
"Rangga! Apa yang kamu lakukan! Kurang ajar kamu! bangsat!" Teriak Wulan di kamarnya. Ia begitu marah saat melihat surat yang Rangga serahkan. Sebuah surat dari Pengadilan. Ia menggugat cerai Wulan. Rangga tertawa seraya menikmati vape nya.
"Sorry Lan, Aku ga bisa terus bertahan sama kamu, semua kamu yang atur. Aku ini lelaki! Aku muak diatur dan kamu mengambil alih semua termasuk perusahaan yang kini kamu jual sahamnya, kamu tahu itu milik Hana." Ucap Rangga penuh emosi.
"Jangan gila kamu Rangga." Ucap Wulan penuh emosi.
Ia tak menyangka jika Rangga menggugat nya untuk bercerai. Tetapi seketika Wulan termenung, ia memikirkan jika ini justru kesempatan yang baik. Ia sudah memiliki saham utama. Maka justru Rangga yang akan menjadi gelandangan ketika berpisah dengan nya.
"Baik, aku pastikan kamu akan menyesal!" Bentak Wulan pada Rangga. Saat ia berteriak memanggil Bintang. Rangga justru mencegahnya.
"Tidak untuk Bintang, dia akan tetap disini. Kamu bukan perempuan yang baik untuk anak-anak." Ucap Rangga sinis.
Wulan tergelak bahagia. Ia merasa senang karena ia justru merasa senang hati jika Bintang tidak lagi harus ikut dirinya. Wulan merasa ia sudah bisa bebas terbang dan memiliki banyak harta. Dendam pun terbalas. Hari itu, Wulan pergi meninggalkan kediaman yang merupakan istana bagi Alleyah. Alleyah pun melihat bagaimana Wulan meninggalkan rumah megah nan mewah itu. Ia akhirnya terseyum lega.
Ia menghubungi seseorang melalui pesan.
{Eksekusi sekarang. Aku ingin buat miskin perempuan itu}
Elena pun meninggalkan area sekitar rumahnya. Rangga menghubungi Elena. Ia mengatakan jika dirinya telah mengajukan gugatan cerai. Menunggu satu bulan lagi, maka ia akan berstatuskan duda.
__ADS_1
"Baiklah Mr Rangga. Kita tunggu kartu kuning mu keluar, aku harap bisa menjadi ibu yang baik untuk putri mu. Putri mu mengingatkan aku dengan anak ku yang hilang." Ucap Elena.
***
Keesokan harinya, sebuah perusahaan justru digemparkan dengan anjloknya saham dan Wulan pun meradang. Ia geram akan apa yang terjadi. Maka ia pun yang tak memiliki banyak tabungan. Ia menjual semua sahamnya. Malang nasib Wulan, baru satu bulan kehilangan saham. Ia kembali ditimpa masalah. Kali ini masalah hukum yang datang. Laporan atas jual beli organ tubuh manusia, karena ternyata dulu, Wulan adalah penjual organ tubuh manusia.
Saat ia ingin meminta bantuan Rangga, ia bertemu Elena. Tepat sehari setelah hari pernikahan Elena dengan Rangga.
"Aku ingin bertemu Rangga." Ucap Wulan kesal.
Asisten rumah tangga justru merasa takut, karena tuan rumah belum ada yang terbangun. Elena tidur dengan Bintang, Hana dan Rangga. Merasa kesal, Wulan naik ke kamar atas. Kamar yang dulu menjadi kamarnya.
"Brengsek kau Rangga!" Teriak Wulan.
Penghuni kamar pun terbangun. Rangga menyembulkan kepala dari balik selimut. Sedagkan Elena, ia masih berpura-pura tidak melihat.
"Siapa? Siapa Rang?" Tanya Elena yang sebenarnya bisa melihat jelas mimik wajah Wulan yang marah.
Bintang dan Hana bahkan tampak ketakutan. Mereka reflek memeluk Elena erat.
__ADS_1
'Jangan harap kali ini kau akan bisa menyakiti putri ku.' Batin Elena saat merasakan bua hatinya ketakutan.
Yang membuat Elena tak habis pikir, bintang yang buah hati Wulan bisa sangat takut hanya karena teriakan sang ibu. Mungkin karena rasa trauma pada Wulan.
"Wulan! Lancang kamu! Berani sekali kamu masuk kesini!" Teriak rangga kesal. Ia berdiri dan memanggil satpam. Wulan justru menjerit kesal.
"Satpam!"
"Lepaskan aku Rangga?! Kamu pasti yang merencanakan ini bukan?! Kamu yang melaporkan kasus lama ku!" Suara Wulan memekakkan telinga.
Sedangkan di kamar Elena memeluk dua bocah kecil yang tampak ketakutan.
"Apakah perempuan tadi seperti monster hingga kalian begitu ketakutan?" Tanya Elena.
"Lebih dari monster. Semoga tante sekarang tidak memakai topeng. Karena dulu, Mama juga sangat lembut pada Hana, dan setelah beberapa waktu. Mama mulai menunjukkan kuku panjangnya seperti nenek lampir," Keluh Bintang melerai pelukan Elena.
Ia tahu bahwa Bintang dewasa lebih cepat dari Hana.
'Setidaknya kamu berbeda dari mama mu,' batin Elena tersenyum tipis.
__ADS_1
Kini tinggal memberikan pelajaran kepada suaminya yang saat ini sedang pusing mengusir Wulan.