ISTRI YANG DIANGGAP BUTA

ISTRI YANG DIANGGAP BUTA
Bab 38 THE END


__ADS_3

“Rangga, jangan gila kamu.!” Teriak Elena pada Rangga yang berdiri diatas rooftop hotel.


“Ley, aku tahu kamu sangat menyayangi Hana. Jika aku tidak bisa hidup bahagia, maka kamu juga tidak akan hidup bahagia.” Ucap Rangga seraya menodongkan senjata api ke arah kepala Hana.


“Gila kamu Rangga! Dia darah daging mu!” Teriak Elena.


Hana sesenggukan menangis, ia ketakutan. Satu yang ia ingat adalah Mamanya telah meninggal, namun kenapa Papanya memanggil ibu sambungnya yang baru satu hari itu dengan panggilan Leyah.


“Kamu yang membuat ku gila, kamu tiba-tiba hilang lalu kembali dalam keadaan berbeda, kini kamu ingin menghancurkan apa yang aku impikan selama ini… Ayolah Ley, kita mulai rumah tangga kita dari awal….” Ucap Rangga pada Alleyah.


Ia begitu marah pada Alleyah alias Elena yang telah mempermainkan dirinya. Tapi Rangga lupa, ia sendiri yang membuat semua ini menjadi keruh, andai saat itu ia tidak membuat berita bohong bahwa Alleyah telah tiada, maka mungkin Alleyah masih mampu memaafkan dirinya, tetapi di khianati, buah hatinya bahkan di sakiti, membuat Alleyah mantap untuk memberikan pelajaran pada Rangga.


“Oke, kita bicarakan masalah ini berdua. Jangan libatkan Hana.” Ucap Elena dengan maju satu dua langkah ke arah Rangga.


“Apa yang ingin di bicarakan?” Tanya Rangga kesal,


“Kamu ingin harta? Ok, aku akan memberikan apa yang kamu mau, tapi please. Hana tidak ikut dalam permainan ini.” Ucap Elena tenang, ia kembali maju satu langkah.


Sekitar 4 meter lagi, Elana mampu mendekati Rangga. Namun suami Elena semakin merasa kesal. Ia kembali mendekati bibir dinding rooftop hotel tempat mereka menginap. Suasana cukup dingin, bahkan sinar lampu yang berada di rooftop membuat Elena melihat jika ada satu helikopter mendekat. Ia tahu, itu mungkin anak buah ashray yang selalu memantau keadaan dirinya.


“Owh, siapa dibalik dirimu Ley? Aku bahkan seperti tak mengenal dirimu…” Ucap Rangga menatap helikopter yang terbang ke arah mereka. Elena merasakan kesempatan untuk mendorong Rangga. Ia dorong lelaki bertubuh kekar itu. Ia pun melepaskan cengkraman Rangga pada Hana. Putri semata wayang Alleyah itu berlari ke arah pintu tangga darurat.


“Go,go Hana…. Cari bantuan sayang….” Teriak Elena pada Hana, gadis itu justru menangis terisak menatap Elena yang justru kini terlibat pergulatan dengan Rangga. Bahkan satu tembakan yang Rangga layangkan untuk menggertak Alleyah agar tak kembali memberontak saat Rangga berhasil menahan pergerakan Alleyah dengan lengannya, namun peluru tersebut justru menyasar ke tubuh kecil Hana.


Dor!


“Hanaaaaa!” Teriak Alleyah pada Hana.


Gadis kecil itu tengkurap dalam keadaan bergelimang darah. Alleyah berlari ke arah Hana. Ia menangis dan meraung, ia memeluk tubuh mungil Hana. RAngga pun ikut panik, ia duduk di sisi Alleyah. Pikiran yang telah dirasuki setan, membuat lelaki itu tak lagi memiliki hati nurani. Ia pun dudu tepat di sisi Alleyah. Ia serahkan senjata yang ada ditangannya kepada Alleyah. Senjata yang pelatuknya telah ditarik.

__ADS_1


Dengan cepat RAngga mengangkat tangan Alleyah ke arah pelipisnya.


Dor!


Senyum smirk dari bibir Rangga di akhir sebelum tubuhnya tergolek di sisi tubuh mungil Hana.


“Hanaaaa! Tidaaakkk!! Tolooonggg!” Teriak Alleyah seorang diri, tiba-tiba muncul Bintang dengan naps tersengal-sengal. Ia justru berdiri terpaku menatap apa yang ada dihadapannya. Sebuah senapan kecil di tangan Elena dengan Rangga yang terbujur kaku disisi Hana juga saudara tirinya yang bersimbah darah. Tak lama sebuah helikopter tiba membawa tubuh mungil Hana.


Bintang menatap tajam Elena.


“Kau Pembunuh!” Tuduh Bintang pada Elena.


Elena tak mampu bersikap. Ia hanya tertuju pada buah hatinya, ia hanya berharap Hana sehat dan baik-baik saja. Namun sesuatu terjadi saat berada di rumah sakit. Di depan ruang operasi, Tuan Daminson dan istri datang diikuti pihak kepolisian.


“Maaf Ibu Elena, anda kami bawa ke kantor untuk pemeriksaan.” Ucap salah seorang dari pihak kepolisian, Elena terdiam tak bergeming. Ia sedang kalut.


“Maaf kami kuasa hukum ibu Elena. Kami akan ikut anda ke kantor polisi, biarkan Ibu Elena untuk tetap disini.” Ucap salah seorang bernama Dev.


Alleyah sekarang sudah jauh lebih tegar dari Alleyah yang dulu. Ia menarik kacamatanya, ia pun berjalan mengikuti pihak kepolisian untuk menjadi saksi. Kematian Rangga membuat ia menjadi tersangka pembunuhan terlebih lagi dengan sebuaha barang bukti yang ada sidik jarinya. Maka untuk sementara waktu, Elena harus ditahan hingga ada kejelasan. Bahkan pengacara yang Ashray minta untuk mengurus kasus tersebut di buat tak berkutik. Jaksa yang menangani kasus tersebut tak mampu di bayar dengan uang.


Ashray pun pulang ke Indonesia, saat ia menemui Elena yang tampil dengan celana pendek dan rompi biru. Mata perempuan itu tampak biasa saja. Ashray pun tak dianggapnya ada di sana.


“Ley… katakan sesuatu… kenapa kamu jadi seperti ini.” Ucap AShray yang merasa jika Alleyah berubah.


Anak mata Alleyah alias Elena menatap tajam Ashray.


“Semua ini ide gila mu, kamu membuat wajah ku berubah. Kini semua menjadi buruk karena aku harus berpura-pura menjadi orang lain. Maka berhenti memanggil ku Alleyah! Aku Elena. Kamu yang menciptakan karakter ini, maka nikmatilah tuan Ashray…. Sudah ku katakan, cinta mu menyakiti aku!” Ucap Alleyah.


“Ley, hanya dengan tes DNA dan kamu membuktikan jika kamu Alleyah. Kamu akan bebas dari semua tuduhan.” Bujuk Ashray pada Alleyah.

__ADS_1


“Aku akan tetap disini, persingkat hukuman ku. Aku akan disini….” Ucap Alleyah yang telah berdiri, ia ingin pergi dari ruangan itu.


“Ley, Hana kritis… Ia butuh kamu.” Ucapan Ashray membuat Alleyah terpaku.


“Dia butuh pendonor tulang sumsum belakang. Karena operasi kemarin hanya mampu mebuang peluru yang melukai tulang belakangnya. Ia masih kritis.” Ucap Ashray.


“Apakah dengan keluarnya aku, Hana bisa selamat?” Tanya Alleyah lagi.


Anggukan kecil dari Ashray membuat Alleyah memejamkan mata. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Hhhhh… lakukan yang menurut mu terbaik, demi keselamatan Hana…” Ucap Alleyah yang melenggang meninggalkan Ashray sendiri.


Akhirnya tes DNA pun dilakukan, Alleyah dinyatakan masih hidup secara administrasi di negara Indonesia, ia juga dinyatakan tak bersalah. Kondisi Hana pun kian mebaik pasca operasi tulang sumsum yang diambil dari orang tua Alleyah. Hari demi hari, Alleyah menanti kesadaran Hana. Putri tunggalnya tak menunjukkan perkembangan. Ashray menemani hari-hari Alleyah, tiba saat dimana membuat Alleyah bahagia kala ia memutuskan untuk membawa pulang putrinya. Ia merawat Hana di kediamannya. Malam itu, Bintang bahkan menangis haru.


“Hana…” Ucap Alleyah yang melihat tangan Hana bergerak pelan, jari-jarinya tampak bergerak. Lalu kedua mata Hana terbuka.


“Bin-tang.” Ucap bibir mungil Hana. Nama saudara tirinya yang ada. Ia pun melihat ke arah Alleyah. Namun ia tak mengenali siapa perempuan itu, samar-samar ia pun memanggil Alleyah dengan panggilan mama.


Ada suka dan duka yang hadir di rumah mewah itu, Alleyah harus bersedih kala ia harus bahagia karena hampir setahun Hana tertidur, kini ia sadar namun ia tak mampu berjalan.


“Ma… kaki ku tak bisa bergerak… aku tak bisa merasakan kaki ku,” Keluh Hana.


Alleyah segera menghubungi Ashray untuk memeriksa kondisi Hana. Saat di ronsen, tulang pinggul Hana patah saat terjatuh di hari naas itu, dan saraf kakinya pun banyak yang mengalami masalah. Maka ia harus menerima kembali cobaan dengan tak bisa berjalan. Alleyah pun menyesali semua itu, ia berandai-andai. Jika dulu ia tak harus bersandiwara, jika dulu ia tak harus operasi wajah, mungkin tragedi ini tak terjadi. Maksud hati ingin membahagiakan anaknya, namun justru membuat anaknya harus cacat seumur hidup. Hana harus mengenakan kursi roda untuk seumur hidupnya. Itulah takdir yang diterima Alleyah. Ia yang berniat baik namun menggunakan cara yang salah, sehingga kini ia baru menyesal. Tidak selamanya apa yang direncanakan baik akan berakhir baik. Karena ada Tuhan segala penentu akhir setiap rencana umat manusia. Semua bermula dari ia yang istri yang dianggap buta, buta akan kelakuan bejat suaminya diluaran sana. Hingga ia memainkan peran menjadu orang buta. Kini nasi telah menjadi bubur. Alleyah harus menerima kenyataan, Hana tak bisa berjalan, putri semata wayangnya harus duduk di kursi roda. Mama niat hati Ashray untuk meminangnya pun selalu ia tolak.


"Aku akan tetap menjadi orang yang buta, karena aku tak ingin kembali menjadi istri yang dianggap buta. Saat ini dan esok aku hanya akan ada untuk Hana." Ucap Alleyah kala Ashray menyodorkan satu cincin ke arahnya. Sudah beberapa kali ia gagal. Kali ini Ashray kembali menelan kegagalan. Hana bahkan memutuskan pindah ke daerag lain. Bintang bahkan turut serta.


Semenjak hari itu, Alleyah terkesan sangat dingin, ia juga sulit untuk tersenyum apalagi tertawa. Ia menyalahkan dirinya selalu atas kejadian itu. Selama ia merawat Hana, ia sangat over protektif terhadap Hana. Hingga dua bocah yang ia rawat sampai dewasa seperti gadis kembar.


...THE END...

__ADS_1


(Hai, jangan bingung kenapa begini endingnya. Tunggu kisahnya di part 2 dimana Hana dan Bintang yang akan menjadi pemeran utamanya. Mak author tamatin novel yang lain dulu ya…. Terimakasih dan mohon maaf atas digantungnya cerita ini. Karena sempat hilang feel karakter Alleyah ini. Lanjut Widya ya… ending)


__ADS_2