ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
BAB 23 Ratapan Hanna


__ADS_3

Terlihat seorang wanita keluar dari mobil yang dikendarainya. Saat keluar, di tangan kirinya terlihat seperti memegang sebuah ponsel yang terus berdering.


Setelah dia menutup pintu mobilnya dengan kasar ia menatap tajam Hanna dan Bintang. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kalian! Cepat masuk!"


Hanna dan Bintang cukup ketakutan melihat tatapan Wulan pada mereka belum lagi suara Wulan yang terdengar begitu menahan emosinya.


Setelah kedua anak kecil itu masuk kedalam mobil berwarna biru itu Wulan merasakan gigi geraham nya bergemeretak.


Wulan masuk kedalam mobil dan menutup pintu mobil itu dengan kencang dan kasar.


"Braaak!"


Sesampai didalam mobil Wulan menatap spion mobil dan menatap tajam Hanna. Hanya yang melihat tatapan tajam sang ibut tiri menundukkan kepalanya.


"Semoga Mama Wulan tidak memarahi dan menghukum ku."


Mobil biru itu dikendarai oleh Wulan dengan sangat ngebut. Sesampai nya dirumah yang terdapat ukiran di setiap pagar berwarna keemasan itu Wulan membuka pintu belakang dan menarik Hanna dengan kasar.


"Sakit ma....."


"Diam kamu!"


"Mama kasihan Hana Ma."


Tap!

__ADS_1


Tap!


Tap!


Brugh!


Tubuh kecil Hanna terlempar ke sebua kursi yang ada didalam gudang. Sebuah ruangan untuk menyimpan barang-barang yang tidak dipakai lagi. Ruangan yang gelap, pengap dan berdebu.


"Diam kamu disini! dan jangan ada yang berani mengeluarkan dia dari dalam ruangan ini!"


Braaak!


"Mama..... mama..... Buka Ma.... Hanna takut ma.... Hiks Hiks Hiks."


Berkali-kali tangan mungil Hanna memukul pintu kayu itu tak membuat Wulan berhenti bahkan menoleh pun tidak. Bintang memegang tangan Wulan.


"Ma, kasihan Hanna ma. Bintang yang ajak Hanna tadi ma bukan Hanna."


Tap.


Tap.


Tap.


"Nyonya....."


"Lepaskan tangan kamu atau kamu saya pecat!"

__ADS_1


Bik Iyah terduduk di lantai dan menangisi Hanna yang dikurung didalam gudang. Bintang mendekati bik Iyah dan membantu sang art yang merawat Hanna dari bayi hingga sekarang setelah kepergian sang Mommy nya pun ia masih setia berada disisi Hanna.


"Bik, bangun bik."


Bik Iyah menghapus air matanya. Bik Iyah menatap Bintang. Gadis kecil anak tiri Wulan itu memiliki hati yang sama lembut dan baiknya seperti Hanna.


Dipeluknya Bintang hingga mereka sama-sama menangis di depan pintu gudang itu. Lalu bik Iyah membimbing Bintang ke kamarnya.


Wulan menghempaskan kunci gudang ke atas kasur. Wanita itu memijat kening nya yang terasa pusing karena hampir beberapa jam ia berkeliling mencari anak kandungnya dan anak tirinya itu.


"Kamu harus diberi pelajaran!"


Wanita itu berdiri mengambil kunci dan kembali menuju ke gudang.


Wulan membawa seember air dari bak yang berada di kamar mandi yang berada diluar untuk art.


"Byuuuur"


Wulan menarik rambut Hanna yang telah basah karena air yang barusan disiram Wulan. Hanna merintih sangat kesakitan karena rambut yang ditarik Wulan belum lagi tangan nya yang dipijak oleh high heels Wulan.


"Kamu! Awas kalau kamu mengulangi lagi kesalahan kamu! Dengar berani kamu melapor kepada kakek mu maka papa mu pun akan aku siksa. Dan pembantu tua mu itu sekalian aku pecat! paham kamu?!"


Hanna menganggukkan kepala nya. Dengan nangis terisak-isak. Puas melihat Hanna dengan kondisi seperti itu. Wulan cepat keluar dan berhenti lalu berbalik ketika mendengar rintihan Hanna.


"Mommy.....Hiks.Hiks."


"Hahaha..... Mommy kamu sudah mati! Dan kalau kamu terus-terusan membuat saya kesal maka saya pastikan papa mu yang bodoh itu akan ikut menyusul Mommy mu!"

__ADS_1


"Braaak!"


Pintu kembali tertutup rapat dan hanya ada cahaya dari ventilasi dari luar yang menyinari ruangan gudang yang sudah lama tidak pernah dibersihkan itu.


__ADS_2