Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Berita heboh ll


__ADS_3

Diruang makan


Stevan dan keluarganya sedang menikmati makan malam. Mereka menyendok nasi beserta lauk dan sayuran yang sudah tersaji dimeja makan.


"Ana, gabunglah makan disini." Stevan mengajak ana bergabung makan malam.


"Ha?" beo ana.


 Mama papa nya menatap heran pada Stevan. Melihat keheranan dari orang tuanya Stevan angkat bicara. "Kenapa ma? gak masalah kan jika ana bik wati dan teh Mina gabung makan malam sama kita?"


"Ya gak masalah, cuma aneh saja denganmu. Gak biasanya." Ucap mama.


"Bosen ma cuma kita bertiga saja yang makan, sesekali pengen rame." elaknya sembari matanya menatap ana.


"Ana, ayolah makan sini saja,ajak bik Wati dan teh Mina." sambung mama Inggrid. Sebenarnya mereka juga tidak masalah jika harus bergabung dengan para asisten rumah tangga mereka, bahkan mereka senang. Cuma para asisten rumah tangga mereka yang segan dan tidak mau.


"Gak apa nya, kamu makan di belakang saja. Bik Wati dan yang lain sudah menunggu." Alasan ana menolak, ia sungkan apalagi harus berdekatan dengan Stevan, yang ada ia gak selera makan karena gelisah.


"Ya sudah." timpal mama Inggrid kemudian ana pergi menyusul pekerja lain di ruang dapur. Stevan memandangi kepergian ana dan mama Inggrid melihat itu. Mama Inggrid merasa aneh dengan Stevan.


"Kata mu tadi kan bosen cuma kita bertiga kan? Makanya cepat menikah dan beri kami cucu agar rumah ini ramai oleh anak kecil." ucap mama sambil mengunyah makanan nya.


"Aku kan sudah menikah ma".


"Kamu sudah bercerai, maka cepat cari lagi istri." sambung mama.


"Apa kalo Stevan memilih gadis biasa tidak masalah bagi mama dan papa?"


"Gadis biasa gimana?" mama Inggrid tidak paham maksudnya.


"Ya gadis biasa, gadis yang kehidupannya tidak setara dengan kita." jelas Stevan.


"Stev. Kami tidak memandang kasta dengan siapa kamu menikah nanti, yang terpenting gadis itu gadis baik dan dari keluarga yang baik pula." Timpal papa, dari tadi papa nya hanya diam mendengar dan kali ini ia memberi masukan bagi putranya agar tidak salah memilih lagi. Dengan Stella misalnya walau mereka dari keluarga kaya tapi dia tidak menyukainya karena sifat buruk mereka.


"Kami menyukai seseorang?" Mama menyipitkan matanya penasaran namun Stevan tidak menjawab pertanyaan mama nya dan kembali mengunyah makanan nya.

__ADS_1


*


Drtt..drrtt..drrtt.


Baru saja Stevan merebahkan tubuhnya hendak tidur, ponselnya berdering. Terdapat nama Andre yang memanggil. Dengan cepat ia mengangkat karena sudah pasti ada hal serius jika Andre menelpon di tengah malam begini.


"Hallo".


"Hallo stev, gue ada didepan rumah lho. Ada hal penting yang harus gue sampaikan." ucap Andre langsung mematikan panggilannya sepihak.


Ck.. Stevan berdecak kesal dengan Andre, ia bangkit dari ranjang empuk nya kemudian keluar untuk membuka pintu.


"Apa yang mau lho sampaikan? apa gak bisa nunggu besok pagi dikantor?" Cecar Stevan berjalan keruang kerjanya.


"Ini tidak bisa jika ditunggu Sampai besok." Andre langsung ikut masuk ke ruang kerja Stevan.


"Apa?"


"Ini", ternyata berita itu tuan Xander biangnya." Andre memberikan berkas tentang bukti bukti yang dilakukan Xander untuk menghancurkan Stevan.


"Gue Uda hapus semua berita tentang lho sesuai kemauan lho. dan sekarang apa kita akan membalasnya?"


"Tentu." jawab Stevan pasti, kemudian Stevan memberikan pada andre sebuah berkas untuk memperbaiki nama nya kembali. "Hancurkan dia, buat jangan ada yang membantunya." Perintah Stevan dan Andre langsung pamit pulang.


"Kamu salah memilih lawan tuan Xander." Stevan mengepalkan tangannya serta tersenyum mengerikan.


**


Seperti yang diinginkan Stevan. Pagi ini sudah muncul berita jika perceraian Stevan bukanlah karena stevan selingkuh melainkan Stella yang sudah berselingkuh sebelum mereka menikah, bahkan saat ini sedang mengandung dari pria lain.


Warga net kembali geger oleh berita itu, foto foto Stella dengan pria pun bersliweran dimana mana. Bahkan hasil pemeriksaan kehamilannya pun di publish kan.


"Sial." Xander menghempaskan barang barang kamarnya merasa marah. Orang suruhannya pun tidak bisa untuk menghapus semua berita itu. Bahkan saat ini kolega serta para investor nya sudah menarik semua kerja sama nya.


"Sial.. Ini semua gara gara anak sialan itu." Teriaknya lagi.

__ADS_1


"Pa, tenang pa." Istrinya menenangkan.


Xander langsung pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sangat berharap orang yang akan ditemui nya bisa membantunya. Sekitar dua puluh lima menit ia sudah sampai di sebuah perusahaan yang juga cukup terkenal. Ia langsung menemui Presdir perusahaan tersebut.


"Waw apa yang membuat mu datang di perusahaan ku tuan Xander?" Sapa Bryan saat tuan Xander datang ke ruangannya.


"Anda pasti tahu maksud saya kesini tuan Bryan, saya mau meminta bantuan anda agar mau membantu perusahaan saya."


"Kenapa saya mesti membantu anda? apa yang akan saya dapatkan jika membantu anda?"


"Stella, anda akan mendapatkan Stella, bukankah kalian saling mencintai? dan juga benihmu sudah tumbuh di rahim Stella, kita akan menjadi keluarga". Xander berucap percaya diri.


Hahaha... Bryan tertawa mendengar ucapan Xander, sungguh ia tidak menyangka jika Xander memiliki sifat percaya diri tinggi.


"Tuan Xander yang terhormat" ucap Bryan sambil duduk dikursi nya dan menaikkan kedua kaki nya di meja. " Bagaimana kau yakin kalau putri mu hanya tidur denganku? saya tidak percaya karena saat saya menyentuhnya dia sudah tidak bersegel, saya tidak tahu dengan siapa saja dia melakukannya". jawab nya sambil menyunggingkan bibirnya sinis.


"Kau" Xander mengepalkan tangannya geram merasa tidak terima dengan perkataan Bryan.


"Anda tau jalan keluar kan?" Usir Bryan secara halus.


"Kau akan mendapatkan balasannya tuan Bryan." Geram Xander dan langsung pergi.


*


"Bagaimana stev? kamu puas?" Tanya Andre yang saat ini sedang diruangan Stevan. Ia menscroll tab nya melihat berita yang sangat hangat pagi ini. Banyaknya hujatan dan sumpah yang nitizen berikan pada Stella dan selingkuhannya, juga banyak yang prihatin dengan duda tampan yang ada didepannya ini. Eh ralat, bukan duda, ia pria beristri.


"Belum, gue belum puas sebelum dia benar benar hancur. Pastikan tidak akan ada yang membantunya." Jawab Stevan tersenyum.


"Lho tenang saja", Andre ikut tersenyum.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2