Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
55


__ADS_3

Stella merasa tubuhnya sangat lelah karena banyaknya pembeli hari ini, ia masih terus merangkai bunga-bunga pesanan customer. Keringat bercucuran di pelipisnya.


"Stell, sepertinya kamu kelelahan, istirahatlah sebentar, biar mbak yang lanjutkan." ucap mbak Sari, mereka sama-sama sedang merangkai bunga pandangan mbak Sari tertuju pada Stella yang nampak kelelahan juga wajahnya bercucuran keringat.


"Gak apa mbak, aku bisa kok." Jawabnya merasa tidak enak jika harus beristirahat sedangkan mbak Sari masih terus bekerja.


"Udah gak papa, istirahat dulu sana jika sudah baikan baru balik lagi." mbak Sari membawa Stella dalam ruangan khusus untuk beristirahat.


Stella membaringkan tubuhnya yang serasa remuk, perut bagian bawahnya juga sakit, ia mengelus perutnya meringis. "Kamu yang kuat ya nak." gumamnya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Merasa sudah lebih baik ia kembali lagi membantu mbak Sari. Dan akhirnya semua karangan bunga pesanan customer sudah selesai dan dijemput oleh customer nya.


"Huh... akhirnya selesai juga" Stella lega karena pekerjaan mereka sudah selesai. Karena banyak nya pembeli hari ini mereka mendapatkan bonus dari bunda Aish, mereka juga mendapat tips dari beberapa pembeli tadi. Stella tersenyum merekah melihat uang ditangannya, ini kali pertama ia mendapat uang dari hasil kerja keras nya, biasanya ia hanya menengadahkan tangan meminta pada orang tuanya juga dari Stevan yang selalu memberinya.


Stella pulang dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan, sebelum pulang tadi ia mampir di supermarket membeli makanan juga beberapa keperluan untuknya juga mama nya.


"Ini mah" Stella memberikan kantong belanjaannya pada mama.


"Banyak sekali nak," tanya mama sambil menatap Stella.


"Iya mah, kebetulan aku dapat gaji juga bonus dari bunda Aish karena ramai pembeli hari ini. Aku juga dapat tips dari pembeli tadi." Jelasnya tersenyum.


"Alhamdulillah... Makasih ya nak, kamu sudah bekerja keras" mama meneteskan air mata sedih juga bahagianya.


"Mama jangan bersedih, semua akan baik-baik saja ma." balas Stella tersenyum.


**


"Mana janji kamu mau membawa calon istri kamu ke mama?" Bunda Aish menagih janji Marcel yang katanya akan membawa calon istrinya dihadapan sang bunda.


"Bunda bikin kaget aja tau gak, datang-datang langsung nagih janji." Marcel yang sedang berada diruang kerjanya kaget karena kedatangan bundanya.


"Jangan banyak basa-basi. Mana janjimu kamu kemarin?"


"Oke, weekend aku akan bawa dia dihadapan bunda".


"Bunda tunggu, jika kau berbohong maka siap-siap bunda akan nikahkan kamu dengan pilihan bunda." ujar bunda tegas kemudian pergi meninggalkan Marcel diruang kerjanya.


"Aissssh... bunda ada-ada saja, siapa coba cewek yang akan ku perkenalkan dengannya." Marcel nampak berfikir mencari solusi.

__ADS_1


Bunda Aish menggerutu sendiri didalam kamarnya, ia sungguh tidak habis fikir dengan putranya itu, masa sudah setua itu tidak mempunyai calon. Ia berfikir siapa gadis yang akan dijodohkan ya dengan Marcel, ia mengingat setipa gadis anak dari teman temannya tapi semua tidak masuk kriteria nya. Pikirannya langsung tertuju pada satu gadis, mata nya berbinar membayangkannya.


"Aha, bagaimana kalo aku jodohkan Marcel dengan Stella, dia gadis yang cantik juga rajin." Monolognya seorang diri, bibirnya melengkung tersenyum.


***


Kehidupan ana kini berubah drastis, ia tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah, ia cuma membantu bik Wati untuk memasak khusus untuk suami juga mertuanya.


"Nyonya mau masak apa" bik Wati bertanya, ana melongo mendengar nya, panggilan yang begitu asing dan ia tidak menyukainya.


"Bik, kenapa memanggilku seperti itu? aku tidak suka mendengarnya."


"Ya sekarang kan kamu majikan kami na, jadi seharusnya kami memanggil seperti itu, jika tidak nanti tuan Stevan bakalan marah." Timpal teh Mina.


"Gak bik, teh. Aku gak suka mendengarnya, kalian tetap harus memanggilku seperti biasanya. Panggil ana si gadis manis. Jika tidak aku gak mau bicara lagi sama bibik dan teh Mina." ucap ana dengan mengerucutkan bibirnya. Sungguh lucu ekspresi ana seperti itu. Dan itu membuat bik Wati dan teh Mina tertawa.


"Baiklah, kami akan tetap memanggilmu ana si gadis manis kami." sambung bik Wati tersenyum.


Selesai memasak ana bergabung untuk sarapan dengan suami juga mertuanya, seperti biasa masakannya selalu dipuji oleh mama Inggrid. Mereka semua makan dengan lahap karena masakan ana memang sangat lezat.


"Kapan kalian akan mengadakan resepsi?" tanya mama sambil mengusap bibirnya dengan tisu selesai sarapan.


"Baiklah, mama akan siapkan semuanya dalam dua Minggu" Mama sangat bersemangat mendengarnya. "Kamu mau konsep pernikahan seperti apa nak?" sambung mama.


"Ha? em.. A... aku tidak tau mah." jawab ana gugup.


"Sayang, konsep pernikahan impian kamu seperti apa?" tanya Stevan lembut sambil menggenggam jemari ana. "Katakanlah, jangan merasa malu."


"Iya nak, pernikahan hanya sekali seumur hidup, jadi wujudkan lah impianmu itu." timpal papa. Ia tahu ana merasa sungkan, jadi ia angkat bicara agar ana tidak sungkan lagi.


"Tapi mas Stevan sudah dua kali menikah" balas ana polos dan itu membuat Stevan tersedak minumannya.


Mama dan papa tertawa dengan ucapan polos yang keluar dari menantunya.


"Sayang, jangan begitu." ucap Stevan lirih.


"Dulu aku pernah memimpikan pernikahan seperti princess mas, dimana aku dibawa oleh pangeran berkuda putih." jawab ana malu.

__ADS_1


"Baiklah, mas akan wujudkan pernikahan ala princess untuk princess" Stevan mengecup punggung tangan ana didepan orang tuanya. Wajah ana memerah menahan malu saat Stevan mengecup tangannya dihadapan mertuanya.


"Mas, malu." bisik ana dengan wajah memerah.


"Kenapa malu, mereka juga pernah muda sayang." jawab Stevan tersenyum kemudian mengecup punggung tangan ana lagi.


Mama dan papa tersenyum melihat pasangan suami istri di depannya. "Sudah Bucin sekarang ternyata." ledek mama Inggrid. "Tapi mama senang kamu bisa naklukin bongkahan es tua ini nak." Mama Inggrid tersenyum merekah.


Selesai sarapan ana pergi kekampus dengan diantar Stevan. Ia benar-benar tidak membiarkan ana pergi sendiri.


"Mas, nanti aku minta izin ketemu mbak Stella yah!" ucapnya sambil menatap Stevan yang sedang mengemudikan mobil.


"untuk apa?"


"Aku mau memberi tahu dia tentang hubungan kita mas."


"Sayang, sebaiknya tidak perlu. Jika dia tidak senang dan mencelakai mu bagaimana?"


"Mas, mbak Stella sudah berubah mas, dia tidak akan mencelakai ku". jelas nya namun Stevan diam tidak menjawab. "Boleh ya?" tanya nya lagi.


"Baiklah, tapi biar mas yang antar." Ana mengangguk setuju jika harus diantar oleh Stevan.


.


.


Bersambung.


Apa reaksi Stella yah saat mengetahui kebenarannya?


Stay tune terus yah gays🥰🥰


HAPPY reading 🥰🥰


Jangan lupa follow akun aku "Umi Ayi"


Facebook "Raudhatul Jannah Lubis"

__ADS_1


Instagram " Umi Ayi"


__ADS_2