Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
60


__ADS_3

Marcel menemui Stella di florist bunda Aish. Meski saat ini Stella sudah bekerja dikantor papa Stevan, tapi saat pulang ia sempatkan membantu mbak Sari di florist. Ia sudah sangat cinta dengan bunga, sehingga ia tidak bisa terlepas dari bunga-bunga cantik itu.


"Tuan mau bicara apa?" Saat ini Stella duduk berhadapan dengan Marcel dengan meja sebagai pembatasnya.


"Menikahlah dengan ku." Ucap Marcel santai.


"Apa?" Stella syok mendengarnya. "A..apa yang anda katakan?" Apa mungkin dia salah mendengar? itulah kenapa ia bertanya kembali.


"Saya bilang menikahlah dengan ku." Ucap Marcel sekali lagi.


"Apa anda lagi sakit sekarang?" Stella menempelkan punggung tangannya pada kening Marcel.


"Saya serius, saya mau kau menikah dan menjadi istriku."


Stella benar-benar kaget, apa yang sebenarnya dikatakan Marcel, kenapa dia tiba-tiba memintanya menjadi istrinya. Padahal mereka tidak saling mengenal.


"Ke.. kenapa? kenapa anda mengajak saya menikah?"


"Ya karena saya ingin menikah." Jawabannya tambah membuat Stella menganga. Ia tidak habis pikir dengan jawaban Marcel. Ia pikir akan seperti sinetron jika pria itu mencintainya diam-diam, ternyata sungguh mengejutkan.


"Kenapa anda ingin menikah?" tanya Stella lagi penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan Marcel.


"Bunda memaksa terus agar aku menikah dan memberikannya cucu." Stella tambah menganga lebar mendengar jawaban Marcel lagi.


"Saya ngerti jika kita tidak saling mengenal juga tidak pernah dekat sekalipun, tapi saya mau menikahi mu. Saya yakin pernikahan akan baik jika dijalani dengan serius, saling belajar satu sama lain untuk menjalani peran masing-masing. Jadi menikahlah denganku."


"Apa kau sedang melamar ku?" tanya Stella kemudian ia tertawa kecil. "Seharusnya melamar wanita itu kau membawa cincin, juga ditempat yang romantis, ini?" Stella tertawa kecil merasa konyol.


"Baiklah, nanti malam saya akan membawa cincin untuk mu. Sekarang aku pergi dulu. Bye." Marcel langsung pergi meninggalkan Stella sendiri.


Stella menganga mematung melihat punggung Marcel yang berjalan menjauh. Kemudian ia tertawa menertawakan dirinya sendiri.


Dan ternyata malam nya Marcel benar-benar datang ke rumah Stella.


Marcel membuka kotak bludru berwarna merah. Ini cincin yang kamu mau, saya sudah membawanya, bagaimana? apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Marcel tanpa basa-basi, tidak ada kata romantis yang terucap layaknya pria yang melamar gadis lain.


Stella syok mendengarnya, ternyata Marcel benar-benar serius dengan ucapannya, ia bingung harus menjawab apa.


"Apa yang sebenarnya terjadi nak? siapa pria ini?" tanya mama. Sama hal nya dengan Stella, mama juga merasa syok ada pria yang datang langsung mengajak Stella menikah.

__ADS_1


"Dia Marcel ma, anak dari bunda Aish." Mama mengangguk .


"Bagaimana Stella? saya tidak bisa menunggu terlalu lama." Marcel tidak sabar mendapat jawaban.


"Ehm... " Stella berdehem untuk menetralkan suara nya sebelum bicara. "Maaf sebelumnya pak Marcel, kenapa anda memilih saya? Anda belum tahu asal usul saya dan bagaimana masa lalu saya kan?"


"Prinsip saya masa lalu tidak penting, seberapa buruknya pun masa lalu mu atau saya itu semua sudah lewat dan harus di lupakan. Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan."


Stella tersentuh dengan ucapan Marcel, ia berfikir mungkin Marcel cocok untuknya, jika Marcel bisa menerima nya maka dia akan coba menerimanya, benar kata Marcel, masa lalu harus dilupakan dan yang terpenting masa sekarang dan masa depan.


"Mah, bagaimana menurut mama?" Stella meminta pendapat mama nya.


"Semua terserah kamu nak, mama selalu mendukung apa pun keputusanmu."


"Sebelumnya saya mau menceritakan sesuatu, terserah nantinya apa pendapat anda, jika anda menerima nya maka saya bersedia menikah." Ucap stella dan Marcel hanya mengangguk.


"Saat ini saya sedang hamil"


Marcel membolakan netra nya merasa kaget.


"Anda pasti kaget kan? tapi ini kah kenyataannya,"


"Kamu sudah menikah? dimana suami mu?" tanya Marcel datar, ternyata ia salah melamar, ia melamar istri orang dan ternyata juga lagi hamil.


"Begitulah ceritanya, sekarang terserah anda pak Marcel, masih mau menikah dengan saya atau tidak, jika anda tidak masalah maka saya akan menerima pernikahan ini."


Marcel diam sambil memijit pelipisnya, menurut pandangan Stella Marcel pasti akan menolak, mana ada pria yang mau menerima wanita kotor seperti dirinya walau pun sudah berubah menjadi lebih baik.


Mama mengusap punggung Stella menyemangati dan memberi kekuatan. "Tak apa" Ucap mama tersenyum.


"Saya menerima apa pun masa lalu mu." Ucap Marcel tegas.


"Apa?" Stella sungguh kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut Marcel. "Pak Marcel, anda tidak sedang bercanda kan?"


"Tidak, sama seperti kamu saya juga memiliki masa lalu buruk, saya tidak seperti yang anda lihat sekarang."


Stella mengerutkan dahi nya bingung apa maksud Marcel.


"Saya seorang pria yang suka Gonta ganti pasangan di atas ranjang, saya tidak pernah mau menikah, karena menurut saya untuk apa menikah karena saya akan merasa bosan dengan satu wanita yang melayani di atas ranjang."

__ADS_1


Stella dan mama membungkam mulut mereka tidak percaya apa yang mereka dengar dari mulut Marcel.


"Tapi semua itu saya berhenti saat adik perempuan saya hamil di luar nikah dan pacarnya tidak mau tanggung jawab , ia tertekan karena cibiran orang-orang, hidupnya benar-benar hancur menjalani hidup seperti itu sendiri hingga ia meninggal saat melahirkan putrinya." Mata Marcel berkaca-kaca, ia sedih jika mengingat sang adik. "Mungkin itu adalah karma bagi saya yang sudah mempermainkan banyak wanita." sambung Marcel.


Stella dan mama terharu mendengar cerita Marcel.


"Bagaimana? apa sekarang kamu sudah bisa menerimanya?" tanya Marcel lagi. Ia benar-benar kekeh dengan pertanyaannya.


Stella tertawa mendengar pertanyaan itu lagi."Anda sungguh tidak sabar pak Marcel. Baiklah, saya bersedia." jawab Stella, ia menerima permintaan Marcel untuk menikah.


Terima kasih, saya akan beri tahu bunda soal ini, saya permisi" ucapnya lalu bangkit hendak pergi. "Oh ya lupa, ini cincinnya." Marcel meletakkan kotak cincin di tangan Stella kemudian langsung pergi.


Stella tertawa kecil dengan hal yang terjadi barusan, sungguh sangat konyol menurutnya. Dimana orang lain dilamar dengan suasana romantis tapi mereka?


**


"Sepertinya via menyukai teman mu mas." Ucap ana sambil membenarkan rambut Stevan, saat ini mereka sedang berbaring dengan berhadapan saling memandang satu sama lain.


"Bryan?"


"Hm.."


"Sahabatmu wanita polos, dia tidak cocok dengan Bryan."


"Kenapa kalo polos? seperti aku polos, apa juga gak cocok sama mas?" Ana memberengut membuat Stevan gemas dan mengecup kilat bibir ana.


"Kebiasaan deh" ana memukul lengan Stevan.


"Iya, tapi Bryan bukanlah pria baik untuk sahabatmu." Stevan menyelipkan rambut ana ke telinga ana.


"Bukankah mas mengatakan kalau mas Bryan sudah berubah?"


"Apa kamu bilang tadi? mas Bryan?" Stevan merasa tidak suka mendengarnya. "Tidak ada yang boleh kamu panggil mas selain suami mu ini." ucapnya sambil mencubit gemas pipi ana.


"Aw... Sakit mas." ana menggosok pipinya karena di cubit Stevan. Meski cubitan itu tidak sakit tapi ia pura-pura kesakitan.


"Sorry sayang, mas kekencangan yah nyubit nya?"


"Iya sakit banget" jawab ana manja.

__ADS_1


"Sini mas obatin" Stevan mengecup pipi bekas cubitannya tadi. Cup, cup, cup berkali kali Stevan mengecup nya. "Bagaimana? masih sakit lagi?" tanya nya sambil terus mengecup pipi ana.


"Udah mas, basah pipi aku." ana tertawa karena Stevan tidak berhenti. "Udah stop mas, stop." Stevan pun berhenti.


__ADS_2