Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Talak


__ADS_3

Brugh.


Stevan menghempaskan koper Stella. " sekarang pergi kamu dari sini." bentak Stevan. Ia bertambah geram melihat Stella yang mengeluarkan air mata buaya nya, sungguh tidak ada harga diri nya dia meminta ampun dan menerima dia yang sudah dijamah pria lain bahkan sedan hamil dari pria lain itu.


"Stev, aku mohon jangan usir aku." Stella memelas, air mata nya bercucuran membasahi wajahnya.


"Ada apa ini?" Tanya papa, mendengar keributan mama dan papa keluar untuk melihat apa yang terjadi, mereka kaget melihat koper Stella berserak di lantai. Tak hanya mama dan papa, bik Wati,ana dan teh Mina juga keluar melihat apa yang sedang terjadi.


"Stev, aku mohon jangan usir aku." Stella menangkupkan kedua telapak tangannya memelas. "Aku ini istrimu stev, wanita yang sanga kau cintai." sambung Stella tanpa rasa malu, ia berharap Stevan akan memaafkannya dan menerimanya sebab mereka saling mencintai.


"Cih," Stevan bedecih seolah meludah. "Aku gak pernah mencintai wanita murahan seperti kamu, dan jangan harap aku memaafkanmu."


"Stev, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mama Inggrid yang masih belum mengerti. Stevan hanya menoleh kearah mama dan papa nya tanpa menjawab pertanyaan mama nya. Ia kembali menatap Stella, "Tadi kamu bilang kalau dalam pernikahan harusnya menerima kelebihan dan kekurangan kan? tapi kami tidak menerima aku yang menghormatimu, kamu lebih memilih menjadi ****** demi memuaskan hasratmu, dan kamu bermain itu dibelakang ku." bentak Stevan membuat Stella menunduk,Stella benar benar hancur saat ini, ia pikir ia akan aman meski ia sudah berkhianat.


"Stev, sebaiknya kamu tenang, gak enak malam malam begini berteriak.Dan selesaikan secara baik baik." sela papa mengingatkan.


"Aku gak bisa tenang pa saat tau dia hamil dengan pria lain" Stevan menunjuk Stella dengan tatapan mematikan.


Duar


Betapa kagetnya semua penghuni rumah itu, mama menggeleng menutup mulutnya merasa syok.


"Stella hadiguna! Sekarang juga aku talak kamu" ucap Stevan menggelegar.


Bagai disambar petir Stella mendengar kata itu, ia langsung berlutut dibawah kaki Stevan. "Stev, aku mohon jangan talak aku, aku sangat mencintaimu stev,aku mohon." ia memeluk kaki Stevan memohon agar Stevan tidak menceraikannya, namun hal itu sudah terjadi, Stevan sudah mengeluarkan kata talak untuknya dan jatuhlah talak padanya.

__ADS_1


Tanpa peduli Stevan menghempaskan kakinya dari Stella hingga Stella terhuyung dilantai. Ia segera pergi meninggalkan Stella yang bersimpuh dilantai sambil menangis sesenggukan. Stella menoleh pada mama dan papa mertuanya, ia merangkak menghampiri dan bersujud dikaki mereka. "Ma,pa. aku mohon jangan usir aku, aku gak mau cerai dari Stevan ma." ucapnya yang masih menangis.


"Itu adalah konsekuensi atas prilaku mu sendiri, dan kamu berhak menerimanya. Apa yang kamu tanam maka akan kami tuai sendiri." ucap mama juga pergi sembari menarik papa.


"Ma,pa,please to_" ucapannya terhenti karena ia limbung dan tak sadarkan diri.


"Tuan, nyonya, non Stella pingsan." bik Wati teriak menghampiri Stella. Mama dan papa yang masih belum jauh melihat kebelakang dan ternyata Stella pingsan.


"Bawa saja kekamar tamu dulu bik." ucap mama dan pergi meninggalkan mereka tanpa mau peduli dengan Stella. Sebagai perempuan ia merasa iba dengan Stella,namun apa yang Stella buat, kesombongan,keangkuhan juga mengkhianati putranya tidak bisa ia toleran. Ia dapat merasakan sakit putranya yang dikhianati.


**


Matahari sudah berdiri tinggi dan sinarnya masuk kekamar menyilaukan mata Stella, ia terbangun dan mengucek mata nya menetralkan pengelihatannya. "Aku dimana?" gumamnya melihat sekeliling, ia tahu ini bukan dikamar Stevan. Lalu ia bangun dan berjalan keluar, ia mendengar suara yang tak asing baginya diruang tamu. Untuk memastikan ia berjalan menuju ruang tamu dan benar apa yang ia dengar. Sang papa sedang berbicara dengan Stevan dan orang tua Stevan.


"Papa." panggilnya dan semua yang ada disana menoleh. Tidak ada tampang ramah sang papa melihat Stella,jutru kilatan kemaran terpancar dari mata nya. Papa berdiri dan menghampiri Stella.


"Anak kurang ajar" papa Stella kembali menghaturkan tangannya hendak menampar lagi namun di hadang Stevan.


"Jangan suka bermain tangan terhadap wanita pak!" ucap Stevan datar.


Stella berkaca kaca, dalam pikir nya Stevan masih sayang dengannya hingga menolongnya dari sang papa. " Sekarang bawa putri mu pulang, saya akan mengurus perceraiannya di pengadilan." Stevan langsung pergi meninggalkan mereka.


"Stev" teriak Stella hendak mengejar namun dihalangi papa nya. "Ayo kita pulang." papa nya menarik Stella keluar dari rumah Stevan, ia menghempaskan tubuh Stella kedalam mobil dan melajukan mobilnya kembali kerumah nya.


"Stev." mama menghampiri Stevan kekamar ya. " Kamu yang sabar ya nak,mama paham kamu pasti terluka" mama Inggrid mengelus lengan Stevan.

__ADS_1


"Aku tidak terluka ma, hanya saja aku marah sama diri aku sendiri, kenapa aku sebodoh ini."lirih Stevan, ia merasa pria bodoh yang dengan gampangnya dibodohi pasangan dan sahabat sendiri. Jika saja ia tidak mengetahui tentang kehamilan itu,pasti saat dia akan mengakhiri pernikahannya dengan Stella dia akan merasa paling bersalah karena telah mempermainkan perasaan seseorang. Dibalik itu ia juga lega ternyata keputusannya sangat tepat, ia tidak ingin hidup dengan wanita licik seperti Stella.


"Ya sudah istirahatlah, mama akan suruh ana bawakan sarapan kamu." mama pergi keluar dari kamar Stevan.


Hanya lima menit ana sudah datang membawakan nampan sarapan pagi untuknya.


"Mas, ini sarapan mu." ana meletakkannya diatas nakas. Ana melihat Stevan iba sekaligus sakit. Ia sakit melihat amarahh Stevan malam itu, ia merasa Stevan masih sangat mencintai Stella hingga terpancar kekecewaan dalam diri Stevan.


"Sayang," Stevan menari ana duduk disebelahnya kemudian memeluk ana dengan erat seolah enggan untuk melepasnya.


"Mas,kamu mencintai Stella kan?" tanya ana membuat Stevan merenggangkan pelukannya dan menatap ana bingung.


"Maksudnya?"


"Kamu masih mencintai dia kan? karena itu membuat kamu sangat terpukul dan kecewa."


Stevan kembali memeluk ana. "Aku hanya mencintai mu, bukan Stella. Aku marah kepada diriku sendiri, karena sudah salah mencintai wanita, bukan cinta,lebih tepatnya aku kagum dengan sosok Stella hingga aku menginginkannya menjadi pendampingku. Aku sadar aku tidak pernah mencintai stella, karena rasa yang aku rasakan denganmu tidak pernah aku dapatkan bersama Stella." Ucap Stevan pasti.


Ana menegang mendengar pengakuan Stevan, jujur ia sangat bahagia mendengarnya,namun ia tidak mau besar kepala merasa sangat beruntung bisa dicintai oleh seorang Stevan.


"Jangan pernah tinggalin aku ana, sebab aku bisa gila jika kehilanganmu." Stevan memeluk ana erat,dan ana membalas pelukan Stevan, dia juga merasa tidak ingin kehilangan Stevan.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2