ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 9 Alleyah Lumpuh


__ADS_3

Satu Minggu pasca operasi Alleyah bukan mengalami kemajuan pada keadaan kaki nya. Melainkan suatu kemunduran. Pagi ini ia masih tidak bisa merasakan reaksi ketika kakinya dicubit atau di sentuh.


Terlihat mata sembab Alleyah yang tertuju pada kedua kaki nya. Ashray pun memegang dagu nya sambil melihat ke arah Jhenny yang sedang memeriksa kaki Allayeh. Dan juga beberapa dokter yang merupakan tim dr. Jhenny selama proses pemantauan dan operasi pada saraf-saraf di lutut dan area kaki kiri Alleyah.


"Tenang lah nona Leyah, kami akan memeriksa apa yang terjadi kepada kaki anda. Kami berharap ini adalah sebuah trauma pada saraf anda pasca operasi Nona" Jhenny selesai mencatat sesuatu pada map merah nya dan duduk disamping Alleyah.


Ashray masih terpaku menatap Alleyah dan Jhenny. Masih dengan memegang dagu nya dengan satu tangan dan tangan lainnya berada di pinggangnya menopang tangan satunya.


Beberapa dokter lain pergi meninggalkan ruangan itu. Serta perawat pun ikut keluar. Jhenny dan Ashray masih diruangan Alleyah.


Ashray berjalan ke arah Jhenny dan mengambil map yang berada di tangan Jhenny dan membaca nya dengan seksama.

__ADS_1


"Kerusakan pembuluh darah,


kerusakan ligamen atau tendon,


infeksi di lutut" Ashray mengernyitkan kedua alisnya.


"Itu sementara diagnosis kami Ray, tenang lah kami akan secepatnya mencari apa penyebab Leyah mengalami kelumpuhan." Jhenny memberi penjelasan kepada Ashray tanpa diminta karena merasa Ashray sedikit bingung dengan diagnosis tim nya.


"Jika kerusakan pembuluh darah harusnya pahanya juga hilang rasa. Tetapi ini yang hilang rasa dari lutut ke bawah. Kalau ligamen dan tendon harusnya itu ketika operasi pertama. Termasuk infeksi lutut. Apakah tidak ini masih masalah saraf Jhen?" Ashray menutup map itu Dan menatap Jhenny penuh selidik.


Ashray tahu persis tabiat sahabat nya sehingga ikut keluar dari ruangan Alleyah setengah berlari mengikuti Jhenny.

__ADS_1


"Jhen. Jhen tunggu... bukan maksud ku menuduh mu... Jhen. Dengar kan dulu." Ashray menarik tangan Jhenny sehingga dokter muda itu berbalik menghadap Ashray.


Mata Jhenny telah memerah dan buliran bening mengalir ke pipi dokter yang blasteran Indonesia-Belanda itu.


Suara Jhenny tertahan namun isakan tangisnya bisa di dengar jelas oleh Ashray. Ashray merasa tidak ingin menjadi tontonan oleh beberapa perawat yang berada di koridor rumah sakit itu menarik tangan Jhenny ke arah lift. Yang biasanya memang gosip tentang hubungan mereka berpacaran cukup santer karena mereka sering bersama-sama namun itu sebelum kehadiran Alleyah.


Sesampainya di dalam lift Ashray menutup pintu lift dan menekan tombol 9. Lantai paling atas dirumah sakit ini. Lalu menarik Jhenny ke pelukan nya.


"Maaf Jhen, bukan maksud ku menuduh mu. Aku hanya cemas tentang kondisi Alleyah. Dia gadis yang malang. Deritanya bertubi-tubi. Kepulihan nya sangat diharapkan agar ia bisa kembali ke keluarganya. Kau tahu ada luka bekas Caesar diperutnya. maka bayangkan jika saat ini anak nya menanti nya." Ashray mencoba menenangkan Jhenny dan menepuk punggung Jhenny.


Seketika Jhenny merasa senang karena hal ini adalah hal pertama yang ia dapat kan dari Ashray yang selalu mengatakan dan menegaskan bahwa mereka hanya sahabat kepada seluruh yang memandang curiga tentang hubungan nya dengan Ashray.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu lift terbuka ketika baru sampai di angka 6 ternyata berdiri 3 orang lelaki dan satu perempuan yang membuat Jhenny juga Ashray terkejut. Seketika Ashray mendorong Jhenny dengan keras hingga punggung Jhenny membentur dinding lift sehingga terdengar suara benturan cukup keras.


"Bruk"


__ADS_2