
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Ana masih berguling kekanan dan kekiri tidak bisa tidur, ia masih kepikiran dengan Rama siang tadi.
"Bang Rama marah gak yah, tapi aku gak bisa nerima dia, aku sudah memiliki mas Stevan. Apa setelah ini bang Rama gak mau temenan lagi sama aku?" Monolognya dalam hati, ia melihat ponselnya tidak ada notif pesan dari Stevan sama sekali, biasanya Stevan akan mengirimkannya pesan untuk menanyakan apakah sudah makan, apa yang dilakukan, ucapan semangat belajar juga ucapan selamat tidur. Walau hanya pesan singkat seperti itu namun membuat ana merasa diperhatikan. Tapi seharian ini Stevan tidak mengirimkan pesan sama sekali.
"Mas Stevan kok gak ada ngirim pesan sih! apa dia marah yah, kira-kira dia lagi ngapain sekarang? apa dia sudah tidur?" Monolognya lagi. "Ahh... tau ah pusing" ana menggusar rambutnya pusing memikirkannya dan itu membuat tenggorokannya kering, ia turun dari tempat tidur kemudian pergi kedapur untuk mengambil air.
Ana membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin kemudian menegaknya hingga habis setengah. "Ah,leganya."
Saat hendak meletakkan kembali botol kedalam kulkas ia dikagetkan dengan deheman seseorang membuat botol yang ia pegang lepas dan jatuh menimpah kaki nya.
"Aw", ringis ana saat kakinya ditimpa botol, syukur Saja botolnya bukan kaca, jika tidak kaki nya pasti akan kena pecahan kaca.
"Kau tidak apa-apa?" Stevan langsung menghampiri ana yang duduk mengelus kakinya.
"M.. mas. Baru pulang?" bukannya menjawab ia malah kembali bertanya saat melihat Stevan masih mengenakan pakaian kantor saat tadi pagi.
"Hemm.." Stevan hanya berdehem menjawab. Stevan mengangkat kaki ana diatas pangkuannya kemudian meniup kaki ana yang nampak kebiruan. Ana terperangah melihatnya, hatinya bergetar melihat Stevan mengelus dan meniup kakinya dengan lembut.
"Sudah mas, udah baikan kok." ana menarik kakinya merasa tidak sopan kakinya berada diatas pangkuan Stevan. "Mas su.. sudah makan? a.. atau mau di buatkan teh hangat?" tanya nya sedikit gugup karena ditatap Stevan seperti itu.
Stevan memperhatikan bibir pink ana yang sedang bicara, menurutnya sangat sexy dan ingin melahapnya. Ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir ana. Lembut dan dingin, awalnya hanya ingin mengecup nya saja tapi kemudian ia ******* nya dengan lembut dan semakin menuntut, ia semakin menekan tengkuk ana agar lebih dalam mengeksplor bibir ana. Stevan tersenyum karena ana membalas lumatannya. Cukup lama mereka dalam berciuman kemudian Stevan melepaskan lumatannya karena pasokan oksigen mereka habis.
Stevan menatap ana sayu dengan gairah yang sudah bangkit, kemudian ia menggendong ana ala brydel menaiki tangga dan membawanya ke kamarnya. Ia meletakkan ana di ranjang king size nya kemudian mengukungnya. Ana hanya diam memandangi Stevan dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Stevan kembali ******* bibir ana, decapan saling bersahutan di bibir keduanya, Stevan menurunkan ciumannya ke leher jenjang ana membuat empunya mengeluarkan suara ******* yang sangat sexy bagi Stevan, ia meninggalkan beberapa jejak disana dan tangannya juga tidak bisa diam yang terus turun dan bermain di tempat sensitif yang membuat suara sexy ana keluar. Gemuru di dadanya menginginkan hal lebih
Stevan memandangi ana, dan kini mata mereka saling beradu dengan nafas yang memburu. "Sayang, bolehkah?" tanya Stevan dengan suara serak. Ia sangat tersiksa di posisi sekarang, ingin rasanya ia langsung memasuki ana namun ia tidak ingin istrinya marah dan kecewa.
Ana hanya mengangguk, ia juga setuju jika Stevan akan melakukannya malam ini, sebagai istri ia tidak mau membuat suaminya tersiksa dengan kebutuhannya. Selain itu ia juga menginginkan lebih dari sentuhan ini, ia ingin mereguk kenikmatan surga dunia bersama Stevan suaminya.
Mata Stevan berbinar dengan persetujuan ana, tanpa berlama lagi ia kembali ******* bibir ana, dan memberikan sentuhan yang membuat ana menggelinjang. Entah kapan dan bagaimana kini mereka sudah naked tanpa mengenakan sehelai benangpun. Stevan menarik selimut menutupi tubuh mereka kemudian bersiap memulai penyatuannya.
Dan bayangin aja dan lanjutkan saja traveling nya sendiri yah! othor pusing😅
**
Ana terbangun dan melihat jam di atas nakas sudah pukul empat pagi. Sesaat ia kaget karena tidur dalam pelukan Stevan juga tanpa busana kemudian ia tersenyum mengingat malam indah yang mereka lakukan semalam. akhirnya ia bisa melaksanakan tugasnya sebagai istri yang sesungguhnya bagi stevan. Ia memandangi wajah stevan yang masih terlelap tidur. "Kalo tidur begini kau sangat manis mas". Gumam nya pelan. Memang wajah Stevan saat tidur sangat manis, tidak datar dan dingin seperti saat ia terjaga. Ia melepaskan tangan Stevan yang melingkar di tubuhnya, dengan pelan ia bangun dan bangkit dari tempat tidur.
Seperti biasa ana melakukan tugasnya bebersih rumah, pergerakan nya begitu pelan karena ulah Stevan semalam. Teh Mina yang melihat ana berjalan aneh seperti itu membuatnya tidak tahan ingin bertanya.
"Ana, kenapa jalanmu seperti itu?" tanya teh Mina heran melihat ana berjalan seperti pinguin.
"Ini teh, kakiku sakit karena terjatuh dikamar mandi tadi." Bohong ana.
"Ya Allah Gusti! kenapa bisa jatuh" teh Mina nampak khawatir. "Kamu duduk saja na, biar teteh yang kerjakan." teh Mina mengambil kain pel dari ana.
"Gak papa teh, aku bisa kok."
__ADS_1
"Sudah, jangan ngebantah. Sana."
Mau tak mau ana menuruti teh Mina, ia sangat merasa tidak enak dengan teh Mina, padahal ia sudah berbohong.
*
Matahari sudah menampakkan dirinya namun stevan masih betah dalam tidurnya. Mendengar pintu kamar nya di ketok membuat ia terbangun. Teh Mina mengetok pintu Stevan memberi tahu jika sarapan sudah siap. Bukan ana yang membangunkan karena keadaannya tidak memungkinkan untuk menaiki tangga.
Stevan mengerjapkan matanya menetralkan pengelihatannya. Pandangan langsung tertuju disebelahnya namun ia tidak mendapati ana disana.
"Sayang!" panggilnya sambil meneliti kamarnya. " Apa semalam hanya mimpi?" gumamnya berfikir. Kemudian ia menyingkap selimutnya untuk bangun, matanya fokus tertuju pada sebuah noda merah di seprei nya. Seketika ia tersenyum dan bayangan malam itu pun terlintas di ingatannya. Malam indah bersama ana yang dinantikannya, dan sekarang ana sudah menjadi istrinya seutuhnya.
"Ternyata bukan mimpi." ucapnya tersenyum bahagia.
.
.
.
Bersambung.
.
__ADS_1
Akhirnya Stevan buka puasa juga😅