
"Awas mbak." Stella terjerembab di bahu jalan karena ditarik oleh seseorang.
"Aww.."
"Kamu?" Stella kaget melihat siapa yang menolong nya.
"Mbak gak papa kan?" tanya ana meneliti tubuh Stella, mengecek apa ada yang luka.
Ana yang baru pulang dari kampus melihat Stella yang hendak menyebrang, dan mendapati sebuah motor melaju kencang, dengan cepat Stella berlari dan menarik Stella hingga mereka terjatuh dan posisi Stella menimpah tubuhnya, tubuh nya yang kecil tentu saja merasa sakit saat ditimpa dan membentur aspal.
"Saya gak papa, kenapa kamu nolongin saya? Kenapa gak biarkan saja saya mati ketabrak tadi?" sarkas Stella menepis tangan ana.
"Mbak, jangan seperti ini, mbak masih muda mbak, jalan mbak masih panjang."
"Saya tidak ingin hidup lagi, semua sudah hancur, tidak ada lagi yang peduli sama saya. ucap Stella sembari menghapus air matanya.
"Mbak, dengarkan aku." ana memegang bahu Stella, " Apa dengan mbak bunuh diri semua masalah mbak akan selesai? gak kan? keluarga mbak pasti akan sangat terpukul, mereka sudah kehilangan harta mereka ditambah kehilangan mbak harta mereka paling berharga. Mereka pasti tambah hancur mbak." sambung ana.
"Tapi mereka tidak pernah menyayangiku na." Stella menunduk dengan air mata masih berjatuhan.
"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya mbak, hanya saja mungkin cara mereka salah. Kalau mereka tidak sayang mbak akan pernah ada di dunia ini, ibu mbak dengan mempertaruhkan nyawa nya melahirkan mbak agar mbak bisa hadir di dunia ini. Papa mbak bekerja banting tulang tanpa kenal lelah agar hidup mbak tidak kekurangan, agar mbak bisa merasakan kemewahan." Nasihat ana membuat Stella meraung.
Stella hanya menangis, perkataan ana menyentuh relung hatinya. Hati ana terenyuh mendengar Raungan Stella, ia paham apa yang dirasakan Stella saat ini.
"Mbak harus kuat, kasihan anak dalam kandungan mbak." Stella mendongak menatap ana mendengar perkataan ana. Ia meraba perutnya dengan tangan yang gemetar.
"Anak?" beonya menatap ana, ana mengangguk mengiyakan.
"Ta..tapi anak ini_" ucapan nya terjeda, ia menarik nafas serta mengeluarkannya kasar. "Tapi anak ini datang disaat yang tidak tepat, dia tidak pantas mendapatkan ibu wanita murahan seperti saya." bibir Stella bergetar, ana yang melihat itu langsung memeluk Stella sambil mengelus punggung Stella.
"Mbak, dia tidak bisa memilih kapan dan ibu mana yang ia mau. Tapi Allah telah memilih mbak untuk menjadi seorang ibu, karena Allah tahu mbak mampu dan Allah menitipkan anak pada mbak." ucap ana sambil mengelus punggung Stella.
Stella merenggangkan pelukan ana sembari menatap mata ana, ia tidak menyangka orang yang ia hina sekarang ialah yang menolong nya, ia yang memberi semangat dan dukungan padanya.
"Ana, kamu sangat baik, hati mu begitu mulia, kamu masih mau berbaik hati dengan saya padahal saya Uda jahat dan ngerendahin kamu, maafin saya ya." ucap nya sesal.
__ADS_1
"Sebelum mbak minta maaf aku Uda maafin kok mbak." jawab ana tersenyum.
"Makasih" sambung stella tersenyum sambil menyeka sisa air matanya.
Ana membawa Stella dirumah kos kosan yang disewakannya untuk Stella, Stella yang tidak tau harus kemana, menerima bantuan ana. Ia sangat bersyukur bisa bertemu ana, jika saja bukan ana mungkin ia sudah mati saat ini. Ia berniat mulai sekarang ia akan berubah, ia ingin menjadi wanita baik, dan menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Ia akan membesarkan anaknya apapun resiko nya. Ia tidak ingin menjadi ibu yang kejam dan dilaknat oleh tuhan, ia akan memberikan kasih sayang penuh pada anaknya nanti, kehidupannya menjadi pembelajarannya agar melimpahkan kasih sayang dan perhatian pada anaknya yang selama ini ia tidak mendapatkan dari orang tuanya.
**
Kediaman keluarga Stevan.
Stevan bersedekap dada melihat ana baru pulang saat jam hampir pukul lima sore, seharusnya ana sudah dari tadi pulang. Ia beranggapan jika ana pasti keluyuran dengan teman temannya.
Dari mana saja baru pulang jam segini?" tanya Stevan datar dan dingin, wajah nya yang datar membuat ana tak berani menatap Stevan. Ia menelan saliva merasa gugup dan takut.
"Mas". Ana menggigit bibirnya merasa takut.
Melihat ana yang hanya diam membuat Stevan geram, ia mendengus kasar lalu meninggalkan ana yang masih berdiri mematung, ia lebih memilih pergi tak mau tersulut emosi, ia duduk diruang tengah sembari memainkan ponselnya
Ana melangkah masuk dengan langkah yang terpincang pincang. Stevan melirik saat ana melintas di belakangnya menuju arah dapur. Ia kaget saat melihat ana terpincang begitu.
"Mas, I..ini tadi_" Ucapan ana terpotong saat Stevan memegang tangannya dan melihat luka dilengan dekat siku nya.
"Kamu juga luka, apa yang terjadi?" Terlihat wajah Stevan yang panik melihat ia luka seperti ini. Tangan dan kaki nya luka saat menolong Stella tadi, dia yang terjatuh di aspal jalan mungkin itulah penyebab luka.
"Ta..tadi aku nolongin orang yang hampir ketabrak mas." ucap ana pelan.
"Apa?" Stevan langsung membawa ana duduk di kursi.
"Aw" pekik ana saat Stevan menariknya, meskipun Stevan menarik nya pelan namun kakinya sakit untuk dipijaki.
"Sakit ya?" Stevan menyingsingkan celana jins ana, dan benar pergelangan kaki ana membiru. Mungkin keseleo saat menolong orang tadi pikirnya.
"Bik..bik.." teriak Stevan memanggil bik Wati dan tanpa waktu lama bik wati langsung datang.
"Ada apa tuan?" tanya bik Wati dan langsung menatap ana. " Ya Allah Gusti, kamu kenapa na?" bik Wati juga tampak khawatir melihat lengan ana yang luka luka begitu.
__ADS_1
"Tolong ambilkan kotak p3k dan kompresan bik" pinta Stevan. Bik Wati langsung mencari apa yang dipinta oleh majikannya.
"Ini tuan." Bik Wati memberikan apa yang diminta Stevan tadi.
"Makasih bik."
Dengan telaten Stevan mengompres pergelangan kaki ana yang terlihat membiru.
"Ah sakit." keluh ana saat Stevan menekan kompresannya.
"Sakit banget ya?" Ana hanya mengangguk sebagai jawaban. Stevan melanjutkan membersihkan luka dilengan ana, ia membersihkan dengan alkohol lalu memberi obat merah.
Ana meringis menahan pedih saat obat merah itu menetesi luka nya. Hatinya merasa tersentuh saat Stevan dengan lembut meniupi luka nya. Ia sangat bahagia mendapat perlakuan stevan seperti itu.
"Masih sakit?" tanya Stevan sembari meniupi luka ana.
"Udah lumayan mas" jawab ana tersenyum.
Bik Wati yang dari tadi melihat merasa aneh dengan sikap majikannya dengan ana. Jika saja mama Inggrid dan suami ada pasti mereka juga merasakan ada yang aneh diantara kedua anak manusia itu. Ia berbalik hendak kembali namun bertemu dengan teh Mina. "Ana kenapa bik?" tanya nya penasaran.
"Kaki nya keseleo."
"Kok bisa?"
"Tadi katanya nolongin orang yang hendak ketabrak, jadi keseleo deh." jelas bik Wati dan Mina hanya mengangguk. Teh Mina juga merasa aneh dengan yang ia lihat saat ini. Majikannya dengan telaten mengobati luka ana.
"Bik, ada apa dengan mereka?" bisik teh Mina.
"Udah, jangan kepo. Ayok kebelakang." bik Wati langsung menarik teh Mina.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.