Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Menyesal


__ADS_3

Tersebarnya berita tentang dirinya membuat Stella tidak berani untuk keluar rumah. Ia benar benar malu foto foto menjijikkannya bersebar dimana mana, bukan hanya dengan satu pria tapi dengan beberapa pria. Dia selama ini tidak hanya dengan Bryan berhubungan melainkan dengan beberapa pria, hanya saja saat tau ia hamil ia lebih memilih Bryan untuk bertanggung jawab karena ia tahu Bryan sangat mencintainya dan pasti akan menerimanya. Ternyata dugaannya salah, Bryan menolak dan mengusirnya, dia benar benar tidak tahu harus apa sekarang, ia benar benar menyesali perbuatannya.


"Arghh" teriaknya sambil melempar bantal Kedinding, ia juga memukul perut nya berharap janin dalam kandungannya bisa gugur, ia tidak mau jika harus melahirkan anak yang tidak jelas siapa ayah nya itu.


"Stella, apa yang kau lakukan?" mama nya datang melerai agar Stella tidak lagi memukul perutnya.


"Biarkan anak ini mati ma, aku gak mau anak ini lahir." teriaknya sembari terisak.


"Stell, jangan lakukan hal bodoh, anak ini tidak bersalah." Mama mengingatkan sambil memeluk stella. Mama mengelus punggung Stella agar ia tenang.


"Mama, mama" teriak Xander dari luar mendekati kamar Stella, ia terus berteriak memanggil hingga sampai dikamar Stella.


Mama dan Stella menoleh melihat papa Xander datang dengan wajah berang, entah apa yang terjadi dengannya hingga membuat pria paruh baya itu marah.


"Ada apa pa?" mama berdiri dan menghampiri papa Xander. Ia merasakan firasat tidak baik, pasti terjadi sesuatu hingga membuat suaminya itu berang.


"Habis ma, kita habis." Xander terduduk di kursi sambil memijit keningnya frustasi.


"Maksud papa apa?"


"Semuanya ma, papa bangkrut ma." lirihnya tanpa menatap istrinya, ia benar benar frustasi dengan apa yang terjadi. Perusahaan yang dengan susah payah ia bangun kini hancur seketika.


"Mama dan Stella syok mendengar nya seraya menutup mulutnya dengan tangan, bibir mereka bergetar merasa tidak percaya apa yang mereka dengar.


"Kamu serius pa?" Tanya mama dengan bibir bergetar.


"Ia ma, semuanya sudah hancur, perusahaan papa yang dengan susah payah papa bangun hancur", ucap papa Xander lirih kemudian matanya beralih menatap Stella, terpancar kemarahan saat melihat putrinya. "Dan ini semua karena anak sialan itu." Tunjuknya geram melihat Stella.

__ADS_1


"Pa" Sarkas mama.


"Semua karena kamu, Bikin malu keluarga, kau menghancurkan semuanya." teriak papa menuding Stella geram.


"Papa hentikan." teriak mama melerai sang suami agar tidak berkata kasar dengan putrinya.


Stella menunduk sambil menyeka air mata nya, ia sangat sakit sang papa menyalahkan dan menyudutkannya seperti itu, bukannya mendukung serta membantunya, papa nya malah menyalahkannya.


"Emang benar ma, jika saja ia tidak liar tidak akan mungkin semua terjadi, gak akan mungkin Stevan mencampakkannya jika dia bisa menjaga dirinya. Dan perusahaan ku juga tidak akan hancur. Semua ini karena nya." Xander benar benar emosi.


"Sudah pa,hentikan." Mama mencoba menghentikan namun Xander sudah kepalang emosi hingga meluapkan semua amarahnya.


"Semua ini karena mama. Jika saja mama tidak memanjakannya dia tidak akan begitu, dia tidak akan liar seperti sekarang." sambung Xander.


"Cukup pa, cukup" Stella berteriak menutupi kedua telinga nya dengan telapak tangannya. Ia sangat terpukul dengan ucapan sang papa.


"Papa puas ha? papa sudah puas mengatai dan menyumpahi ku?" Stella menyeka air matanya. " asal papa tahu ini semua salah papa juga mama. Kalian berdua salah, aku tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kalian, apa kalian pernah menemaniku disaat aku membutuhkan kalian? Disaat aku sakit hanya ada bibi yang mengurusku, Disaat aku pertama kali masuk sekolah bibi yang mengantarku, disaat aku membutuhkan pelukan dan ingin bercerita apa yang terjadi disekolah ku, apa yang ku alami, aku ingin bercerita tentang kesedihan dan juga kebahagiaankuaku, tapi kalian tidak ada. Aku hanya mendapatkan kasih sayang itu dari bibik. Kemana kalian? kalian hanya memberikan uang uang dan uang. Kalian tidak pernah memikirkan perasaan ku. Hingga_" Stella menjedah ucapannya karena nafasnya tercekat.


"Hingga aku mencari kehangatan dan kebahagiaan dari orang lain, aku ingin merasakan hangatnya pelukan ayah dan aku mencari di luar sana. Kalian yang membuatku hancur." teriak Stella geram, ia lega bisa menumpahkan semua keluh nya kepada kedua orang tuanya.


"Dan satu lagi jika papa lupa, papa kan yang menyebarkan berita scandal Stevan? jika papa tidak mengusik Stevan, papa pasti akan baik baik saja." sambung Stella menatap papa dan mama nya.


Xander terdiam mendengar perkataan Stella, memang benar jika saja dia tidak mengusik Stevan pasti semua nya akan baik saja. Dia yang terlalu emosi dan serakah menginginkan menantu kaya seperti Stevan membuat ia tidak terima di perlakukan seperti itu. Nasi sudah menjadi bubur, begitulah nasib Xander dan keluarga saat ini. Karir yang di bangun sedari nol kini hancur hanya karena keserakahannya.


Stella melangkah keluar meninggalkan mama dan papa nya yang masih diam mematung merenungi semua perkataan Stella, mereka sadar jika selama ini mereka sudah mengabaikan putri mereka semata wayang, mereka sibuk mencari materi tanpa peduli perkembangan sang anak, mereka hanya membelikan barang mahal atau apapun yang Stella minta untuk menghindari rengekan Stella yang ingin bersama, mereka tidak ada waktu walau hanya mendengar cerita sang anak.


Tak tau kemana Stella hanya mengikuti arah kaki nya melangkah, entah sudah berapa jauh ia berjalan kaki tanpa arah tujuan yang jelas. Ia berjalan sesekali menghapus jejak air mata yang mengaliri pipinya.

__ADS_1


"Aku harus kemana? mama papa sudah tidak peduli lagi denganku, semua sekarang tidak peduli lagi denganku, ini semua karena kamu" ucapnya sambil memegangi perutnya. "Jika kamu tidak hadir pasti hidupku akan baik saja, Stevan tidak akan menceraikan aku. Aku pasti akan mendapat cinta dari mereka, semua nya hilang, ini semua karena mu." sambungnya teriak meremas baju perutnya.


Stella menyebrang jalan tanpa menoleh ternyata sebuah motor melaju dengan cepat ke arahnya.


"Awas mbak." Stella terjerembab di bahu jalan karena ditarik oleh seseorang.


"Aww.."


"Kamu?" Stella kaget melihat siapa yang menolong nya.


"Mbak gak papa kan?" tanya ana meneliti tubuh Stella, mengecek apa ada yang luka.


Ana yang baru pulang dari kampus melihat Stella yang hendak menyebrang, dan mendaoati sebuah motor melaju kencang, dengan cepat Stella berlari dan menarik Stella hingga mereka terjatuh dan posisi Stella menimpah tubuhnya, tubuh nya yang kecil tentu saja merasa sakit saat ditimpa dan membentur aspal.


"Saya gak papa, kenapa kamu nolongin saya? Kenapa gak biarkan saja saya mati ketabrak tadi?" sarkas Stella menepis tangan ana.


Bersambung.


Jangan lupa berikan vote nya yah😊😊



visual Stella yah😊



visual Bryan 😊l

__ADS_1


Ternyata Bryan gak kalah tampan dengan Stevan yah😁😊


__ADS_2