Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
59


__ADS_3

Dikantor


Stevan lagi membahas soal proyek yang akan mereka tangani, "Besok lo aja duluan ke lokasi, setelah gue dan ana selesai fiiting baru nyusul" ucapannya terhenti melihat ponselnya yang diatas meja bergetar menandakan ada notif masuk, tampil di layar nama sang istri membuatnya langsung melihat.


"Assalamualaikum mas, mas lagi sibuk gak?" (Ana).


Tak butuh waktu lama Stevan membalas pesan ana.


"Waalaikumsalam sayang, mas gak sibuk kok, kamu lagi apa?" (Stevan).


"Aku lagi nyantai aja berdua sama via, pelajaran kosong." (Ana).


"Mau pulang sekarang? mas akan jemput." (Stevan).


"Boleh gak aku main ke kantor mas?" (Ana). Tanya nya dengan emot nyengir.


"Tentu honey, mas senang jika kamu mau kesini. Ya udah mas akan suruh sopir buat jemput kamu yah." (Stevan).


"Gak usah mas, aku bareng via aja." ( Ana).


"Ya udah honey, hati-hati yah, mas tunggu. Love you". (Stevan).


"Love you to" (Ana).


Stevan tersenyum sambil mengotak Atik ponselnya.


Andre tahu pasti ana yang mengirimi pesan hingga membuat bos sekaligus sahabatnya itu seperti orang gila.


"Bucin Lo." Ucap Andre meledek.


"Biarin, kayak Lo nggak bucin aja ma istri Lo." Balas Stevan.


"Tapi gara-gara bos super nyebelin gue gak leluasa bucin ma istri gue, Gue sampai gak ada banyak waktu buat istri gue."


"Hahaha....." Stevan tertawa mendengar sindiran dari sahabatnya itu.


"Okey, nanti gue kasih Lo tiket liburan buat honeymoon ke dua di Maldives" Stevan menaik turunkan alisnya.


"Waah... kalau itu mah gue senang."


"Okey, nanti kita honeymoon bareng, tapi selesaikan semua pekerjaan ini sebelum resepsi gue, hingga seminggu kemudian bisa cuti."


"Cepet amat seminggu, sebulan dong."


"Kalau Lo mau sebulan juga gak masalah, tapi jangan masuk lagi ke kantor gue."


Andre tertawa mendengarnya. "Galak amat bos gue".


Tok... tok... tok...

__ADS_1


Suara pintu di ketok dari luar.


"Masuk" titah Stevan dan masuklah sekretaris nya.


"Maaf pak ada yang ingin bertemu dengan bapak." ucapnya.


"Siapa?"


Muncul lah seseorang dari belakang kemudian masuk ke ruang kerja Stevan. Wajah Stevan dan Andre langsung berubah melihat siapa yang datang.


"Keluar lah." perintahnya pada sang sekretaris dan sekretaris itu keluar, kini tinggallah mereka bertiga di ruangan itu. Suasana di dalam ruangan kerja Stevan berubah sangat dingin mencekam dalam keheningan.


"Mau apa Lo kesini?" Tanya Stevan datar.


"Gue mau minta maaf sama Lo." Bryan meminta maaf pada Stevan.


"Apa ada alasan buat gue maafin Lo?"


"Gue tau gue salah, tapi gue sangat mencintai Stella dulu, dia wanita pertama yang gue cinta, hingga kita melakukan perbuatan terlarang itu, tapi bukan gue juga yang pertama menyentuhnya, saat itu gue mau menerima apapun masa lalunya, gue minta ia untuk jadi kekasih gue, tapi sayangnya dia mencintai lo stev, hingga akhirnya gue memutuskan untuk pergi dari negara ini, gue ikhlaskan dia demi sahabat gue. Saat gue balik lagi ke Indonesia, Stella menemui gue lagi dan entah kenapa kisah dulu terulang kembali karena dia haus akan hasrat nya, ia ingin menyalurkannya karena Lo gak mau melakukannya stev. Stella itu wanita liar dan hyper ***. Saat itu gue juga kasih penawaran sama dia untuk menikahinya namun dia tetap tidak mau, dia hanya menginginkan lho stev. Maaf." Panjang lebar Bryan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Stevan hanya diam tanpa ekspresi mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bryan.


Andre? dia hanya diam tidak mau menimpali apa pun karena itu masalah pribadi mereka berdua.


"Gue sudah tau semuanya." Stevan menjawab membuat Bryan menoleh menatap Stevan. Saat tau Stella hamil gue mencari tahu semuanya, gue juga tahu jika janin di dalam kandungannya bukan anak lo. Tapi sayang nya gue terlambat mengetahuinya, gue yang bodoh karena buta akan cinta hingga tidak mencari tahu tentang nya. Padahal yang gue rasa selama ini bukan cinta, melainkan obsesi karena mengagumi." Stevan berucap sambil menatap Bryan. "Apakah lo masih mencintainya?" Sambung Stevan.


"Entahlah stev." Bryan bingung dengan perasaannya.


"Gue akan menemuinya" Bryan tersenyum merasa lega. "Jadi apakah lo maafin gue?" Tanya nya lagi dan mendapat anggukan dari Stevan.


Mereka berdua berpelukan dan Andre pun ikut memeluk mereka, kini persahabatan mereka bertiga kembali terjalin lagi meski sempat terjadi keretakan.


Stevan melihat jam di pergelangan tangannya berfikir mungkin sang istri sudah sampai.


"Gue mau turun menunggu istri gue." Ucap Stevan dan melangkah keluar.


"Istri?" beo Bryan. "Dia sudah menikah?" tanya pada Andre.


"Yupz" ucap Andre juga ingin melangkah keluar. "Yok ikutin Stevan." Ajak Andre kemudian melangkahkan kaki menyusul Stevan. Kini Andre dan Bryan satu lift bersama Stevan.


"Kau berhutang penjelasan pada gue stev?" Ucap Bryan.


"Biar Andre yang menceritakannya pada Lo." ucap Stevan yang bersamaan pintu lift terbuka, ia melangkahkan kakinya menuju lobi utama dan senyumnya tercetak melihat keberadaan sang istri. Dadanya sesak saat mendengar hinaan untuk sang istri.


"Honey" Panggil nya tersenyum, yang memang sengaja ia memanggil dengan lantang agar semua mendengarnya.


"Mas", balas ana tersenyum.


Stevan langsung memeluk pinggang ana serta memberikan kecupan kilat di bibir ana, membuat wajah ana memereh karena malu. Ia memerintahkan Andre untuk mengurus receptions yang sudah menghina istrinya, Andre sudah paham apa maksud Stevan, ia akan menyingkirkan siapa saja yang mengusik orang-orang tercintanya.

__ADS_1


"Via ayo" Ana mengajak via agar mengikutinya bersama sang suami tapi via berdiri terpaku menatap seseorang hingga ana memukul lengannya barulah ia tersadar.


"Apa gue bilang kan na, jodoh gue ada disini." ucap via semangat.


"Ana mengernyitkan dahi nya bingung siapa yang dimaksud via sebagai jodohnya.


"Tuan, akhirnya kita bertemu lagi, kali jodoh memang gak kemana yah!" ucap via tersenyum lebar.


akhirnya ana paham siapa yang dimaksud via, ternyata yang menolongnya kemarin adalah teman suaminya.


"Kamu siapa?" Tanya Bryan datar.


"Apa kau lupa? kau menolongku semalam."


"Oh..." Bryan hanya ber oh ria.


Kini mereka semua berada di ruang kerja Stevan, Stevan memesan makan siang untuk mereka semua.


"Ya elah, ingat ada orang disini woy." teriak Andre yang melihat Stevan terus berbisik serta senyum-senyum bersama istrinya. Mereka terus sibuk berdua hingga melupakan orang-orang yang ada disana.


"Syirik aja bang Andre!" ucap ana yang membuat tawa Stevan menggelegar.


Andre terperangah mendengar ucapan ana. "Pedes amat mulutnya bocil." Balas Andre.


"Aku bukan bocil yah, enak aja bilang bocil." Ana tidak terima di katakan bocil.


"Kalau bocil belum bisa membuat bocil ndre, kalo istri gue sangat bisa membuat bocil." Timpal Stevan ambigu.


"Andre dan Bryan terbelalak mendengar ucapan absurd Stevan.


Via? dia terus berusaha mendekati Bryan, mengajak Bryan bicara hingga membuat Bryan risih dan jengah.


"Aku ambilkan makanan nya yah, atau mau aku suapin sekalian?" Via membawa sesendok makanan ke mulut Bryan namun di tolak oleh Bryan.


"Tidak usah, saya bisa sendiri." tolak Bryan.


"Stev, gue permisi dulu" Bryan hendak beranjak pergi namun dicegah Stevan.


"Habiskan dulu makanan nya bry, sebagai perayaan kita uda baikan." ucap Stevan mau tak mau Bryan pun menurut, ia makan wali risih di deketin via.


Andre tertawa melihat ekspresi Bryan, ia tahu Bryan tidak nyaman dipepet via seperti itu.


.


.


Bersambung.


Mampir juga di karya aku yang lainnya yah😊😊

__ADS_1


See you🥰


Happy reading 😊


__ADS_2