Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
49


__ADS_3

"kak, kakak kok tega ninggalin aku sih kak!" Via memeluk Rama sedih karena Rama akan pergi melanjutkan kuliahnya di Amerika.


"Ini sudah impian kakak Vi, jika kamu kangen kan bisa datang jenguk kakak." Rama mengelus rambut via dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia memeluk mama dan papa nya, matanya melihat sekeliling seolah mengharapkan kedatangan seseorang.


"Kamu jaga diri disana ya nak, jangan sampai telat makan, jangan tidur larut malam." Nasihat mama panjang lebar.


"Iyah ma, aku akan ingat nasihat mama." Rama tertawa mendengar nasihat mama nya panjang lebar merasa lucu, nasihat mama nya seperti menasehati anak kecil. "Seperti anak kecil saja di ingatkan begitu". sambungnya tertawa.


"Kamu memang masih pangeran kecil mama." Balas mama sambil memeluk kembali Rama. Mama sangat sedih harus berpisah dengan putranya.


"Iya ma" Rama memeluk erat mama lalu melepaskan pelukannya.


Sebentar lagi pesawat akan take of, Rama kembali mengedar kan pandangannya melihat sekeliling.


"Kakak nyariin ana?" Tanya ana tahu kalau kakaknya pasti menunggu ana, ia kasihan dengan kakaknya itu, mencintai wanita tapi cintanya tak terbalas. "Kenapa kakak gak kasih tau ke ana kalau kakak akan pergi?"


Rama tidak memberitahu keberangkatannya pada ana karena ia ragu jika tidak akan sanggup pergi, dulu dia berharap jika ana menerima cintanya maka ia akan membawa ana ikut dengannya ke Amerika kuliah bersama dan akan menikah dengan ana setelah ia lulus kuliah.


"Gak Vi, ya sudah kakak pergi dulu yah! jaga dirimu baik-baik." Rama mengelus kepala via. " Titipkan salam sama ana yah."


Via mengangguk sebagai jawabannya, lalu ia kembali memeluk Rama. "Aku bakalan kangen sama kakak." Via merasa berat harus berpisah dengan kakak nya, dari kecil mereka selalu bersama dan Rama selalu menjaga via. ia sangat menyayangi kakaknya.


**

__ADS_1


Disisi lain Xander dan istri sedang bersiap meninggalkan rumah nya. Rumah mereka sudah dijual untuk melunasi hutang-hutang mereka, meski tidak cukup untuk membayar semuanya namun hasilnya lumayan meringankan hutangnya. Xander dan istri menarik koper keluar dari rumah. Langkah mereka terhenti untuk melihat rumah mereka yang terakhir kali. Rumah mewah yang ia bangun untuk keluarganya kini hanya tinggal kenangan.


"Pa, sekarang kita akan kemana?" tanya mama sembari meneteskan air mata.


"Tidak tahu ma, kita cari kontrakan saja dulu." Xander menarik kopernya sembari menggandeng istrinya.


" Bagaimana dengan Stella pa?"


"Mama tidak usah mikirin anak sialan itu, bikin malu." Xander menggeram mendengar nama Stella, tidak ada lagi rasa sayang terhadap putri semata wayangnya, yang ada hanya kebencian dan kemarahan karena Stella sudah mencoreng nama baiknya juga menghancurkan hidupnya. Ia masih saja menyalahkan orang lain padahal semua yang ia dapat karena hasil perbuatannya sendiri.


"Pa, dia itu anak kita, bagaimana papa bisa bicara seperti itu." Sarkas mama marah mendengar perkataan Xander.


"Mulai sekarang dia bukan lagi anak ku, bagiku dia sudah mati." Balas Xander.


"Karena dia yang sudah menghancurkan semuanya," Xander menghempaskan tangan mama dari genggaman tangannya. "jika mama mau mencarinya silahkan. Hiduplah bersamanya, dan jangan cari papa lagi." Ucap Xander penuh penekanan, Xander memandang mama dengan penuh amarah kemudian ia pergi meninggalkan istrinya sendiri yang masih berdiri di halaman rumah mereka.


"Papa", teriak mama memanggil namun tidak dihiraukan Xander.


Mama menangis sambil menarik kopernya berjalan entah hendak kemana tidak tahu arah dan tujuan, ia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya kemana berjalan. "Stell, kamu dimana nak? kamu baik-baik saja kan?" Monolognya seorang diri sambil tetap berjalan, sesekali ia menyapu pandangan melihat sekitar berharap ia menemukan Stella putrinya. Karena sudah lelah ia duduk terlebih dahulu dibangku halte untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi jalannya. Ia sangat kehausan juga kelaparan, sementara ia tidak mempunyai uang sama sekali. Ia kembali meneteskan air mata, sungguh miris nasibnya sekarang. Dulu ia hidup dengan bergelimang harta tanpa takut kelaparan, ia selalu dimanjakan dengan uang. Tapi sekarang, buat beli minuman gelas saja ia tidak punya.


Stella pulang dari florist bunda Aish menggunakan bus, sekarang ia harus membiasakan hidup seperti orang kalangan bawah, tidak ada lagi mobil mewah yang mengantarkannya kesana kemari, tidak ada lagi uang melimpah. Sekarang ia harus kerja keras untuk hidupnya juga anak dalam kandungannya. Ia memandangi kresek belanjaannya sembari tersenyum, sebelum ia menaiki bus tadi ia sempatkan untuk berbelanja kebutuhan nya, Untung saja ana memberikan ia yang waktu itu, jika tidak ia tidak bisa belanja kebutuhannya karena ia bekerja pun baru beberapa hari dan belum mendapatkan gaji. "Kamu sungguh baik ana. Semoga tuhan membalas kebaikanmu." Gumamnya dalam hati sambil tersenyum.


Stella turun dari bus Saat bus sampai di halte, langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenal, seseorang yang sangat berjasa dalam hidupnya, seseorang yang membuatnya hidup di dunia ini.

__ADS_1


"Ma.. mama." Panggilnya dan mama pun menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. "Mama" panggil Stella lagi kemudian berhambur memeluk mama nya.


"Stella, sayang." mama membalas pelukan Stella erat, ia tidak menyangka bisa bertemu putrinya disini. Mama merenggangkan pelukannya dan meneliti Stella. "Kamu tidak papa kan nak? kamu baik-baik saja kan?" mama mengelus serta meneliti seluruh tubuh Stella mencari apakah Stella baik-baik saja.


"Ma, aku baik. Mama gimana kabarnya? bagaimana bisa aman sampai disini?" tanya Stella menggenggam tangan mama.


Mendengar pertanyaan Stella membuat wajahnya berubah menjadi sendu, "Ru..rumah kita sudah dijual nak, dan sekarang kita tidak punya tempat tinggal lagi." Mama meneteskan air matanya.


Stella terdiam mendengarnya. Kemudian matanya mencari seseorang. "Dimana papa?" tanya Stella penasaran karena tidak melihat sang papa bersama mama nya.


"Papa mu pergi ninggalin mama" ucap mama dengan bibir bergetar. Lalu ia menceritakan semua yang terjadi pada Stella tanpa ada ditambah maupun dikurangi.


"Ya sudah ma, sekarang mama ikut aku pulang yah. "Stella membawa mama berdiri kemudian mengambil koper mama nya.


"Pulang kemana nak? rumah siapa?"


"Rumah kontrakan aku ma, aku ngontrak rumah dekat sini. Ayo!" jawab Stella tersenyum. Ia berjalan dan diikuti oleh mama dari belakang. Dan kini mereka sudah sampai disebuah rumah sederhana namun cukup nyaman. Jika dibandingkan dengan rumah mereka ini sangatlah kecil dan sempit, tapi mereka bersyukur masih bisa berteduh dirumah kecil itu.


Mereka masuk dan Stella mengantarkan mama nya masuk kekamar, rumah itu hanya memiliki dua kamar dan Stella menempati kamar satunya lagi. "Mama pasti belum terbiasa dirumah seperti ini, mama harus sabar yah, sekarang semuanya sudah berubah ma." Stella mengelus lengan mama nya, ia tahu mama nya merasa enggan atau bahkan ilfil dengan rumah sekecil ini, namun inilah keadaan mereka sekarang. Tidak ada lagi kemewahan, dan mereka harus bekerja keras untuk menyambung hidup.


Bersambung...


Stay tune terus ya gays😊🥰

__ADS_1


__ADS_2