
Cup
Stevan mengecup pipi ana kilat saat ana berada disampingnya meletakkan piring berisi roti padanya.
Mata ana membola menerima perlakuan stevan, mata nya kemudian meneliti keberadaan bik Wati yang masih fokus berdiri didepan kompor.
"Apaan sih mas" bisik ana kesal.
"Kenapa ninggalin aku sendirian?" balas Stevan juga berbisik. Ana enggan menjawab dan memutar tubuhnya hendak beranjak pergi namun Stevan mencekal lengannya. "Jalannya kenapa seperti itu?" bisik Stevan tersenyum meledek.
Ana menggeram kesal, ingin rasanya ia meremas mulut Stevan yang lemes. Bisa bisanya ia meledek jalan nya, padahal karena ulahnya ia susah berjalan, seperti laki-laki sunat saja.
*
Selesai sarapan Stevan dan ana berangkat menaiki mobil Stevan yang menyetir sendiri.
"Sayang, apa kau yakin masuk kuliah hari ini?" tanya Stevan lembut dengan tangan kiri nya menggenggam jemari ana, sesekali ia mengecupnya.
"Kenapa emangnya mas?" ana menoleh tak paham maksud Stevan.
"Apa kamu yakin kuliah dengan kondisi jalan kamu seperti itu?"
"Malu sih sebenarnya! ini semua karena mas Stevan." ketus ana kesal.
Stevan tertawa melihat ana yang kesal terhadapnya, menurutnya ana sangat menggemaskan. "Ya sudah gak usah kuliah saja hari ini." ucap Stevan tertawa kecil.
"Mas akan antar aku pulang dulu baru kantor?"
"Gak lah, kita akan sesuatu tempat." jawab Stevan yang masih fokus menyetir.
"Ha... Kemana?"
Stevan melajukan mobilnya hingga sampai disebuah gedung yang menjulang tinggi. "Turunlah." Stevan membukakan pintu mobil untuk ana.
"Kita dimana mas? dan ngapain kesini?" ana melihat sekitar.
Tanpa menjawab Stevan menggenggam tangan ana dan membawa ana memasuki lif.
Ting... Pintu lift terbuka dan Stevan berjalan menggandeng ana hingga tiba didepan pintu, kemudian ia membuka pintu dengan menekan beberapa digit nomor.
"I..ini rumah siapa mas?" tanya ana takjub melihat isi dalam apartemen ini.
"Ini apartemen mas".
__ADS_1
"Apartment mas? bagus banget." ana kagum melihat decor nya, ternyata Stevan pintar memilih decor interiornya. "Lalu kita ngapain kesini? bukannya mas akan kekantor?"
Bukannya menjawab Stevan menggendong ana membuat ana kaget.
"Ah, mas" pekik ana kaget.
Stevan menaiki tangga dengan ana dalam gendongannya dan memasuki kamarnya. "Kita akan olahraga pagi disini?" Stevan meletakkan ana di ranjang big size nya.
"Olahraga? disini?" ana melihat sekitar, ia benar-benar bingung tak mengerti, dalam fikirannya hanya rasa aneh kenapa hanya ingin olahraga sampai ke apartment segala, kan bisa olahraga dengan berlari di lapangan maupun pergi ketempat gym.
Stevan menggeleng melihat istri kecilnya, benar-benar polos, masa kiasan olahraga dia tidak tahu. Stevan membuka jas juga kemejanya kemudian mengukung ana. "Kita akan melakukan olahraga ranjang honey." bisik Stevan tepat ditelinga ana hingga membuat ana meremang. Jantungnya kian cepat berpacu seperti akan melompat keluar dari tempatnya.
Stevan menatap ana membuat ana mematung, darahnya membeku karena tatapan Stevan. "Ma..maksud mas?" tanya ana gugup.
Stevan mengecup kemudian ******* bibir ana lalu melepasnya. "Kita akan mengulang ritual kita tadi malam." seringai Stevan membuat ana takut, ia menelan saliva nya gugup.
"Ta.. tapi masih sakit mas."
"Tidak akan sakit seperti saat pertama, dan kamu pasti akan menyukainya". Bisik Stevan dan mereka kembali melakukan ritual pasangan halal mengarungi mahligai cinta, mereguk kenikmatan surga dunia.
**
"Kamu kapan menikah cel? ingat umur kamu sudah sangat matang. jangan sampai kamu kadaluarsa." omel bunda Aish. Marcel yang sedang mengemudi tidak memperdulikan ocehan bunda nya.
"Bunda pikir aku sukanya batangan gitu? enak saja, aku normal tau bund."
"Ya habis, kamu gak pernah bunda liat menjalin hubungan dengan wanita, bunda ingin kamu segera menikah dan memberikan bunda cucu cel."
"Bunda kan sudah punya cila." jawab Marcel santai sambil tetap fokus mengemudi membelah jalanan.
"Bunda pengen cucu dari kamu cel. Bunda gak mau tau pokoknya dalam waktu dekat kamu harus membawa calonmu pada bunda jika tidak kamu harus menerima bunda jodohkan." sarkas bunda Aish.
"Mana bisa begitu bund." Tolak Marcel.
"Kamu mau melihat bunda mati sebelum melihatmu menikah dan mempunyai anak?" bunda Aish memasang wajah sedih, dan ini yang membuat Marcel kalah. Ia paling tidak bisa melihat kesedihan di wajah sang bunda.
Huff... Marcel menghela nafas kasar. "Baiklah, jika itu mau bunda. Aku akan membawa calon ku kehadapan bunda." Jawabnya terpaksa.
"Nah gitu dong, bunda kan seneng dengernya."
Mobil Marcel pun sampai di florist milik bunda Aish. Stella yang tahu bunda Aish datang menyambutnya dengan mencium punggung tangan bunda Aish. Stella benar-benar berubah, ia sekarang menjadi lembut juga ramah, sangat jauh dari sifatnya dulu yang angkuh dan sombong.
"Selamat pagi bunda" sapa Stella mencium punggung tangan bunda Aish.
__ADS_1
"Pagi Stella, wah semangat sekali nampaknya hari ini." ucap bunda Aish tersenyum.
"iya bunda" balas Stella tersenyum. Kemudian pandangannya tertuju pada Marcel, "Tuan" sapa Stella namun Marcel dengan angkuhnya memalingkan wajah dan pergi dari tempat itu.
"Isss.. Anak itu, pantas saja tidak ada wanita yang suka padanya." gumam bunda Aish karena melihat anaknya cuek bebek saat disapa. "Maaf ya stell, dia memang begitu." Bunda Aish merasa sungkan dengan sikap putranya.
"Gak apa bunda."
*
Marcel merenung memikirkan permintaan bunda nya, ia bingung bagaimana ia bisa membawa calon istri sedangkan ia tidak ada dekat dengan wanita.
"Bos... Bos" Ciko sang asisten nya heran melihat sang bos termenung.
"Eh," Marcel tersadar dari lamunan.
"Ada apa bos?" tanya Ciko lagi.
"Tidak ada, hanya pusing." Marcel memijit pelipisnya.
"Apa bos memerlukan mainan? saya akan mencarikannya."
"Tidak, tidak. Bukankah kau tahu aku sudah berhenti bermain wanita.
Marcel menolak tawaran Ciko untuk mencarikan wanita bayaran yang bisa tidur dengannya. Dulu Marcel adalah seorang cassanova yang kerap kali berganti wanita sebagai teman tidurnya, ia akan menggunakan wanita berbeda setiap kali ia ingin berc**a. Dan itu tidak diketahui oleh orang tuanya. Kemudian ia insaf tidak bermain wanita lagi sejak kakak nya hamil dan ditinggal oleh pacar kakaknya. Hatinya sakit melihat kakaknya yang hancur saat hamil diluar nikah dan pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab, hingga kakaknya meninggal saat melahirkan cila. Ia menyesal, mungkin itu adalah karmanya karena bermain wanita sehingga kakak perempuannya juga dimainkan oleh pria.
.
.
.
Bersambung.
.
Hallo semua😊 maaf jarang up yah, soalnya aku lagi sibuk di dunia nyata😁😁 Aku up satu bab satu bab dulu yah, nanti jika senggang akan up Doble 😁
semoga kalian suka yah dengan ceritanya yah😊
Jangan lupa tinggalkan jejak nya yah😊 like coment juga vote nya😊
HAPPY READING ALL 🥰🥰
__ADS_1