
"Ahh..." Ana berteriak ketika kakinya ditarik oleh tukang urut, kakinya seperti terlepas saat ditarik membuatnya mengeluarkan air mata. Stevan yang melihat nya pun meringis merasa iba, ia memalingkan wajahnya saat ana kembali berteriak, ia sangat tidak tega melihat nya.
"Sudah, coba gerakan." ucap mbok narmi tukang urut.
Ana menggerakkan kakinya dan memutar pergelangan kaki nya dan ternyata sudah tidak sakit lagi, ia tersenyum ke arah Stevan dan kembali melihat mbok narmi. "Tidak sakit lagi mbok" ucap ana berbinar. Ia coba berdiri dan memijakkan kakinya dilantai sesekali menghentakkan pelan kakinya, ternyata tidak sakit lagi, merasa bahagia ia menghampiri Stevan dan memeluknya. Stevan terpaku dipeluk oleh ana kemudian bibirnya melengkung tersenyum.
Ana reflek merenggangkan pelukannya karena mendengar deheman mbok Darmi, ia merasa malu dilihat mbok Darmi.
"Maaf tuan, saya sudah selesai, saya mau undur diri dulu" ucap mbok Darmi pamitan.
"Ia mbok, makasih ya" ucap ana dan Stevan kompak.
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Aku akan kekantor." Stevan mengelus kepala ana tersenyum.
"Makasih ya mas."
"Jadi makasih doang ni?" uacap Stevan dengan menaik turunkan alisnya.
"Jadi mas mau imbalan? gak ikhlas banget nolongin." ana mengerucutkan bibirnya kesal.
Melihat ana seperti itu membuat Stevan gemas kemudian ia mengecup kilat bibir ana. "Ini aku minta sebagai imbalannya." Stevan langsung pergi meninggalkan ana yang masih kaget mematung.
Ana memegangi bibirnya kaget dengan serangan kilat suaminya, kemudian ia tersenyum.
"Hey, senyum senyum kenapa kaku na?" tutur teh Mina saat masuk kamar ana.
"Eh teh Mina."
"Bagaimana kaki kamu?" teh Mina melihat kearah kaki ana.
"Seperti yang teteh lihat, kakiku Uda baikan." ana mengerak memutar kakinya menunjukkan pada teh Mina sambil tersenyum.
"Syukurlah kalo begitu. oh iya kalo teteh liat liat tuan Stevan keliatan sangat khawatir sama kamu na, apa kalian ada hubungan?" teh Mina menatap ana penuh curiga.
Ana kaget mendengar pertanyaan teh Mina sepertinya mulai curiga, "Perasaan teteh aja kali." ana berjalan dan duduk diranjangnya. "Jika siapa saja pun pasti tuan Stevan menghawatirkannya. Ingat bik Wati pernah cerita waktu dia sakit, tuan Stevan kan juga perhatian." sambung ana.
"Iya juga yah!"
__ADS_1
Ana merasa lega teh Mina akhirnya percaya dan tidak melontarkan pertanyaan yang sulit ia jawab, tapi ia mesti hati hati kedepannya tidak boleh ceroboh, jika tidak dia akan ketahuan.
"Yo wes, teteh tinggal dulu." teh Mina berbalik namun dicegah ana.
"Tunggu bik, aku juga ikut." ana berdiri.
"eh jangan. Kamu sebaiknya istirahat saja." cegah teh Mina, ia tahu pasti ana akan menjalankan tugasnya, namun ia menyarankan agar ana beristirahat saja.
"Tapi aku Uda sehat kok teh, lihat lah." ana melompat lompat menandakan kalau kakinya sudah sembuh.
"Yo weslah ayo." si ana yang keras pasti akan sulit di kasih tau.
**
Stella keluar untuk mencari makanan, entah kenapa perutnya lapar lagi padahal tadinya sudah sarapan, ia melihat ada penjual yang berjejer di tepi jalan. Matanya tertuju pada kembang kapas yang berwarna warni, warnanya sangat cantik membuat ia ngiler pengen cicipi. Akhirnya ia menghampiri si penjual dan membeli kembang kapas karena khawatir akan habis soalnya banyak sekali anak anak yang antri membelinya.
"Bang kembang kapas satu ya" Stella meraih kembang kapas yang bergantung namun ada seorang pria yang juga ingin mengambilnya.
"Bang saya mau ini" ujar pria itu.
"Eh ini punya saya." Stella menarik kembang kapas dari tangan pria itu.
"Enak aja, saya duluan tadi, anda saja yang minta buatkan lagi." Stella kembali merampas kembang kapasnya.
Ck..Pria itu berdecak kesal, ia sedang buru buru saat ini, tapi jika dia tidak membawa kembang kapas maka princess nya pasti akan ngamuk.
"Ya sudah bang, buatkan saya satu." ucap pria itu.
"Maaf den, tapi kembang gula nya ini yang terakhir den." ucap penjual itu membuat mata pria itu membola.
"Jadi sudah habis?"
"Iya den".
Stella memberikan uang kepada penjual kembang kapas dan berbalik hendak pergi namun dia dicegah oleh pria itu.
"Tunggu mbak." Stella langsung berbalik mengarah pria yang memanggilnya.
__ADS_1
"Bisa berikan kepada saya kembang gulanya? saya bayar deh berapapun harganya." pria itu memberi tawaran.
"Gak, kalau anda mau cari saja penjual lain yang jual kembang gula." Stella berbalik lagi hendak pergi.
"Hey nona. Katakan berapa yang kau inginkan? saya akan membayarnya."
Stella mengernyitkan dahinya heran melihat pria didepannya itu, hanya dengan kembang kapas ia ingin membayar berapapun? "Benarkah?"
"Iya".
"Seratus juta" ucap Stella asal.
"Apa? Anda tidak waras kembang kapas begitu seratus juta?" sarkas pria itu.
"Tadi kan anda bilang berapapun, terserah saya dong." Stella hendak berbalik lagi namun langsung dicegah lagi oleh pria itu.
"Oke! baiklah." ucapnya membuat Stella menganga tidak percaya pria itu mau membeli kembang kapasnya dengan harga seratus juta? sungguh, pasti pria itu tidak waras.
"Berikan kembang kapasnya dan saya akan membayarnya , berikan nomor rekeningmu." pria itu mengeluarkan ponselnya menunggu Stella memberikan nomor rekening.
"Maaf, saya gak jadi menjualnya."
"Apa maksud anda? apa seratus juta kurang? Anda ingin mencari kesempatan memeras saya?" sarkas pria itu geram melihat Stella.
Stella langsung pergi meninggalkan pria itu, tanpa peduli pria itu sedang mengumpat dirinya.
"Hey nona!" pria itu menendang angin kesal. "Brengsek." geramnya.
.
.
.
Bersambung
Hallo para readers😊 bagaimana kabar nya? semoga selalu sehat yah😊
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah, jangan lupa follow akun othor juga yah 😊