ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 10 Isi Hati Ashray


__ADS_3

"Son?"


Suara Mrs Jhon terdengar lirih seperti kaget melihat pemandangan di dalam lift. Beruntung Jhenny tidak mendengar karena fokus dengan rasa kesalnya pada Ashray yang telah mendorong tubuh nya hingga hampir terjatuh.


"Maaf Mr. Mrs. Silahkan masuk."


Ashray menundukkan kepala dengan sopan dan merapatkan tubuhnya di sisi Jhenny. Seketika Susana lift menjadi begitu hening. Bahkan Ashray hanya berekspresi biasa saja. Saat Mrs Jhon melirik ke arah nya dan Jhenny.


Terlihat Mr Jhon merengkuh pundak sang istri seolah mengisyaratkan bahwa tidak usah mengurusi apa yang terjadi dibelakang mereka.


Mr Jhon tetap datar tak berekspresi. Dan dua pengawal di depan pun fokus menatap pintu lift yang telah tertutup.


Jhenny hanya menggerutu kenapa Mr Jhon dan istrinya tidak menggunakan lift khusus untuk orang-orang penting dirumah sakit ini.


"Kita tunda dulu saja sayang, sepertinya dokter Ashray sedang punya urusan pribadi. Kita langsung pulang saja."

__ADS_1


Mr Jhon berbicara tanpa menatap ke belakang. Dengan tangan kanannya yang memeluk sang istri terlihat beberapa kali mengelus-elus lengan sang istri.


"Maaf tuan saya siap kapan pun jika anda inginkan."


Ashray tampak menunduk walau lawan bicara yang berada di depan seolah tak peduli dengan jawaban nya. Namun beberapa detik Mrs Jhon seolah sedang merasa marah pada dua orang di belakang nya menoleh kebelakang.


"Bisakah kalian sedikit profesional? setidaknya tidak dirumah sakit ini dan tidak dengan jas dokter kalian."


Suara Mrs Jhon terdengar datar namun lirikan matanya ke arah Jhenny begitu tajam. Jhenny yang sebenarnya merasa tidak senang ditatap begitu tidak berkutik hingga menundukkan kepalanya.


"Maaf kan kami nyonya. Tadi...."


Tak berapa lama pintu lift terbuka dan Mr Jhon beserta istrinya berjalan keluar lift diikuti kedua pengawal. Ashray cepat menekan tombol lift itu kembali. Hingga beberapa menit mereka sampai ke lantai paling atas rumah sakit itu.


Dari ketinggian 70 meter gedung ini terlihat pemandangan Kota Baltimore kota terbesar di negara bagian Maryland. Ashray menggengam tangan Jhenny dan membimbing nya ke ujung dinding pembatas.

__ADS_1


Ashray menggengam kedua tangannya dan menatap ke pemandangan yang ada dihadapannya nya. Suasana yang masih pagi membuat udara segar diatas gedung itu.


"Maaf Jhen. Maaf untuk aku yang tidak pernah mengerti kamu. Maaf untuk aku yang hanya selalu menganggap mu sahabat ku. Bukan maksud ku menuduh mu. Tetapi aku begitu khawatir tentang Alleyah. Aku ingin dia segera pulih setidaknya pemulihan ingatannya akan lebih cepat dengan kondisi fisik yang sehat."


Ashray melepas jas putihnya dan meletakan di tembok pembatas itu. Ashray melirik ke arah Jhenny. Terlihat sisa-sisa air mata di pipi Jhenny. Ashray mengusap pipi Jhenny dengan jarinya.


Seketika Jhenny merasa kehangatan didalam hatinya. Jhenny mengangkat wajahnya dan menatap Ashray. Wajah Ashray yang begitu tampan membuat Jhenny selalu terobsesi untuk dekat dengan lelaki ini.


"Tak bisakah kau beri aku ruang sedikit dihati mu bukan sebagai sahabat mu Ray?"


Jhenny menggenggam tangan Ashray dan mengecupnya. Cukup lama Jhenny menahan tangan Ashray dengan posisi masih menempel di bibirnya lalu pindah ke pipinya.


Ashray hanya menatap sahabat nya itu dengan teduh. Tarikan napasnya terasa berat. Hingga ia menarik tangan Jhenny dan menarik dokter spesialis saraf itu, hingga sang dokter bisa merasakan lengan kekar sahabat nya itu merangkul dirinya untuk menghadap pemandangan kota Baltimore.


"Kau lihat pemandangan di depan itu Jhen? Apakah saat terlahir ke dunia ini kau meminta kepada Tuhan untuk diberi mata agar bisa melihat pemandangan indah ini? apakah saat akan lahir ke dunia ini kau meminta untuk bertemu dengan ku dan mencintai ku?"

__ADS_1


Ashray mengelus lengan nya


"Aku tak mencintai, mu Jhen...."


__ADS_2