Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
52


__ADS_3

Mama Inggrid dan papa langsung pulang saat mendengar kabar jika Stevan kecelakaan. Hati mereka tidak tenang mendengar putra semata wayang mereka kecelakaan.


Mereka naik pesawat keberangkatan malam dan pagi-pagi sekali mereka sudah sampai dirumah. Sesampainya dirumah mama dan papa langsung menuju kamar Stevan karena mereka tahu Stevan sudah pulang dan dirawat dirumah.


Ceklek...


Pintu dibuka karena tidak terkunci, mama dan papa masuk, sontak saja mereka syok melihat sepasang manusia sedang tidur satu ranjang dengan posisi Stevan memeluk ana dari belakang.


"Stevan" teriak mama marah.


Mendengar teriakan membuat tidur Stevan dan ana terusik, mereka bangun dan tentu syok melihat kedua orang tua nya sedang berada dikamar nya.


"Ma, pa!" Stevan gugup, ana langsung berinsut bersembunyi dibelakang Stevan, tubuhnya gemetar takut. "Ma a_" ucapan Stevan langsung di potong.


"Kami tunggu kalian di bawah." ujar papa berang lalu keluar kamar Stevan. Sangat jelas tergambar kemarahan di wajah papa juga mama Inggrid.


"Ma... mas. bagaimana ini?" Ana gugup.


"Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa." Stevan menenangkan. "Ayo kita kebawah." Terlebih dahulu mereka mencuci muka barulah menemui kedua orangtuanya di lantai bawah.


Stevan menggenggam tangan ana membawanya di hadapan kedua orang tuanya. Ana hanya menunduk tidak berani menatap majikan plus mertuanya itu.


Stevan memberikan buku berwarna hijau dan merah pada sang mama sebelum mereka mencecarnya dengan pertanyaan. Karena ia tahu mama pasti meminta penjelasan.


"Apa ini?" Mama membolak balik buku itu kemudian ia membukanya betapa syok nya mama Inggrid melihat nama yang tertera, kemudian mata nya turun melihat foto yang ada disitu, mama membungkam mulutnya dengan tangannya merasa syok atas apa yang ia lihat. "Pa lihat." Mama Inggrid memberikannya pada papa. Sama halnya dengan mama, papa juga syok melihat nya.


"Apa maksudnya ini stev?" Tanya papa dengan suara tinggi. Papa dan mama Inggrid menatap Stevan dan ana bergantian.


"Seperti yang mama dan papa lihat, kami sudah menikah, Ana adalah istriku." Stevan menggenggam erat tangan ana yang gemetar, ana sangat takut, jantungnya berdetak kencang seperti mau lepas karena takut.


"Kamu bercanda stev?" Timpal mama.


"Aku serius ma, aku menikah dengan ana sebelum menikah dengan Stella, saat aku membawa ana kerumah ini saat itu dia sudah menjadi istriku, kami menikah dikampung nya." jelas Stevan.

__ADS_1


Mama sangat syok mendengarnya, tubuhnya melemas mendengar penjelasan putranya. "Lalu kenapa kamu tidak memberi tahu dari awal jika ana adalah istrimu, malah kamu bilang ana pembantu dirumah ini?"


"Itu karena aku tidak mencintai ana ma, pernikahan kami karena paksaan, aku menabrak calon suami ana hingga meninggal dan aku harus bertanggung jawab menggantikan pria yang akan menikahi ana." Stevan menceritakan semua yang terjadi tanpa menutupinya lagi, ia sangat berharap orang tuanya bisa menerima ana sebagai menantu dirumah ini.


Ana hanya menunduk tidak berani mendongak, ia benar-benar takut, Tangannya dingin dan gemetar, merasa tangan ana gemetar Stevan menggenggam tangan ana lebih erat. "Jangan takut" bisiknya.


Mama sungguh tidak sanggup lagi untuk bicara, lidah nya mendadak kelu dan tubuhnya juga gemetar mendengar penjelasan Stevan. Mama bangkit dari duduknya mendekati Stevan yang masih berdiri mematung.


Plak...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Stevan.


"Kamu pikir pernikahan itu main-main ha?" Mama sangat marah, wajahnya memerah karena amarahnya. "Kamu menikahinya dan membawanya kerumah ini sebagai pembantu, dan kamu juga menikahi wanita lain disaat kamu sudah beristri. Dimana otak kamu? apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaannya? Dia bekerja dirumah keluarga suaminya dan melihat suaminya menikah lagi. Dimana hati kamu Stevan?" bentak mama dengan suara keras, air matanya luruh begitu saja.


"Ma" Papa menghampiri mama Inggrid serta membawanya dalam pelukannya, mama tergugu menangis.


Ana menangis dalam diam, ia masih menunduk, ia akan pasrah dengan keadaan sekarang ini jika orang tua Stevan tidak merestuinya, dia akan pergi dari hidup Stevan. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Diam kamu stev." Mama menatapnya tajam, sedangkan papa hanya diam membiarkan sang istri yang menyelesaikannya.


Mama inngrid melihat ke arah ana yang masih menunduk, ia tahu jika ana saat ini sedang menangis terlihat dari bahu ana yang bergetar. Ia mengangkat dagu ana agar menatap nya. Matanya berkaca-kaca melihat ana. Sang pembantu yang sangat ia sukai ternyata adalah menantu nya sendiri. Bukannya ia marah, justru ia senang kalau ana menjadi menantunya. Tapi ia marah dengan putranya yang bersikap gila, mempermainkan perasaan dan pernikahan. "Kenapa kamu nangis hm?" tanya mama lembut.


"Ma.. mafkan aku nyonya." Ucap ana dengan air mata yang ikut menetes.


"Hey, kenapa minta maaf ini bukan salahmu, ini semua salah pria breng**k itu. Mata mama tertuju pada Stevan. Mama menarik ana dan membawanya duduk dikursi. "Mengapa kamu tidak memberi tahu kami hm?"


"Nyonya, maafkan aku nya aku mohon, aku tahu pembantu seperti aku gak pantas jadi istri Stevan, aku akan pergi." Tubuh ana bergetar saat berbicara.


"Ana." Stevan merasa tidak terima dengan ucapan ana. Mama langsung melotot pada Stevan sebagai kode agar dia tetap diam.


"Hey, kenapa bicara seperti itu?" mama kembali mengangkat dagu ana agar menatapnya. "Mama senang kamu menjadi menantu mama, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami tidak marah padamu ana. Kami hanya marah pada suamimu itu, mata mama tertuju lagi pada Stevan dengan tatapan sinis.


"Nyo.. nyonya a_" ucapan ana langsung dipotong oleh mama.

__ADS_1


"Jangan panggil nyonya lagi, kamu adalah menantu mama, jadi panggil Mama juga papa okey!" ucap mama tersenyum.


"Ma.. Mama!" mata ana berkaca-kaca mengucapkannya, ia sangat senang. Mama Inggrid langsung memeluk ana serta mengelus punggung ana dengan sayang.


Stevan tersenyum melihat pemandangan di depannya lalu ia duduk disamping ana dan papa juga menyusul duduk disamping mama. Mama merenggangkan pelukannya. "Tersenyumlah, jangan menangis lagi okey." Mama tersenyum.


"Makasih ma", matanya kemudian tertuju pada papa, "Makasih pa" ucapnya tersenyum dan papa hanya mengangguk membalas. Mata mama kemudian tertuju pada Stevan, wajah nya kembali berang menatap stevan, refleks mama menarik kuping Stevan menjewer ya, ia sangat geram dengan sikap putranya ini.


"Aww... mama lepasin mah sakit." Aduh Stevan merasa kesakitan telinga nya ditarik.


"Kamu pantas mendapatkannya, bahkan lebih dari ini akan menghukum mu, bila perlu senjata mu akan mama potong." Ucap mama geram seraya melepaskan tangannya dari telinga Stevan.


"Kalau senjataku mama potong, mama sama papa gak akan bisa punya cucu dong." balas Stevan sambil menyapu telinganya perih.


"Kamu ini." geram mama mengepalkan tangannya meninju lengan Stevan.


"Aww... Mama ini wanita tapi tenaganya seperti bodyguard." keluh Stevan sambil mengelus lengannya, padahal tidak terasa sama sekali cuma stevannya aja yang lebay.


Ana tersenyum kaku melihat interaksi didepannya, ia masih canggung dengan keadaan sekarang, tapi ia sangat bahagia ternyata ia diterima dikeluarga Stevan.


.


.


Ternyata mama dan papa nya Stevan merestui ya gays🥰🥰


Senang kan?😊


Semoga pernikahan mereka langgeng tanpa ada pengganggu lagi yah.


Stay tune terus, jangan lupa follow akun aku yah, like coment dan vote nya juga.🥰🥰


Love you all readers🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2