Istri Rahasia CEO Dingin

Istri Rahasia CEO Dingin
58


__ADS_3

Stella pergi kekantor papa Stevan, sudah dua hari ia memikirkan untuk menerima tawaran Stevan, awalnya ia enggan tapi ia memikirkan mama nya juga bayi yang ada dalam kandungannya yang pasti memerlukan biaya banyak saat melahirkan nanti. Sekarang ialah tulang punggung untuk mama nya juga anaknya kelak.


Stella diantar oleh security menuju ruangan papa Stevan.


"Pagi pa, eh om" Ucap Stella saat memasuki ruang kerja papa Stevan.


"Pagi nak, oh ya panggil papa saja, kamu juga anak papa. Papa senang mendengar kamu memanggil papa, papa jadi punya seorang putri." jawab papa.


Mata Stella berkaca-kaca mendengarnya, ia sangat senang karena keluarga mantan suaminya tidak membencinya.


"Makasih pa," air mata nya pun luruh mengaliri pipinya, ia tidak bisa menahan haru ini.


"Duduklah dulu" papa membawa Stella duduk di kursi panjang dekat sudut ruang kerjanya. Papa duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatasnya.


"Makasih pa karena masih baik kepadaku, padahal aku uda ngecewain papa juga mama." ucap Stella lirih.


"Sudahlah nak, yang lalu jangan diingat lagi, fokuslah melihat kedepan dan tata masa depan mu."


"Makasih pa"


"Jangan menangis lagi, mulai sekarang hiduplah dengan baik." ucap papa tersenyum. Kini Stella sangat lega, ternyata masih banyak orang yang menyayanginya, ia tidak akan me nyia-nyiakan kesempatan kedua ini, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


**


Dikampus


"Aku lihat-lihat kamu melamun terus dari tadi Vi, ada apa? apa ada masalah?" tanya ana melihat via lemas seperti tidak bersemangat.


"Gue bosan jomblo terus na, lo uda meried pasti prioritas lo sekarang adalah suami lo, gue kesepian dong" keluhnya cemberut.


"Ya udah cari pacar sana, eh lebih tepatnya cari suami." jawab ana santai.


"Masalahnya mau cari dimana? kalo aja ada jual online uda gue beli yang paling ganteng." Via tertawa sendiri dengan ucapannya, ana pun ikut tertawa merasa lucu dengan ucapan via.


"Kemarin gue ketemu sama cowok ganteng, ku rasa dia jodoh gue deh na." Via tersenyum saat membayangkan sosok pria tampan yang menolongnya kemarin.


"Yang benar saja, baru ketemu uda di kalim jodoh." ana memutar bola matanya malas, merasa konyol dengan ucapan via.


"Hmmm... tau deh na, boleh gak ya aku minta ke tuhan kalo dia aja yang jadi jodoh gue!"


"Kalo dia suami orang gimana?"


"Yaaa... jangan suami orang dong, pokoknya gue mau dia yang jadi jodoh gue, gak mau yang lain."

__ADS_1


"Terserah kamu deh," ana menggeleng tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Oh ya na, kantor suami Lo yuk, sapa tau aja ada cowok ganteng."


"Kantor mas Stevan?" gumamnya dan via mengangguk antusias.


Ana menautkan alisnya berfikir, dianoun sebenarnya juga ingin melihat kantor suaminya. "Aku tanya mas Stevan dulu yah." Ana mengeluarkan ponselnya dan mengirimi pesan.


"Assalamualaikum mas, mas lagi sibuk gak?" (Ana).


Tak butuh waktu lama Stevan membalas pesannya.


"Waalaikumsalam sayang, mas gak sibuk kok, kamu lagi apa?" (Stevan).


"Aku lagi nyantai aja berdua sama via, pelajaran kosong." (Ana).


"Mau pulang sekarang? mas akan jemput." (Stevan).


"Boleh gak aku main ke kantor mas?" (Ana). Tanya nya dengan emot nyengir.


"Tentu honey, mas senang jika kamu mau kesini. Ya udah mas akan suruh sopir buat jemput kamu yah." (Stevan).


"Gak usah mas, aku bareng via aja." ( Ana).


"Ya udah honey, hati-hati yah, mas tunggu. Love you". (Stevan).


Ana tersenyum sembari menyimpan ponselnya.


"Lama amat sih nanya itu doang na." via merengut kesal karena ana dari tadi hanya tersenyum mengotak atik ponselnya, entah apa yang mereka bicarakan melalui pesan.


"Syirik aja." Ana tertawa melihat kekesalan via. "Ya udah kita kekantor mas Stevan nanti."


"Ngapain nanti-nanti, sekarang aja yuk." Via menarik ana sambil berjalan hingga masuk ke mobilnya.


"Aku nemuin suami kok kamu nya yang semangat sih!" ana menyipitkan matanya.


"Eits... jangan su'udzon yah, gue cuma mau cari jodoh kesana, siapa tahu aja jodoh gue disana." Via melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang, tidak perlu waktu lama mereka sampai di kantor Stevan.


Ana dan via turun dari mobil. Ana mendongak melihat gedung yang menjulang tinggi itu sembari tersenyum, ia merasa terpukau dengan kantor yang dimiliki suaminya cukup besar.


Mereka pun masuk ke lobi utama dan bertanya pada satpam dimana ruangannya Stevan.


"Maaf pak permisi, kami mau tanya ruangan pak Stevan dimana yah." tanya ana hormat.

__ADS_1


"Maaf nona, apakah kalian sudah buat janji?" Tanya satpam itu sopan."


"Sudah pak." Balas ana.


"Mari nona ikuti saya." Satpam itu berjalan menuju reseptionis dan diikuti oleh ana dan via. Via berjalan sambil kepalanya meneliti bangunan tersebut.


"Buk, ada yang mau bertemu dengan pak Stevan." Satpam menunjuk ke ana dan via.


"Maaf ya dek, ada keperluan apa kalian kesini? maaf pak stevannya gak bisa di ganggu."


"Tapi kami sudah membuat janji." Balas ana namun tidak direspon oleh receptions itu, bahkan dia berbicara pada teman sebelahnya tanpa memperdulikan ana bicara.


"Hey mbak, kami sudah membuat janji dengan pak Stevan, jika pak stevannya tau kalian tidak sopan begini maka habislah kalian." Via menggerakkan tangannya di leher seperti hendak menyembelih.


"Hahaha... emangnya kalian orang penting yang bisa buat bos memecat kami? kalian hanya bocah yang paling hanya minta sumbangan." cibir receptions itu tertawa.


"Honey" Panggil seseorang membuat ana dan via menoleh, ana tersenyum melihat sang suami datang.


"A.. apa katanya tadi?" dua receptions itu ternganga serta netranya membola mendengar kalau Stevan memanggil bocah dihadapannya honey.


Stevan berjalan mendekati ana serta merangkul pinggang ana juga memberikan kecupan kilat pada bibir ana membuat ana terbelalak merasa malu.


"Malu dilihatin mas" keluh ana dengan wajah memerah.


"Andre, bereskan receptions ini karena sudah berani menghina istriku." perintahnya pada Andre sambil menatap tajam pada dua receptions nya.


"B..bos, maafin kami, tolong jangan pecat kami bos." ucap mereka memelas.


Via? dia masih terpaku melihat seseorang yang ada disebelah Stevan.


Stevan hendak melangkahkan kakinya membawa ana menuju ruangannya namun langkah ana terhenti karena via. Ia mengernyit melihat via yang masih berdiri mematung.


"Via" Lamunan via terhenti kala ana memukul lengannya.


"OMG na, apa kata gue kan. Jodoh gue ada di sini." ucap nya senang.


Ana mengernyitkan dahi tidak mengerti siapa yang dimaksud via sebagai jodohnya.


"Tuan, kita ketemu lagi" via mendekati Bryan, "Ternyata kalo jodoh gak kemana" sambungnya tersenyum pada Bryan.


Sekarang ana paham siapa yang dimaksud via, ternyata pria yang menolong via kemarin adalah teman suaminya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2