
Empat hari sudah kepergian Andre berlibur membuat Stevan sangat lelah mengerjakan pekerjaan tanpa Andre, sudah empat hari juga ia lembur hingga larut membuat ia merasa bersalah pada ana yang jarang menemaninya. Padahal seharusnya mereka menikmati bulan madu.
Stevan menghela nafas sambil mendaratkan bokongnya di sisi tempat tidur.
"Mas" ana menghampiri Stevan dan mengecup tangan Stevan.
"Kenapa bekum tidur sayang?" tanya Stevan, ia melihat jam di atas nakas ternyata sudah pukul sebelas malam tetapi istrinya belum juga tidur.
"Aku nungguin mas." jawabnya sambil memberikan segelas air dan Stevan menerimanya serta meneguknya hingga tandas.
" Capek banget ya? aku pijitin yah" Tawar ana tersenyum.
Stevan langsung menarik ana hingga ana terduduk tepat diatas pangkuan Stevan. "Kamu adalah obat lelah ku sayang, jadi tetaplah disini." Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya dan ana langsung mendorong wajah Stevan. "Kenapa?" Terpancar ekspresi kecewa di wajah Stevan.
"Lebih baik mas mandi dulu, ini lengket banget". Ana mencubit baju yang dikenakan Stevan menunjukkan bahwa bajunya kucel berantakan.
Stevan tersenyum mengiyakan. "Baiklah honey, setelah ini mas menginginkanmu." bisik nya tepat ditelinga ana membuat ana meremang.
Stevan bangkit dan memberikan kecupan singkat di kening ana kemudian melangkah ke kamar mandi.
Stevan keluar kamar mandi dengan tubuh yang sudah sangat segar, kaki nya melangkah menuju dimana sang istri berada, netra nya membola kala melihat sang istri sudah tertidur dengan pulas nya. "Apa aku kelamaan yah mandi nya?" gumam Stevan lesu, padahal saat keluar kamar mandi ia begitu bersemangat ingin mendekati istrinya.
Ia pun merebahkan tubuh nya disebelah ana dan menarik ana dalam pelukannya. Kini ia pun ikut tertidur.
Disisi lain Bryan tidak bisa tidur, ia sibuk membolak balikkan tubuh nya ke kanan dan ke kiri mencari posisi agar bisa tertidur.
"Aku kenapa? jelas ini salah." gumamnya lirih. Ingatannya terus pada seorang gadis yang selalu mengejarnya namun kini gadis itu tidak lagi mengejarnya, dan itu membuat ia merasa sepi, kehilangan. Ia heran kenapa bisa sampai seperti itu, tidak pernah ia se_risau ini memikirkan wanita, bahkan Stella wanita yang ia cintai dulu tidak pernah mengacaukan pikirannya seperti sekarang.
Bryan mencoba menelpon nomor via namun tidak bisa, nomor nya sudah di blokir oleh via. Sungguh sepertinya via benar-benar akan melupakan Bryan.
"Ini semua karma buat gue yang uda menyakiti hati nya." Ucapnya dalam hati sambil mengingat yang ia ucapkan pada via saat itu, kata yang sangat menyakiti via.
Saat Bryan sedang frustasi tidak bisa tidur, berbeda dengan via saat ini yang sedang tidur begitu nyenyak nya. Ia tidur dengan damai tanpa terusik apa pun.
**
Sinar matahari mulai menembus masuk melalui sela-sela gorden yang masih tertutup. Kicauan burung mengusik tidur nyenyak seseorang di bawah selimut tebal dan tempat tidur empuk.
Ana mengucek mata nya menetralisir pandangannya, kemudian ia menoleh kesamping tapi tidak di temukan nya Stevan. "Kemana dia?" Ia menyibak selimutnya dan beringsut bangkit. Ia melihat kamar mandi tapi tidak menemukan Stevan. "Kemana mas Stevan?" batinnya dengan mata berkaca-kaca, ia melangkah hendak membuka handle pintu tapi pintu itu sudah terbuka duluan dan ternyata Stevan.
__ADS_1
"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Stevan tersenyum sambil membawa nampan berisi sarapan.
Setelah sholat subuh tadi Fira kembali tidur, Stevan heran biasanya ana tidak pernah tidur sehabis subuh, mungkin ana kelelahan pikir Stevan.
"Mas dari mana?" tanya ana memberengut.
"Mas lagi buatkan sarapan buat kamu nih, nasi goreng kesukaan mu." Ia meletakkan nampan di atas nakas. "Kenapa hem?" Stevan merapikan rambut ana yang terlihat berantakan karena baru bangun tidur.
"Gak apa, aku pikir mas Uda pergi."
"Sebentar lagi mas pergi nya, sekarang kamu sarapan dulu."
"Aku sikat gigi dulu." Ana langsung berlari ke kamar mandi. Tak lama pun ia kembali dan duduk di sisi tempat tidur.
"Mas suapin" ucap ana manja, Stevan yang sedang memakai dasi menoleh pada ana. Stevan tersenyum merasa gemas dengan istrinya itu.
"Baiklah sini." Stevan mulai menyuapkan nasi goreng pada ana. "Gak ngampus hari ini?" tanya Stevan sambil menyuapi ana.
"Ngampus, kan masih ujian. Cuma siangan dikit hari ini." Jawab sambil mengunyah. Nasi goreng itu pun kandas di makan oleh ana.
"Ya sudah, mas berangkat kerja dulu yah." Stevan hendak bangkit namun ana menarik tangan Stevan.
"Iya sayang, ada banyak kerjaan yang harus mas siapkan."
"Bisakah Mas tidak pergi? aku ingin bersama mas terus."
"Kenapa hem? manja banget istri mas, gak biasa nya." Stevan mengelus kepala ana.
"Apa aku gak boleh manja dengan mas? apa mas sudah bosan denganku dan tidak mencintaiku lagi?" Suara ana meninggi dan air mata nya pun jatuh membasahi pipi nya.
Stevan terkesiap melihat istri nya menangis. "Sayang kenapa ngomong gitu? Mas sayang dan sangat mencintai mu, mas cuma mau kerja sayang, secepat nya mas akan pulang dan menemani kamu. Maafin mas ya yang tidak ada waktu untuk kita berdua, mas janji setelah pekerjaan mas selesai kita akan liburan berdua." Stevan menangkup pipi ana memberi pengertian.
"Mas janji?" ucap ana dengan puppy eyes nya, sungguh menggemaskan.
Stevan mengecup lembut kening ana. "Mas berangkat ya!" pamit nya dan ana mengangguk.
Stevan yang sudah berada dikantor masih kepikiran dengan istrinya, ia merasa aneh dengan ana. Tidak biasa nya ana cengeng seperti itu.
Dikampus
__ADS_1
Ana dan via sedang melangsungkan ujian, ana tidak konsen mengerjakan ujiannya karena kepalanya yang terasa pusing. sesekali ia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Na, Lo kenapa? sakit?" tanya via yang melihat ana gelisah.
"Kepala ku pusing." Jawab nya lirih, wajah ana pucat dan keringat dingin sudah membasahi wajah ana.
"Muka Lo pucat banget na." Via namaok khawatir dengan ana.
Dengan pelan ana menyelesaikan soal ujiannya dan mengumpulkan lembar jawabannya.
Begitu pun via, ia mengumpulkan lembar jawabannya dan meyusul ana keluar.
Ana duduk bersandar di bangku depan kelasnya sambil memijit kepalanya. "Ya Allah kok pusing banget!" gumamnya dengan suara bergetar.
"Na, gue antar pulang, atau gak kerumah sakit dulu yok." via membantu ana berdiri.
"Antar pulang aja Vi, aku perlu istirahat aja deh kayaknya."
"Yakin?" via memastikan.
"Hemm..." ana mengangguk.
"Ya udah yok." via membantu ana berjalan dengan pelan.
Ana merasakan tubuhnya dingin saat keluar dari gedung sekolah, kepalanya tambah pusing dan keringat dingin terus membanjiri tubuh ana, hingga pandangannya pun mengabur.
"Ana" pekik via saat tubuh ana merosot dari rangkulannya.
.
Bersambung.
Happy reading semuanya 🥰🥰
Baca juga karya ku yang lain yah
Judul nya "DOKTER TAMPAN, SARANGHEO"
ceritanya juga gak kalah seru ya, Uda tamat dan kalian bisa maraton baca nya😊
__ADS_1
Makasih All🥰