Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Jadilah Pacarku


__ADS_3

Seperti biasa pagi ini ana kembali kuliah setelah lima hari tidak masuk, setelah melihat Stevan tenang dalam tidurnya ia bergegas pergi karena ojek online sudah menunggunya didepan, tidak lupa ia pamit pada sang majikan juga bik Wati dan teh Mina.


"Bagaimana keadaan Stevan na?" tanya mama Inggrid saat ana menjunjung tangannya Salim.


"Tuan Stevan sedang tidur nya." jawab ana jujur,memang saat ini Stevan sedang tidur setelah menumpahkan semua keluh kesah dan isi hati nya pada Ana.


"Kasian banget putraku" gumam pelan mama Inggrid,namun masih bisa didengar oleh ana.


"Ana pamit kekampus ya nya, assalamualaikum" ucap ana sembari pergi.


Dikampus.


"Via" ana menghampiri via serta memeluknya.


"Aku kangen banget sama kamu." ucap ana senang.


"Gue juga kangen sama lho na." via membalas pelukan ana dengan senang. " kenapa gak bilang kalo pulang kampung?" tanya via sembari merenggangkan pelukannya. " kan gue bisa ikut ke kampung lho."


"Mendadak, dan emang nya kamu mau main main kekampung gitu?" tanya ana memastikan,ia pikir orang kaya seperti via tidak akan Sudi main kekampung kumuh.


"Ya Allah na,emang nya kenapa dengan kampung? lho pikir gue anak sultan yang gak mau main kekampung kampung gitu?" via gak habis pikir dengan ana yang menganggapnya enggan dan tak Sudi main kekampung. Apa salahnya dikampung.


"Ya mana aku tahu." jawab ana cengengesan.


"Bagaimana keadaan lho?" tanya via sambil membawa ana duduk dikursi depan kelasnya.


"Seperti yang kamu liat,baik."


"Maksud gue bagaimana perasaan lho saat ini? lho pasti paham maksud gue." ucap via menatap ana iba,ia kasihan melihat nasib ana yang ditinggal suaminya menikah dengan wanita lain, ia bisa melihat kesedihan ana waktu hari pernikahan suaminya dengan Stella, ia tahu karena ia hadir saat itu karena keluarganya yang juga sebagai rekan bisnis dari orang tua Stevan mengundang mereka. jika saja itu terjadi pada dirinya pasti ia tidak akan kuat seperti ana saat ini yang masih bisa tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


Ana menghela nafas, ia tahu maksud pertanyaan via yang menanyakan perasaan nya saat suaminya menikah. " Aku baik via," jawab ana tersenyum.


"Lho yakin?" tanya via lagi memastikan.


" Ada banyak kejadian saat sebelum hari pernikahan mas Stevan dan juga saat aku pulang kampung". ucapnya sambil melihat sekeliling dan banyak mahasiswa mahasiswi yang lalu lalang. " Nanti aku ceritain ke kamu semuanya." sambung ana dan membuat via penasaran.

__ADS_1


"Kenapa gak sekarang aja."


"Banyak orang,gak enak didengar. Yuk masuk." Ana menarik via masuk kelas.


"Gue bakal tagih janji lho." Mereka masuk kelas karena jam pelajaran sudah dimulai.


"Ini bakso lho,gue gak tahu lho mau seberapa pedas,tambahin sendiri cabenya." via meletakkan dua mangkok bakso diatas meja beserta sambal untuknya juga ana.


"Makasih ya" ana memasukkan saos dan beberapa sendok sambal cabe kedalam mangkoknya dan langsung menyendokkan bakso memasukkan kemulutnya. Wajahnya seketika memerah dan mengeluarkan keringat.


Via bergidik melihat ana yang menambahkan banyak sambal." Apa gak papa tuh perut?" tanya via melongo melihat ana yang santai memakannya.


"Gak, Uda biasa." jawab ana santai sesekali ia menyeruput minumnya.


"Hy ana." Rama datang langsung duduk berhadapan dengan ana.


"Hy bang Rama." balas ana namun masih mengunyah makanannya.


Rama melihat via sembari mengangguk.


"Aku yang makan pedas kok dia yang sakit perut." gumam ana menatap via berlari meninggalkan dia dengan Rama.


"Gimana kabar lho na? gue dengar dari via kalo lo gak masuk kemarin karena pulang kampung." Rama membuka pembicaraan.


"Iya bang, kangen orangtua soalnya." jawab ana tersenyum.


"Lho baik baik aja kan?" tanya nya menatap ana lekat.


"Sangat baik." jawab ana singkat dan masih memamerkan senyumnya.


"Bagaimana hati lho?" tanya nya lagi namun ana tak menjawab. "Ana, lupakanlah dia, gue bisa bantu lho ." sambung Rama.


Ana mengernyitkan dahinya tidak paham apa maksud perkataan Rama. " Maksudnya?"


"Berpisah lah dengannya dan jadilah pacar gue." ucap Rama tegas.

__ADS_1


Uhuk..uhuk.. Ana tersedak mendengar ucapan Rama,matanya berair Menahan sakit di tenggorokannya sambil mengambil gelas minumnya ternyata sudah kosong. Melihat itu dengan sigap Rama berdiri hendak membelikan minuman.


"Gue beli dulu." Rama langsung menuju rak lemari es mengambil sebotol minuman dingin kemudian kembali menghampiri ana.


"Ini minumlah" Rama memberikan sebotol minuman dingin yan sebelumnya sudah ia buka.


Ana meneguk minumannya, "Makasih ya bang" ucapnya sembari meletakkan botol minum nya diatas meja.


"Sorry" ucap Rama merasa bersalah.


"Gak apa bang."


"Gimana pertanyaan ku tadi?" sambung Rama.


"Maksudnya bang? aku gak ngerti." balas ana.Sebenarnya ia paham maksud Rama,cuma ia ingin memperjelas apakah ia benar atau tidak.


"Gue mau lho jadi pacar gue" ucap Rama jelas.


Ana merasa bingung tidak tahu mau menjawab apa, ia hanya menunduk tak berani menatap Rama.


Melihat ana hanya diam Rama paham jika ana pasti masih bingung. "Lho gak perlu menjawabnya sekarang na, gue akan tunggu jawaban lo, dan gue harap saat lo menjawab nya lho menerimanya." Sambung Rama menatap ana tersenyum.


.


.


Happy reading all😊😊


Semoga sehat selalu kita semua yah😊🤲dan diberi kelancaran Rizki.


Jangan pernah bosan membaca cerita ku yah😁Nantikan terus cerita nya dan jangan lupa


Berikan vote nya dong🙏😁Sebagai penyemangat othor untuk nulisnya😊🥰🥰


Sayang kalian semua❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2