
Stevan benar benar lelah hari ini, kerjaan menumpuk semenjak dihari dimana perusahaan nya menurun karena scandal yang di buat mantan mertua nya, dan ia harus menyelesaikan secepatnya karena lusa akan ada rapat dengan para investor juga beberapa pemegang saham.
"Akhirnya selesai juga" Andre menghela nafas lelah.
"Thanks banget ya, lho sangat bisa diandalkan." Stevan tersenyum senang dengan Sahabatnya itu. Untung saja ada Andre yang selalu bisa membantu juga tuk menghandle perusahaan jika Stevan tidak ada.
"Huf..kapan bisa family time jika gue lho suruh lembur terus" keluh andre sambil menyenderkan kepalanya di kursi.
"Tenang, habis rapat kita nanti gue kasih lho hadiah berlibur ke Paris untuk honeymoon lagi bareng istri lho" ucap Stevan menaikkan alisnya.
"Beneran lho?" Andre langsung mengambil posisi duduk saat mendengar hadiah keparis.
"Apa pernah gue berbohong?" Stevan menyipitkan matanya.
"Makasih bro" Andre senang sekali sampai ia memeluk Stevan lantaran bahagia.
"Sudah, ayo pulang." Stevan melirik arloji dipergelangan tangannya ternyata sudah pukul sebelas malam.
Dirumah
Stevan mengintip dapur karena mendengar ada suara saat ia hendak kekamar ya.
"Kok belum tidur?" ternyata ana yang sedang di dapur, ia menghampiri ana dan duduk di kursi meja makan.
"Mas, bikin kaget aja." ana mengelus dadanya kaget karena Stevan datang tiba tiba. " Mas baru pulang?" bukannya menjawab ana kembali melontarkan pertanyaan.
"Hmm.." Stevan hanya berdehem sambil memijit pelipisnya. Ana berinisiatif membuatkan teh hangat dan memberikannya pada Stevan. "Minumlah."
"Sayang, bisakah kau membawakannya kekamar?"
__ADS_1
"Baiklah". Ana mengekori Stevan menuju kamar nya. Ia meletakkan teh hangatnya di atas nakas kemudian kekamar mandi menyiapkan air hangat untuk Stevan. Saat keluar kamar mandi ia melongok melihat Stevan yang sudah terkapar ditempat tidur.
"Mas", ana menggoyangkan tubuh Stevan. "Sebaiknya mas mandi dulu agar lelah nya berkurang."
"Aku lelah banget yang." gumam Stevan enggan bangun.
"Mas bangun dulu mandi, nanti aku pijitin mau?" mata Stevan langsung terbuka lebar mendengar ana yang mau memijit nya.
"Beneran?" tanya Stevan memastikan.
"Iya, cepetan aku tungguin ni." ucap ana sembari mendorong tubuh Stevan turun dari ranjang.
"Oke, jangan kemana mana." Stevan langsung berlari kekamar mandi. Melihat Stevan lari ana mengulum senyum karena merasa lucu.
Huaaam.. ana menguap sambil mengedipkan matanya, sebenarnya ia juga sangat mengantuk, tapi ia akan memenuhi janjinya untuk memijit Stevan. Ia merasa kasihan pada suaminya itu,pasti sangat lelah bekerja seharian ditambah lembur. Ia menyiapkan minyak gosok dan duduk di sisi tempat tidur menunggu stevan.
Sekitar sepuluh menit Stevan baru keluar kamar mandi, ana meneguk Saliva nya,sekian detik ana terpesona melihat suaminya itu dengan tubuh yang hanya berbalut handuk, rambut yang basah serta air rambutnya menetesi tubuhnya.
"Ha? Ti..tidak." jawab ana gugup takut ketahuan ia mengagumi suaminya.
"Ayo pijit lah." Stevan berbaring menelungkup, ana mulai memijit punggungnya, ada rasa aneh saat jari jemari mungil ana memijit punggungnya.
"Oh..****! kenapa hanya disentuh seperti itu saja membuat ia bangun." umpatnya dalam hati, darahnya semakin berdesir saat jari tangan ana naik turun memijit punggungnya. Jantungnya kian berpacu tidak normal membuat ia sesak. "Aku tidak bisa menahannya lagi" batinnya dengan mata terpejam menikmati setiap sentuhan jari ana.
"Bagaimana mas pijitan ku?" tanya ana yang masih memijit punggung Stevan, sesekali ia menutup mulutnya karena menguap. Ia juga beberapa kali menggeleng dan mengedipkan matanya agar tidak tertidur.
"Hem" Stevan hanya berdehem dengan suara berat, ia sungguh tidak dapat menahan dirinya dari gairah yang sedang bangkit saat ini.
"Masa bodohlah, dia kan istriku, jadi sah sah saja jika aku mau." gumamnya dalam hati. Ia berbalik dan menarik ana hingga jatuh diatas tubuhnya. Matanya melihat bibir pink ana yang sudah menjadi candunya.
__ADS_1
"Mas" gugup ana saat Stevan semakin mengikis jarak dan membalik posisi menjadi ana dibawah Kungkungan stevan.
Stevan menempelkan bibirnya dengan bibir ana,ia ******* nya lembut ia juga menekan tengkuk ana agar lebih dapat mengeksplor bibir ana. Nafasnya memburu karena memuncak. Puas di bibir ciumannya turun dileher jenang ana dan ia memberikan tanda kepemilikan disana. Mendengar ******* yang lolos dari bibir ana membuat gairah nya dan lebih bersemangat untuk menyelami indahnya hubungan halal yang mungkin akan ia dapat malam ini.
Stevan yang semangat memberikan tanda kepemilikannya merasa aneh saat mendengar suara nafas teratur ana, ia menghentikan aksinya kemudian menatap ana, alangkah syok nya ia melihat ana yang sudah pulas tertidur.
"Astaga ana, bisa bisanya kamu tidur disaat seperti ini." batinnya nelangsa melihat wajah polos ana yang tertidur pulas. "Begini ni nasib punya istri bocil." sambungnya Ia menghela nafas berat kemudian ia ikut berbaring dan memeluk ana,tak lama iapun ikut terlelap menyusul ana ke alam mimpi.
Kumandang azan membangunkan Ana dari tidurnya namun tubuhnya terasa berat seperti di tindih barang berat, ternyata tangan Stevan melingkar memeluk menimpah perutnya. Ia pandangi wajah Stevan saat tidur, lembut dan teduh, tidak seperti jika ia terjaga yang nampak hanya wajah datar dan dingin. "Ternyata dia manis banget saat tidur". ucap ana pelan sambil mengelus pipi Stevan. Ia melepaskan tangannya dari wajah Stevan karena Stevan terusik dengan sentuhannya.
Dengan pelan ia melepaskan pelukan Stevan dan beranjak turun dari ranjang. Sekali lagi ia pandangi wajah suaminya barulah ia pergi keluar dari kamar Stevan. Ia meneliti sekeliling takut ada yang melihat dia keluar dari kamar Stevan, setelah dirasa aman barulah segera ia pergi dan kembali ke kamarnya dan melaksanakan tugasnya sebagai umat muslim.
"Ana, leher kamu kenapa merah begitu?" tanya teh Mina saat mereka sedang membantu bik Wati didapur. Mendapati pertanyaan seperti itu sontak bik Wati menoleh ke ana dan melihat leher ana.
"Ha? merah gimana teh?" tanya ana bingung sambil memegangi lehernya.
"Coba deh kamu liat cermin" teh Mina menunjuk cermin yang ada didekat dinding dapur, dengan segera ana melihat nya dicermin, mata nya membola melihat tanda merah dilehernya. Ia baru teringat kejadian tadi malam antara dirinya dengan Stevan. Ana memejamkan mata nya merasa malu,barulah ia berbalik menghampiri teh Mina dan bik Wati.
"Oh ini digigit kecoa teh."
"Kecoak? kok bisa ada kecoak dikamar kamu?
"Gak tau teh ntah dari mana datangnya, yang jelas kecoa nya besar dan item. Hiii.." ana menjawab dengan bergidik geli.
Teh Mina percaya gitu aja dengan ucapan ana, sedangkan bik Wati hanya menatap ana dengan tatapan yang ntahlah, ana pun tidak mengerti, mungkinkah bik Wati merasa curiga atau dia mengetahui sesuatu? entahlah hanya bik Wati yang tahu.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading all🥰😊