Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
Keputusan ana


__ADS_3

Dikampus


Suasana kelas masih sepi karena ana datang terlalu pagi, ia diantar Stevan yang hendak kekantor makanya ia pagi pagi sekali sudah sampai.


"Widih... kenapa lho pake syal beginian?" Via yang baru datang mencolek. "Lho sakit?" sambungnya sambil menempelkan punggung tangannya di kening ana.


"Tidak". Jawab nya cepat.


"Lah terus? musim panas juga, gak gerah?" via heran kenapa saat musim panas begini ana mengenakan syal.


Ana hanya mengangkat bahunya acuh membuat senyum jahil via muncul, saat ana lengah ia menarik syal ana dan sontak matanya membola. "Astaga", mulutnya melongo melihat pemandangan didepannya.


"Via" pekik ana dan spontan ia menutup lehernya dengan tangannya.


Hahahahah.... Tawa via menggelegar melihat leher ana yang merah-merah, sedangkan ana hanya diam menunduk malu. Untung saja kelas masih kosong, jika orang lain melihat maka habislah ana menahan malu.


"Lho Uda unboxing?" Via menaik turunkan alisnya menggoda ana.


"Unboxing? unboxing apa?" Ana langsung menoleh karena dia tidak paham pertanyaan via.


"Ya elah, polos amat ni sobat gue. Unboxing." Via memperagakan kedua jari tangannya saling menempel, namun ana masih megerutkan dahinya tidak paham. "Astaga ana. Lho Uda lakukan hubungan badan sama laki lho?" pekik via geram karena ana tidak paham-paham maksudnya.


"Astaga via" ana membekap mulut via sembari meneliti sekitar apakah ada orang atau tidak. Ia takut jika ada yang mendengar, syukurlah tidak ada seorang pun membuat ana bisa bernafas lega. "Kalo ngomong bisa dijaga gak sih?" ucap ana kesal sembari melepas tangannya dari mulut via.


"Yee lagian lho gak paham-paham maksud gue. Jadi gimana? sukses? gimana rasanya sakit gak?" via memberondong pertanyaan sambil merapatkan duduknya dengan ana, ia ingin mendengar jelas.


"Apaan sih kamu via nanya begituan." wajah ana memerah malu mendengar nya.


"Gimana,gimana rasanya? beneran sakit gak kata orang-orang?" via sangat penasaran ingin tahu, mumpung ada sahabatnya yang sudah menikah jadi ia ingin tanya.


"Gak terjadi apa-apa kok." ana menceritakan kepada via dengan sedikit berbisik sontak saja membuat via tertawa, bagi via itu sangatlah lucu, tidak bisa ia bayangkan wajah Stevan menahan kekesalan ditengah gairah yang sedang memuncak.


"Hahahaha... Ana, kok bisa sih!" via terus tertawa membuat ana kesal dan memasukkan bulpen kemulut via.


"Makanya diam, jangan ngeledek."


"Jadi ceritanya ni lho juga kecewa kan? lho juga ngarep lebih kan?"


Ana tidak menjawab karena ia pun bingung, otaknya menolak namun hati dan juga tubuhnya menginginkan lebih.

__ADS_1


"Yah wajar lah kalo dia menginginkannya secara lho itu istrinya, nunggu apa lagi sih lho na, Uda biarkan dia publish hubungan kalian, ntar dia bosan dan cari yang lain baru nyahok lho." Saran via.


"Jangan doain yang jelek dong Vi." ana memberengut.


"Makanya selesaikan semuanya."


Saat jam istirahat ana duduk sendirian di taman,sedangkan via sedang berada di perpus, ia tidak ikut via karena ia mau mnelpon kedua orang tuanya sebab tadi saat belajar ada panggilan tak terjawab dari nomor orang tuanya.


 Ia menekan nomer diponselnya menghubungi orang tuanya, tak butuh waktu lama panggilannya pun diangkat.


"Assalamualaikum buk"


"Waalaikumsalam nak."


"Bagaimana kabar ibu sama bapak?"


"Alhamdulillah baik nak, bagaimana kabarmu dan suamimu?"


"Alhamdulillah kami juga baik buk, tadi ibu ada menelpon aku, maaf gak diangkat td buk soalnya lagi belajar."


"Gak apa nak, ibu tadi hanya mau menanyakan kabar kamu saja, juga mau ngucapin makasih sama suami kamu, ibu sama bapak bener-bener gak enak."


"Gak apa buk, ibuk sama bapak gak usah ngerasa gak enak. Justru mas Stevan akan kecewa jika bapak sama ibu menolak pemberiannya." ucap ana sambil tersenyum meski ibu nya tidak dapat melihat itu.


"Ya sudah, kamu baik-baik disana yah nak, jadi lah istri yang sholeha bagi suami mu yah nak"


"Defenisi istri Sholeha itu seperti apa sih buk?"


"Istri baik dan Sholeha itu, selalu melayani suami dengan baik, patuh dan tidak membantah perintah suami jika masih dalam kebaikan. Juga bila dipandang menenangkan hati suami.


"Termasuk jika suami ngajak em.. gituan juga gak boleh nolak buk?"


Ibu tertawa mendengar perkataan ana. "Ya jelas nak, bahkan malaikat akan melaknat istri hingga pagi jika kita menolak ajakan suami."


"Gitu yah buk?" ana menggigit bibir bawahnya merasa malu bertanya soal itu. "Ya sudah ana tutup dulu yah buk, Tito salam ana sama bapak. Assalamualaikum". Ana mematikan panggilan setelah mendengar jawaban salam dari ibu nya.


Huff... Ana menghela nafas kasar, saat hendak bangkit seseorang datang membuat nya duduk kembali.


"Hy".

__ADS_1


"Bang Rama" ana kaget Rama yang tiba-datang.


"Na, bisakah gue mendapat jawabannya sekarang?" Rama duduk bersebelahan dengan ana.


"Jawaban apa bang?" Sebenarnya ana paham apa maksud Rama, hanaya saja ia pura pura lupa.


"Jawaban soal gue yang minta lho jadi pacar gue."


"Em... ana sangat bingung apa yang akan ia jawab.


"Na" Rama menggenggam jemari tangan ana. "Gue cinta sama lho, Lho maukan jadi pacar gue? gue janji gue akan ngebahagiain lho na, gue mau nikahin lho saat gue lulus kuliah nanti." Genggaman Rama semakin kuat seakan takut tangan ana akan terlepas dari genggamannya.


"Emm..Ta..tapi bang, aku sudah menikah." Ana menarik tangannya dari genggaman tangan Rama.


"Tapi pernikahan kalian terpaksa, kalian tidak saling mencintai kan? maka itu berpisah lah dengannya dan gue akan membahagiakan lho na." Rama menatap ana yang menunduk.


Ana bangkit dari duduknya dan melangkah dua langkah, ia menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Rama.


"Pernikahan adalah hal sakral yang menyatukan dua insan dan tidak baik mempermainkannya. Perceraian memang diperbolehkan namun hal yang dibenci oleh Allah." Ana menjawab tanpa menoleh Rama yang masih duduk dibelakang.


"Jadi maksudmu?" Rama tahu maksud ana sebenarnya tidak bisa untuk bercerai dengan suaminya.


Ana berbalik menghadap Rama. "Sebelumnya aku minta maaf bang, kami memang nikah karena terpaksa, tapi sejauh ini pernikahan kami ini tidaklah buruk. Dan semakin hari aku menyukai pernikahan ini."


"Apa kamu mencintainya?" Tanya Rama dengan gemuruh di dadanya karena tidak akan sanggup mendengar jika jawaban ana nantinya iya.


Ana menggigit bibir bawahnya sambil menunduk kemudian ia mengangguk sebagai jawaban nya kepada Rama.


Deg


Hati Rama seketika hancur mengetahui jika orang yang dicintainya ternyata mencintai orang lain, lebih tepatnya suaminya. Sebenarnya ia salah karena mencintai istri orang, namun hati dan perasaan tidak dapat memilih kepada siapa mereka akan mencinta.


"Baiklah, makasih buat semuanya. Mungkin ini terakhir kali kita bertemu, gue ucapin selamat tinggal na." Rama pergi meninggalkan ana.


"Maafin aku bang Rama." Ana memandangi punggung Rama yang berjalan semakin jauh.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2