
Disisi lain via sedang mengumpat, ia menepikan mobilnya di pinggir jalan karena ban mobilnya bocor.
"Aiss... kenapa bisa bocor sih" Umpat via sambil menendang ban mobilnya. "Aww..." pekiknya sambil mengusap kaki merasa sakit karena menendang ban mobil. Ia mengambil handphone nya untuk menghubungi bengkel. "Akh... lowbet lagi." keluhnya merasa sial.
Via melihat sekeliling mencari seseorang untuk meminta bantuan, tapi tidak ada orang yang lewat, hingga kemudian ada sebuah mobil yang melaju mengarahnya. Ia melambaikan tangannya menghentikan mobil itu dan mobil pun berhenti.
Tok... tok.. tok... Via mengetuk kaca pintu mobil membuat sang empunya mobil keluar. Netra via membola melihat siapa yang keluar dari mobil itu, jantungnya berdegup kencang merasa terpesona dengan sosok pria yang barusan keluar dari mobil.
"OMG ganteng banget," Ucapnya dalam hati mengagumi pria tersebut. Wajah tampan, tubuh tinggi tegap, ototnya tercetak jelas di balik kemeja yang ia pakai, sungguh pemandangan yang indah menurut via.
"Ada apa?" tanya pria itu membuat via tersadar dari lamunan nya.
"Eh, I... Ini tuan, mobil saya ban nya bocor, bisa bantuin ganti ban" ucap via semangat.
Pria itu mengernyitkan dahinya. "Kamu pikir saya tukang bengkel" jawabnya kesal karena diminta mengganti ban mobil, ia hendak kembali masuk dalam mobilnya namun dicegah oleh via, via memegangi lengannya.
"Tu.. tunggu dulu tuan," via memegangi lengan pria itu dan langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu karena berani menyentuh nya.
Via yang paham langsung melepaskan tangannya, "Jika tidak pinjamkan ponsel tuan agar saya dapat menghubungi sopir saya dirumah." ucap nya memelas sambil menangkupkan kedua tangannya.
Pria itu menghela nafas kasar kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana, ia memberikan pada via. Dengan cepat via menghubungi sopirnya agar bisa menjemput nya, kemudian ia mengembalikan ponsel pria tersebut.
"Makasih tuan. Ucapnya sambil mengembalikan ponsel, "Siapa nama tuan?" Tanya via namun tidak di gubris oleh pria itu. Pria itu langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya.
"Ya Tuhan dia sungguh tampan. Apakah dia jodoh yang kau kirim untukku?" Gumamnya tersenyum sambil netranya yang masih melihat mobil yang melaju semakin menjauh.
**
Stevan dan ana sudah sampai dirumah, ia memarkirkan mobilnya di halaman tidak memasukkan garasi karena ia akan keluar setelah mengantar ana masuk kedalam rumah.
"Apa mas akan kembali lagi ke kantor?" tanya ana sambil mendudukkan bokong nya di kasur, saat ini mereka sudah di dalam kamar.
__ADS_1
"Iya sayang, ada kerjaan yang harus mas selesaikan" jawabnya yang ikut duduk di sebelah ana. "Kenapa hem?" Stevan merapikan rambut ana menyelipkannya di belakang telinga.
"Nggak apa, aku pikir mas gak pergi lagi" ucap ana cemberut.
"Kamu mau mas tetap disini?" Stevan mengangkat dagu ana dan menatap mata ana dengan lekat, kini jantung mereka berdegup sangat kencang dalam posisi seperti ini, Tatapan mereka beradu menyiratkan kerinduan. Stevan mendekatkan wajahnya kemudian menyambar bibir ana yang menjadi candunya, keduanya saling ******* serta memagut dan bertukar Saliva, hingga olahraga panas pun kembali terjadi pada pasangan suami istri itu. Stevan yang hanyut dalam gairah melupakan niatnya untuk kembali kekantor bahkan ia mengabaikan ponselnya yang dari tadi berdering.
"Ck..." Andre berdecak melihat panggilan nya tidak diangkat oleh Stevan. "Kebiasaan jika sudah bersama istrinya pasti melupakan segalanya." Gumam Andre kesal kemudian kembali keruangan Stevan dan mengambil berkas-berkas yang akan mereka selesaikan. Ia membawa berkas-berkas itu untuk diantarkan pada Stevan.
Andre memarkirkan mobilnya dirumah keluarga Stevan. Ia memasuki rumah Stevan tanpa harus meminta izin terlebih dahulu, karena ia sudah biasa dan dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Stevan jadi kapan pun Andre mau datang pintu selalu terbuka untuknya.
Ia masuk langsung menuju ruang tengah, bik Wati yang melihat Andre datang langsung menghampiri. "Tuan Andre, silahkan duduk dulu tuan, tuan Stevan lagi dikamar bersama istrinya." Ucap bik Wati yang sudah tahu pasti Andre akan menemui Stevan.
"Iya bik, Saya akan tunggu disini." Jawab Andre sambil duduk.
Sudah lima belas menit Andre menunggu namun Stevan tidak juga menampakkan batang hidungnya. "Apa yang dilakukannya sore-sore begini? apa tidak bisa menunggu malam." gumamnya kesal. Ia beranjak bangkit hendak menghampiri Stevan ke kamarnya namun langkahnya terhenti mendengar panggilan dari mama dan papa Stevan.
"Andre" Mama Inggrid memanggil.
"Dari kantor om, sekalian nemuin IO untuk mempersiapkan resepsi pernikahan Stevan dan ana. Oh ya, Uda lama kamu disini?"
"Tidak Tan, baru lima belas menit yang lalu, aku menunggu Stevan tapi tidak keluar-keluar kamar dia nya." ucap Andre tertawa kecil.
"Kamu seperti tidak tahu pengantin baru aja, kamu kan juga pernah ngalamin." Balas mama Inggrid tertawa.
"Ya sudah, Tante tinggal ya, kamu tungguin aja dulu kalo nggak susul aja kekamarnya, kacaukan saja misinya." Sambung mama Inggrid tertawa.
"Kalau misi nya gagal auto gagal dong kita punya cucu mah." Timpal papa.
"Benar juga yah pa."
Mereka pun pergi kekamar mereka.
__ADS_1
Andre menaiki tangga menuju kamar Stevan, ia mengetok keras pintu kamar Stevan berkali-kaki membuat Stevan berang dan membuka pintu.
"Apa kau bosan hidup?" Ucap Stevan saat membuka pintu kamar, ia tahu jika yang menggedor pintu pasti Andre, penghuni rumah ini tidak ada yang berani menggedor pintu nya sekeras mungkin selain Andre.
Andre tersenyum melihat ekspresi kekesalan Stevan. Andre meneliti Stevan dari atas hingga bawah, Stevan yang hanya memakai handuk kimono serta rambut yang acak-acakan.
"Apa tidak bisa menunggu malam untuk mencetak Stevan junior?" Ucap Andre tertawa kecil.
"Kau" Stevan sangat kesal dengan Andre yang mengganggunya juga menggodanya.
"Sebaiknya lo pulang." Stevan hendak menutup kembali kamarnya tapi di cegah Andre.
"Lo harus menyelesaikannya sekarang juga jika tidak ingin perusahaan Lo bangkrut." Ucap Andre sambil meletakkan beberapa berkas pada tangan Stevan.
"Ck... Tunggu di ruang kerja gue, lima menit lagi gue kesana." ucap Stevan mengembalikan kembali berkas-berkas di tangannya pada Andre. Kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar.
"Siapa mas?" tanya ana.
"Andre" Jawab Stevan sambil melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Ia duduk disebelah ana di sisi tempat tidur, "Mas ke ruang kerja dulu yah!" Ucapnya sambil mengecup kening ana. lalu pergi menuju ruang kerjanya yang Andre sudah duduk menunggu.
Andre tertawa melihat wajah masam Stevan, "Sudah selesai?" tanya nya meledek.
"Lo akan mendapatkan ganjaran karena sudah menggangguku." ucap Stevan sembari duduk di kursi meja kerjanya.
.
.
Bersambung.
Stay tune terus ya gays🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan vote nya ya 🥰😊