau ia tetap mengantarkan via.


Sejak saat itu via dan Bryan sering bertemu di karenakan Stevan, setiap ada acara dan moment apa pun Stevan dan ana selalu melibatkan Bryan dan via. Mereka juga berharap sih Bryan dan via bisa bersatu. Hingga suatu hari Bryan merasa jengah dan melontarkan kata kasar.


"Ingat yah cewek aneh, mulai sekarang jangan pernah ganggu saya lagi, saya benar-benar muak, sebelumnya saya terpaksa karena permintaan Stevan. Tapi sekarang tidak lagi." ucap Bryan kemudian pergi meninggalkan via.


Tes...


Air mata menetes begitu saja, hati via sangat sakit, dadanya begitu sesak mendapati perkataan Bryan.


"Ya Tuhan kenapa sakit banget." batinnya sembari memegangi dada nya dan tetap melihat punggung Bryan yang berjalan semakin menjauh.


.


.


Kasian banget kamu via😱 kamu sih agresif banget jadi nya Bryan ilfil kan. Sabar yah😊


Hallo gays, happy weekend para readers😊


semoga kalian suka ya cerita nya,😊 jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah agar aku semakin semangat buat nulis nya.

__ADS_1


Follow akun aku juga jangan lupa berikan hadiah juga vote nya yah🥰


Love your banyak-banyak🥰🥰🥰


__ADS_2