
Ana diantar oleh Stevan ke kampus. "Nanti kalo sudah selesai kabari, mas akan jemput." Ucap Stevan sambil membukakan setbelt ana.
"Aku bisa pulang sendiri naik ojek ataupun taxy mas, atau diantar via juga."
"Tidak, tidak. Mas akan jemput nanti." Balas nya tidak mau ditolak, dia tidak akan membiarkan istrinya pulang dengan orang lain termasuk taxy online.
"Apa mas gak capek jika harus antar jemput aku? mas kan kerja."
"Mas tidak akan capek jika untuk kamu honey." ucapnya sambil mengecup punggung tangan ana. Tatapan mereka kini beradu saling mengunci, hanya ada pancaran cinta di mata keduanya. Stevan mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya dengan bibir ana. Bibir ana sungguh manis membuat Stevan candu ingin terus mengecupnya.
"Masuklah" Stevan melepaskan kecupannya, raut wajah ana berubah seperti ada kekecewaan saat Stevan melepaskan bibirnya, dan itu disadari oleh Stevan.
"Kenapa honey? kamu kecewa aku menyudahinya?" tanya Stevan dengan menaik turunkan alisnya.
"Apaan, siapa juga kecewa." Rengut ana tidak terima.
"Hahah... mas tau hanya dari ekspresi mu honey," Stevan mencubit gemas pipi ana. "Jika lama mas takut tak terkendali, atau kamu mau kita ke hotel?" Goda Stevan tersenyum.
"Mas, ih... apaan sih gak nyambung." ana memukul lengan Stevan hingga membuat Stevan tertawa. "Ya sudah aku pamit" Ana salim mencium punggung tangan suami nya dan dibalas Stevan dengan mengecup kening ana.
"Ana masuk mas, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam", Balas Stevan. Dan saat ana sudah hilang dari pandangan nya barulah ia menjalankan mobilnya menuju kantor. Sepanjang jalan ia tersenyum juga sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu di mobilnya.
Hanya dua puluh menit Stevan sampai di kantornya. Ia turun dari mobil dengan tersenyum, bahkan ia tersenyum saat para bawahan juga karyawan nya menyapa. Sungguh pemandangan langkah dikantor nya. Semua pegawainya berbisik menceritakan nya namun ia tidak peduli karena hari ini suasana hati nya lagi baik. Ia sangat bahagia pernikahannya dengan ana direstui oleh orangtuanya. Dan ia berencana akan menggelar resepsi pernikahan yang mewah untuknya dan ana.
"Waww.... ada yang lagi bahagia ni kayaknya!" ucap Andre yang baru saja datang ke dalam ruangan kerja Stevan. "Ada apa?"
"Gue bahagia banget hari ini." jawab Stevan tersenyum.
"Wiiihh... kenapa tu?"
Stevan menghela nafas sejenak baru berbicara. "Mama papa tahu hubungan gue dan ana. Kami ketahuan saat tidur bersama."
"Ha? trus?"
__ADS_1
"Mereka ngamuk dan gue ditampar sama mama." sambung Stevan tersenyum.
"Ha, Lo di gampar tapi Lo senyum-senyum gini? saraf Lo emang." Andre menggeleng kacau.
"Gue belom selesai ngomong". Stevan melempar Andre dengan pulpen. "Gue digampar karena mama pikir gue melecehkan ana, namun setelah gue jelasin semuanya mereka merestui." jelasnya lagi.
"Andre tersenyum bahagia untuk Stevan. "Gue seneng akhirnya, huff... !" Andre menghela nafas. "Gue turut bahagia atas kebahagiaan Lo stev. Semoga rumah tangga kalian SAMAWA terus hingga Jannah."
"Aamiin..." Stevan mengaminkan.
"Dan kapan kalian akan go public?"
"Secepatnya, gue mau Adain resepsi pernikahan yang mewah sekalian gue akan mengumumkan keseluruh dunia ini jika ana adalah istri dari Stevan Mahendra." ucapnya bangga.
Dikampus
Seperti yang dikatakan Stevan akan menjeput ana, kini ia sudah menunggu ana di depan gerbang kampus. Matanya terus melihat ke arah gerbang menanti sang kekasih hati muncul. Bibirnya melengkung tersenyum saat ana berjalan keluar melewati gerbang. Melihat mobil Stevan ana langsung menghampiri.
"Assalamualaikum mas," Ana salim mencium punggung tangan Stevan.
"Waalaikumsalam sayang." balasnya sambil mengecup kening ana.
"Mas belum makan?" tanya nya dan Stevan hanya menggeleng.
"Ya Allah mas Uda jam berapa ini kok mas belum makan?" Ana khawatir melihat jam dipergelangan tangannya sudah pukul setengah tiga tapi Stevan belum makan siang.
"Mas mau nya makan sama kamu!" Jawab Stevan tersenyum menatap ana kemudian pandangannya kembali lagi fokus kejalan.
"Mas bisa sakit jika telat makan terus, jangan ulangi lagi yah!" pinta ana lirih.
"Iya honey, jangan sedih gitu dong." Stevan mengacak rambut ana gemas.
Saat mobil terus berjalan pandangan ana tertuju pada seorang wanita di sebuah toko bunga. Ia terus memandanginya sampai pandangannya menjauh karena mobil terus berjalan. Stevan melihat kemana arah mata ana, ia tahu jika ana sedang melihat Stella yang berada di toko itu.
Stevan memarkirkan mobilnya di sebuah restoran seafood. Ia menggandeng ana masuk kedalam restoran, banyak mata yang memandang mereka, entah tatapan terpesona atau tatapan iri hanya tuhan yang tahu hati mereka.
__ADS_1
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Stevan memberi buku menu untuk ana lihat.
"Em... Aku pesan kepiting saus Padang, gurame asam manis sama minumnya es campur." ucap ana dan dicatat oleh waitres nya.
"Saya pesan cumi bakar, sayur asam sama jus jeruk." Pesanan Stevan pun dicatat.
"Mohon tunggu sebentar ya pak, Bu" waitres itu pun pergi.
"Mas" Ana nampak ragu ingin bicara.
"Hmm... ada apa? kenapa seperti ragu begitu?" tanya Stevan tahu jika ana ragu ingin bicara, nampak jelas dari ekspresi wajah ana.
"Aku mau bicara soal mbak Stella." ucap ana pelan, ia takut Stevan marah jika membicarakan Stella.
"Kenapa? apa Stella mengusikku honey?" Stevan berubah menjadi cemas, ia takut jika Stella akan mengganggu ana.
"Bukan mas," ana menghela nafas terlebih dahulu baru ia berucap. "Mas ingat waktu kaki aku terkilir?" tanya nya dan Stevan mengangguk. "Waktu itu aku nolongin mabak Stella yang hampir ketabrak, itu sebabnya kaki ku terkilir."
"Honey, kenapa kamu tidak bilang!"
Mas, jangan potong dulu pembicaraanku." timpal ana dan Stevan diam menanti apa yang akan dibicarakannya.
"Mbak Stella sangat kacau mas, dia ingin mengakhiri hidupnya, keluarganya hancur karena papa nya bangkrut, ia sangat frustasi tapi dengan aku memberikan nasihat ia bisa menerima akan takdirnya, ia ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Mas tolong maafkanlah mbak Stella mas, kasihan dia, apalagi ia sedang hamil sekarang. Mas bisa mengembalikan perusahaan papa mbak Stella kan?"
"Sayang, kenapa kamu masih peduli dengannya? bukankah dia selalu merendahkan mu hm"?
"Sudah sepatutnya kita peduli pada sesama mas, Allah saja maha pengasih, masa kita tidak bisa saling mengasihi sesama makhluknya."
"Hati kamu benar-benar baik sayang, mas sangat beruntung memiliki bidadari sepertimu", ucap Stevan sambil mengacak rambut ana. "Mas tidak bisa mengembalikan perusahaan nya tapi mas akan bantu dengan cara lain, kamu tenang saja yah."
"Makasih ya mas, mas adalah suami terbaik." balas ana tersenyum bahagia.
.
__ADS_1
.
Bersambung