
Ana merasakan tubuhnya dingin saat keluar dari gedung sekolah, kepalanya tambah pusing dan keringat dingin terus membanjiri tubuh ana, hingga pandangannya pun mengabur.
"Ana" pekik via saat tubuh ana merosot dari rangkulannya.
"Na, ana!" via menepuk pipi ana namun tak ada pergerakan dari ana, ia panik yang melihat wajah ana putih pucat, mata nya menangkap sekeliling mencari pertolongan. Saat ada yang lewat via berteriak memanggil meminta pertolongan.
"Tolong mas bawa ke mobil saya."
Dengan cepat via melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit ana langsung di bawa ke ruang UGD. Via berjalan mondar mandir merasa khawatir kemudian ia teringat Stevan.
"Gue harus kasih tau suami nya." Gumamnya sambil menekan nomor Stevan. Panggilan pertama tidak di jawab, ia mencoba kembali dan panggilan kedua baru panggilannya di angkat.
"Hallo pak Stevan, ini via sahabatnya ana".
"Ya hallo." jawab Stevan, perasaan nya mulai tidak enak saat mendengar suara via yang seperti orang cemas.
"Ada apa via?" sambung nya.
"A_ana pak ana!" via gugup untuk menyampaikannya.
"Ada apa dengan ana via?" Stevan merasa tegang, perasaannya sungguh tidak baik.
"Ana pingsan dan saat ini berada di rumah sakit tidak jauh dari kampus."
"Baiklah, saya segera kesana." Stevan langsung mematikan sambungan panggilannya kemudian berlari keluar kantor. Semua karyawannya heran melihat Stevan yang terlihat sangat panik.
Stevan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia benar-benar khawatir pada ana saat ini. Sampai di rumah sakit ia langsung menuju ruang UGD, sebelumnya via sudah memberi tahu bahwa ana masih ditangani di ruang UGD.
"Via" panggilnya pada via yang sedang berdiri di depan UGD. "Bagaimana ana?" tanya nya khawatir.
"Dokter masih menangani nya pak." jawab via.
Ceklek
Tak lama pintu UGD pun terbuka dan dokter yang menangani ana pun keluar, dengan cepat Stevan dan via menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Stevan.
"Istri anda baik saja pak, hanya kekurangan nutrisi dan kelelahan. Dan dia sudah sadar sekarang.
"Boleh saya menemui nya?" tanya Stevan dan dokter mengangguk mengizinkan.
Stevan dan via langsung masuk, terlihat ana yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? apa yang sakit hm?" Stevan mengecup kening ana kemudian menggenggam jemari ana serta mengecup nya. Sangat terlihat ekspresi Stevan yang khawatir.
__ADS_1
"Ana, are you okey?" timpal via yang juga merasa khawatir.
"Kenapa kalian terlihat cemas begitu?" jawab ana sambil memandangi Stevan dan via bergantian.
"Sayang, ya jelas mas khawatir. Apa yang kamu rasakan?"
Ana menarik nafas dan menghembuskan nya kasar. " A_aku" ana menggantung ucapannya dengan mimik wajah sedih. Tentu saja Stevan tambah khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan ana.
Begitupun via, hatinya was-was menanti jawaban ana, ia takut mendengar jika ini kabar buruk.
Ana tersenyum menarik tangan Stevan dan menempelkannya di perut nya.
Deg
Hati stevan bergetar, entah apa arti dari semua ini, apakah pemikirannya saat ini benar? itulah yang di fikirkan stevan saat ini.
"Sayang." Stevan menatap ana dalam seolah meminta penjelasan.
"Ada kehidupan di sini" balas ana tersenyum.
"Sayang, ka_kamu hamil?" Stevan meyakinkan apa yang ada dipikirannya saat ini.
"He'em. Aku hamil mas." Jawab ana tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Stevan merenggangkan pelukannya. "Aku akan jadi ayah?" tanya nya lagi dengan senyum merekah dan ana mengangguk tersenyum. Stevan mengecupi seluruh wajah ana kemudian kembali memeluk ana. "Terima kasih sayang, terima kasih "
Via yang berada di sisi mereka juga terharu atas kabar kehamilan nya ana.
"Pak Stevan giliran saya dong." ucap via meminta agar Stevan memberinya kesempatan untuk memeluk sahabat nya itu.
Stevan dan ana tertawa kecil mendengar ucapan via.
"Selamat ya bestie" Via memeluk ana saat Stevan sedikit menjauh dari ana. "Gue bakal punya ponakan." pekik via girang.
Stevan membawa ana pulang karena dokter sudah membolehkan ana untuk pulang. "Harti-hati sayang." Stevan menuntun ana berjalan.
"Mas, aku bisa kok."
"Tapi kamu masih lemas gitu."
"Aah..." pekik ana kaget saat tubuhnya sudah melayang dalam gendongan Stevan.
Stevan menggendong ana hingga sampai ke kamar. "Istirahatlah sayang." Stevan mengecup kening ana.
"Mas mau kemana?"
__ADS_1
"Mas mau mandi, gerah."
"Gak usah mandi, sini aja peluk." ucap ana manja.
"Manja nya istriku" Stevan mengusap kepala ana. "Bau dong kalo mas gak mandi."
"Wangi kok" ana mendusel wajahnya di dada Stevan membuat Stevan tertawa gemas. Akhirnya Stevan menuruti dengan berbaring disisi ana kemudian ia pun ikut tertidur bersama ana.
**
Via yang baru saja pulang dari rumah sakit langsung pergi ke sebuah mall untuk berbelanja.
"Kasih kado apa ya buat calon debay ana." Via nampak berfikir sambil melihat perlengkapan bayi. "Tapi ana kan baru saja hamil, belum tau juga jenis kelamin nya apa." monolog nya seorang diri.
Ia pun pindah dan melihat pada setumpuk dress yang bergantungan. Ia memilih mana yang cocok untuk
nya. Saat asyik memilih ada suara deheman dari belakang. Ia menoleh kemudian kembali melihat baju-baju. Ia tidak merespon siapa yang menyapanya saat ini.
"Hy via." ucap Bryan.
Ternyata Bryan yang menyapa, tapi tidak di respon oleh via, ia hanya membalas singkat.
"Milih apa Vi?" tanya Bryan basa basi.
"Milih wajan, wajan dirumah gue uda pada bocor." Jawab via datar.
Bryan melongo mendengar jawaban via. "Kalau mau wajan di bagian perabot via, ini pakaian wanita." jawab Bryan polos.
"Anda memang begok apa sengaja di bego-begoin? Uda tau gue lagi milih dress masih tanya milih apa." Jawab ana kesal.
ana berjalan membawa baju yang ia pilih tadi kemudian pindah pada bagian celana. Ia memilih jeans berwarna hitam.
Bryan terus membuntuti kemana via berjalan tanpa berkata apa pun.
Via berjalan sembari melirik Bryan yang berjalan di belakangnya. "Duh..kok dia ngikutin terus sih. Tahan via, Lo harus jaga image, jaga harga diri ko." Batin via. Hati nya saat ini sangat kacau, dideketin Bryan seperti ini membuatnya meleleh "Tahan Lo harus tahan diri untuk tidak menunjukkan sikap genit nya pada Bryan. Benar kata ana, kita harus jual mahal dengan cowok." Sambungnya.
Bersambung
.
Stay tune terus ya all, Nantikan kisah selanjutnya. Maaf ya othor gak belum bisa double up😁
Jangan lupa tinggalkan jejak nya yah, like coment dan vote nya juga.
Love you untuk kalian semua🥰🥰
__ADS_1