
"Mbak Stella" panggil ana riang sembari memeluk Stella.
"Selamat ya na, semoga pernikahan mu sakinah, mawaddah dan warahmah." Ucap Stella pada ana.
"Makasih ya mbak sudah bersedia datang." Ana merenggangkan pelukannya.
"Mana mungkin mbak nggak datang di pernikahan adik mbak sendiri." balas Stella tersenyum, Stella sudah menganggap ana sebagai adiknya begitupun sebaliknya.
Stella menoleh pada Stevan dan mengucapkan selamat. "Selamat ya stev" Stella mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Stevan.
"Makasih stell" balas Stevan.
"Mbak, siapa?" tanya ana melirik pria yang bersama ana.
"Oh iya mbak lupa, ana stev, kenalin ini Marcel, dan cel ini ana adik angkat aku dan suaminya." Stella memperkenalkan kemudian Marcel menjabat tangan ana dan Stevan memperkenalkan diri.
"Apa dia calon mbak?" tebak ana langsung dan Stella tersenyum.
"Benarkah? waah... aku seneng dengernya mbak." Ana kembali memeluk Stella. "Semoga mbak bahagia bersama nya yah!" ana sangat bahagia mendengarnya, ia ikut bahagia jika Stella bahagia. "Kapan meresmikannya ni?" tanya ana lagi dan bukan Stella yang menjawab melainkan Marcel.
"Secepatnya. Jika saya sih maunya malam ini pun siap." jawab Marcel serius.
"Waaahh... Anda sungguh tidak sabaran pak." ejek ana sambil tertawa kecil. "Berjanjilah anda akan selalu menjaga dan membahagiakan kakak saya pak Marcel." Sambung ana.
"Pasti, btw jangan panggil pak bisa? terdengar sangat tua sekali." senggut Marcel.
Mereka tertawa dengan protes nya Marcel. "Baiklah, Aku panggil kak Marcel aja. Selamat ya kak Marcel, segeralah halal kan."
"Doakan ya na, semoga lancar." timpal Stella.
__ADS_1
"Pasti mbak, ana selalu mendoakan yang terbaik untuk mbak."
"Selamat ya stell" Stevan mengucapkan selamat pada Stella dan Marcel.
Pernikahan hari ini sungguh mewah dan meriah, dengan dihadiri para pegusaha-pengusaha sukses, konglomerat, kalangan artis juga politikus ikut hadir memeriahkan resepsi pernikahan mereka. Pernikahan yang selama ini dirahasiakan kini terekspos oleh media keseluruh indonesia bahkan mancanegara.
Ana tampak lelah sedari tadi berdiri menyambut para tamu yang mengucapkan selamat.
"Mas, tamu nya masih banyak. Apakah kita akan menunggu semua tamu-tamu itu?" tanya ana lirih sambil melihat masih banyak para tamu undangan. Hari sudah beranjak malam namun para tamu masih banyak, ana sungguh lelah terus-terusan berdiri dan hanya rehat saat ganti gaun kedua.
"Kamu lelah sayang? lebih baik kita masuk saja." Stevan melihat wajah istrinya sudah sangat kelelahan.
"Tidak apa mas, aku masih bisa kok." Balas ana tersenyum.
"Mas antar saja kamu ke kamar, mas bisa menyambut tamu sendiri, gak apa kok. Ayo!" Stevan menggandeng ana berjalan menemui keluarganya meminta izin untuk ke kamar.
"Ma pa, pak buk. Aku permisi dulu ngantar ana ke kamar, dia sudah sangat kelelahan." Ucap Stevan pada keluarganya.
Stevan membawa ana ke kamar, mereka menyewa gedung hotel juga kamar untuk mereka berdua, karena pasti mereka akan merasa lelah jika harus balik ke rumah mereka.
Ana terpukau melihat kamar nya di penuhi lilin dan bunga mawar merah, serta harum aroma mawar menguat ke Indera penciumannya.
"Mas ini_" Dia tidak meneruskan ucapannya.
"Kamu suka sayang?" tanya Stevan sembari tersenyum.
Ana mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. "ini kan kamar pengantin baru mas, kita bukan pengantin baru." Ucap ana tertawa kecil.
"Bagi ku kita tetap pengantin baru, tidak ada yang namanya pengantin lama." balas Stevan mencubit hidung ana.
__ADS_1
"Aduh mas sakit." keluh ana kemudian mencibirkan bibirnya.
"Sayang, jangan seperti itu bibir nya, nanti kamu gak jadi istirahat."
Ana mengernyitkan dahinya tidak paham."Apa hubungannya bibir dengan istirahat?" tanya nya bingung.
Stevan langsung mendaratkan bibirnya dengan bibir ana, sontak saja ana kaget dengan serangan mendadak seperti ini.Ia hanya diam tidak merespon karena kaget.
Stevan melepaskan lumatannya dan meyatukan keningnya dengan kening ana, nafasnya memburu karena pacuan jantung yang begitu kencang. "Inilah hubungannya, kamu tidak akan jadi istirahat." Ucap nya dengan suara parau.
"Em.. ma.. mas aku lelah, mau mandi dulu." Ana langsung ngacir lari ke kamar mandi. Ia sangat gugup, padahal mereka sudah sering melakukannya tapi tetap saja ana selalu gugup jika bersama Stevan.
Stevan tersenyum melihat ana berlari, itu sungguh menggemaskan menurutnya. Sembari menunggu ana selesai mandi ia meluruskan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya juga merasa lelah seharian berdiri menyambut para tamu. Dia saja pria merasa lelah apalagi ana.
Niat hati hanya ingin rebahan sebentar malah terlelap terbang ke alam mimpi. Ana yang baru keluar kamar mandi tertegun mendapati suaminya sudah tertidur. Ana menatap lekat suaminya itu. "Kamu pasti sangat lelah mas." Tidak mau mengusik tidur Stevan ia pun ikut berbaring menyusul Stevan, dan dalam sekejap ana juga terlelap bersama Stevan.
Mereka tidur dengan begitu damainya sedangkan keluarga nya sibuk menyambut tamu menggantikan mereka.
"Anak mu pa, katanya cuma sebentar tapi apa. Gak balik lagi, kasian kan istrinya kelelahan masih juga di gempur." Mama Inggrid berfikir jika ana dan stevan sedang memadu kasih. Padahal mereka terkapar karena lelah.
**
Brayan berbaring dengan menatap langit-langit kamarnya, pikirannya benar-benar kacau saat ini. Ia terus kepikiran via yang cuek akan dirinya.
"Kenapa dia bisa berubah drastis seperti itu? Apa dia memintaku jadi pacarnya hanya prank saja. Apa sekarang dia mencampakkan ku?." monolog Bryan dalam hati. "Tidak, tidak. Bukankah gue yang memintanya untuk tidak mengganggu. Dan kenapa juga gue terus mikirin dia.
"Stella akan menikah? tapi kenapa di sini biasa saja." gumamnya sambil memegang dadanya, tidak merasakan hal aneh saat tahu Stella akan menikah. "Padahal dulu waktu tahu Stella dan Stevan akan menikah dia merasakan sakit." sambungnya. Dia yang dimaksudnya adalah hatinya. "Apa benar sudah tidak ada nama dia lagi disini?" sambungnya lirih.
"Via" Disela ucapan nya sedang membahas Stella, wajah via kembali muncul di benaknya.
__ADS_1
"Arrrgghh... " Bryan berteriak kacau.