
Ana merasa bahagia juga lega sekali, kedua orang tua Stevan memerimanya, kini tiada lagi beban yang menghimpit hatinya ragu, Kedua orangtua Stevan sangat baik, dia sungguh beruntung menjadi menantu dari keluarga Stevan.
Ia tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak itu, Stevan yang kelihatannya datar dan dingin tapi di dalam keluarganya ia sangat lembut.
"Sekarang kalian mandilah bersiap." ucap mama tersenyum melihat ana dan stevan bergantian.
"Ayo sayang." Stevan menggenggam tangan ana untuk membawanya pergi kekamar.
"Tapi mas, kamarku disana" tunjuknya mengarah dapur.
"Ya sudah, kamu bersiap dulu di sana habis itu bereskan pakaian kamu dan pindah dikamar aku."
"Pi.. pindah?"
"Iya, kita sekamar."
Ana menelan saliva gugup kemudian langsung berlari meninggalkan Stevan. Ana masih merasa gugup jika harus sekamar dengan Stevan, padahal mereka sudah sering tidur bersama namun ana masih saja merasa aneh. Ia merasa aneh saja seperti tidak percaya bahwa sekarang ia resmi jadi istri Stevan bukan istri rahasia lagi, itulah membuatnya canggung.
Stevan tertawa kecil melihat ana lari. Kemudian ia pun pergi menuju kamarnya.
"Ana, kami tidak salah dengar kan na?" tanya teh Mina saat ana sampai dapur.
"Teh, bik. Maafin aku ya!" Ana merasa bersalah.
"Jadi semua benar na? kamu sudah menikah dengan tuan Stevan?" sambung teh Mina lagi. Ana hanya mengangguk membenarkan.
"Ya Allah Gusti beruntungnya kamu ana." Teh Mina ikut bahagia.
"Bibik ikut bahagia ana, semoga pernikahan kalian langgeng ya sampai kakek nenek." timpal bik Wati sambil memeluk ana. "Akhirnya
"Makasih ya bik, teh." Ana tersenyum bahagia.
Ana mandi dan bersiap untuk kekampus seperti biasanya. Ia yang sudah rapi datang menghampiri bik Wati juga teh Mina seperti biasanya dia akan membantu memasak.
__ADS_1
"Ana, kamu ngapain kedapur?" Bik Wati menegur saat ana mengambil sayuran.
"Ya biasa bik bantuin bibik."
"Tapi kamu sekarang istri tuan Stevan na, otomatis kamu itu majikan kami, kalau kamu disini yang ada nanti tuan Stevan marah lagi." Bik Wati mengingatkan, ana sekarang adalah majikan mereka, jadi sangat tidak pantas jika ana bergelut lagi didapur bersama mereka.
"Iya ana, kamu duduk saja biar kami yang layani kamu." Sambung teh Mina.
"Ya Allah bik, teh, Meskipun aku istrinya Stevan tapi gak ada salahnya kan jika aku masih tetap membantu bibik dan teh Mina."
"Itu sudah menjadi kodratnya na, sekarang kamu adalah majikan kami." Sambung bik Wati, Teh Mina juga mengangguk membenarkan, mereka sadar diri mereka hanyalah pembantu sedangkan ana sekarang sudah menjadi majikan mereka, bukan ana sang pembantu lagi.
"Aku masih tetap ana bik, cuma status ku aja yang berubah menjadi istri seorang stevan yang kaya raya. Jadi jangan suruh sifat dan attitude ku juga berubah. Udah, bibik sama teteh tenang saja, biarkan aku membantu bibik. Kalau soal nyonya dan Stevan biar aku yang urus." Jawab ana terkekeh.
"Kamu sungguh berhati baik na, pantas Allah memberikan yang terbaik untukmu. Kamu pantas mendapatkan semuanya". Ucap bik Wati sambil mengelus lengan ana.
"Ana sini sayang, kamu duduk disini." Mama Inggrid menarik kursi untuk ana.
"Sayang kamu ngapain disitu?" Stevan menghampiri ana dan membawanya menduduki kursi meja makan. "Duduklah kita sarapan." Sambung Stevan.
"Emm... Nasi goreng aja mas" Jawab ana canggung.
Mama yang melihat ana canggung langsung bicara mengingatkan ana. "Ana, kamu jangan canggung gitu, kamu menantu kami dan ini juga rumah kamu, jadi jangan canggung dan sungkan begitu. Benarkan pa?" mama Inggrid melihat ka arah papa minta persetujuan dan papa mengangguk, "Dan satu lagi, kamu jangan mengerjakan pekerjaan rumah lagi." sambung mama.
"Kalau aku gak ngerjain kerjaan rumah lagi trus aku ngapain dong ma?" Tanya ana polos.
"Kerjaan kamu cukup bikinin cucu aja buat mama papa" sambung Stevan dan itu membuat ana langsung tersedak.
Uhuk... uhuk...
"Sayang ini." Stevan memberikan minum, wajah ana memerah mendengar ucapan Stevan, ia benar-benar malu.
"Kamu ini stev, menantu mama jadi tersedak kan." tegur mama Inggrid. Stevan hanya tertawa mendapat teguran dari mama nya.
__ADS_1
"Ma, aku boleh kan jika bantuin bibik memasak di dapur? aku akan bosan jika tidak ngapa-ngapain".
"Siapa bilang kamu gak ngapa-ngapain, kamu kan bekerja terus dikamar kita." timpal Stevan dan langsung mendapat cubitan dari ana.
"Aw.. Sayang, kenapa aku dicubit?" keluh Stevan sambil mengelus pahanya bekas cubitan ana. Mama dan papa hanya tersenyum melihat Stevan yang berubah lembut juga manja seperti ini.
"Sayang, jika kamu mau kamu bisa membantu bibik untuk menyiapkan makanan untuk Stevan, mama senang jika kamu mau mengurus makanan untuk suami kamu." terang mama tersenyum.
"Makasih ma." Balas ana tersenyum, ia sangat senang, ia ingin memasak sendiri untuk suami juga keluarganya. Sebagai istri ia ingin mengurus sendiri keperluan suami nya termasuk keperluan perutnya.
Ana tersenyum melihat kearah mama papa juga stevan bergantian. Ia begitu bahagia karena disambut dan diterima baik oleh keluarga stevan, ia sangat beruntung. Awalnya ia kira tidak akan diterima karena ia tidak selevel dengan keluarga Stevan, ternyata ia salah, keluarga Stevan sangat menyukainya. "Terima kasih ya Allah" gumamnya dalam hati kemudian melanjutkan makan nya.
Berbanding terbalik dengan Stella, dia yang biasanya apa-apa serba ada jika ia mau, semua ada yang mengerjakan dan tinggal langsung perintah. Kali ini ia harus mengerjakannya sendiri. "Ma, hari ini kita makan nasi sama telur goreng aja yah. Aku belum punya banyak uang untuk membeli makanan enak." Ucapnya sambil menyendokkan nasi ke piring mama.
Mata mama berkaca-kaca melihat putrinya, putri yang biasanya manja dan tidak tahu apa-apa, Kini bersikap lembut juga bekerja. Ia sangat senang dengan perubahan Stella, ternyata kejadian ini ada hikmahnya untuk perubahan Stella.
"Gak apa nak, mama bisa makan apa aja kok." Jawab mama tersenyum. "oh ya mama juga ingin bekerja, mama mau bantu kamu."
"Gak perlu ma, biar Stella aja yang kerja."
"Tapi nak, kamu lagi hamil, saat ini kita perlu mengumpulkan uang untuk persalinan kamu nanti, jadi biarkan mama bekerja yah." Mama memeluk Stella.
"Makasih ya ma", Stella sungguh terharu, baru kali ini dia bisa sedekat ini dengan mama nya, mendapat pelukan tulus, ia sangat bahagia, biasanya ia hanya sendiri tidak ada tempat bercerita, mama nya selalu sibuk menemani papa nya dan jarang pulang kerumah. "Thanks tuhan, kamu sudah mengembalikan mama pada ku." ucapnya dalam hati.
.
Bersambung.
Stay tune terus ya gays π₯°π₯°π
Maaf ya up nya lama, gak bisa konsen saat sibuk beginiππ othor akan sempatkan nulis walau satu bab yah, jadi jangan pernah bosan nungguin dan baca cerita aku yahπ₯°π₯°
Love banyak banyak buat READERS semua
__ADS_1
HAPPY READING πππ₯°