Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Kemarahan stevan


__ADS_3

Stevan mengerjakan matanya menetralkan pengelihatannya, mata nya tertuju pada jam diatas nakas terlihat sudah pukul satu siang, dengan langkah berat ia bangun dan langsung kekamar mandi membersihkan dirinya. Hanya sepuluh menit ia sudah menyelesaikan mandinya.


Dengan hanya memakai handuk ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.Tak butuh waktu lama panggilann Stevan langsung diangkat.


"Bagaimana? apa dia dikantor?" tanya Stevan datar.


"Iya, dia baru saja pulang dari pertemuannya dengan client nya." jawab Andre dari sebrang sana.


"Baiklah, gue kesana sekarang."


"Apa perlu gue temani?"


"Gak, lho sementara urus dulu perusahaan." Stevan langsung mematikan panggilannya sepihak.


mendapati panggilannya terputus membuat Andre berdecak kesal.


"Ck..dasar tuyul." umpat nya pada ponselnya.


*


Stevan sampai di perusahaan Bryan,ia melangkahkan kakinya langsung menuju ruangan Bryan.


"Maaf pak, ada keperluan apa pak?" tanya sekretaris Bryan menghalangi masuk.


"Saya ada perlu dengan bos kamu" jawab Stevan datar dan dingin.


"Apa bapak sudah buat janji?" tanya sekretaris lagi namun tak diperdulikan Stevan,ia melangkah lagi namun masih dihalangi oleh sang sekretaris Bryan.


"Maaf pak, lebih baik bapak tunggu dulu, saya akan memberi tahu kedatangan bapak!"

__ADS_1


"Awas" Stevan menerobos membuka handle pintu.


"Pak,tunggu." namun telat, Stevan sudah membuka pintu dan menerobos masuk.


"Bryan, brengsek lho" Stevan menarik kerah baju Bryan kemudian memberikan satu pukulan pada wajah Bryan membuat tepi bibir Bryan mengeluarkan darah.


"Hey bro santai." Bryan menyapu darah di bibirnya serta membenarkan bajunya.


"Ada apa lho datang datang mukul gue? gak dapat jatah lho?" tanya nya dengan senyum smirk.


"Bangsat lho" Stevan kembali mencengkram kerah baju Bryan serta memberikan tatapan membunuh nya.


"Kenapa? kenapa lho nusuk gue dari belakang ha?" geramnya, wajahnya memerah karena amarah yang membuncah.


Bryan melepaskan tangan Stevan dari bajunya. "Stevan, Stevan. Gue hanya memberikan apa yang tidak bisa kau berikan pada Stella. apa itu salah? seharusnya kau berterima kasih karena gue mencukupi kebutuhan Stella yang tidak pernah bisa didapati darimu."


"Hahah...lho memang laki laki bodoh stev, lho juga egois,lho padahal tau kalo gue suka dengan Stella sebelum kalian jadian, tapi lho cuma peduli diri lho sendiri, lho bahagia diatas kesakitan gue."


Bryan mengenal Stella terlebih dahulu, ia menyukai Stella sejak perkenalan pertama mereka saat Stella memasuki kampus yang sama dengannya ,Andre juga Stevan. Setelah dekat ia memperkenalkan Stella dengan kedua sahabatnya,namun sayang Stella malah terpikat oleh Stevan. Dan kedekatan mereka pun berkembang menjadi pasangan kekasih,dan itu membuat Bryan sakit hati, ia marah dengan Stevan yang sudah merebut wanita yang ia sukai. Namun ia berusaha memendamnya karena tidak mau persahabatan mereka hancur hanya karena wanita.


Suatu hari Stella datang kepadanya curhat jika Stevan kolot,gaya pacarannya kampungan, Stella yang pergaulannya bebas merasa jenuh dengan gaya pacaran Stevan,ia menginginkan lebih namun tidak bisa didapat dari kekasihnya, hingga Bryan pun memberikan keperluan *** Stella, mereka terus melakukannya dibelakang Stevan. Bryan sudah berulang kali mengajak Stella untuk menjalin hubungan dengannya namun Stella tidak mau,baginya Bryan hanya lah pelepas hasratnya.


"Lho tau kan Stella sedang mengandung? lho harus mempertanggung jawabkan perbuatan lho itu." sarkas Stevan geram.


"Tanggung jawab? gue gak yakin itu benih gue." jawab Bryan santai dan itu membuat Stevan tambah berang. Stevan hendak memukuli lagi namun kali ini Bryan menangkisnya. "Siapa yang tahu dia melakukannya dengan siapa saja, toh waktu gue pertama menyentuhnya dia sudah bolong." sambungnya santai. Stevan yang geram kembali memukuli Bryan hingga wajah tampan Bryan lebam akibat pukulannya, stelah puas memukul Bryan Stevan langsung pergi meninggalkan Bryan yang lemah dengan wajah babak belur.


"Brengsek" Stevan memukul setir mobil nya merasa marah dengan Stella dan Bryan.Membayangkan Stella dan Bryan berhubungan dibelakangnya membuat ia jijik.


"Ana" wajah ana tiba tiba muncul di benaknya, kemarahannya seketika hilang berganti senyuman dan rasa rindu. Ia kemudian menjalankan mobilnya menuju kampus sang istri. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai dikampus, kebetulan sudah jam pulang. Ia menunggu ana di sebrang jalan males hendak masuk. Ia melihat kearah pagar menanti sang istri keluar, senyum bibirnya terbit saat sang istri keluar namun raut wajahnya berubah saat melihat Rama mendekati ana.

__ADS_1


Dengan langkah tegap ia berjalan menghampiri ana. "Ayo pulang." ucapnya datar menarik ana.


"Mas" ana begitu kaget melihat Stevan datang dan menariknya.


"Tunggu" Rama menahan menarik tangan ana yang satu nya lagi. Stevan berhenti membalikkan badan,menatap Rama berang seakan hendak menelannya hidup hidup.


"Lepasin tangan lho dari istri gue." sarkas Stevan.


"Maaf pak, bukankah Anda sudah menikah dengan wanita lain? jadi lepaskan ana. Gue akan membahagiakan dia." jawab Rama santai sembari membalas tatapan Stevan yang menghunus.


Ana gemetar melihat Stevan dan Rama yang memancarkan aura peperangan. Ia takut jika mereka akan silap dan berkelahi.


"Jangan ikut campur masalah keluarga gue." ucap Stevan dengan raut wajah mengerikan.


"Sudah mas, bang Rama. malu diliatin orang." ana melihat sekeliling,orang orang menatap kearah mereka. Ia khawatir akan menjadi topik hangat dikampus besok.


"Gue akan ikut campur jika itu tentang wanita gue." ucap Rama santai dan itu mengundang kemarahan Stevan. Stevan langsung memberikan pukulan di wajah Rama.


"Ah.. mas" jerit ana reflek saat Stevan memukul Rama.


"Ayo pulang." Stevan kembali menarik dengan mencengkram pergelangan tangan ana.


"Mas..sakit" ana merintih merasa pergelangan tangannya sakit di cengkram Stevan. Tanpa peduli Stevan menghempaskan ana ke mobilnya, kemudian ia melajukan mobilnya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2